LOGIN"Dimas, satu bulan saja .... Biarkan aku benar-benar merasakan rasanya menjadi istrimu ..." Itu adalah permintaan sederhana yang terdengar seperti jeritan terakhir seorang wanita yang patah hati. Namun, bagi Anisa Kumala, itu adalah harga dirinya, harga yang dia minta atas cinta yang telah dia berikan, tetapi tak pernah sekalipun dia terima. Sejak awal, dia tahu, pernikahan mereka tak pernah dilandaskan cinta. Dimas Cokro menikahinya hanya sebatas bentuk tanggung jawab, karena dia ditekan oleh neneknya. Tak ada pelukan hangat, tak ada tatapan penuh kasih .... Yang ada hanyalah sikap dingin dan rumah kosong yang tak pernah terasa seperti rumah. Meski begitu, Anisa tetap bertahan. Dia berusaha menjadi istri yang baik, berharap bahwa suatu hari, hati Dimas mungkin akan luluh. Namun, nyatanya harapan itu dihancurkan oleh pengkhianatan. Dimas ingin menikahi wanita lain, wanita yang benar-benar dia cintai. Dengan atau tanpa persetujuan Anisa. Seluruh keluarganya mendukung keputusan itu. Dengan hati yang hancur dan harapan yang sirna, Anisa mengajukan satu permintaan terakhirnya. Satu bulan dicintai sebagai seorang istri, istri yang sesungguhnya. Satu bulan ... sebelum dia benar-benar pergi. Dimas menganggapnya sebagai langkah putus asa, bahkan terkesan menyedihkan. Namun, satu bulan itu mengubah segalanya. Cara Anisa tersenyum, cara dia mencintai dengan sepenuh hati, bahkan cara dia pergi .... Semua itu meninggalkan sesuatu yang bersemayam di hati Dimas. Hingga akhirnya, Dimas merasa kehilangan arah. Ketika cinta yang tak pernah dia sadari akhirnya menampakkan diri .... Apakah semuanya sudah terlambat? Haruskah dia melawan semuanya, demi satu kesempatan lagi?
View MoreChapter 1: The Blood That Started It All
The past never fades. It lingers like the scent of gunpowder and the taste of blood, clinging to Isla Romano’s soul. She was sixteen when she watched her father die. The night was cold, the cobblestone street slick with rain, reflecting the city lights in eerie streaks of gold and crimson. The Romano estate, once a fortress, now stood vulnerable under the weight of betrayal. The scent of iron filled the air. The world slowed as Isla’s father, Emilio Romano, fell to his knees, blood seeping into the ground beneath him. Antonio DeLuca stood above him, a pistol in hand, his expression impassive. There was no pleasure in his gaze—only the cold efficiency of a man who had done this too many times before. A lesson. A warning. A punishment. "You should have stayed in your place, Emilio," Antonio said, his voice like steel cutting through the silence. Her father looked up, his once-powerful frame trembling, yet his eyes held no fear—only defiance. "You’ll regret this," Emilio rasped. "One day, my children will—" The gunshot silenced him. The world tilted. Isla's mother screamed—a raw, agonized sound that made her ears ring. Isla felt herself moving, lunging forward, but strong arms locked around her, dragging her back. "Let me go!" she cried, struggling against the grip. Her elder brother, Alessandro—Alex—held her tight, his voice a whisper in her ear. "Not now. We can’t—Isla, we have to go!" Tears blurred her vision as she watched the blood pool beneath her father’s body. Antonio DeLuca turned, slipping the gun into his coat, as if the act of murder was nothing more than an inconvenience. He walked away, his men following in his shadow. The Romano family was no longer a dynasty. They were nothing. That was the night Isla vowed revenge. "Blood for blood," Alex had whispered in the dark. "We will make them pay." Years had passed. Isla was no longer that helpless girl. Now, she was a weapon. And she was about to step into the lion’s den. Eight Years Later The Plan Begins Inferno was more than a club—it was an empire. Nestled in the heart of the city, it was a haven for the rich and powerful, a place where secrets were bought and sold, where pleasure and danger danced in the same breath. Owned by the DeLuca family, Inferno was a kingdom of sin, and its king ruled from the shadows. Dante DeLuca. The son of Antonio The man she had spent years studying. The heir to the DeLuca empire. Ruthless, dangerous, and untouchable. Tonight, she would meet him for the first time. But not as Isla Romano. Bella Caruso. That was the name she had chosen. The identity she had carefully crafted. She had spent years preparing—changing her appearance, erasing any trace of her past, learning how to blend into the world of men like Dante DeLuca. And now, she was here. Dressed in a sleek black dress that clung to her curves, Isla—Bella—moved through the dimly lit club with practiced ease. The scent of whiskey and expensive cigars filled the air, mingling with the low thrum of music. The energy in the room was electric, a current of power and danger running through the veins of every man present. She had been working here for two weeks, carefully positioning herself in the heart of DeLuca territory. Tonight, he was here. And he was watching her. She felt it before she saw him. The weight of his gaze. The way the air seemed to shift, thickening with something dark and consuming. Dante DeLuca sat in the VIP section, his presence commanding even in silence. He leaned back in his seat, one arm draped casually over the back of the couch, his fingers tapping idly against his glass of whiskey. Dark hair. Sharp jaw. Cold, calculating eyes that missed nothing. A predator watching his prey. Her pulse remained steady. She had trained for this. She moved to the bar, picking up a tray of drinks, her mask flawless. She was just another server, another woman in a sea of bodies. But Dante saw her. And then, it happened. A drunk VIP grabbed her wrist. "Come on, sweetheart," he slurred, pulling her close. "Sit with me." His grip was rough, his breath thick with whiskey. She could have played it safe. Could have smiled, let it go. But she wasn’t that girl. She twisted out of his grip, her voice cutting through the music. "You can’t afford me." Gasps rippled through the nearby tables. The VIP’s face darkened with anger. And then, a voice. Low. Lethal. "Let her go." The room went silent. Dante DeLuca had spoken. The VIP paled instantly. "Dante, I—" "Leave." One word. Absolute. The man stumbled away, and suddenly, Isla found herself trapped under the weight of Dante’s gaze. A slow, lazy smirk played at his lips, but there was no amusement in his eyes. Only interest. “What’s your name?” She hesitated. Careful. Always careful. "Bella." He tilted his head slightly, as if testing the way her name tasted on his tongue. "Bella." He repeated it slowly, deliberately. Then, his smirk deepened, something dark flickering in his eyes. "Interesting." Her pulse thrummed. She had gotten his attention. But she wasn’t sure if she had just stepped into a trap… Or set one. --- End of Chapter 1"Nggak," jawab Kaleb tenang. "Tapi niatnya patut dicurigai."Anisa mengepalkan kedua tangannya. "Siapa dia?" Dia mengembalikan ponsel itu kepada Kaleb.Kaleb melirik layar ponselnya yang kini kembali menampilkan halaman utama sebelum menjawab, "Seorang jurnalis. Cukup terkenal. Dia sudah menulis beberapa artikel yang menyudutkan Dimas."Fitria mendengus tajam. "Jadi, dia datang untuk mencari bahan baru?""Sepertinya begitu," jawab Kaleb. "Petugas keamanan menghentikannya sebelum dia bisa masuk lebih jauh."Anisa tidak habis pikir ada orang yang bersedia melakukan sejauh itu hanya untuk menjatuhkan suaminya. Cara mereka sangat penuh perhitungan, bahkan kejam.Apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh Dimas? Sepengetahuannya, Dimas tidak melakukan kesalahan apa pun, terutama dalam hal perusahaannya.Grup Cokro dipercayakan kepadanya oleh mendiang ayahnya, dengan harapan perusahaan itu dikelola dengan baik dan terus dikembangkan, bahkan hingga ke luar negeri jika memungkinkan. Jadi, tidak
Suasana di paviliun sebelah kanan terasa jauh lebih tenang dibandingkan dengan di rumah utama. Fitria berdiri di dekat jendela besar dengan tangan terlipat di depan dada, mondar-mandir tanpa henti. Setiap beberapa detik, dia menggelengkan kepala, rasa kesalnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.Berbeda dengan Fitria, Anisa langsung menuju dapur untuk menyiapkan teh lemon. Dia yakin tidak lama lagi Daniel dan Riana akan bergabung dengan mereka di sana."Aku benar-benar nggak mengerti," gerutu Fitria. "Gimana mungkin mereka mengizinkan wanita seperti Selly masuk ke rumah ini?"Anisa meletakkan nampan di atas meja, membawa teko besar berisi teh lemon. Dia kemudian menatanya bersama beberapa cangkir agar siapa pun bisa mengambilnya sendiri dengan mudah, lalu menambahkan sepiring penuh irisan kue. Setelah merasa semuanya sudah cukup, dia duduk di sofa dan menyandarkan tubuh dengan nyaman. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan, tetapi matanya tetap tenang."Aku yakin mereka nggak per
Saat itu juga, Selly memutuskan untuk memberi Jevan pelajaran, membuatnya memahami posisinya dan mengingatkannya bahwa di rumah ini, dia adalah orang luar. Tidak seperti dirinya. Selly merasa dirinya memiliki jauh lebih banyak hak di rumah ini, terlebih lagi karena sekarang Eli telah diakui sebagai cucu Keluarga Bunawan.Selly tidak kembali ke taman. Sebaliknya, dia memilih menunggu Eli di kamar gadis itu.Dia langsung menuju ke sana. Setelah memastikan pintunya tidak terkunci, dia mendorongnya hingga terbuka. Kamar itu gelap. Selly masuk dan menyalakan lampu meja di sudut ruangan.Dia duduk di kursi dekat jendela dan menunggu.Beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki dari luar. Gagang pintu berputar perlahan. Eli masuk, lalu langsung terdiam ketika melihat Selly sudah berada di dalam."Ibu?" Eli menghentikan langkahnya. "Kenapa Ibu ada di sini? Sejak kapan?"Selly menoleh kepadanya, ekspresinya sulit dibaca. "Sejak kapan aku dilarang masuk ke kamarmu?"Dia bangkit perlahan, tat
"Sialan," gumam Selly, kedua tangannya mengepal. Napasnya memburu dan tidak teratur saat dia berusaha menahan amarahnya.Pintu ruang makan tertutup di belakangnya dengan bunyi yang keras. Dia berjalan menjauh dengan cepat, napasnya masih tersengal-sengal. Rahangnya mengeras setiap kali mengingat tatapan Daniel dan Riana kepadanya, seolah-olah dialah sumber dari semua masalah. Cara mereka menghakiminya. Mereka seharusnya menyadari bahwa apa yang dia katakan adalah kebenaran."Mereka terlalu buta," gumam Selly, wajahnya memerah karena emosi. "Aku akan membuktikan bahwa aku benar. Tunggu saja. Kalian akan menyesal karena sudah memperlakukanku seolah-olah aku nggak berarti."Kukunya menekan telapak tangan hingga rasa perih dari goresan yang tidak sengaja dibuatnya terasa semakin tajam dan nyata. Dia tidak langsung menuju kamarnya. Dia perlu menenangkan diri. Kepalanya berdenyut, pikirannya kusut. Di mana dia bisa mendapatkan segelas anggur untuk sedikit meredakan ketegangannya?Namun, lebi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore