LOGINMahasisiwku jual diri, karena dia butuh uang dan aku bisa menolong. Awalnya aku menolak, dengan alasan etika. Namun ketika aku mendapat foto mantan tunanganku dengan pria lain, tepat ketika mahasiswiku sudah menanggalkan semuanya, laki-laki normal mana yang bisa menolak?
View More"Ugh, gila, gerah banget. Kayaknya mandi sore-sore gini rasanya seger, apalagi mandi bareng...."
Kaisar, dosen yang berusia 33 tahun, pemilik tubuh atletis, wajah tampan, rahang kokoh, alis tebal dan tatapan mata tajam itu terdiam ketika mendengar suara grasak-grusuk yang berasal dari ruangan olahraga. Harusnya semua mahasiswa sudah pulang, tetapi karena curiga, Kaisar memberanikan diri untuk mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. "Ya Tuhan, baru aja bayangin enaknya mandi bareng kucing peliharaanku, ini malah lihat pemandangan kayak gini! Putih, mulus, ramping kayak gitar spanyol. Benar-bener pemandangan yang gila!" Gluk! Kaisar yang berdiri di depan pintu, menelan ludah dengan kasar. Sepasang matanya menatap gadis yang sedang mengibatkan rambutnya di depan kipas angin. Di dalam ruangan itu, sang gadis terlihat mendekatkan wajahnya pada kipas angin, berusaha menghilangkan hawa gerah dan panas di tubuhnya yang berkeringat. "Segernya...." Selanjutnya, gadis itu membuka kaos yang di pakainya dengan perlahan. Hingga tampaklah punggungnya yang putih dan mulus. Gluk! Kaisar kembali meneguk ludah, matanya tak lepas dari pemandangan indah tersebut. Kini, tubuh bagian atas gadis itu hanya di balut oleh kacamata kuda yang mengetat di kedua bukitnya. "Gila, bagian belakangnya aja udah bikin suhu badanku panas dingin," gumam Kaisar. Ia seolah terhipnotis pada punggung gadis itu. Setelahnya, tangan gadis itu bergerak pada kacamata kudanya dan hendak membukanya perlahan. Namun, gerakan gadis itu tiba-tiba terhenti saat Kaisar tak sengaja menyentuh gagang pintu hingga terdengar bunyi pelan. Criet! Spontan, Kaisar menarik tubuhnya dan bersembunyi. Ia takut kegiatannya yang sedang mengintip di ketahui oleh gadis itu. Sedangkan sang gadis menoleh, masih dengan tangan yang memegangi tali kacamata kuda hitamnya. "Oh, ternyata Pak Kai," gumam gadis itu. Sudut bibirnya tersungging. Ia tersenyum tipis, lalu kembali berbalik badan, memunggungi pintu ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian, Kaisar yang merasa keberadaannya aman, kembali mengintip kegiatan gadis itu. Dilihatnya, gadis itu menyilangkan kedua tangan di dada. Lalu, menyentuh kacamata kudanya dan mengusap benjolannya dengan perlahan. "Egh...." Suara hembusan napas dan lenguhan gadis itu terdengar pelan. Pelan memang, tetapi berhasil membuat hasrat kelakian Kaisar mendadak naik. "Sial, apa yang sebenernya dilakuin cewek itu?" tanya Kaisar dalam hati. Tubuhnya mulai gelisah, hawa panas semakin menjalar, pemandangan yang berada di depan mata membuatnya benar-benar berhasrat. Ingin pergi, tetapi ia penasaran dengan kegiatan gadis itu selanjutnya. Pikirnya, apakah gadis itu akan melakukan hal yang tidak-tidak? "Shit...." Kaisar mengumpat, sebelah tangannya menyentuh sesuatu yang mengembung di balik celana training yang dipakainya. Di dalam ruangan tersebut, gadis itu benar-benar membuka kacamata kudanya. Hingga, punggungnya semakin terekpose tanpa penghalang. Bahkan, lehernya yang putih jenjang tampak begitu menggoda di mata Kaisar. Rasanya, ingin sekali Kaisar melihat bagian depan tubuh gadis itu. Pikirnya, bagian punggungnya saja begitu indah, apalagi bagian depannya. Pikiran-pikiran jorok itu terus memenuhi isi kepala Kaisar. Terlebih lagi, sejak dikhianati mantan tunangan dan mantan sahabatnya lima tahun yang lalu, Kaisar belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun lagi. Ia jomblo, bahkan kerap dijuluki sebagai bujang lapuk. Mendapat julukan bujang lapuk, sebenarnya Kaisar bukannya tidak laku. Tetapi ia sengaja hidup sendiri lantaran tak ingin masa lalu buruk terulang lagi. Meskipun memilih untuk hidup sendiri, bukan berarti Kaisar tak menyukai wanita. Hasratnya tetap tinggi, ingin merasakan apa itu hubungan intim dan nikmatnya bercinta. Hanya saja, dia sudah komitmen untuk tidak melakukan hubungan apapun dengan pacarnya, sampai mereka menikah. Lamunan Kaisar kembali buyar ketika gadis itu kembali menggerakkan pinggulnya, seolah ingin menggodanya. "Mau apa lagi dia?" Gadis itu meraih tisu basah, lalu mengusap area dadanya yang padat, bulat, berisi dengan ujung merah muda itu perlahan. Gerakan gadis itu membuat Kaisar merasa gila. Fantasi liar mulai memenuhi otaknya, meski hanya melihat bagian punggung si gadis. Setelah mengusap dadanya menggunakan tisu, gadis itu meraih tasnya dan mengeluarkan pakaian ganti. Dari dalam tas itu, ia mengambil kacamata kuda renda hitam yang kontras dengan kulit putih mulusnya. Lalu memakainya dengan santai. "Lambat banget, jangan-jangan dia sengaja nyiksa aku," kata Kaisar. Merasa jika gadis itu sengaja melambatkan kegiatannya. Selanjutnya, gadis itu memakai singlet ketat sebagai atasan dan rok jeans di atas lutut sebagai bawahan. Singlet ketat yang dipakainya, membuat kedua bongkahan bukitnya sedikit menyembul, seperti mau keluar dari tempatnya berada. Melihat kegiatan gadis itu, Kaisar geleng-geleng kepala. Aksinya saat ini seperti pria nakal. Tak ada mirip-miripnya dengan dosen yang selama ini terkenal galak dan irit yang bicara. Saat memakai rok jeansnya, sempat-sempatnya gadis itu menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Bahkan, bibirnya mengeluarkan suara desisan pelan. "Sstt, ayo dong," desisnya lirih. "Sialan, kalau kayak gini, aku bener-bener bisa gila," kata Kaisar. Kepala atas bawahnya kini terasa nyeri dan berdenyut-denyut. Dilihat sakit, tidak dilihat penasaran. Benar-benar seperti simalakama Kaisar di buatnya. Setelah memakai singlet dan roknya, gadis itu berjongkok, membuat bagian belakangnya terlihat jelas di mata Kaisar, untung pakai dalaman. Lalu, dengan santai ia meraih high heelsnya dan memakainya. Bleduk! Kaisar yang begitu fokus mengintip, tak sengaja menyenggol tempat sampah yang ada di sampingnya. Buru-buru ia menahan napas dan kembali bersembunyi. Beberapa saat kemudian, ia kembali mengintip. Namun, gadis itu sudah tidak ada di sana. Bahkan, tas dan barangnya sudah hilang. Kaisar mengerutkan kening sembari berbalik badan. Heran, kemana perginya gadis itu. "Kemana dia?" gumam Kaisar. "Gimana, Pak? Udah puas belum lihatnya?" Bersambung....Tap, tap, tap! Dengan langkahnya yang santai, Kaisar menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dan agak gelap di malam hari itu. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan, pria itu menuju ruangan VIP di mana Tuan Jayden di rawat. Tiba di depan ruangan VIP yang dituju, Kaisar menghentikan langkahnya lantaran mendengar obrolan dari dalam ruangan tersebut. "Kurang baik apa aku selama ini? Anak itu udah ditampung, diberi tempat tinggal dan kehidupan layak! Ingat, Rey, Adam itu anakmu, cucu sah keluarga Prasetya!" Mendengar perkataan Tuan Jayden yang ternyata sudah siuman, Kaisar mendongak, menatap langit-langit rumah sakit itu. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengatur napas dan mengurangi rasa sesak di dadanya. "Ryuga juga anakku dan cucu Papa, dia dan Kai—" "Kamu terlalu berat sebelah, Rey!" tukas Tuan Jayden. "Pokoknya keputusanku udah bulat dan gak bisa diganggu gugat. Aku akan tetap menyerahkan aset perusahaan ke cucuku!" Di dala
"Sayang, kenapa berdiri di sini? Dingin loh, yuk kita masuk!" Kaisar yang berdiri di balkon kamar, menoleh dan menatap Liona yang melangkah mendekat. Namun tatapan hanya sesaat, selanjutnya ia kembali berbalik dan memandangi langit gelap tanpa bintang di malam hari itu. Gelap langit malam itu, tak dapat mengalahkan gelap hatinya yang menyimpan kebencian pada keluarga papanya. Bayangan kematian adik dan ibunya, tak pernah bisa dilupakan. Dia saksi, saksi kematian adiknya yang meninggal karena sakit, juga saksi kematian ibunya yang mengalami depresi. Dan— semua itu terjadi karena papanya, pria egois yang tidak memiliki perasaan. "Sayang, aku tahu kamu pasti lagi mikirin mendiang mama dan adik kamu. Aku gak ngelarang kamu buat nginget mereka, tapi aku mohon jangan abaikan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, gimana sama aku dan calon anak kita?" Liona yang melangkah mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kaisar dan menempelkan kepalanya di punggung sang suami. Ia berbicara pelan,
"Ibumu pelacur, jalang sialan! Kamu dan ibumu adalah penyebab kematian ibu dan adikku! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah memaafkan kalian!" Dihina ibunya oleh Kaisar, Ryuga yang semula berusaha membujuk dan menenangkan, kini menatap tajam. Wajahnya memerah sedangkan kedua tangannya terkepal erat. Pria itu memepet tubuh Kaisar dan mendorongnya dengan kasar. Bruk! Tubuh Kaisar yang masih lemah pasca koma, terdorong dan membentur tembok lorong rumah sakit. "Mas Kai!" kata Liona. Kaget melihat suaminya di dorong oleh Ryuga. "Ibuku bukan pelacur, ibuku bukan perempuan jalang. Kamu boleh benci dan hina aku anak haram, tapi jangan pernah sebut ibuku sebagai pelacur!" kata Ryuga dengan suaranya yang keras dan lantang. Mendengar perkataan Ryuga, Kaisar yang dibantu berdiri oleh Liona itu pun tertawa dengan keras. Menertawakan Ryuga yang sepertinya sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi. "Haha... sampai kapanpun kebenaran gak akan berubah, Ryu. Ibumu tetaplah pelacur dan perempuan j
"Sayang, kamu beneran mau ikut pulang ke rumah papa dan mama?" Liona yang saat ini duduk di kursi, bertanya pada Kaisar yang bersandar di kepala ranjang pasiennya. Ditanya, Kaisar menganggukkan kepalanya. "Kalau orang tua kamu gak keberatan! Kalau mereka keberatan aku tinggal di sana, kita balik ke apartemen aja." Pria yang baru sadar dari koma dan sedang dalam tahap pemulihan itu menimpali perkataan istrinya dengan santai, tetapi bernada serius. Mendengar perkataan Kaisar yang negatif thinking, Liona menghela napas pelan. Sejak bangun dari koma, suaminya itu begitu sensitif dan mudah sekali marah. "Mama dan papa gak mungkin keberatan, Mas. Aku nanya gitu karena takut kamu berubah pikiran," kata Liona dengan pelan. "Aku gak akan berubah pikiran. Tinggal di mana pun bagiku sama aja, yang penting gak tinggal di kediaman keluarga Prasetya," kata Kaisar. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Jika mengingat seperti apa masa lalunya di keluarga Prasetya dan seperti apa penderitaan ibu
"Baiklah, aku akan bergabung ke perusahaan seperti yang Papa mau. Tapi, apa boleh aku ngambil posisi yang sama kayak Kaisar?"Perkataan yang keluar dari bibir Ryuga, membuat mata tua Tuan Jayden melotot tajam. Bahkan, pria renta itu seketika beranjak dari duduknya. "Apa yang kamu katakan, Ryuga? K
"Kaisar titip pesan ke saya buat kamu, katanya kamu harus bisa nerima kenyataan!"Liona yang duduk bersandar pada kepala ranjang, tampak menitikan air mata saat mengingat perkataan Aryo. Ia tak mengerti, apa maksud Kaisar berpesan seperti itu? Kenyataan apa yang dimaksud? Apakah kenyataan jika mer
Brak! Kaisar yang duduk di kursi kebesarannya, mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sumber suara. Dilihatnya, Tuan Reynald yang datang, menggebrak meja kerjanya dan meletakkan berkas proyek yang sebelumnya ia tolak. "Ada apa?" tanya Kaisar. Suaranya datar dan terdengar santai, sedangkan mata
"Sayang, gimana? Udah belum belanjanya? Kalau gak ada yang cocok, kita cari ke toko lain!" Suara yang terdengar familiar di telinga, membuat Diana langsung menoleh. Matanya membeliak kala melihat Kaisar mendekat ke arahnya dan Liona. Sedangkan Liona yang juga menoleh, memasang senyuman lebar pada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews