Share

Menanyakan

Author: Atma Anatya
last update Last Updated: 2026-01-07 20:05:00

Dilupakan sukar, dibiarkan masih bertahan di benak, ditunggu lisan mengecap rangkaian kata tapi 0%. Selain kemacetan bukankah isi otak juga menggemaskan? Gadis itu berusaha melupakan foto beberapa hari lalu dari nomer tak dikenal. Nomor yang mengirimkan pun bagai ditelan mulut hiu.

Bukan hiu layaknya imajinasi balita yang seketika menggerakkan pinggul, melainkan hiu dengan taring siap menguliti mangsa. Berulangkali secara diam-diam dia menghubungi nomor tersebut. Tentu saja tak diketahui Arion yang tidak tahu, apabila gadisnya melihat interaksi dia dan Ratna melalui foto. 

"Sibuk sekali kamu daritadi Mas lihat, Zel? Ada jadwal dosen kamu tidak suka? Atau apa?"

Azelina semula sibuk merapikan penampilan, tetapi netranya hanya fokus ke handphone seketika teralih. Gadis itu terkesiap dengan pertanyaan Arion. Masih dalam bisu yang mengunci lisan Azelina, gadis itu memilah-milah keputusan akhir. Dia merasa penasarannya se

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dosenku Calon Suamiku    Diskusi Atau Menguji Hati

    Azelina menatap muak lelaki di hadapannya. Apabila biasanya setiap lelaki itu mengajar di kelasnya, dia berusaha fokus maka untuk hari ini tidak sudi sama sekali. Bahkan rasanya Azelina ingin pindah kampus, tetapi sayangnya tidak ada Arion untuk mencuci mata sekilas. Selain itu fokusnya adalah demi mengikuti percepatan semester.Tak terhitung sudah berapa kali Azelina berpura-pura menguap, menopang kepala, menelungkupkan kepala, menatap jenuh jam dinding dan pintu. Berbeda wujud dan jenis sangat jelas memang, nama pun sudah sangat jelas apabila berbeda. Bagi Azelina hal itu tetaplah sama. Ntah mengapa Azelina jarum jam bagai terkena sihir.Oh? Atau lelaki ini selain pemaksa adalah juga penyihir. Sehingga juga bisa menyihir jarum jam menjadi sangat lambat bak siput. Senyum miring tersungging saat mencuri pandang ke sang gadis. Sudut hati sepertinya mulai mempersiapkan pesta kemenangan dan tak lupa kematangan rencana untuk memiliki Azelina.

  • Dosenku Calon Suamiku     Saya Bantu Cepat Lulus

    Ekspresi kecewa terpampang jelas di wajah tampan lelaki muda itu. Perkiraan dia buat akan cepat terjadi, ternyata tidak tepat pada sasaran. Bak iklan oreo harus diputar terlebih dahulu, lelaki itu mengatur ulang sisi lain rencana pribadi bukan bersama. Dia melihat benda persegi berukuran sangat kecil dilempar asal ke mobil.Senyum miring terbit di rahang tegasnya. Sebuah ide muncul menggantikan rencana awal. Apabila aksi beberapa hari lalu justru membuat hubungan sejoli beda usia di hadapannya, makin dekat bak perangko. Kegilaan akan makin menjadi dengan langkah lebih berhati-hati.Bak menapaki tengah bara api seluruh tubuh terasa panas luar dalam terutama hatinya. Ekspresi datar berlangsung awet walau tanpa formalin, netranya menatap lurus, seraya tangan meremas kuat-kuat. Rasa puas menyerbu hati ketika akhirnya Arion dan Azelina berpisah. Keningnya mengernyit kala semu-semu mendengar percakapan menarik perhatiannya.Ke

  • Dosenku Calon Suamiku     Menanyakan

    Dilupakan sukar, dibiarkan masih bertahan di benak, ditunggu lisan mengecap rangkaian kata tapi 0%. Selain kemacetan bukankah isi otak juga menggemaskan? Gadis itu berusaha melupakan foto beberapa hari lalu dari nomer tak dikenal. Nomor yang mengirimkan pun bagai ditelan mulut hiu.Bukan hiu layaknya imajinasi balita yang seketika menggerakkan pinggul, melainkan hiu dengan taring siap menguliti mangsa. Berulangkali secara diam-diam dia menghubungi nomor tersebut. Tentu saja tak diketahui Arion yang tidak tahu, apabila gadisnya melihat interaksi dia dan Ratna melalui foto."Sibuk sekali kamu daritadi Mas lihat, Zel? Ada jadwal dosen kamu tidak suka? Atau apa?"Azelina semula sibuk merapikan penampilan, tetapi netranya hanya fokus ke handphone seketika teralih. Gadis itu terkesiap dengan pertanyaan Arion. Masih dalam bisu yang mengunci lisan Azelina, gadis itu memilah-milah keputusan akhir. Dia merasa penasarannya se

  • Dosenku Calon Suamiku    Berusaha Berpikir Positif

    Bukan sebatas karena belum memiliki pengalaman, dalam mengasuh anak ketika mengerjakan tugas sekolah secara kreatif. Bagi Arion kata kreatif tak sebatas pengalaman pertama menjadi orang tua. Kreatif memutar otak dengan aneka derajat juga termasuk. Indera luar-dalam masih bekerja normal dan utuh membuat naluri bersembunyi diam-diam.Andai saja dirinya memiliki ilmu membaca pikiran dan hati, belajar ilmunya, menghabisi seseorang memiliki ilmu itu, maka sudah pasti dirinya tak mengusap kepala kebingungan. Lisan sang gadis memang tak mengutarakan, tatapan serta perlakuan gadis itupun masih sama. Hanya saja ntah mengapa naluri Arion diam-diam bersiaga."Zel?"Sunyi masih melanda dengan sang gadis yang mencuri pandang pada handphone-nya, walaupun menikmati waktu berduaan di kantor Arion tak membuat Azelina fokus. Pemikirannya sibuk terngiang-ngiang dengan pelaku pengirim foto. Suatu nama terbesit dengan tuduhan men

  • Dosenku Calon Suamiku     Mendengar Cerita

    "Loh hari Selasa darimana, Pak? Kok saya nggak sengaja seperti lihat plat nomor mobil Pak Ari di daerah jalan Senopati.""Mencurigakan sekali kamu, Bu. Sampai hafal nomer plat mobil Pak Ari. Jangan-jangan...""Ngaco aja! Saya sudah punya keluarga. Tapi... Kalau Mas Ari berkenan boleh loh."Sang pemilik nama sebatas membisu sibuk memutar-mutar percakapan kala di rumah Azelina. Otaknya kompak mengajak kerjasama hati, mengombang-ambing niat hubungan. Dia jatuh cinta pada gadis muda itu, namun di sisi lain Arion juga cemas dengan nasib Azelina. Bagaimana bila dirinya dipanggil terlebih dahulu?Ya, dia tahu jodoh, umur, keuangan, dan beberapa hal lain tak bisa diprediksi, kecuali Sang Pencipta sendiri karena telah mengaturnya. Bukankah tak seutuhnya salah juga, bila keinginan Arion dan Azelina jungkir balik menyelip di otak? Mereka saling mengharapkan untuk lebih, tetapi juga terdapat keraguan dan ketakut

  • Dosenku Calon Suamiku     Restu atau Tidak?

    Layaknya rambut apabila dicatok makin lurus, atau bagai menyetrika baju makin disetrika semakin lurus. Sepertinya ubin-ubin unit Azelina bisa lurus, karena ulah gadis itu. Ntah sudah berapa kali Azelina menyamar bak orang penghitung kilometer jalan. Agaknya hobi traveling Azelina tengah digunakan, versi dekat dan cepat dengan resah mondar-mandir.Sang kekasih beberapa hari mengabaikan dirinya karena masih kecewa, serta sang kakak tiba-tiba mengirimkan pesan. Valko menyampaikan laporan singkat dari Bibi ART, pada Azelina apabila Arion bermain di rumah saat hari Selasa. Gadis itu menggigiti kuku merasakan keresahan hari Rabu. Beruntunglah kuliah sebatas jam siang saja, sehingga sore hari dia menunggu kepulangan Arion."Baik-baik saja.""Tidak.""Baik-baik saja.""Tidak.""Baik-baik saja.""Tidak."Pria berusia 43 tahun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status