LOGINErina langsung melempar lembaran kertas itu ke lantai dengan gerakan kasar. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap tanpa kendali.“Hadiah?!” teriaknya lantang, suaranya menggema di seluruh aula. “Apa maksudmu ini hadiah?!”Lembaran itu tergeletak terbuka, memperlihatkan isi yang kini menjadi pusat perhatian. Di sana tertulis jelas tentang penalti besar yang harus dibayar karena skandal, lengkap dengan angka yang membuat siapa pun tercekat.Terlebih lagi, disebutkan bahwa skandal tersebut telah menyebar luas dan mengguncang publik.Neilson hanya tersenyum tipis dari atas panggung, seolah semua ini hanyalah bagian dari skenario yang berjalan sempurna. Ia menatap Erina tanpa sedikit pun rasa bersalah.“Bukankah kamu sudah menandatangani kontrak denganku?” ucapnya tenang. “Sekarang ... saatnya kamu membayarnya.”Erina tertawa, namun tawanya terdengar retak dan penuh ketidakpercayaan. Ia menggeleng pelan, seakan mencoba menolak kenyataan yang mulai menelannya.“Aku
“Benar! Itu bukan aku!” teriak Erina dengan wajah memelas, suaranya bergetar di antara napas yang tersengal. Ia menatap Neilson seolah menggantungkan seluruh harapannya pada pria itu. “Kamu mengenalku, Neil ... aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu,” lanjutnya lirih, mencoba terdengar meyakinkan.Kerumunan langsung bereaksi, suara-suara penolakan kembali bermunculan tanpa jeda. Beberapa orang menggeleng dengan ekspresi sinis, sementara yang lain berbisik tajam tanpa berusaha menahan suara.“Itu tidak mungkin editan,” sahut seseorang keras.“Videonya terlalu nyata, bahkan ekspresinya tidak bisa dipalsukan,” tambah yang lain.Erina menoleh sekilas ke arah mereka, lalu kembali menatap Neilson dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia melangkah sedikit lebih dekat, meski tubuhnya masih gemetar.“Percayalah padaku sekali ini saja … tolong,” ucapnya pelan, suaranya melemah di akhir kalimat.Neilson tidak langsung menjawab. Ia justru berjongkok di hadapan Erina, sejajar dengan posisi ga
“Kamu akan membantuku mendapatkan iklan itu, kan?”Suara itu menggema dari layar besar di belakang Erina, jelas dan tak terbantahkan. Gadis itu membeku di tempat, napasnya tertahan ketika menyadari suara itu. Itu adalah miliknya sendiri.Perlahan ia menoleh dengan wajah yang mulai kehilangan warna. Dengan gerakan kaku, Erina membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap layar.Matanya langsung membelalak ketika wajahnya terpampang jelas di sana, begitu dekat, begitu nyata. Kakinya seakan kehilangan kekuatan hingga tubuhnya sedikit goyah, nyaris jatuh jika tidak segera menahan diri.“Tentu saja, apa yang tidak untukmu?” jawab seorang pria dalam video itu.Tangannya terlihat mengangkat dagu Erina dengan seringai yang penuh arti. “Tapi kamu pasti akan menghabiskan malam denganku, kan?” lanjut pria itu tanpa ragu.Sekejap, seluruh aula berubah arah. Tatapan orang-orang langsung berpindah dari layar ke salah satu sudut ruangan, tempat seorang pengusaha berdiri dengan wajah pucat.Ia buru-buru
Suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang ganti, memecah keheningan yang sebelumnya dipenuhi rasa puas Erina terhadap dirinya sendiri.Seorang penjaga berdiri di balik pintu, lalu berkata dengan nada formal. “Nona Erina, waktunya hampir tiba. Silakan menuju belakang panggung sekarang.”Erina menoleh dengan cepat, matanya langsung berbinar mendengar pemberitahuan itu. Senyum antusias terukir jelas di wajahnya, seolah inilah momen yang sejak tadi ia tunggu.“Baik, aku akan segera ke sana,” jawabnya dengan penuh semangat.Tanpa membuang waktu, ia mengangkat sedikit bagian bawah gaunnya agar tidak menghalangi langkahnya. Dengan gerakan cepat namun tetap anggun, ia berjalan keluar ruangan, langkahnya dipenuhi rasa percaya diri yang mengalir deras.Dalam benaknya, panggung itu sebentar lagi akan menjadi miliknya, tempat yang akan membuatnya semakin bersinar.Begitu pintu terbuka, pengawal yang berjaga di luar tampak terdiam sejenak. Tatapannya tertahan pada sosok Erina, jelas menunjukkan
Lyra menggeleng perlahan, berusaha meredakan kegelisahan yang terlihat jelas di wajah Neilson. Ia mengangkat satu tangannya, seakan memberi isyarat bahwa semuanya masih terkendali. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya pelan, lalu menambahkan dengan nada sedikit ragu. “justru ... aku yang menyakiti Erina.” Ucapan itu membuat Neilson terdiam sejenak, sorot matanya berubah lebih dalam seolah mencoba membaca keadaan yang sebenarnya. Namun, alih-alih marah atau terkejut, sudut bibirnya justru terangkat tipis. Tangannya terulur, menyentuh rambut Lyra dengan lembut, mengusapnya perlahan seperti menenangkan anak kecil yang gelisah. “Kamu yang menyakiti?” ulangnya pelan, nada suaranya rendah namun tidak menekan. Tatapannya turun sejenak, memastikan Lyra benar-benar baik-baik saja tanpa luka sedikit pun, ada kelegaan samar yang terselip di balik sikap tenangnya. Kemudian ekspresinya berubah lebih serius, alisnya sedikit berkerut. “Kenapa kamu tidak datang dengan pengawal?” tanya Neilson dengan na
Setelah menandatangani kontrak itu, Erina langsung menyerahkannya kepada Neilson dengan gerakan penuh percaya diri. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, seolah ia baru saja memenangkan sesuatu yang besar. “Ini, aku sudah menandatanganinya,” kata Erina dengan suara mantap di tengah sorotan kamera. Neilson menerima berkas itu tanpa banyak reaksi, matanya menelusuri isi kontrak dengan cepat. Ia memeriksa tanda tangan di bagian akhir, memastikan semuanya sesuai tanpa cela. Setelah memeriksanya, ia menutup berkas tersebut dan menyerahkannya kembali pada pengawal di sampingnya. Tatapannya kembali tertuju pada Erina, dingin namun penuh arti. “Mulai hari ini, kita resmi bekerja sama.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada rendah. “Dan kontrak itu berlaku ... mulai malam ini.” Erina tersenyum lebar mendengar itu, jelas tak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Ia mengangguk tanpa ragu, menerima pernyataan itu dengan penuh keyakinan. “Aku setuju,” jawabnya ringan. “Aku tidak a
Ethan meraih gelasnya, lalu mendentingkannya pelan ke sisi gelas Neilson yang masih kosong. “Kamu pasti mengerti maksudku,” ujarnya tenang, sebelum meneguk anggurnya hingga tandas.Neilson terdiam. Tak ada jawaban keluar dari bibirnya. Ia justru meraih botol di atas meja, menuangkan isin
Lyra berdiri mematung di tengah area pemotretan, tubuhnya terasa kaku seolah tak bisa digerakkan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa permintaan bantuan dari Dina berakhir dengan dirinya harus menggantikan model yang tak kunjung datang.Lampu-lampu studio menyala terang, membuat suhu di dalam ruan
Neilson menekan tombol di sisi pintu, membuat kaca mobil turun perlahan. Ia menoleh ke arah Wina dengan ekspresi tenang dan terkendali, wajahnya datar seperti biasa, seakan di dalam mobil itu tak ada sesuatu yang perlu disembunyikan. Sikapnya tetap dingin, nyaris tanpa celah.Begitu jendela terbuka
Wina tampak terkejut melihat reaksi Lyra. Alisnya langsung terangkat, matanya sedikit membulat, jelas menunjukkan keterkejutan yang tak ia sembunyikan sama sekali. Ia benar-benar tidak menyangka Lyra belum mengetahui kabar itu, seolah informasi tersebut seharusnya sudah lama sampai ke telinga sahab







