Masuk“Dia kecelakaan pesawat dan meninggal.” Satu kalimat yang mampu membuat es krim rasa coklat vanila yang dinikmati Ardi, terasa seperti kopi. Ardi yang sedang menikmatinya, seketika menaruh sendok es krim tersebut dan menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap Naya yang masih menundukkan kepalanya. “Nay?” Ardi memanggil gadis yang ada di hadapannya. Dia sungguh tidak menyangka apa yang tidak diceritakan Naya adalah hal pahit yang sangat tidak nyaman untuk diingat. Namun, sekarang dialah yang membuka luka itu.“Kenapa, Pak?” tanya Naya. “Kamu nggak papa? Masalah kayak gini menimbulkan trauma yang cukup besar pasti,” kata Ardi. “Ada traumanya. Cukup besar, tapi aku janji sama Aunty, kalau akan lebih menerima lagi, bukan hanya mencoba melupakan aja, Pak. Aku mau melakukan sesuai janjiku," balas Naya dengan sangat yakin."Aku tahu rasanya, Nay. Kamu akan jauh lebih baik nantinya. Tenang aja, di dunia ini, kamu masih banya yang sayang kamu. Aku, Daffa dan keluargamu, Nay. Jadi, janga
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama dengan Xera, Naya merasa sangat bahagia. Banyak hal yang sangat dia rasa membuatnya semakin terasa hidup. Hidup yang dulu dia rasa berat, saat bersama dengan Xera, meski tidak ada Ardi, semua terasa sangat ringan. Setiap masalah seolah terangkat begitu saja. Namun, hari ini sudah tiba. Hari di mana Xera harus terbang kembali ke Taiwan. Naya mengantar Xera ke bandara. Bibirnya sudah melengkung, seolah sangat tidak rela melihat Xera harus terbang meninggalkannya lagi. Ada rasa khawatir, setiap datang ke bandara, karena itu setiap papanya melakukan perjalanan bisnis, Naya sebisa mungkin hanya menemuinya di rumah.Berbeda dengan saat ini. Dia ingin mengantar Xera ke bandara, meski dadanya mulai terasa sesak, sejak memasuki area bandara. Xera sangat paham dengan perubahan Naya. Dia pun meraih tangan Naya.“Masih suka takut, ya?” tanya Xera.Naya menganggukkan kepalanya dan memaksanya sebuah senyuman muncul di wajahnya. Xera mengusap lembut
Kebersamaan yang Naya dan Xera lakukan sungguh menghapuskan rasa rindu mereka satu sama lain. Sejak meninggalnya Reski, tidak ada waktu mereka untuk bersama seperti ini. Kali ini, mereka benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama, meski hanya sesingkat mungkin. Langkah kedua wanita itu berhenti di sebuah toko mainan. Keduanya saling menoleh dan secara bersamaan. Lalu, mereka mengangguk bersama dan berjalan memasuki toko mainan tersebut. Seolah melakukan nostalgia, keduanya tertawa bersama saat mengingat bagaimana dulu Naya sering bertengkar dengan Reski hanya untuk membeli mainan. Naya tertawa saat Xera memeragakan apa yang selalu Naya lakukan pada Reski. Wajahnya memerah saat Xera terus menggodanya."Aunty, jangan terus menggodaku. Takutnya, kamu malah kangen Ores, bukan kangen aku kecil," kata Naya yang balik menggoda Xera.Mendengar hal itu, Xera hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Tawa mereka terhenti, saat terdengar suara yang memanggil nama Naya. Keduanya menoleh ke a
Di makam Reski, Miya menatap heran buket bunga yang ada di makam Reski. Namun, saat menatap ke arah wanita yang baru saja pergi, Miya malah mengerutkan dahinya heran. Dia menatap saat kedua orang itu berjalan menjauh dari area pemakaman. Miya menaruh buketnya di makam Reski, berdampingan dengan buket yang sudah ada di sana. Dia menatap buket lily yang masih sangat fresh itu. Ada rasa penasaran dengan apa yang sebelumnya dia lihat. “Cewekmu datang, ya. Pada akhirnya, meski kamu membawa cintanya pergi, kakakmu masih sangat menyukainya dan tetap membenciku,” gumam Miya menatap makam pria yang dulu dia inginkan sepenuh hatinya.Sementara itu, di pojokan kafe, Naya duduk menatap Xera, sembari menunggu pesanan mereka datang. Naya menunggu wanita di depannya itu menjelaskan apa yang dia lihat di makam tadi. Xera tersenyum miris sebentar dan menghela napasnya erlahan.“Dia mantan Reski. Sebelum pacaran sama aku, dia pacaran sama cewek tadi, Nay. Apa kamu nggak pernah dikenalkan sama cewek t
Seperti yang Naya janjikan pada Xera, setelah kelas, gadis itu berjalan bersama Sari seperti biasanya. Namun, Naya sibuk dengan ponselnya. Sari menatap heran sahabatnya itu.“Nay, kenapa sih? Sibuk banget.” Sari mulai mengeluarkan pertanyaannya. “Pak Ardi?” tanya Sari pelan sekali.“Bukan dong. Orang penting lainnya. Orang paling lama aku dambakan kedatangannya,” kata Naya dengan semangat.“Siapa sih? Jadi penasaran,” balas Sari.“Sstt.” Naya meminta Sari untuk diam terlebih dahulu, karena panggilan masuk ke ponselnya. Naya langsung mengangkatnya. “Ni Hao, Aunty! Tunggu di hotel, aku akan jemput Aunty sekarang, tunggu bentar, mau pesan taksi online buat kita,” kata Naya. Setelah mematikan sambungannya, Naya menoleh ke arah Sari. “Sar, kelas udah selesai, aku mau ketemu orang penting dulu. Kalau kamu ketemu Ranga atau anak basket yang lain, tolong bilangin, ya, aku izin latihan kali ini. Bye-bye!” Naya langsung berlari meninggalkan Sari yang tercengang melihat tingkahnya.Naya langsun
Ardi segera mengantar Naya pulang, saat gadis itu mengatakan harus segera pulang untuk menemui seseorang. Dia masih menyimpan banyak pertanyaan di dalam benaknya. Naya turun dari mobil Ardi, begitu mereka sampai di tempat biasanya.“Pak, saya duluan, ya. Daah!” Naya langsung berlari meninggalkan mobil Ardi. Ardi menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia hanya berdiam di kemudi dan menatap Naya yang berlari dengan sangat semangat. Wajah ceria Naya terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.“Penasaran, siapa yang bisa buat Naya sebahagia itu? Kayaknya sangat berarti banget,” kata Ardi yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area perumahan Naya.Sementara itu, Naya berlari ke rumahnya dengan cepat. Dia mencari Bi Ida. Mendengar namanya dipanggil, Bi Ida langsung menghampiri Naya.“Kenapa, Mbak?” tanya Bi Ida.“Bibi ingat pacarnya Ores dulu nggak?” Naya dengan antusias.“Iya, Mbak. Kenapa?” tanya Bi Ida lagi.“Aunty Xera mau datang jenguk aku, Bi Ida. Jadi, nanti tolong buat hida