Chapter: Ekstra Part 3“Nathan cuma mau pelgi kalau Mama juga pelgi!” seru Nathan dengan suara lantang. Meski pelafalannya masih cadel, nada bicaranya tegas dan penuh penolakan. Ia segera menjatuhkan diri duduk di lantai, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi keras kepala. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada yang bisa mengubah keputusannya. Ethan yang melihat itu langsung meniru tanpa ragu. Ia duduk di samping Nathan dengan gerakan sedikit goyah, lalu ikut menyilangkan tangannya. “Ethan jugaa ...,” katanya pelan. “Nggak mauu pelgi ...,” tambahnya dengan bibir mengerucut. Grey tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kedua anak itu. Ia menyandarkan tubuhnya santai sambil melirik ke arah Neilson, jelas menikmati situasi tersebut. Wajahnya dipenuhi ekspresi geli, seolah menemukan hiburan dadakan di pagi hari itu. Ia lalu menggeleng kecil sebelum kembali menatap ke arah keponakannya. “Wah, gimana ini?” godanya ringan. “Sepertinya Kakak nggak jadi menikmati waktu berdua.” Neilson
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: Ekstra Part 2Lyra berdiri di sisi ranjang sambil merapikan beberapa pakaian kecil milik Nathan dan Ethan ke dalam tas. Gerakannya rapi dan teratur, sesekali ia memastikan tidak ada yang tertinggal.Di atas ranjang, kedua anak kembarnya masih terlelap dengan posisi berantakan, selimut mereka sudah bergeser ke sana kemari. Pemandangan itu membuat sudut bibir Lyra terangkat, hangat dan penuh kasih.Ia memandanginya lebih lama ke arah mereka, lalu melangkah mendekat dengan langkah pelan. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya mengusap lembut kepala kecil mereka.“Nathan ... Ethan ... bangun, sayang,” ucapnya lembut. “Kita mau pergi ketemu kakek, sebentar lagi kita berangkat.”Nathan adalah yang pertama merespons. Ia mengerjap pelan, lalu meregangkan tubuhnya dengan gerakan malas sebelum akhirnya duduk di atas ranjang.Namun, matanya masih terpejam rapat, kepalanya sedikit terangguk ke depan seperti menahan kantuk yang belum pergi.Lyra tak bisa menahan tawa kecil melihat itu. “Nathan ... kamu bangun a
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: Extra Part 1“Pangeran Allain akhirnya menarik pedangnya,” ucapnya pelan. “Ia melawan penyihir jahat dan berhasil mengalahkannya.”Lyra menatap kedua anaknya dengan senyum hangat. “Rakyat kerajaan Arcania pun selamat, dan mereka semua hidup bahagia.”Lyra menutup halaman terakhir buku cerita dengan lembut. Suaranya merendah, seolah ikut tenggelam dalam akhir kisah yang baru saja ia bacakan.Nathan yang sejak tadi menyimak dengan serius langsung mengangkat kepalanya. Matanya berbinar terang, wajah kecilnya dipenuhi semangat dan kekaguman yang belum pudar.“Nathan mau menjadi seperti pangeran Allain!” serunya dengan pelafalan yang masih sedikit cadel.“Nathan mau lindungin semuanya!”Ethan yang berbaring di sampingnya ikut bergerak, meski kelopak matanya mulai terasa berat. Ia memaksakan dirinya bangun sedikit, tidak ingin kalah dari saudara kembarnya.“Ethan jugaaa …,” ucapnya pelan. “Ethan jadi pangeran ... jagain Mamaa ....”Lyra tersenyum lebih lebar mendengar itu. Ia mengulurkan kedua tangannya
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Extra PartSatu tahun kemudian. “Ma i… nain … punyaku!” “Nggaaa … punyaku!” Dua anak kembar itu saling melotot dengan wajah mungil yang sama-sama mengerucut cemberut. Tangan kecil mereka mencengkeram satu mainan yang sama, menariknya ke arah masing-masing tanpa mau mengalah sedikit pun. Tarikan mereka tidak kuat, tetapi cukup untuk membuat mainan itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti ikut bingung harus memilih siapa. Salah satu dari mereka akhirnya melepaskan pegangannya dengan kesal. Ia berdiri dengan gerakan sedikit goyah, tubuhnya sempat miring sebelum kembali seimbang, lalu menunjuk ke arah dapur dengan mata berbinar penuh ide. “... Mamaa punyaku!” serunya dengan suara cadel yang masih belum jelas. Ia langsung melangkah cepat menuju dapur tempat Lyra berada. Langkahnya pendek-pendek dan belum stabil, kadang hampir tersandung, tetapi semangatnya membuat ia tetap melaju seperti berlari kecil. Melihat itu, saudara kembarnya langsung panik. Ia buru-buru bangkit, hampir kehilangan k
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 306“A–apa? Kenapa aku harus mengatakan itu?” Suara Lyra terdengar terburu-buru, seolah ia ingin menepis sesuatu yang baru saja menyentuh hatinya. Ia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memerah di bawah cahaya bulan. Tangannya menggenggam ujung selimut dengan gelisah, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Neilson memperhatikannya dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Tatapannya tidak berpindah, seolah ia menikmati setiap reaksi kecil yang ditunjukkan Lyra. “Aku ingin mendengarnya langsung darimu,” katanya pelan. Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung harapan yang tidak main-main. Beberapa detik kemudian, Neilson mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di depan mereka. Namun senyum itu masih tersisa di wajahnya, seolah ia sedang mengingat sesuatu. “Aku pernah mendengarnya sekali,” lanjutnya santai. “Tapi kali ini … aku ingin mendengarnya lagi.” Lyra langsung mematung mendengar itu. Ia menoleh perlahan, ekspresinya berubah menjadi b
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 305“B–bukan begitu maksud— Neil! Apa yang kamu lakukan?!” Suara Lyra terputus di tengah kalimat, berubah menjadi nada panik yang tidak sempat ia kendalikan. Ia bahkan belum selesai berbicara, ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat dari tanah. Neilson melangkah mendekat tanpa ragu, lalu dengan mudah mengangkat Lyra ke dalam gendongannya. Gerakannya tenang dan pasti, seolah keputusan itu sudah ia ambil sejak awal tanpa perlu meminta izin. Pipi Lyra langsung memanas, rona merah menjalar cepat hingga ke telinganya. Ia refleks menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di dada Neilson untuk menghindari tatapan orang-orang di sekitar. “N–Neil … turunkan aku …,” bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam. Grey yang berdiri tidak jauh dari mereka tidak bisa menahan tawanya. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Neilson dengan santai, matanya menyipit penuh godaan. “Kak, kamu ini … benar-benar tidak bisa menahan diri,” ujarnya ringan sambil tersenyum. Nada bicaranya santai, tetapi cukup u
Last Updated: 2026-04-22
Takdir dalam Kendaliku, Tiga Tokoh Utama Terobsesi Padaku
Chyara terbangun di dalam sebuah novel sebagai antagonis yang ditakdirkan mati. Mengetahui seluruh alur cerita, ia memilih memanfaatkan takdir demi bertahan hidup dan merebut masa depannya sendiri.
Namun, perubahan itu justru menarik tiga tokoh utama ke arahnya. Darian, tunangannya yang dingin dan berbahaya, mengalihkan obsesinya padanya. Arthur, sosok hangat yang seharusnya mencintai pemeran utama wanita, tak mampu melepaskan Chyara. Reynard, siluman rubah merah yang licik dan menggoda, pun terikat padanya.
Ketika takdir yang ia kendalikan berbalik mengikat mereka di sisinya, Chyara menyadari, di dunia yang seharusnya membunuhnya, tiga tokoh utama justru bertekuk lutut padanya.
Read
Chapter: Bab 311. TernyataBeberapa hari telah berlalu sejak Chyara memergoki Clara keluar dari gudang makanan pada tengah malam. Namun, hari demi hari berlalu tanpa satu pun kejadian mencurigakan yang terjadi di kediaman Everardo. Suasana di kediaman tetap tenang, seolah malam itu tidak pernah terjadi sama sekali, dan hal itu membuat Chyara semakin gelisah. Selama beberapa hari terakhir, ia diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Clara. Namun, wanita itu hanya terlihat menghabiskan waktunya untuk merawat Cassio, mengurus urusan kediaman, dan sesekali menemani Azelia. Tidak ada pertemuan rahasia, tidak ada tindakan yang mencurigakan, bahkan Clara tampak lebih tenang daripada biasanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kondisi Cassio perlahan mulai membaik. Batuk darah yang sebelumnya sering kambuh kini mulai berkurang. Wajah pria itu juga terlihat lebih segar dibandingkan beberapa minggu lalu. Melihat perkembangan itu, para pelayan mulai percaya bahwa kesehatan sang Marquess benar-benar sedang pulih. Chyara
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Bab 310. Dimulai"Kalau begitu, ingat untuk segera mempersiapkan semuanya."Clara menatap Zane dengan sorot mata yang penuh penegasan. Tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya, seolah seluruh rencana telah tersusun dengan sempurna di dalam kepalanya. Kini yang mereka butuhkan hanyalah waktu yang tepat untuk mulai menjalankannya."Dan satu hal lagi, bersembunyilah dengan baik sampai waktunya tiba. Aku tidak ingin ada yang menemukanmu sebelum rencana kita selesai."Zane menganggukkan kepalanya pelan. Ia menarik kembali tudung jubah hitamnya hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Sorot matanya masih mengikuti setiap gerakan Clara, memastikan tidak ada lagi instruksi yang perlu ia dengar."Aku mengerti, aku tidak akan keluar dari tempat ini sampai kau datang mencariku."Clara mengangguk singkat. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia segera berbalik meninggalkan lorong rahasia itu. Suara langkah kakinya bergema pelan di sepanjang lorong yang sempit sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan.Sesampainy
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 309. Rencana"Kau sungguh yakin ingin melakukannya?"Zane menatap Clara dengan sorot mata yang tajam. Kedua lengannya terlipat di depan dada, sementara wajahnya dipenuhi keraguan yang jarang ia tunjukkan.Ia mengenal Clara sebagai wanita yang cerdik, tetapi rencana kali ini menurutnya jauh lebih berisiko dibandingkan semua rencana yang pernah mereka jalankan."Apa kau benar-benar berpikir rencana itu akan berhasil? Kalau kita gagal, bukan hanya kau yang akan kehilangan segalanya, aku pun tidak akan bisa lagi melarikan diri dari kekaisaran."Clara tidak segera menjawab. Ia berjalan perlahan melewati Zane sambil membawa lilin di tangannya. Cahaya kecil itu menari-nari di dinding kayu, menciptakan bayangan panjang yang membuat suasana lorong rahasia itu terasa semakin mencekam.Sesaat kemudian, Clara menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya hingga kembali menghadap Zane. Senyum tipis terukir di bibirnya, seolah pertanyaan pria itu hanyalah kekhawatiran yang tidak perlu dipikirkan."Tentu saja
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Bab 308. PersembunyianPerlahan, sebuah bayangan muncul dari ujung lorong yang gelap. Suara langkah kaki bergema pelan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan rahasia itu.Sosok tersebut mengenakan jubah hitam panjang dengan tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya, membuat identitasnya tidak dapat dikenali.Cahaya lilin di tangan Clara memantulkan bayangan panjang pria itu di dinding kayu. Sosok itu terus berjalan mendekat. Semakin dekat jaraknya, semakin jelas suara langkahnya yang teratur memenuhi lorong sempit tersebut.Begitu berhenti beberapa langkah di hadapan Clara, pria itu perlahan mengangkat kedua tangannya lalu menurunkan tudung yang menutupi kepalanya. Wajah yang selama ini menjadi buronan kekaisaran akhirnya terlihat jelas.Sorot matanya tajam dan penuh kewaspadaan. Janggut tipis di rahangnya tampak sedikit berantakan akibat beberapa hari hidup dalam persembunyian, tetapi wibawanya sebagai seorang mantan Marquess belum sepenuhnya hilang.Tatapan Marquess Valerio langsung te
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 307. Bertindak"Beristirahatlah, Cassio."Clara merapikan selimut yang menutupi tubuh Cassio hingga ke bagian dada. Gerakannya terlihat begitu lembut dan penuh perhatian, layaknya seorang istri yang sedang merawat suaminya dengan sepenuh hati.Di atas meja kecil di samping ranjang, cangkir teh yang baru saja diminum Cassio masih mengeluarkan uap tipis, padahal di dalam minuman itu telah bercampur racun dosis tinggi yang diam-diam diberikan Clara setiap hari.Cassio mengembuskan napas panjang. Tubuhnya terasa semakin berat dan kepalanya mulai dipenuhi rasa kantuk. Efek racun itu perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat tenaga yang tersisa sedikit demi sedikit terkuras."Aku merasa sedikit lelah, aku akan tidur sebentar. Jika ada sesuatu, akan memanggilmu nanti, Clara."Clara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. Tatapannya dipenuhi kepura-puraan yang begitu sempurna hingga tidak sedikit pun memperlihatkan niat jahat yang sebenarnya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan mengira ia ada
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 306. Menunggu"Chyara, bukankah tidak sopan membahas hal seperti itu saat kita sedang makan?"Clara akhirnya membuka suara setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan. Nada bicaranya terdengar lembut dan penuh teguran, seolah ia sedang menenangkan suasana yang mulai memanas. Senyum tipis terukir di bibirnya ketika ia menatap Chyara, berusaha mempertahankan citra sebagai istri yang bijaksana dan ibu yang pengertian.Perlahan Clara mengalihkan pandangannya kepada Cassio yang masih tampak pucat. Tangannya masih menopang lengan suaminya dengan penuh perhatian. Wajahnya dipenuhi ekspresi khawatir yang tampak begitu tulus."Kesehatan Ayahmu memang sedang menurun, tetapi aku yakin Ayahmu pasti akan segera sembuh." Clara kemudian kembali menatap ke arah Chyara. "Karena itu, jangan membicarakan hal-hal seperti kematian atau warisan saat Ayahmu masih berada di hadapan kita."Chyara memandang Clara selama beberapa saat tanpa berkata apa pun. Ia memperhatikan seti
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Bab 84. Target BaruLaura berjalan menuju ruangan karyawan dengan perasaan gembira. Dia merasa bahwa mendekati Allen adalah pilihan yang tepat. Dirinya merasa pria itu lebih mudah daripada Kean.Laura mulai menyapu dan memunguti sampah-sampah kertas yang berserakan di lantai. Dia merasa enggan memungut itu, seharusnya posisinya sebagai karyawan yang memiliki meja kerja, bukan yang membersihkan seperti ini.Laura terpaksa melakukan tugas itu karena hal yang dia pikirkan adalah bertahan di perusahaan ini sampai dirinya berhasil mendapatkan Allen."Ambilin aku minum dong," ucap salah satu karyawan wanita pada Laura sambil masih fokus mengetik pada komputernya.Laura menoleh ke sana kemari mencoba mencari tahu kepada siapa wanita itu berbicara. Melihat tak ada orang di sekitarnya, dia lebih memilih untuk melanjutkan membersihkan lantai.Wanita itu merasa kesal ketika Laura mengabaikan perintahnya begitu saja. Dia kemudian menggebrak meja dengan keras membuat sekeliling menatapnya, begitu juga dengan Laura."
Last Updated: 2024-10-12
Chapter: bab 83. Mendapat KeringananKean mengerjapkan matanya beberapa kali ketika sinar matahari masuk dari sela-sela jendelanya. Dia mencoba mengambil ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sepertinya dia bangun kesiangan karena kelelahan sejak kemarin.Kean segera bangkit kemudian berjalan keluar kamar dan melewati kamar Azelyn, dia mencoba mencari tahu apa yang dilakukan gadis itu, tetapi ketika membuka pintu, sosok gadis itu tak terlihat.Kean berjalan masuk ke kamar Azelyn kemudian melihat secarik kertas yang berada di meja tersebut. Dia mengambil kertas itu kemudian membaca setiap kalimatnya.Azelyn menulis di kertas tersebut bahwa hari ini dia izin untuk pergi karena ada masalah yang terjadi pada temannya. Dia juga mengatakan bahwa dirinya tak tahu apa akan pulang atau tidak.Kean meremas kertas tersebut, bisa-bisanya Azelyn lagi-lagi pergi tanpa sepengetahuannya. Dia mencoba melihat ponselnya dan membuka aplikasi pelacak, kali ini aplikasinya tak berfungsi lagi karena gadis itu mematikan po
Last Updated: 2024-10-10
Chapter: Bab 82. Hari PertamaKeesokan harinya Allen langsung menyuruh Laura untuk datang ke perusahaan Marvino. Laura menggunakan kemeja putih dengan rok sepaha untuk pergi ke perusahaan Marvino, pakaiannya benar-benar mencerminkan seorang karyawan wanita di perusahaan. Dia tak tahu posisi apa yang akan diberikan Allen padanya, tetapi dia tak terlalu memikirkannya karena tujuan sebenarnya adalah untuk mendekati pria itu. Laura memesan taksi untuk pergi ke perusahaan tersebut. Ketika taksinya sudah datang, dia lansung meluncur tanpa menunda waktu lagi. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke perusahaan tersebut. Jarak perusahaan Marvino lebih jauh dibanding perusahaan Adhlino, tetapi Laura meyakinkan semangatnya karena dia sudah terlalu lelah untuk mencari pekerjaan dan tak akan membuang kesempatan emas ini. Laura berjalan memasuki perusahaan, tiba-tiba seisi perusahaan meliriknya kemudian berbisik-bisik membuatnya merasa risih. Sepertinya berita tentang dirinya yang dipecat di perusahaan Adhlino secara tak t
Last Updated: 2024-10-08
Chapter: Bab 81. Masalah baruLaura berdiri diam di tengah jembatan. Di belakangnya beberapa motor dan mobil berlalu lalang tanpa memedulikan dirinya yang sedang berdiri sendirian. Dia menatap kosong ke arah air sungai yang mengalir dengan deras. Gadis bermanik coklat itu sudah mengirimkan lamaran pekerjaannya ke berbagai tempat setelah dia dipecat dari Perusahaan Adhlino, tetapi satu pun tak ada yang menghubunginya untuk interview. Laura mengacak-acak rambutnya kesal. Dia meremas dokumen lamaran pekerjaannya dengan perasaan penuh emosi. "Azelyn! Ini semua gara-gara kamu! Berani-beraninya kamu menghancurkan karirku! Aku tak akan tinggal diam, aku pasti akan membalasmu!" teriak Laura emosi. Suara teriakannya tenggelam karena suara mobil dan motor yang mengebut. Laura melampiaskan emosinya dengan mengacak-acak rambutnya frustasi. Tanpa sengaja dokumennya terlepas dari genggaman dan terjun jatuh ke bawah sungai. Laura secara spontan menaikkan kaki kanan ke penghalang jembatan mencoba untuk menangkap dokumen
Last Updated: 2024-10-07
Chapter: Bab 80. Kecemburuan membawa masalahLino tak menduga bahwa Reliza akan mengatakan itu. Dia melirik ke arah Kean yang masih terdiam sembari menyisir rambutnya ke belakang. "Sepertinya Anda sangat mengenal saya, Nona Reliza," ucap Kean dingin. Dia menatap tajam pada gadis itu kemudian melanjutkan kalimatnya, "Karena Anda terlihat sangat mengenal saya, Anda pasti tahu bagaimana sikap saya pada wanita selama ini, kan?" tanyanya. Reliza terdiam, tentu saja dia sangat mengetahui itu. Karena dia adalah salah satu wanita yang mengejar Kean, tetapi pria itu tak pernah meliriknya sedikit pun. "Saya akan langsung mengatakan tidak suka dan sangat membenci wanita yang selalu ingin menempel pada saya. Jadi, apa Anda masih menganggap saya berbohong dan meragukan pernikahan saya sebagai pernikahan palsu yang diatur?" kata Kean yang langsung membuat Reliza terdiam. Reliza menggenggam erat ujung gaunnya mendengar penuturan Kean. Tentu saja wanita yang selalu menempel pada pria itu yang dimaksud adalah dirinya. Kean melirik ding
Last Updated: 2024-10-06
Chapter: 79. Pertanyaan yang berulangAllen melirik pada Azelyn sembari mencoba menahan tawanya. Dia merasa tak percaya dengan situasi yang dia hadapi sekarang. Rumor yang diketahui Allen selama ini adalah Kean memiliki sifat yang dingin. Sebelumnya juga banyak yang mengatakan bahwa Kean adalah pria yang tak berperasaan. Namun, apa ini? Kean justru terlihat sangat posesif pada Azelyn. "Maafkan saya atas sikap saya selama ini, Tuan Kean," kata Allen sambil sedikit membungkuk sebagai tanda permintaan maafnya. "Karena saya sudah berpisah cukup lama dengan Azelyn, saya masih ingin bertemu dan mengobrol dengannya lebih lama lagi, tapi sepertinya saya sudah melewati batas," lanjutnya sembari melirik wanita bermanik biru itu. Kean mengeratkan rangkulannya ketika mendengar perkataan Allen. Perasaannya terasa berdenyut sakit mendengar kalimat itu. Apa itu memiliki arti bahwa pria itu masih menyimpan perasaan pada istrinya? "Saya harap ini tidak terjadi lagi, saya merasa tak nyaman jika istri saya bertemu dengan pria lain t
Last Updated: 2024-10-05