Teilen

73. Raja Cuka Datang

last update Veröffentlichungsdatum: 07.10.2026 21:16:42

Suasana di halaman TK Alam Mentari pagi itu terasa begitu sejuk dan menenangkan. Cahaya matahari menerobos di antara rimbunnya dedaunan hijau, memancarkan kehangatan yang lembut. Suara gelak tawa anak-anak berlarian di area taman bermain membuat tempat itu terasa hidup dan penuh kedamaian.

Arkana berlari kecil menuju ayunan kayu di sudut taman. Wajah mungilnya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Bunda, lihat! Ayunannya dari kayu pohon asli!" seru Arkana riang seraya melambaikan tangan kecilnya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    75. Tetangga Baru

    Tangan Kinara bergetar hebat di dalam genggaman erat Leo. Keheningan kapel tua itu terasa makin menghimpit, menyisakan deru napas Leo yang memburu tepat di depan wajahnya. "Kamu gila, Leo ..." bisik Kinara seraya menarik tangannya secara paksa dari cengkeraman pria itu. Langkah kakinya mundur dua tindak menjauhi altar. "Kamu baru saja menghancurkan aliansi dua keluarga raksasa, dan sekarang kamu memintaku menikah di kapel sepi ini? Kamu tidak sedang berpikiran jernih!" "Aku sangat jernih, Kinara!" pangkas Leo tajam, melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. "Giselle sudah hancur. Ayahku tidak lagi punya kartu untuk menekan posisiku. Apa lagi yang kita tunggu? Pria bernama Radit itu?" "Ini bukan tentang Mas Radit!" bentak Kinara dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah yang bertumpuk. "Ini tentang aku dan Arka! Aku baru saja menata hidup baru yang tenang di kota ini. Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri tanpa bayang-

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    74. Di Depan Gereja

    "Aku bekerja untuk perusahaan Mas Radit sekarang. Dia atasanku, Leo! Jangan bertindak gila di sini!" tegas Kinara seraya melangkah maju, memutus tatapan intimidatif antara Leo dan Radit. Ada riak kepanikan yang berusaha keras ia sembunyikan di balik suara tegasnya.Suasana di sekitar berubah menyesakkan. Tanpa diberitahu, Radit sadar Kinara sedang menghindari Leo. Mungkinkah ada sesuatu yang dilakukan oleh mantan asisten Kinara itu. Radit memegang bahu Kinara pelan, berusaha menenangkan. "Kinara, kalau pria ini mengganggumu, aku bisa panggilkan keamanan—" "Tidak perlu, Mas Radit," potong Kinara cepat. Ia menatap Radit dengan tatapan memohon. "Tolong izinkan aku bicara sebentar dengannya. Mas Radit bisa tunggu di mobil atau duluan ke kantor." Radit menatap Leo dan Kinara bergantian. Ada keraguan besar di matanya, namun melihat permohonan Kinara, ia akhirnya mengangguk pelan. "Aku tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku." Setelah Radit kembali ke dalam sedannya, Leo

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    73. Raja Cuka Datang

    Suasana di halaman TK Alam Mentari pagi itu terasa begitu sejuk dan menenangkan. Cahaya matahari menerobos di antara rimbunnya dedaunan hijau, memancarkan kehangatan yang lembut. Suara gelak tawa anak-anak berlarian di area taman bermain membuat tempat itu terasa hidup dan penuh kedamaian. Arkana berlari kecil menuju ayunan kayu di sudut taman. Wajah mungilnya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Bunda, lihat! Ayunannya dari kayu pohon asli!" seru Arkana riang seraya melambaikan tangan kecilnya. Kinara menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas. Senyum tipis yang sudah sangat lama menghilang dari wajah anggunnya kini merekah kembali. Rasa sesak yang menumpuk di dadanya selama di Jakarta seolah terangkat perlahan saat melihat kebahagiaan sang putra. "Hati-hati lari-larinya, Arka," sahut Kinara lembut, matanya tak lepas mengawasi tiap gerakan putranya. Di samping Kinara, Radit berdiri seraya memegang stopmap berisi berkas pendaftaran sekolah. Pria itu menyunggingkan senyum hangat,

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    72. Menyusul

    Valerie! Jangan konyol!" Sesosok pria berkemeja mewah melangkah maju dengan raut wajah gusar—Alexander, suami Valerie. Dengan cengkeraman yang begitu kasar dan impulsif, Alex menyambar pergelangan tangan Valerie, menarik tubuh istrinya secara paksa hingga wanita itu terdorong ke belakang. "Ikut aku pulang sekarang! Jangan mempermalukan dirimu di hadapan Ayah dan media cuma demi membela anak ini!" "Lepaskan aku, Alex!" ringis Valerie, mencoba menghempaskan tangannya. Sebelum Alex sempat menarik Valerie lebih jauh, sebuah tangan tegap lain mendadak mencengkeram lengan Alex dengan cengkeraman sekuat besi. Alex tersentak kaku, menoleh tajam. Devan berdiri tepat di samping mereka. Pria itu tetap mempertahankan posisi tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Namun, urat-urat di lehernya menegang kaku, dan binar mata di balik kacamatanya berkilat penuh amarah. "Harap jaga sikap dan batasan Anda, Tuan Alexander," ujar Devan dengan suara bariton yang sangat tenang, so

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    71. Gelombang Keluarga Sutedja

    Aula utama Grand Ballroom malam itu menjelma menjadi lautan kemewahan. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang menimpa gaun-gaun malam mahal dan setelan tuxedo para pengusaha papan atas, pejabat tinggi, serta puluhan awak media nasional. Di atas panggung utama, Giselle berdiri anggun dengan gaun merah marun yang menyapu lantai. Senyum tipis nan penuh kemenangan menghiasi wajah cantiknya. Di sampingnya, Arthur Sutedja berdiri dengan wibawa penuh dan orang tua Giselle. "Selamat malam, para hadirin yang terhormat," suara pembawa acara menggema hangat melalui sistem pengeras suara. "Malam ini, di tengah perayaan kejayaan Sutedja Group, kita juga akan menjadi saksi bisu dari aliansi terbesar abad ini ... pengumuman resmi pertunangan antara Valentino Sutedja dan Giselle Vivian Chen!" Tepuk tangan riuh membahana di seluruh penjuru aula. Giselle melirik ke arah Leo yang berdiri tegap di sampingnya. Leo tampak begitu tampan, namun raut wajahnya kaku bagai pahatan es, dan binar

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    70. Pijakan Baru

    Udara pagi di kota kecil yang sejuk ini terasa jauh lebih ramah dibanding Jakarta. Kinara merapikan kemeja putih berlapis blazer kremnya di depan cermin apartemen sewaannya yang baru, lalu memoleskan lipstik dengan warna natural. Ada binar keteguhan yang kian menguat di matanya. Ini adalah hari pertamanya memenuhi panggilan wawancara kerja di PT Buana Alam Mandiri—perusahaan ekspor-impor buah dan hasil alam lokal. Begitu melangkah masuk ke dalam gedung kantor yang mengusung konsep modern-asri tersebut, Kinara diarahkan menuju ruang wawancara di lantai dua. Di dalam ruangan berpendingin udara itu, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi menyambutnya hangat. "Selamat pagi, Mbak Kinara. Saya Fitri dari tim HRD," sapa wanita itu seraya meneliti berkas di tangannya. Matanya berbinar kagum. "Jujur, rekam jejak Mbak Kinara di bidang manajemen bisnis dan gelar S3 ini sangat impresif. Kami sangat beruntung Anda mau melamar untuk posisi Manajer Pemasaran di sini." Kinara menyunggingkan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status