Mag-log in"Dimas, satu bulan saja .... Biarkan aku benar-benar merasakan rasanya menjadi istrimu ..." Itu adalah permintaan sederhana yang terdengar seperti jeritan terakhir seorang wanita yang patah hati. Namun, bagi Anisa Kumala, itu adalah harga dirinya, harga yang dia minta atas cinta yang telah dia berikan, tetapi tak pernah sekalipun dia terima. Sejak awal, dia tahu, pernikahan mereka tak pernah dilandaskan cinta. Dimas Cokro menikahinya hanya sebatas bentuk tanggung jawab, karena dia ditekan oleh neneknya. Tak ada pelukan hangat, tak ada tatapan penuh kasih .... Yang ada hanyalah sikap dingin dan rumah kosong yang tak pernah terasa seperti rumah. Meski begitu, Anisa tetap bertahan. Dia berusaha menjadi istri yang baik, berharap bahwa suatu hari, hati Dimas mungkin akan luluh. Namun, nyatanya harapan itu dihancurkan oleh pengkhianatan. Dimas ingin menikahi wanita lain, wanita yang benar-benar dia cintai. Dengan atau tanpa persetujuan Anisa. Seluruh keluarganya mendukung keputusan itu. Dengan hati yang hancur dan harapan yang sirna, Anisa mengajukan satu permintaan terakhirnya. Satu bulan dicintai sebagai seorang istri, istri yang sesungguhnya. Satu bulan ... sebelum dia benar-benar pergi. Dimas menganggapnya sebagai langkah putus asa, bahkan terkesan menyedihkan. Namun, satu bulan itu mengubah segalanya. Cara Anisa tersenyum, cara dia mencintai dengan sepenuh hati, bahkan cara dia pergi .... Semua itu meninggalkan sesuatu yang bersemayam di hati Dimas. Hingga akhirnya, Dimas merasa kehilangan arah. Ketika cinta yang tak pernah dia sadari akhirnya menampakkan diri .... Apakah semuanya sudah terlambat? Haruskah dia melawan semuanya, demi satu kesempatan lagi?
view moreAnisa menarik napas dalam-dalam untuk memaksa paru-parunya terisi udara, berusaha menenangkan dirinya sebelum emosinya meledak di hadapan putranya. Dia tidak boleh membiarkan Jevan salah paham dengan amarahnya. Saat dia akhirnya menoleh ke arah Jevan, amarah di wajahnya sudah lenyap karena kalah dengan kelembutan yang terpancar dari tatapan Jevan."Nggak ada yang salah, Jagoan Ibu. Kamu nggak perlu khawatir. Kamu bersenang-senang dengan Om Tampan?" kata Anisa sambil mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang.Jevan tersenyum lebar. "Tentu saja. Tapi, karena Om Tampan sibuk, aku lebih banyak mengobrol dan bermain dengan Nenek. Oh ya, aku juga buat banyak gambar untuk Ibu. Ibu mau lihat?"Senyuman Anisa menjadi lembut. "Tentu saja mau. Tapi, jawab dulu, kamu sudah habiskan makan siangmu?""Sudah. Nenek bantu aku kupas udang, lalu Om Tampan kasih aku ikan yang nggak ada durinya dan oh .... es krimku!"Saat menjawab, Jevan terkesiap karena teringat dengan makanan penutup yang ditin
"Aku rasa Jevan masih bersama Dimas. Kamu yakin mau menjemputnya sekarang?" tanya Kelvin sambil menghentikan mobil di depan lobi restoran di Jalan Hamsah, tempat putra tiri kesayangannya berada saat ini."Aku nggak tahu kenapa, tapi aku merasa gelisah. Aku hanya mau segera lihat Jevan, Kelvin. Kamu merasa merepotkan ya?" tanya Anisa dengan nada yang terdengar merasa agak bersalah dan menatap Kelvin.Anisa tahu dia seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu bersama Kelvin, pria itu sudah mengosongkan jadwalnya hanya untuk menemaninya. Namun sekarang, dia malah egois dan mengkhawatirkan putranya yang sebenarnya kemungkinan besar aman dan bahagia bersama Dimas. Apalagi Beni juga selalu mengawasi Jevan. Namun, mengapa dia cemas sampai dadanya terasa sesak?Kelvin mengusap puncak kepala Anisa dengan lembut dan gerakannya penuh kasih sayang. "Tentu saja nggak. Aku juga memikirkan Jevan. Mungkin ... rasanya ada yang kurang karena kita sudah terbiasa selalu bersama. Jangan terlalu pikirkan hal
Jevan menganggukkan kepala dengan antusias. "Iya. Ibu jago memasak. Kami kadang-kadang makan ikan bakar dengan sambal tomat atau sup ikan yang rasanya luar biasa. Rasanya sama enaknya dengan makanan di restoran ini, Nenek."Dia menyendok sepotong daging kepiting lagi yang baru saja Dimas taruh di mangkuknya. "Oh, tapi yang paling aku suka adalah lasagna keju buatan Ibu. Ibu membuatnya khusus untukku."Jesika tersenyum lembut, meskipun ada rasa sakit samar-samar yang tumbuh di dadanya saat mendengar ucapan Jevan. "Ibumu pasti wanita yang luar biasa."Dengan rasa bangga yang tulus dan mata yang berbinar, Jevan menjawab, "Tentu saja. Aku suka semua masakan Ibu, bahkan nasi goreng sederhananya pun rasanya luar biasa. Ibu selalu bilang makanan terbaik adalah makanan yang dimasak dengan cinta. Nenek mau coba? Kalau mau, nanti aku minta Ibu buatkan agar Nenek bisa mencicipinya.""Nggak perlu, Sayang," kata Jesika sambil tersenyum manis sekaligus pahit, tetapi pikirannya sudah melayang kembali
"Pak Dimas," panggil Alvin setelah melangkah memasuki kantor presdir.Saat itu, Dimas masih tenggelam di balik tumpukan dokumen, sisa dari jadwal padat mereka di luar Kota Mega.Saat masuk, pandangan Alvin langsung tertuju ke sudut ruangan di mana Jevan dan Jesika duduk bersama-sama. Suara tawa mereka terdengar santai dan tanpa beban memenuhi ruangan itu. Sulit ditentukan entah itu karena Jevan memang anak yang ceria dan mudah akrab atau ikatan antara nenek dan cucu memang tidak bisa disangkal tidak peduli seberapa keras pun disembunyikan.Tidak ada satu pun dari mereka yang di sana mengucapkan kebenaran, tetapi kehangatan di antara Jevan dan Jesika berbicara lebih keras daripada kata-kata.Melihat Beni yang berdiri tidak jauh dari sana dengan siaga dan tatapan tidak pernah lengah, Alvin mengerti. Tidak peduli siapa pun yang memberi perintah, tugas Beni sederhana. Yaitu menjaga Jevan tetap aman sampai kembali pada Anisa dan Kelvin.Dimas meletakkan kacamatanya sambil memijat pangkal hi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu