LOGINPemuda berdarah setengah bangsa lelembut berkelana ke alam Dewa. Awalnya direndahkan, Namun setelah mengetahui siapa identitasnya, seluruh Dewa tunduk dibawah perintahnya.
View MoreSekte Pedang Kahuripan merupakan perguruan terkuat di alam para dewa. Tempat lahirnya banyak legenda dan kesatria sakti bangsa dewa.
Namun siapa pun yang ingin masuk ke sana harus menempuh ujian berat yang bahkan dapat merenggut nyawa.
Tidak hanya itu, ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan juga hanya diadakan setiap 200 tahun sekali sehingga hampir semua dewa mendambakannya.
Hari ini, ujian tersebut sedang diselenggarakan. Terdapat ribuan dewa yang mendaftar sebagai calon peserta dan, ada sekitar ratusan ribu dewa yang menjadi penontonnya. Termasuk para guru serta sesepuh perguruan lain.
Semua calon peserta sedang bertarung di lapangan terbuka, bagi 1000 orang yang bisa bertahan, dia akan diterima masuk sebagai peserta.
"Cih! Kenapa ada makhluk rendahan seperti dia di ujian ini? Memalukan," umpat salah satu kepala kampus Banyu Diva.
“Hahaha, tenang saja! Aku yakin makhluk itu akan gagal diseleksi ini,” ketua perguruan lain menimpali dengan tertawa.
Alam dewa adalah alam yang sakral, makhluk selain bangsa dewa tidak diperkenankan ada di sana.
Namun dalam percobaan ini, terdapat makhluk keturunan campuran antara manusia dan lelembut.
Dia adalah Lintang Arundia Masalemba, pendekar sakti dari dunia manusia.
Parasnya begitu tampan dengan rambut putih terurai panjang sepinggang. Memiliki mata biru langit dan wajah memesona.
Namun Lintang dipandang sebelah mata di sana, dia bahkan direndahkan dan dihina hanya karena berbeda ras dengan mereka.
Alhasil, pada pertarungan itu Lintang dikepung ratusan dewa. Mereka begitu sangat berambisi ingin membunuhnya.
"Hahaha, makhluk sepertimu bahkan lebih menjijikkan daripada sampah kami, anak muda. Menyerah saja dan biarkan kami membunuhmu dengan cepat."
“Benar! Kehadiranmu di sini hanya mengotori kesucian perguruan besar kami. Dasar sialan!”
“Cih! Dari awal aku memang sudah mencium bau hawa manusia dan lelembut darinya. Itu membuatku mual dan ingin muntah.”
“Aku setuju dengan kalian, melihatnya saja mataku terasa perih karena jijik.”
Satu per satu, para kandidat yang mengelilingi Lintang melontarkan hinaan kepadanya.
Tidak hanya mereka, tetapi semua penduduk alam dewa dan para pembesar perguruan juga ikut menggunjing Lintang.
Namun pemuda tampan tersebut hanya menyeringai tipis mendengarnya. Dia tidak menanggapi satu pun perkataan mereka selain tatapan tenang seakan para dewa bukan apa-apa baginya.
"Tuan, izinkan saya membantai makhluk-makhluk sombong itu," pinta sebuah suara tak berbentuk di dalam kepala Lintang.
“Tidak Jagat, kedatangan kita ke sini bukan untuk menumpahkan darah. Tetapi menemui Resi Batara Gundawarma, aku harus bisa masuk menjadi murid perguruannya karena hanya itulah jalan yang bisa kita tempuh,” sergah Lintang.
“Aku sungguh kesal tuan, tapi itu terserah padamu saja,” ungkap suara tanpa wujud dengan nada lemah.
Dia merupakan suara dari senjata pusaka milik Lintang, sebuah tongkat kayu lusuh yang terlihat jelek di mata orang-orang.
Tetapi jangan salah, tongkat itu adalah pusaka sakti yang bahkan mampu membunuh bangsa dewa.
Di beberapa dunia, tongkat milik Lintang mempunyai julukan Tongkat Semesta. Satu-satunya senjata hasil ciptaan alam dari ketidaksengajaan.
“Apa kau pernah melihatnya? Ada yang aneh dengan pemuda itu?” tanya salah satu ketua sekte pedang Kahuripan.
“Ya! Aku melihatnya, sekte kita adalah sekte pedang. Tetapi dia malah membawa tongkat kayu jelek seperti itu,” ujar ketua lain di sampingnya.
“Bukan itu, dasar dewa tua tengik! Lihat matanya, dia tidak memiliki ketakutan sama sekali. Bukankah pemuda itu adalah satu-satunya calon peserta yang dikepung banyak pendekar?” ungkap ketua tadi.
“Hahaha, kukira kau menanyakan senjatanya. Terang saja dia tidak memiliki rasa takut, bagi makhluk lain masuk ke alam dewa saja sudah merupakan pelanggaran dan, dia kini ingin mendaftar ke perguruan kita? Jangan bercanda, pemuda itu memang sudah gila dari awal,” ketua di sampingnya malah tertawa.
“Benar kata Bangkadara, pemuda itu hanya mengantar nyawa kemari. Kita lihat saja bagaimana cara di menghadapi calon peserta lain. Aku yakin pemuda itu bahkan tidak akan bisa bertahan lebih dari 10 menit di sini,” seru ketua berbadan gempal.
“Kau dengar Nurada, bahkan senior Mulawarman saja tidak menilainya seperti itu. Tenang saja, pemuda itu tidak akan mempermalukan sekte kita lebih jauh. sebentar lagi dia akan tewas di sini, hahaha,” ketua Bangkadara kembali tertawa.
“Terserah kalian saja, tetapi aku melihat sesuatu yang lain pada anak lelembut tersebut,” ketua Narada mengerutkan kening menatap Lintang.
“Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!”
Teriakan penonton menggema meminta Lintang segera dilenyapkan membuat para calon murid yang mengepungnya semakin bersemangat.
“Hahaha, sudah kubilang makhluk sepertimu tidak lebih hina dari kotoranku sialan! Baiklah, ayo serang dia teman-teman. Sampah itu telah mengotori negeri kita, cincang dia sampai menjadi serpihan daging,” seru calon peserta bermata satu.
Dia memiliki wajah yang garang seperti memang bukan berasal dari dewa yang baik.
“Hahaha, tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya. Jangan sok jadi pemimpin kau mata satu,” calon peserta lain tertawa.
“Cih! Setelah mumbunuhnya, kau adalah sasaran keduaku bangsat!” teriak si mata satu.
“Banyak bicara, ayo serang dia!” bentak calon peserta berbadan tinggi kekar.
“Cih! Dewa lemah seperti kalian berlaga di depanku, hanya seorang anak lelembut, pedangku saja sudah cukup membunuhnya,” teriak peserta lain yang merupakan seorang wanita.
Wooooooow!
Pendekar wanita tersebut melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat Lintang.
Pedangnya menderu berniat menebas leher lawan. Wanita itu memiliki energi kuat yang sangat menekan membuat calon peserta lain tidak berani berurusan dengannya.
Melihat sang wanita maju duluan, para calon peserta yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Mereka menertawakan nyawa Lintang yang tidak lama lagi akan melayang.
Namun saat mata pedang pendekar wanita tadi sejengkal lagi akan menyentuh leher Lintang. Wanita itu tiba-tiba langsung terpental sejauh 20 meter dan berakhir tidak sadarkan diri membuat semua calon peserta lain terperangah menyaksikannya.
Tawa mereka seketika lenyap berganti keterkejutan. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang terbatuk tersedak napasnya sendiri.
“A-apa yang terjadi?” si mata satu terbata.
“A-a-aku juga tidak mengerti. Si sampah itu bahkan tidak bergerak dari tempatnya,” ujar peserta lain.
Sementara semua ketua perguruan yang ada di sisi arena membelalakkan mata menatap Lintang.
Mereka melihat pemuda itu bergerak lebih cepat dari cahaya, menjatuhkan prajurit wanita itu hanya dengan satu pukulan.
Itu sebuah gerakan jurus tingkat tinggi yang tidak bisa dilihat oleh pendekar tingkat rendah, bahkan para ketua di sana hanya melihat gerakan Lintang dari bayangannya saja, membuat mereka bertanya-tanya siapa pemuda itu sebenarnya?
“Ini sungguh buruk! Apa dia baru saja menggunakan lompatan angin?” ketua Bangkadara masih mematung tidak percaya dengan apa yang disaksikan matanya.
“Bukan, tetapi jurusnya memang mirip seperti jurus kita. Sial! Aku harus melaporkan ini pada sesepuh,” umpat ketua Mulawarman yang merupakan salah satu ketua senior di sana.
Sementara ketua Narada malah menunjukkan senyum aneh menatap Lintang.
**
“Baiklah!” angguk sang pendekar tua sembari menarik napas berat.Dia memang tidak bisa membaca tingkat kanuragan Arga dan Lintang menandakan bahwa kedua pemuda itu bukanlah orang sembarangan.Namun menghadapi kekuatan kadipaten, ini sungguh mustahil dapat dilakukan oleh hanya beberapa orang saja.“Ketua, kumohon tinggalkan kami bertiga. Aku memiliki perbincangan empat mata dengan tuan-tuan ini,” ujar sang pendekar tua kemudian.“Baik sesepuh,” angguk 8 pendekar lain.Mereka sebetulnya memiliki firasat buruk akan keputusan sesepuh. Tapi mau bagaimana lagi, para pendekar tua itu tidak bisa membantah perintah.Maka dengan berat hati, mereka pun undur diri dari aula, meninggalkan Lintang dan Arga bersama sesepuh padepokan.“Aku tidak tahu entah ada niat apa dibalik permintaan kalian. Tapi kumohon, jangan libatkan para murid dan ketua padepokan ini. Jika tuan-tuan setuju, maka aku akan mengantar anda ke pusat kadipaten,” ungkap sang pendekar tua dengan nada serius.“Aku Lintang, paman. Dan
“Terima kasih tuan pendekar, tanpa anda sekalian kami mungkin sudah terbujur kaku menjadi mayat,” ungkap pak tua berpakaian merah.“Jangan sungkan paman, kami hanya menjalankan tugas sesama pendekar,” ucap Lintang sopan.“Terima kasih, anda sungguh bijak,” angguk sang pria tua.Tidak lama, datang seorang anak kecil membawa nampan berisi umbi-umbian rebus kehadapan Lintang dan Arga.“Silahkan dinikmati, maaf hanya itu yang mampu kami hidangkan. Kondisi perguruan ini sedang terpuruk,” sambung pak tua berpakaian mewah.Mereka saat ini sedang berada di sebuah padepokan terpencil yang berdiri di puncak bukit berjarak 30 kilo meter dari desa Patilan.Arga dan Lintang mengikuti para pendekar tua ke kediamannya karena ingin lebih memahami masalah apa yang membuat mereka dijebak.Keduanya meninggalkan desa sesaat setelah pertarungan, karena tidak lama selepas sang saudagar kaya meregang nyawa. Lintang dan Arga merasakan ada ratusan kekuatan sakti yang mendekat ke dalam desa.Lintang membawa 9
“Apa kau sudah mengetahui ini sejak lama, adik kecil?” tanya Lintang.Dia berpura-pura mati hanya karena mengikuti apa yang Arga lakukan. Mendapati Arga berulah layaknya orang keracunan, maka Lintang pun demikian. Lintang berusaha bermain mengikuti rencana yang sedang Arga jalankan.“Hehehe, benar kak. Aku mengetahui niat mereka dari sejak masuk ke mari,” Arga terkekeh.Ternyata sedari awal, Arga sudah tahu bahwa di rumah makan tersebut sedang terjadi perselisihan.“Haiiiis, kau ternyata menipuku juga, adik kecil,” Lintang menggeleng.“Bagaimana kau tahu pelayan ini tidak meracuni kita?” tanya Lintang kemudian.“Saat masuk ke mari, aku sudah melihat kegelisahan di wajahnya menandakan bahwa sedang ada yang tidak beres. Maka dari itu aku membawa kakak duduk di meja ini,” ungkap Arga membuat Lintang menaikkan satu alisnya.“Jadi kau memilih meja ini bukan semata-mata ingin makan di dekat jendela? Melainkan sengaja menjebak pelayan itu agar datang menjamu kita. Apa begitu maksudmu?” ucap
“Ini tuan silakan! Ini adalah makanan terbaik di tempat kami, apa anda ingin memesan tuak atau yang lain?” ucap sang pelayan perempuan kembali datang.Dia membawa nampan besar berisi daging kambing panggang, dan beberapa sup daging kuda. Selain itu juga ada aneka makanan lain yang dibungkus dengan daun pisang, satu mangkuk sambal, dan sekendi air putih.“Waahh, ini kelihatannya enak. Terima kasih bi, kami tidak biasa meminum tuak, jadi kami tidak akan memesannya. Ini untuk makan kami dan sisanya untuk bibi,” ujar Arga.Dia memberikan 3 keping emas untuk membayar semua makanan membuat sang pelayan perempuan langsung melebarkan mata tidak percaya.“I-i—ini terlalu kebanyakan tuan, apa anda yakin?” tanya pelayan perempuan terbata.“Tidak apa, sisanya untuk bibi saja,” ucap Arga meyakinkan.“Te-terima kasih tuan, jika ada lagi yang anda butuhkan, panggil aku saja jangan sungkan,” sang pelayan perempuan meraih 3 keping emas di atas meja dengan tangan bergetar.Setelah itu, dia lekas kembal
Berita tentang penyerangan 40 prajurit jaga gerbang kota kerajaan Kamedang tersebar begitu cepat.Membuat raja Dangu penguasa Kamedang murka hingga memberi perintah kepada ribuan prajurit untuk mencari dan mengejar kelompok Lintang.“Bawa mereka dalam keadaan hidup! Tapi jika melawan, kalian boleh
Baru saja beberapa hari yang lalu dibangun akibat pertempuran besar, gedung-gedung Sekte Pedang Kahuripan kini kembali harus mengalami pembangunan di mana hampir seluruh wilayah musnah karena kemarahan seorang istri yang tengah cemburu.Beruntung dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa k
“Maaf sebelumnya, aku tahu dan sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Kalian berhak tidak memaafkanku karena kesalahanku memang terlalu besar. Tapi informasi ini harus kuutarakan karena menyangkut kelangsungan hidup seluruh bangsa dewa,” ungkap Kuradala.Selanjutnya dia menjelaskan bahwa dewa k
Atmarani saat ini telah tiba di lantai satu pagoda dan langsung bergabung dengan kelompok Palwa.“Bagaimana?” tanya Indrayan khawatir.“Sudah selesai,” jawab Atmarani membuat semua peserta menarik napas lega.“Di mana tuan Lintang?” tanya Palwa.“Mengapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu, mungkin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews