Langkah Lyra terhuyung di sepanjang trotoar. Lampu jalan menyinari wajahnya yang sembab, sementara sepatu hak yang ia kenakan mulai menyiksa di setiap langkah. Namun, rasa sakit di kakinya tak sebanding dengan hancurnya hati Lyra malam ini.Ia akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang sepi, menengadahkan wajah ke langit malam yang buram karena air mata. Dengan jari gemetar, ia merogoh ponsel yang nyaris mati dan menekan satu nama: Sally. Ibunya. Satu-satunya tempat pulang yang masih ia harapkan.“Halo?” Suara di seberang menjawab malas.“Ma... ini aku, Lyra,” bisik Lyra bergetar.“Oh, kamu. Ada apa telepon malam-malam?” nada Sally terdengar kesal.“Ma, aku... aku diusir. Apa aku boleh menginap di rumah Mama?”Hening sejenak. Lyra menahan napas penuh harap, namun jawaban yang keluar justru menusuk jantungnya.“Kalau mau menginap, bawa uang. Ibu butuh banyak hal; uang belanja, tagihan, juga untuk suamiku. Kalau tidak punya uang, jangan harap bisa tinggal di sini!”Dada Lyra sesak. Ha
Dernière mise à jour : 2025-09-27 Read More