LOGINBibir itu terlihat begitu lembut dan berwarna merah merona alami seperti memanggil-manggil perhatiannya. Tanpa sadar, jemari Randy terulur perlahan, menyentuh bagian bawah bibir itu dengan sentuhan yang sangat ringan juga penuh keraguan. Rasanya halus, lembut, dan hangat terasa di ujung jemarinya. Dengan tarikan napas yang terasa berat, seperti mengumpulkan seluruh keberanian yang dimiliki, Randy mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir itu sekilas. Sentuhannya terasa begitu segar dan lembut, meninggalkan sensasi yang membuat dadanya terasa berdebar kencang. Rasa itu justru membangkitkan keinginan yang lebih besar dalam dirinya. ‘Aku ingin mengulum bibir itu lagi, lebih lama, dan lebih dalam lagi.’ Apalagi ketika dia merasakan bibir lembut itu perlahan bergerak dan membalas ciumannya dengan lembut pula. Bibir manis yang menyambut kehadirannya. Dunia terasa berputar sebentar, Randy merasa dirinya melayang. Hingga akhirnya memaksakan dirinya membuka mata perlahan dan menjauhkan wajahnya sedikit. Sekadar menarik napas supaya bisa melanjutkan ciuman itu lagi. Namun, begitu pandangannya menjadi jelas, matanya langsung membelalak lebar. Jantungnya terasa melompat ke tenggorokan. “Nyonya?!” Di hadapannya berdiri sosok Felicia. Rambut panjangnya tergerai bebas menutupi sebagian bahunya, yang terbuka. Wanita itu terlihat begitu berbeda dari penampilan kesehariannya yang rapi juga anggun. Seakan tak rela jarak itu terbentuk, tangan Felicia perlahan terangkat, hendak meraih wajah pemuda itu. Begitu jemarinya berhasil menyentuh pipi Randy, tubuh Felicia perlahan bangkit mendekat. Dan kali ini, giliran dia yang mengambil alih, mendekatkan wajahnya. Dia ingin membalas sentuhan itu dengan lebih berani. “Nyonya?!”
View More“Sebaiknya kita bicara di luar saja,” ajak James berbisik pelan, matanya sekilas melirik ke arah ibu mertuanya yang sedang duduk menunggu perawat. “Kami keluar sebentar dulu ya, Ma.”“Pergilah.” Bersamaan dengan itu seorang perawat masuk. “Nggak apa-apa, perawatnya sudah datang kok,” jawab Desy tenang.Felicia baru saja hendak menyela, namun tangan James sudah mencengkeram lengannya dengan erat, menariknya berjalan cepat meninggalkan ruangan. Wanita itu tak berkutik, hanya bisa mengikuti langkah suaminya yang tiba-tiba menjadi begitu tegas. Dari ujung lorong, Bojes dan Randy memperhatikan kepergian mereka berdua. Tak ada yang bergerak maju. Sepertinya mereka sangat paham, saat ini bukan tempat bagi orang lain untuk ikut campur. Mereka hanya diam, menatap punggung pasangan itu yang perlahan menjauh.‘Ke arah mana mereka? Ada apa di ujung sana?’ Randy mencoba mengingat-ingat denah rumah sakit yang sempat dilihatnya di dekat lift tadi. ‘Oh… pintu darurat!’“Kau mau pulang sekarang?” ta
Rasa nyeri tajam seketika menyergap kepala James begitu dia berusaha mengangkat kelopak mata. Dunia di sekelilingnya terasa berputar tak menentu, rasanya tanah ini tak lagi berpijak pada tempatnya. Dengan susah payah lelaki yang memiliki satu anak itu mengeratkan gigi, mencoba duduk tegak sambil menekan kedua telapak tangan ke pelipis yang berdenyut bukan main. Rambut hitamnya berantakan, menutupi sebagian dahi yang berkeringat dingin.Perlahan kesadarannya kembali. James menyadari tubuhnya kini hanya mengenakan kaos putih bersih. ‘Ini bukan pakaian yang kupakai semalam.’ Saat menghirup napas dalam, aroma sabun lembut yang asing tercium di hidungnya. Bukan wangi kamar pribadinya, bukan pula wangi yang biasa ada di rumahnya. ‘Ini di….’ James tidak berani menyimpulkan sebelum melihat lebih banyak. Langkahnya terhuyung-huyung saat melangkah keluar dari kamar tidur. Dan di ruang tengah yang luas itu, pandangannya terpaku. Seorang wanita mengenakan kaos putih kebesaran yang menj
“Cih! Ngapain dia masih datang ke sini?” oceh seorang wanita yang mengenakan gaun merah maroon sebatas paha dengan potongan leher sabrina yang memamerkan bahu jenjangnya. Dia yang sempat menjadi penuang gelas James beberapa minggu yang lalu. Uap putih vape melayang pelan dari bibirnya saat dia memutar bola mata malas ke arah bawah.Di sebelahnya berdiri temannya yang juga pernah menemani James meluangkan waktu di sini. Dua wanita malam yang tak pernah dilirik James itu tengah bersandar di pagar pembatas, menatap tajam ke arah Ayu yang berdiri sendirian di area luas penghubung lantai satu dan dua.“Padahal, James belum tentu datang juga hari ini,” timpal temannya sambil memainkan ujung rambutnya.“Itu artinya dia nggak boleh main sama cowok lain kan?”“Nggak bolehlah. Seumur hidup cuma sama James aja bolehnya. Sponsornya kan James.”“Kalau James lupa sama dia gimana? Menurutku James itu cuma khilaf aja mau main sama dy kemarin.”“Ya, sudah. Dia bakal kesepian selamanya.”Ucapan pedas
James terpaku di tempatnya, matanya menatap kosong ke arah sosok yang kini terkulai lemas di kursi besi itu.Satu-satunya hal yang menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh ke lantai hanyalah ikatan tali yang melilit erat di pergelangan tangan dan badannya. Wajahnya yang tadinya masih bisa dikenali kini tak lagi terlihat jelas. Seluruh permukaannya tertutup darah segar yang menggenang, menetes perlahan membasahi lantai semen yang retak.Kaisar memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya. Dia tahu persis, dialah yang harus membersihkan kekacauan ini, menutupi jejak yang ditinggalkan tuannya sebelum semuanya kian runyam.“Ada apa ini?”Suara Brian tiba-tiba terdengar dari ambang pintu besi yang terbuka sedikit. Dia
“Bu, biar Saya yang nyetir.” Rambe, begitu rekan-rekan kerjanya yang sesama sekuriti, pengawal, atau pelayan di rumah ini memanggilnya. Badannya cukup besar, wajahnya tampak keras, tapi sorot matanya cukup lembut. Makanya, dia tidak cocok beradu debat dengan Felicia seperti ini, sudah kelihatan has
“Agh!” Begitu membuka mata, Fe langsung mengerang pelan. Tubuhnya terasa sakit dari ujung kepala hingga kaki.Matanya menyipit saat cahaya matahari yang sudah meninggi menerobos masuk, membuat kamar itu terang benderang dan menyilaukan.‘Jam berapa ini? Kenapa sudah terang sekali?’Fe berusaha beri
Keriput di wajah wanita bergaun putih yang menjuntai hingga mata kaki itu bergerak ketika ia melirik ke arah leher Felicia. Berhenti untuk beberapa detik. Kemudian bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyerupai ejekan.Felicia tak menyadari tatapan itu. Ia sibuk memp
Derap sepatu kulit Italia menghentak lantai marmer, menggema panjang di lorong rumah itu. Setiap langkahnya sarat amarah, menuju pintu kaca berbingkai kayu tebal di ujung sana yang tak lain adalah satu-satunya tujuan James sore ini.Gesekan setelan jas yang membalut tubuhnya dengan sempurna menanda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore