MasukPara wanita Negara Raigorou yang menjadikan hal ini sebagai hiburan sehari-hari lanjut menunggu dengan sabar setelah berkomentar.Awalnya, Lavanya juga berpikiran seperti itu. Namun, Tirta tetap tidak muncul sampai siang. Para wanita Negara Raigorou berkomentar lagi."Wah, jangan-jangan Tuan Tirta sudah menyerah karena merasa Lavanya sulit didekati?""Belum tentu. Mungkin Tuan Tirta ada urusan. Dia datang terlambat.""Bukannya masih ada waktu sepanjang sore? Mungkin ... Tuan Tirta datang setelah makan siang."Hanya saja, Tirta tidak datang setelah makan siang. Dia juga tidak datang waktu sore. Bahkan Tirta tidak datang saat matahari terbenam. Para wanita Negara Raigorou kembali berkomentar."Oke. Kita nggak usah tunggu Tuan Tirta lagi. Kelihatannya Tuan Tirta memang sudah menyerah.""Aku rasa begitu.""Sikap Lavanya begitu dingin, nada bicaranya juga ketus. Kalau aku jadi Tuan Tirta, aku juga nggak mau mendekatinya lagi. Itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan."Mereka berkomentar sa
Lavanya mulai waswas, tetapi dia salah paham. Tirta hanya ingin dekat dengan Lavanya karena melihat dia cantik dan memiliki aura yang menonjol.Melihat Lavanya tidak bicara dan memandanginya dengan tatapan galak, Tirta yang tahu diri langsung pergi. Dia juga tidak mengganggu Lavanya lagi.Tirta memang tahu dirinya tampan dan memiliki kemampuan yang hebat, bahkan dia sangat kaya. Namun, Tirta harus tahu batasan saat mendekati wanita seperti Lavanya. Jika Tirta terlalu ramah, takutnya malah menimbulkan efek negatif.Melihat Tirta langsung pergi, Lavanya membatin dengan perasaan bimbang, 'Um ... apa maksudnya? Sebenarnya dia sudah tahu identitasku atau belum? Apa dia cuma ingin mendekatiku karena aku cantik?'Lavanya memutuskan jika besok Tirta mencarinya lagi, dia akan mengajak Tirta ke suatu tempat untuk mengujinya. Selain itu, Tirta adalah murid wanita berwajah biasa itu. Mungkin Lavanya bisa mencari tahu keberadaan wanita itu dari Tirta.Setelah membuat keputusan, Lavanya lanjut beker
Mendengar perkataan wanita Negara Raigorou, Tirta langsung memandang Lavanya."Um ... aku baru pertama kali melihat wanita ini. Dia memang cantik," puji Tirta sambil mengangguk. Kemudian, dia memetik sekuntum bunga di kebun dan memberikannya kepada Lavanya.Tirta berkata, "Aku dengar mereka memanggilmu Lavanya. Namamu bagus sekali. Apa margamu?"Lavanya memandangi bunga itu dan tidak berniat mengambilnya. Dia membalas, "Memangnya margaku sangat penting? Selain itu, bunga ini sangat indah. Kenapa kamu memetiknya?"Tirta menyahut dengan tenang, "Karena aku mau memberikannya padamu."Lavanya menanggapi dengan dingin, "Aku nggak butuh bunga itu. Lagi pula, bunga itu tumbuh di tanah bumi ini. Masa hidupnya sangat panjang, jadi aku bisa menikmati keindahannya sangat lama."Tirta tetap tersenyum dan menimpali, "Bunga ini memang tumbuh di bumi ini, jadi siapa pun bisa menikmati keindahannya. Tapi, kalau aku memetiknya dan memberikannya padamu, cuma kamu yang bisa menikmati keindahannya. Itu du
Bukan hanya Lavanya yang kebingungan, lima tetua agung dari sekte super besar yang bersembunyi di gunung Desa Persik juga merasakan hal yang sama. Mereka berkomentar."Ada yang menikah. Semua orang di desa menghadiri pernikahan ini, tapi wanita berwajah biasa itu tetap nggak terlihat.""Aku juga nggak merasakan gejolak energi tingkat pemurnian dewa sedikit pun.""Jangan-jangan tebakan kita salah?""Apa wanita itu cuma bertindak di tempat ini, tapi dia bersembunyi di tempat lain setelah melakukan pembunuhan?"Kelima tetua agung itu melepaskan kesadaran spiritual untuk mengamati semua orang di desa. Namun, kondisi ini benar-benar di luar dugaan mereka.Akhirnya, mereka membuat keputusan. Salah satu tetua agung berkata, "Tapi, kita sudah mencari di seluruh bumi. Kemungkinan besar dia bersembunyi di tempat ini. Coba tunggu beberapa waktu lagi. Kalau masih nggak menemukan apa pun, kita tinggalkan tempat ini dan cari di tempat lain."Tirta tidak tahu rencana kelima tetua agung, tetapi dia bi
"Ayo, Bi Ayu, Bi Elisa," ujar Tirta sambil tersenyum. Dia sangat antusias. Tirta berjalan ke rumah sebelah bersama Ayu dan Elisa.Di dalam rumah itu, Shazana, Orion, serta orang tua Ayu dan Elisa duduk di kursi utama. Sementara itu, status Gaurav, Saba, dan Yahsva memang tidak biasa. Namun, mereka tidak merebut posisi Shazana dan lainnya.Gaurav, Saba, dan Yahsva hanya duduk di kursi samping. Mereka menunggu dengan ekspresi senang. Selain mereka, Heidi yang berstatus guru Elisa juga duduk di kursi samping.Setelah memberi hormat kepada Shazana dan Orion, Tirta melepaskan tangan Ayu dan Elisa. Kemudian, dia maju dan berlutut untuk memberi hormat kepada orang tua istrinya.Tirta berkata, "Ayah Mertua, Ibu Mertua, terima kasih kalian sudah mengizinkanku menikahi putri kalian. Mohon terima hormatku!"Ibunya Ayu dan Elisa segera memapah Tirta sembari membalas, "Menantuku, cepat berdiri. Aku dan ayah mertuamu sangat tenang menyerahkan kedua putri kami padamu."Ayahnya Ayu dan Elisa juga sang
Tirta merasa sangat senang saat menggenggam tangan mereka yang lembut. Dia berseru, "Kedua pengantinku, ikut aku!"Sebelum mereka keluar dari pintu, banyak orang sudah menantikan mereka. Para kekasih Tirta yang lain mengikuti di belakang. Setelah Tirta yang menggandeng Ayu dengan tangan kirinya dan menggandeng Elisa dengan tangan kanannya keluar, para wanita Negara Raigorou yang awalnya duduk di kursi langsung berdiri dan bersorak gembira."Wah, pengantin wanitanya cantik sekali!""Penyelamat kita benar-benar beruntung! Cuma wanita sesempurna ini yang sepadan dengannya!""Astaga, awalnya aku ingin menjadi pengiring pengantin! Tapi, setelah dipikir-pikir, itu mustahil! Jangankan dibandingkan dengan pengantin wanita, aku bahkan kalah cantik dari pengiring pengantin. Aku benar-benar nggak ada apa-apanya.""Cih, pengiring pengantin itu juga calon pengantin. Mana mungkin kamu bisa dibandingkan dengan mereka?""Tuan Tirta, selamat atas pernikahanmu! Semoga pernikahan kalian langgeng dan cepa
"Sepertinya, kamu mengira profesi dokter nggak bisa menghasilkan uang, ya? Atau kamu merasa ilmu medisku kurang hebat?" Tirta terkekeh-kekeh."Aku merasa setiap manusia memiliki kelebihan tersendiri. Kamu begitu ahli dalam menilai batu mentah, jadi aku merasa ilmu medismu seharusnya biasa-biasa saja.
Setelah bicara demikian, Tirta berjalan ke hadapan Ayu. Dia memegang tangan Ayu dan memeriksa luka di dada Ayu. Kulitnya yang putih mulus terlihat sangat kontras dengan noda darah. Seketika, Tirta merasa sangat kasihan melihatnya."Ah, Tirta, minggir kamu. Suruh Melati saja yang periksa. Kalau kamu y
"Pak Agung, kamu tenang dulu. Orang itu belum tentu Pak Saad yang asli ...." Baskoro sama sekali tidak bisa melawan saat dipukul Agung. Namun, dia masih tetap berharap. Sampai sekarang, dia masih belum percaya bahwa Tirta bisa kenal dengan orang hebat seperti Saad."Sialan, Pak Saad sudah telepon lan
"Hehe. Sudah nggak mengerti apa-apa, tapi masih berani sombong? Kamu memang harus diberi pelajaran dulu. Ayo, cepat potong ketiga batu itu," ujar Gilang sembari tersenyum lebar. Dia yakin bahwa Tirta akan merasa malu sebentar lagi."Ini namanya buang-buang waktu!" Para staf mengejek Tirta dengan kesa







