Share

Bab 482

Penulis: Ghea
Hal yang paling ditakutkan malah benar-benar terjadi. Arlina menoleh dengan panik pada Rexa, berniat mencari sudut untuk sekadar mengalihkan Annie.

"Nggak perlu." Rexa hanya berkata demikian, lalu Arlina hanya melongo melihat Rexa mengangkat panggilan itu.

"Tunggu ...."

Belum sempat bicara, suara Annie sudah terdengar dari ponsel. "Nenek, itu Papa."

"Ya," jawab Rexa dengan lembut.

"Mama mana?"

"Ada di samping."

Arlina buru-buru mendekat ke kamera dan melambaikan tangan ke arah Annie. "Annie, Mama di sini."

Annie tersenyum lebar di layar, lalu seakan mendengar sesuatu, dia bertanya lagi, "Di sana berisik sekali, kalian lagi ngapain?"

Jantung Arlina langsung mencelos, lalu terdengar Rexa menjawab dengan jujur, "Papa sama Mama mau nonton film."

Mendengar itu, Annie langsung protes, "Papa Mama diam-diam nonton film tanpa aku!"

"Bukan diam-diam," Rexa menjelaskan lembut, "Lain kali kalau Annie sudah pulang dari rumah Kakek Nenek, Papa Mama juga akan ajak Annie nonton."

Annie langsung bersor
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 484

    Mendengar ucapan itu, Hubert malah tertawa kesal.Di rumah sakit besar seperti mereka, ada begitu banyak pasien yang antre menunggu giliran operasi. Begitu pasien selesai operasi dan kondisinya stabil, mereka langsung dipindahkan agar lebih banyak pasien lain bisa masuk. Siapa yang peduli dengan uang recehan Heidy itu?Hubert malas meladeni lebih jauh, dia langsung berkata pada perawat, "Operasi ditunda.""Aku nggak setuju!" Heidy berteriak histeris, lalu maju dan tiba-tiba meraih kerah baju Hubert yang hendak berbalik pergi."Apa-apaan ini?" Hubert yang tidak siap, langsung terseret mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh."Kamu harus melakukan operasinya sekarang, nggak boleh ditunda!"Wajah Hubert langsung menjadi muram, "Lepaskan! Kalau nggak, aku lapor polisi!""Aku nggak mau lepas! Kalian dokter-dokter bodoh cuma tahu mengeruk uang rakyat kecil, aku akan menuntut kalian!"Para perawat yang kaget setengah mati, buru-buru maju menenangkan, "Ibu, tolong bicara baik-baik, tolong

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 483

    Ini adalah malam yang biasa, tetapi juga terasa istimewa. Terasa biasa karena mereka hanya makan dan menonton film layaknya hal kecil yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.Namun terasa istimewa, karena mereka merasakan cinta yang melimpah di balik kesederhanaan itu. Rasanya begitu tenang, tetapi juga terpatri jelas dalam hati mereka.Saat bersama orang yang dicintai, seakan apa pun yang dilakukan akan selalu penuh kebahagiaan."Aku benar-benar bahagia," ucap Arlina. Rexa menundukkan pandangan menatapnya sekilas. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan, berkilau layaknya butiran cahaya dari permata.Rexa tiba-tiba teringat ketika tadi siang dirinya memilih bunga. Saat itu, staf toko sempat berkata, "Pasti Bapak sangat mencintai istri Bapak, ya?" Dia sempat heran, mengapa orang yang bahkan belum mengenalnya bisa mengatakan hal itu.Staf itu lalu menjelaskan, "Aku lihat, Bapak sangat serius saat memilih bunga dan bahkan tersenyum. Jadi aku pikir, Bapak pasti sedang membayangkan beta

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 482

    Hal yang paling ditakutkan malah benar-benar terjadi. Arlina menoleh dengan panik pada Rexa, berniat mencari sudut untuk sekadar mengalihkan Annie."Nggak perlu." Rexa hanya berkata demikian, lalu Arlina hanya melongo melihat Rexa mengangkat panggilan itu."Tunggu ...."Belum sempat bicara, suara Annie sudah terdengar dari ponsel. "Nenek, itu Papa.""Ya," jawab Rexa dengan lembut."Mama mana?""Ada di samping."Arlina buru-buru mendekat ke kamera dan melambaikan tangan ke arah Annie. "Annie, Mama di sini."Annie tersenyum lebar di layar, lalu seakan mendengar sesuatu, dia bertanya lagi, "Di sana berisik sekali, kalian lagi ngapain?"Jantung Arlina langsung mencelos, lalu terdengar Rexa menjawab dengan jujur, "Papa sama Mama mau nonton film."Mendengar itu, Annie langsung protes, "Papa Mama diam-diam nonton film tanpa aku!""Bukan diam-diam," Rexa menjelaskan lembut, "Lain kali kalau Annie sudah pulang dari rumah Kakek Nenek, Papa Mama juga akan ajak Annie nonton."Annie langsung bersor

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 481

    "Belajar dari mana?" Rexa menatap dengan ekspresi tak berdaya tetapi tetap penuh sayang."Dari internet dong, banyak sekali video kayak gitu." Arlina berkata, "Kamu belum pernah lihat?""Belum.""Astaga, Pak Rexa kamu sudah ketinggalan zaman," kata Arlina sambil melirik nakal. "Sekarang jam berapa?"Meskipun Rexa tidak tahu kenapa Arlina tiba-tiba mengganti topik, dia tetap melirik layar di mobil. "Jam enam lewat dua puluh tujuh.""No, no." Arlina menggelengkan jari telunjuknya dengan wajah penuh misteri, "Sekarang jam-jam kebahagiaan kita."Rexa mengusap lengannya sendiri dengan ekspresi yang sulit diungkapkan. Melihat reaksinya, Arlina tertawa terbahak. "Kamu suka hadiah yang aku siapkan buatmu?"Rexa berpura-pura serius. "Lebih nyata kalau kamu cium aku."Mendengar hal itu, Arlina langsung mendekat menciumnya. Namun begitu bibirnya baru menyentuh Rexa, Rexa sudah menahan tengkuknya.Ciuman itu lembut dan penuh keintiman. Embusan napasnya membelai kulit Arlina dan berhenti sangat lam

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 480

    Heidy tampak canggung saat mendengar itu. "Kamu juga tahu keluarga kita nggak kaya, mana bisa dibandingkan dengan orang lain?""Benar. Di depanku kamu selalu nangis bilang miskin, tapi semua keinginan putramu dipenuhi," kata Arlina sambil mengembalikan tas itu ke tangan Heidy. "Anakku sekarang sudah punya banyak mainan, lebih baik kamu simpan untuk cucumu yang lain."Wajah Heidy berubah-ubah, kadang merah kadang pucat. Dia merasa Arlina benar-benar tak tahu diri. Dia sudah beberapa kali mencoba bersikap baik, tetapi Arlina tetap menentangnya.Cengkeraman Heidy pada tas itu menegang, tetapi dia tak berkata apa-apa lagi. Kemudian, dengan wajah suram, dia berbalik masuk ke ruang rawat.Arlina menoleh ke samping dan terkejut melihat Hubert ternyata belum pergi, masih berdiri di sana memperhatikannya."Nggak perlu melihatku dengan sorot mata penuh belas kasihan. Nggak ada yang bisa memilih asal-usulnya," ucap Arlina dengan tenang. "Sekarang aku lebih bahagia daripada siapa pun."Nada bicara

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 479

    Hubert menatap tajam, lalu meraih Arlina dan menariknya mendekat.Prang! Gelas air menghantam dinding dan jatuh ke lantai, pecah menjadi beberapa bagian."Kami membesarkanmu bertahun-tahun untuk apa? Kamu kira kamu sudah hebat ya? Berani sekali melawan kami!" Godric marah besar. Dia mencengkeram dadanya sambil berteriak.Arlina menunduk, menatap pecahan gelas di lantai. Sulit dibayangkan jika gelas itu mengenai dirinya. Pasti sakit luar biasa. Saat melemparkannya, Godric malah tidak memikirkan apakah dirinya akan terluka atau merasa sakit.Sejak kecil memang begitu. Mereka berkata kasar, bertindak seenaknya, tak peduli hati Arlina akan tersakiti atau tidak.Mata Arlina menatap dingin ke arah Godric. "Terus, apa anak laki-laki berguna? Gimana dengan putramu sendiri? Apa dia merawatmu? Atau kasih kamu uang? Kalau begitu, kenapa nggak suruh dia yang operasi kamu saja?"Godric tidak menyangka Arlina berani membantah. Amarahnya semakin membara, dadanya terasa nyeri."Aduh, jangan bicara lag

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status