Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati

Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati

By:  Major_CanisUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Dimas, satu bulan saja .... Biarkan aku benar-benar merasakan rasanya menjadi istrimu ..." Itu adalah permintaan sederhana yang terdengar seperti jeritan terakhir seorang wanita yang patah hati. Namun, bagi Anisa Kumala, itu adalah harga dirinya, harga yang dia minta atas cinta yang telah dia berikan, tetapi tak pernah sekalipun dia terima. Sejak awal, dia tahu, pernikahan mereka tak pernah dilandaskan cinta. Dimas Cokro menikahinya hanya sebatas bentuk tanggung jawab, karena dia ditekan oleh neneknya. Tak ada pelukan hangat, tak ada tatapan penuh kasih .... Yang ada hanyalah sikap dingin dan rumah kosong yang tak pernah terasa seperti rumah. Meski begitu, Anisa tetap bertahan. Dia berusaha menjadi istri yang baik, berharap bahwa suatu hari, hati Dimas mungkin akan luluh. Namun, nyatanya harapan itu dihancurkan oleh pengkhianatan. Dimas ingin menikahi wanita lain, wanita yang benar-benar dia cintai. Dengan atau tanpa persetujuan Anisa. Seluruh keluarganya mendukung keputusan itu. Dengan hati yang hancur dan harapan yang sirna, Anisa mengajukan satu permintaan terakhirnya. Satu bulan dicintai sebagai seorang istri, istri yang sesungguhnya. Satu bulan ... sebelum dia benar-benar pergi. Dimas menganggapnya sebagai langkah putus asa, bahkan terkesan menyedihkan. Namun, satu bulan itu mengubah segalanya. Cara Anisa tersenyum, cara dia mencintai dengan sepenuh hati, bahkan cara dia pergi .... Semua itu meninggalkan sesuatu yang bersemayam di hati Dimas. Hingga akhirnya, Dimas merasa kehilangan arah. Ketika cinta yang tak pernah dia sadari akhirnya menampakkan diri .... Apakah semuanya sudah terlambat? Haruskah dia melawan semuanya, demi satu kesempatan lagi?

View More

Chapter 1

Bab 1

"Aku mau nikah lagi," kata Dimas. "Aku nggak akan mengulangi kataku, apalagi minta persetujuan darimu."

Dia meletakkan cangkir kopinya dengan tiba-tiba dan mengakhiri sarapan yang bahkan tidak disentuhnya sama sekali.

Anisa berdiri terpaku di samping meja makan panjang dari marmer putih, tangannya yang masih memegang spatula mulai gemetar. Dari luar, dia berusaha membuat wajahnya tetap terlihat tenang. Namun, saat menundukkan kepalanya sedikit, dia membiarkan kata-kata Dimas barusan meresap ke dalam dirinya seperti racun yang diam-diam membunuh dari dalam.

"Dengan Vera?" Suaranya nyaris seperti bisikan.

Dimas tidak melihat ke arahnya, hanya menghela napas pendek sebelum menjawab dengan dingin, "Ya. Sama siapa lagi?"

Suaminya, Dimas Cokro, tidak pernah mencintainya. Di hatinya, cuma ada satu wanita, Vera Baskara. Pada kenyataannya, pernikahan mereka hanya dipandang sebagai hambatan dalam kisah cinta Dimas. Namun, kalau yang merancang pernikahan mereka adalah orang yang paling baik padanya, Anisa bisa apa?

Evelin Cokro, neneknya Dimas.

Anisa pun tidak menginginkan pernikahan ini. Yang dia inginkan hanyalah agar almarhumah ibunya bisa mendapatkan penguburan yang layak. Semua yang terjadi setelahnya? Dia menerimanya sebagai takdir. Dia hanya bisa pasrah, meski kesedihan karena kehilangan ibunya masih menghantuinya.

Namun, Evelin menolak untuk membiarkan semuanya selesai sampai di situ saja. Maka dari itu, dia meminta cucu tersayangnya, Dimas, orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya Anisa, untuk menikahi Anisa sebagai bentuk penebusan dosa. Di mata Evelin, Anisa hanyalah seorang gadis kesepian yang tidak memiliki siapa pun di dunia ini.

Dimas pun terpaksa setuju dengan keinginan neneknya itu. Dia tidak punya pilihan selain menurut. Sekarang, setelah neneknya meninggal karena sakit dua minggu yang lalu, Dimas akhirnya menemukan kesempatan untuk meninggalkan pernikahan yang tidak pernah diinginkannya ini.

Sudah tak ada lagi alasan untuk bertahan. Sama sekali tak ada.

Senyum yang amat samar muncul di wajah Anisa, bukan karena dia merasa bahagia, melainkan karena dia sudah benar-benar pasrah. Dia mematikan kompor dan menaruh spatula di tangannya dengan pelan. Dia menutup rapat matanya sekali lagi dan mencoba menenangkan badai yang bergemuruh di dadanya.

Pada akhirnya, dia berkata, "Baiklah. Kalau begitu, aku nggak akan menahanmu." Suaranya begitu lembut, saking lembutnya sampai nyaris tak terdengar jelas. "Kita berdua tahu kalau aku nggak pernah punya tempat di hatimu."

Dimas tetap diam. Dia tidak membantah, juga tidak mengoreksinya. Saat Anisa perlahan menghampirinya, dari mata Dimas terlihat secuil kegundahan. Untuk sesaat, dia mengira Anisa akan menangis, memohon, atau menunjukkan kesedihan yang cukup membuatnya merasa bersalah.

Namun, dia salah.

Anisa berdiri tegap dalam balutan gaun sederhananya, tangannya terkepal kuat di sisinya.

Rambut hitam panjangnya terkulai bebas di punggungnya, menimbulkan kontras yang hampir tak disadari terhadap sikap tubuhnya yang penuh keteguhan tanpa riak. Mata cokelatnya yang terang dan hangat kini menatapnya, pria yang baginya terasa seperti orang asing di bawah atap yang sama, dengan mata kosong, ekspresinya tak terbaca.

Anisa itu cantik dengan caranya sendiri. Namun, kecantikannya itu tidak pernah memicu apa pun yang ada di dalam diri Dimas. Baginya, Anisa cuma gangguan, orang luar yang dipaksa masuk ke kehidupannya. Sekarang, kesempatannya untuk menyingkirkan orang luar ini telah tiba, dan Dimas tidak akan menyia-nyiakannya.

"Beri aku waktu satu bulan," kata Anisa dengan tenang. "Satu bulan saja .... Biarkan aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi istrimu ...."

Dimas menyipitkan mata. "Maksudmu?"

"Aku akan pergi. Seperti yang kamu minta. Setelah kamu mengucapkan janji pernikahanmu kepada wanita yang kamu cintai ...." Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa menusuk, seperti sayatan yang menggores lubuk hatinya.

"Setelah itu, kamu boleh menceraikanku. Aku berjanji aku akan menghilang dari hidupmu sepenuhnya. Tapi sebelum itu, izinkan aku untuk merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang istri, bukan orang asing di atap yang sama."

Ruangan seketika hening.

Dimas tertawa sinis, cukup lama sampai dia harus menyeka sudut matanya, merasa geli dengan permintaan konyol Anisa. Sebenarnya apa yang ada di otak perempuan ini?

Satu bulan? Sungguh permintaan yang konyol.

Dimas bergerak maju, memperkecil jarak di antara mereka. Dia menatap wajah Anisa lekat-lekat, mencoba membaca maksud terselubungnya. Mungkin ibunya selama ini benar. Anisa menikah dengannya hanya demi harta.

Siapa yang tidak mengenal Dimas Cokro, Presdir Grup Cokro sekaligus salah satu pebisnis berpengaruh di Kota Mega? Semua orang berebutan ingin dekat dengannya, terutama para wanita yang mati-matian mendambakan perhatiannya. Namun, di hati Dimas hanya ada satu nama, dan itu bukan istrinya.

Yang dicintainya adalah Vera Baskara, seorang model papan atas yang namanya memenuhi dunia fesyen.

"Kamu serius?" tanyanya dengan tak percaya, suaranya dingin. "Ini bukan hal yang bisa kamu mainkan sesuka hati, Anisa."

Anisa mengangguk pelan. "Aku nggak minta cinta darimu. Lagian, aku siapa, sampai berani memintanya darimu?" katanya, lalu tertawa getir. "Kamu cukup perlakukan aku dengan baik, sebagai seorang istri, itu saja. Makan malam bersama. Mengobrol sedikit denganku setiap hari. Memberikan sedikit kasih sayang walaupun itu cuma ... palsu."

Dia menelan ludah, kedua tangannya mengepal kuat untuk menjaga dirinya agar tetap tegar. "Setelahnya, aku akan pergi dengan tenang dan kamu bisa bebas menikahi siapa pun yang kamu mau."

Dimas menyipitkan mata, tak tahu harus tertawa lebih kencang atau merasa kesal. Namun, di balik itu ketidakpercayaannya, ada sesuatu dari perkataan yang mengena di hatinya. Sebuah permintaan sederhana .... Saking sederhananya sampai memicu rasa penasaran Dimas.

Apa tujuan Anisa yang sebenarnya?

"Kenapa nggak minta yang lebih masuk akal saja?"

Anisa terdiam. Mata hitam Dimas yang pekat bagai malam itu menatapnya tajam, membuatnya tak sanggup berpaling. Dia tahu, Dimas tidak akan membiarkannya memutuskan kontak mata sebelum semua kata yang ingin dia ucapkan terdengar.

"Kalau yang kamu mau adalah uang, bilang saja, aku akan kasih."

"Aku nggak mau itu," balas Anisa dengan tegas dan tanpa ragu. Tekadnya sudah bulat. Tak ada jalan untuk mundur sekarang.

"Kamu benar-benar nggak tahu caranya menyerah ya?" cibir Dimas.

"Aku sudah menyerah, Dimas," sahut Anisa lembut. "Aku cuma mau satu kenangan untuk kusimpan seumur hidup. Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu."

Setelah itu, keduanya terdiam.

Kali ini, tatapan Dimas tidak setajam sebelumnya. Dia menatap wanita di depannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Apakah dia bingung? Kesal? Atau ... penasaran?

"Aku nggak janji bisa bersikap baik padamu," katanya, memecahkan keheningan.

"Aku nggak pernah mengharapkanmu untuk berubah," jawab Anisa, ketenangannya terasa lebih mengguncang daripada air mata.

Begitulah, sebuah kesepakatan tak terucap pun terbentuk.

Satu bulan. Tiga puluh hari bagi Anisa untuk hidup sebagai istri dari Dimas Cokro, sebuah kenyataan yang seharusnya ada sejak hari pernikahan mereka setahun lalu. Namun, sepanjang waktu itu, dia tak pernah berarti apa-apa di mata Dimas, hanya seorang penyusup yang masuk ke dalam hidupnya.

Sekarang, sebelum segalanya benar-benar berakhir, Anisa masih bisa sedikit bersyukur. Dimas tidak menolak permintaannya.

"Satu bulan saja, Anisa," kata Dimas mengingatkannya. "Setelah itu, enyah dari pandanganku."

"Kamu nggak perlu khawatir, Dimas. Aku tahu betul apa yang aku minta."

Dimas mendengus, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh penghinaan. "Kalau kamu berharap lebih dari apa yang bisa kukasih, aku nggak akan ragu untuk menyingkirkanmu."

Anisa mengangguk dengan patuh.

"Jangan coba-coba ingkari janjimu, Anisa." Tatapan Dimas kembali menajam, menusuk. "Kalau kamu sampai berani mengingkarinya, aku nggak akan segan-segan untuk mengancurkan hidupmu."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status