My Lady, Jadikan Aku Milikmu

My Lady, Jadikan Aku Milikmu

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-05-08
Oleh:  buchaaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
7Bab
4Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Felicia hidup di istana mewah, tapi tak pernah benar-benar bahagia. Sebagai istri dari James—pengusaha hotel ternama yang dingin dan kejam—hari-harinya dipenuhi luka yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Perceraian bukan pilihan, sebab pernikahan mereka adalah pondasi yang menyelamatkan perusahaan keluarganya. Di balik sikap angkuh dan kemarahan Felicia, ada seorang wanita yang perlahan hancur. Sampai Randy datang. Pengawal pribadi baru itu berbeda. Diam, sabar, dan selalu berada di sisinya setiap kali James meninggalkan memar di tubuhnya. Felicia membenci Randy karena mengira lelaki itu hanya mata-mata suaminya. Namun semakin ia mencoba menjauh, semakin Randy membuatnya merasa aman. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama menikah. Tanpa Felicia tahu, Randy menyimpan dendam besar pada keluarga James. Kini Randy datang bukan hanya untuk membalas dendam, tetapi juga merebut satu-satunya hal yang paling berharga bagi James, yaitu Felicia. Di antara luka, kebencian, dan rahasia kelam, Felicia harus memilih antara tetap menjadi ratu di sangkar emas atau mempertaruhkan segalanya demi lelaki yang awalnya datang untuk menghancurkan hidup suaminya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1. Suami Posesif

Derap sepatu kulit Italia menghentak lantai marmer, menggema panjang di lorong rumah itu. Setiap langkahnya sarat amarah, menuju pintu kaca berbingkai kayu tebal di ujung sana yang tak lain adalah satu-satunya tujuan James sore ini.

Gesekan setelan jas yang membalut tubuhnya dengan sempurna menandakan bahwa pakaian itu bukan milik sembarang orang. Kain mahal yang jatuh pas di bahunya seolah ikut menegang bersama rahang yang terkunci.

Dasi sutra yang tadi rapi mengikat di kerah kemeja kini telah terlepas, tergontai di kedua sisi bahunya, menjadi saksi betapa kesabarannya sudah terkoyak.

Usianya telah menginjak kepala empat, namun hanya satu dua helai rambut memutih yang tampak di antara helaian gelapnya. Semua itu tak sedikit pun mengurangi ketampanan yang justru matang oleh usia dan kuasa.

Dua pria bertubuh kekar bersetelan jas hitam berdiri di depan pintu kaca. Begitu menyadari kedatangannya, mereka sigap membukakan pintu. James langsung melangkah masuk tanpa basa-basi.

Begitu pintu terbuka, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang duduk santai di sofa berwarna pink.

Gaun putih yang dikenakannya memeluk tubuh dengan anggun, menyingkap pahanya yang putih dan mulus saat kakinya tersilang. Ia tak menoleh sepenuhnya, hanya melirik sekilas, seolah sudah tahu siapa yang masuk.

Perhatiannya kembali tertuju pada seorang wanita lain berseragam hitam-putih. Pelayan itu tampak sedang menata sepasang sepatu hak tinggi berwarna ungu tua ke dalam lemari kaca, berderet dengan sepatu yang lain.

Ruangan bundar itu dipenuhi lemari kaca berisi gaun, sepatu, dan tas—semuanya barang mewah yang jelas milik wanita bergaun putih itu.

“Tumben kamu pulang jam segini?” tanyanya ringan. Pandangannya kini mengamati tas kecil yang dibawa pelayan lain berseragam serupa.

Tas hitam mungil yang hanya cukup untuk sebuah ponsel, terlihat serasi dengan gaun putih yang dikenakannya.

Pria itu berdiri di dekatnya dengan tangan berkecak pinggang. Helaan napas beratnya terdengar jelas.

“Kamu memecat pelayan dapur dan pengawal pribadimu lagi?!”

“Ya. Kenapa? Memangnya nggak boleh?” tanya wanita itu sedikit menantang.

“Pengawal itu belum tiga bulan bekerja di sini. Kamu tahu susahnya cari orang yang mau bertahan?”

Wanita itu mengangkat bahu. “Bukannya di luar sana banyak pengangguran? Tinggal pasang lowongan, pasti banyak yang kirim lamaran, kok.”

“Tapi nggak ada yang betah sama kamu, Sayang.”

Wanita itu terkekeh pelan, lalu bangkit dan berlari kecil mendekatinya. Kakinya yang telanjang menapak marmer dingin tanpa ragu.

“Aku lihat mereka bermesraan di gudang belakang,” bisiknya tepat di telinga sang suami. Lalu ia menarik wajahnya menjauh, menyeringai. “Kamu tahu aku nggak suka yang cinlok-cinlok gitu. Geli.”

“Tapi setidaknya kamu bisa memecat pelayannya saja. Aku susah cari pengawal pribadi yang bisa ngertiin maumu yang berubah-ubah.”

James berusaha agar istrinya itu mengerti kalau mencari orang yang berkualitas untuk bekerja dengannya itu tidak mudah. Apalagi kalau tugasnya adalah menjaga istrinya ini.

‘Kalau gitu, nggak usah ada pengawal aja.’

Wanita itu kembali duduk dengan anggun.

“Kamu mau ke mana?!” James mulai menyadari gaun yang dikenakan istrinya terlihat cukup mewah kalau hanya untuk dipakai di rumah. Dan, dia juga seperti sedang memilah sepatu dan tas yang mau dipakai.

“Mau ke acara amal untuk kanker payudara yang diadain sama Mami kamu, Sayang. Kamu lupa kalau Mami mengajakku?”

Pria itu memijat keningnya sebelum kembali berkecak pinggang. Jujur, karena diselimuti amarah ketika mendengar kabar pemecatan itu, James jadi lupa ajakan khusus dari ibunya untuk istrinya ini. “Dan kamu mau pergi tanpa pengawalan?”

“Kamu bisa pinjam salah satu yang di luar, kan?” Wanita itu menunjuk samar dengan jemari lentiknya pria-pria yang sedari tadi berjaga di pintu luar. “Lagian, kamu takut banget, sih, kalau aku bakal diapa-apain orang.”

Sambil menggeram, James mendekat cepat. Jemari kanannya mencengkeram rahang sang wanita, memaksanya mendongak. Kedua kakinya kini menopang di atas sofa.

Dua pelayan di dalam ruangan sempat saling pandang beberapa detik sebelum buru-buru keluar. Mereka sepemikiran kalau ini adalah saatnya meninggalkan Tuan dan Nyonya pemilik rumah ini berduaan di ruangan ini.

Di luar, dua pria berbadan kekar tadi segera menutup pintu begitu para pelayan pergi, lalu menjauh. Mereka juga memberi ruang pada James dan istrinya.

“Kamu tahu,” ucapnya rendah, penuh tekanan, “kamu adalah mahkotaku. Tanpa kamu, aku bukanlah raja.”

Wanita itu menyeringai puas. “Aku tahu, Sayang.” Tangan kanannya mengelus lembut pipi hingga rahang James. Namun, tangannya langsung dicengkeram oleh lelaki itu dan meletakkannya di samping. Hingga tak ada penghalang lagi di antara keduanya.

Tanpa peringatan, James melahap bibir wanita itu dengan sangat rakus. Jujur saja, istrinya itu tampak menggoda mengenakan gaun putih bertali tipis ini. Sempurna sekali.

Bersambung....

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status