LOGINPemuda berdarah setengah bangsa lelembut berkelana ke alam Dewa. Awalnya direndahkan, Namun setelah mengetahui siapa identitasnya, seluruh Dewa tunduk dibawah perintahnya.
View More“Inti rembulan, gelombang dingin pemusnah!” seru Kelenting Sari.Energinya saat ini tengah hampir di ambang batas membuat Kelenting Sari mau tidak mau harus mengeluarkan salah satu serangan terkuat.Dari tebasan pedang Kelenting Sari muncul gelombang cahaya biru berbentuk spiral yang terus berputar menggapai posisi musuh untuk dihancurkan.Wuhs! Wuhs!Deru suara jurus dari inti gelombang rembulan menggema bagaikan sekawanan lebah mengikat satu persatu tubuh penjaga raksasa, menarik mereka ke dalam satu titik penghancuran.Mendapati itu, para makhluk penjaga segera meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan energi biru. Namun kekuatan inti gelombang rembulan terlalu besar membuat mereka mau tidak mau dipaksa harus berkumpul.Sampai ketika posisi semua penjaga membentuk lingkaran, dari balik kekosongan muncul bola energi biru berukuran kecil seperti mustika yang langsung jatuh tepat di tengah-tengah mereka.BUMMMMM!Ledakan dahsyat terjadi tanpa bisa terelakkan, menciptakan gelombang
Di atas reruntuhan Kuil Rembulan, Arga, Zufu dan Sadjiman masih melongo tidak paham dengan apa yang diucapkan serigala merah.“Me-menantu? Me-mertua? Se-sebetulnya apa yang telah terjadi di sini?” Arga terbata membuat sang serigala merah tertawa.Setelah itu, serigala merah berekor tujuh tersebut menjelma menjadi seorang pemuda tampan berambut hitam dengan wajah datar tanpa ekspresi.Tatapannya dingin tidak peduli, bermata sayu, disertai seringai bibir tipis penuh kesombongan membuat Sadjiman langsung menelan ludah merasa kesal dalam pandangan pertama.Sementara Arga dan Zufu seketika menyipitkan mata menilai pemuda berwajah datar di hadapan mereka seperti orang yang berbahaya.“Aku bernama Madu Lanang, menantu pertama dari si cabul yang kutendang tadi,” ungkap pemuda berwajah datar memperkenalkan diri.Dia tersenyum lembut berusaha ramah kepada kelompok Arga. Namun apa yang di inginkan terkadang tidak sesuai kenyataan karena di mata orang lain, senyuman yang pemuda itu layangkan terl
Di atas langit, Lintang bersama Arga, Zufu, dan Sadjiman masih melesat menuju hutan terlarang.“Celaka!” wajah Lintang mulai memucat panik.“Ada apa kak?” tanya Arga cepat.“Firasatku bertambah buruk akan kakak iparmu, sepertinya mereka benar-benar dalam bahaya,” ungkap Lintang.“Sial! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa kepada mereka,” Lintang mengepalkan tangan kesal.“Kalau begitu ayo tambah kecepatan kak,” Arga ikut panik.“Sepertinya kita memang harus mengorbankan separuh energi,” angguk Lintang.Dia sangat mengerti dengan apa yang di maksud oleh Arga. Kecepatan mereka saat ini dalam terbang sudah maksimal, bahkan tidak ada pendekar lain yang akan mampu menandinginya.Tetapi karena perasaan khawatir akan keselamatan Anantari dan Kelenting Sari, Lintang dan Arga terpaksa harus mengorbankan setengah dari seluruh energi mereka untuk menembus kecepatan yang lebih tinggi.“Zufu, hanya kau harapan kami satu-satunya, andai kami tidak bisa menghadapi musuh kuat d
Selepas kepergian Kelenting Sari, kondisi tubuh Anantari semakin melemah karena racun dari duri-duri tajam siluman tua hampir menjalar mengenai jantung.“Kita turun Langlang,” pinta Anantari.“Baik ratu,” kesatria Taya kemudian melesat ke atas reruntuhan kuil.Tap!Dia mendarat dengan mulus di atas permukaan lantai berbatu yang telah banyak ditumbuhi akar rambat.Kesatria Taya menyenderkan Anantari pada sebuah potongan dinding dalam posisi duduk agar aliran darah gadis itu tetap stabil.“Kau bertarunglah sampai energiku benar-benar habis Langlang,” perintah Anantari lemah.“Tidak ratu, aku tidak mungkin tega meninggalkanmu,” sergah kesatria Taya.“Ini perintah!” tegas Anantari.“Ta-tapi ratu,” Kesatria Taya masih tidak bergerak.“Apa kau berniat membangkang Langlang?” ujar Anantari dengan mata berkilat.“Ti-tidak ratu,” kesatria Taya akhirnya berdiri karena tidak lagi memiliki pilihan.Tidak mematuhi perintah Anantari sama saja mengingkari perjanjian sakral bersama Dewa Taya dahulu.“
Malam hari di sebuah daratan bersalju terasa begitu damai dan sepi. Semua bangunan di sana tampak terlihat baru karena memang baru saja selesai dibangun tadi siang.Palwa, Indrayan, Sadjiman, Dhanang, dan Limo saat itu tengah asyik berbincang di dalam rumah makan milik Sujiwo yang kini telah kembal
Sore telah beranjak gelap bahkan waktu kini hampir menjelang tengah malam, tapi suara di atas bukit masih hening dipenuhi kesedihan.Beberapa kesatria lain pernah berkunjung ke sana ingin menemui Zufu untuk bertanya langkah selanjutnya pasukan mereka.Namun langsung Zufu tolak dengan mengibaskan ta
Dengan tewasnya para pemimpin tertinggi musuh, seluruh prajurit mereka pun sirna dibantai oleh pasukan Arga.Dengan begitu, perang di alam semesta ke 20 selesai dan dimenangkan oleh bangsa Angleng.Wujud bangsa Angleng hampir sama seperti manusia, tapi mereka memiliki ukuran besar setinggi 4 meter.
“Kau terlalu memaksakan diri bocah, apa dirimu tidak apa-apa?” tanya Zufu khawatir sembari menyangga tubuh Arga.“Hahaha, tidak apa. Kau jangan risau Zufu, energiku sebentar lagi akan kembali,” Arga malah tertawa.“Tidak pernah berubah, dasar keras kepala,” Zufu menggeleng.“Pergilah! Selesaikan pe
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews