LOGINTentu saja tentu saja berkunjung. Pemikiran buruk pun bahkan menetap menetap, meski berulang kali dienyahkan. Ntah apa alasannya Arion pun heran dengan gadisnya. Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan secuil pun, tetapi mengapa Azelina diamkannya?
Hal ini terjadi tepat setelah Arion menjelaskan perihal dosis membantu Azelina. Bukan baru sehari, dua hari, atau tiga hari, melainkan tujuh hari sudah mereka bak menjadi orang asing kembali. Penerkaan asal-asalan terbesit menimbulkan dua pilihan. Apakah gadisnya menyembunyikan suatu hal?
Apakah memiliki masalah? Mengapa dirinya merasa bak bayangan? Sebatas menghabiska
"Apakah kau lelah?"Hohoho pertanyaan dibalas jawaban rasanya telah terlalu biasa. Pertanyaan dibalas pertanyaan pun rasanya juga telah tak asing. Ya, tidak seperti perasaan antar lawan jenis sebelum hubungan resmi, tetapi asing terlebih dahulu menjabat status. Pertanyaan yang kompak justru menimbulkan bibit kebingungan itulah menjadi penengah Azelina dan Arion.Arion mengalihkan fokus sejenak dari menyetir, menatap gadisnya yang sepertinya tengah tidak fokus. Dia mengubah menyetir dengan satu tangan, sedang tangan satunya mengecek dahi Azelina. "Kau tidak sakit tapi kenapa kurasa tengah tidak fokus, ya? Ada masalah di kelas? Atau keraguan dengan program percepatan semestermu?""Aku takut salah menyusun rencana studi, Mas," tutur Azelina langsung menjelaskan pada intinya tanpa menutupi terlebih dahulu.Arion menepuk-nepuk kepala Azelina lalu mengusap lembut. "Kan Mas bantu, Sayang. Ya, walau kamu dos
Tentu saja tentu saja berkunjung. Pemikiran buruk pun bahkan menetap menetap, meski berulang kali dienyahkan. Ntah apa alasannya Arion pun heran dengan gadisnya. Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan secuil pun, tetapi mengapa Azelina diamkannya?Hal ini terjadi tepat setelah Arion menjelaskan perihal dosis membantu Azelina. Bukan baru sehari, dua hari, atau tiga hari, melainkan tujuh hari sudah mereka bak menjadi orang asing kembali. Penerkaan asal-asalan terbesit menimbulkan dua pilihan. Apakah gadisnya menyembunyikan suatu hal?Apakah memiliki masalah? Mengapa dirinya merasa bak bayangan? Sebatas menghabiska
Azelina menatap muak lelaki di hadapannya. Apabila biasanya setiap lelaki itu mengajar di kelasnya, dia berusaha fokus maka untuk hari ini tidak sudi sama sekali. Bahkan rasanya Azelina ingin pindah kampus, tetapi sayangnya tidak ada Arion untuk mencuci mata sekilas. Selain itu fokusnya adalah demi mengikuti percepatan semester.Tak terhitung sudah berapa kali Azelina berpura-pura menguap, menopang kepala, menelungkupkan kepala, menatap jenuh jam dinding dan pintu. Berbeda wujud dan jenis sangat jelas memang, nama pun sudah sangat jelas apabila berbeda. Bagi Azelina hal itu tetaplah sama. Ntah mengapa Azelina jarum jam bagai terkena sihir.Oh? Atau lelaki ini selain pemaksa adalah juga penyihir. Sehingga juga bisa menyihir jarum jam menjadi sangat lambat bak siput. Senyum miring tersungging saat mencuri pandang ke sang gadis. Sudut hati sepertinya mulai mempersiapkan pesta kemenangan dan tak lupa kematangan rencana untuk memiliki Azelina.
Ekspresi kecewa terpampang jelas di wajah tampan lelaki muda itu. Perkiraan dia buat akan cepat terjadi, ternyata tidak tepat pada sasaran. Bak iklan oreo harus diputar terlebih dahulu, lelaki itu mengatur ulang sisi lain rencana pribadi bukan bersama. Dia melihat benda persegi berukuran sangat kecil dilempar asal ke mobil.Senyum miring terbit di rahang tegasnya. Sebuah ide muncul menggantikan rencana awal. Apabila aksi beberapa hari lalu justru membuat hubungan sejoli beda usia di hadapannya, makin dekat bak perangko. Kegilaan akan makin menjadi dengan langkah lebih berhati-hati.Bak menapaki tengah bara api seluruh tubuh terasa panas luar dalam terutama hatinya. Ekspresi datar berlangsung awet walau tanpa formalin, netranya menatap lurus, seraya tangan meremas kuat-kuat. Rasa puas menyerbu hati ketika akhirnya Arion dan Azelina berpisah. Keningnya mengernyit kala semu-semu mendengar percakapan menarik perhatiannya.Ke
Dilupakan sukar, dibiarkan masih bertahan di benak, ditunggu lisan mengecap rangkaian kata tapi 0%. Selain kemacetan bukankah isi otak juga menggemaskan? Gadis itu berusaha melupakan foto beberapa hari lalu dari nomer tak dikenal. Nomor yang mengirimkan pun bagai ditelan mulut hiu.Bukan hiu layaknya imajinasi balita yang seketika menggerakkan pinggul, melainkan hiu dengan taring siap menguliti mangsa. Berulangkali secara diam-diam dia menghubungi nomor tersebut. Tentu saja tak diketahui Arion yang tidak tahu, apabila gadisnya melihat interaksi dia dan Ratna melalui foto."Sibuk sekali kamu daritadi Mas lihat, Zel? Ada jadwal dosen kamu tidak suka? Atau apa?"Azelina semula sibuk merapikan penampilan, tetapi netranya hanya fokus ke handphone seketika teralih. Gadis itu terkesiap dengan pertanyaan Arion. Masih dalam bisu yang mengunci lisan Azelina, gadis itu memilah-milah keputusan akhir. Dia merasa penasarannya se
Bukan sebatas karena belum memiliki pengalaman, dalam mengasuh anak ketika mengerjakan tugas sekolah secara kreatif. Bagi Arion kata kreatif tak sebatas pengalaman pertama menjadi orang tua. Kreatif memutar otak dengan aneka derajat juga termasuk. Indera luar-dalam masih bekerja normal dan utuh membuat naluri bersembunyi diam-diam.Andai saja dirinya memiliki ilmu membaca pikiran dan hati, belajar ilmunya, menghabisi seseorang memiliki ilmu itu, maka sudah pasti dirinya tak mengusap kepala kebingungan. Lisan sang gadis memang tak mengutarakan, tatapan serta perlakuan gadis itupun masih sama. Hanya saja ntah mengapa naluri Arion diam-diam bersiaga."Zel?"Sunyi masih melanda dengan sang gadis yang mencuri pandang pada handphone-nya, walaupun menikmati waktu berduaan di kantor Arion tak membuat Azelina fokus. Pemikirannya sibuk terngiang-ngiang dengan pelaku pengirim foto. Suatu nama terbesit dengan tuduhan men







