LOGINDi usia 35 tahun, Kinara hanya fokus pada dua hal: karirnya sebagai manajer perusahaan milik keluarga, dan putranya yang masih kecil. Sejak bercerai tiga tahun lalu, ia sudah kebal dengan julukan janda dan rumor jelek tentangnya. Namun, hari itu, seorang anak magang membelanya di depan orang-orang, bahkan tidak ragu-ragu menyatakan kekagumannya pada Kinara. Orang-orang heran, kenapa lelaki muda dan tampan itu gigih mengejar seorang janda beranak satu? Leo adalah pria yang manis, tapi … ah, Kinara sudah bertekad, ia tidak akan luluh lagi pada pria mana pun!
View More"Akhirnya keluar juga kamu, Kinara!"
Seruan itu menyapa Kinara tepat saat kakinya menapak keluar dari lift lantai divisinya di gedung PT Danantara. Pria bertubuh jangkung dengan setelan jas mahal berdiri dengan bersedekap di tengah lorong, menyunggingkan senyum remeh yang amat ia kenali. Rian Ardiansyah, mantan suaminya. Langkah Kinara terhenti seketika. Tiga tahun telah berlalu sejak perceraian resmi mereka, namun kehadiran Rian selalu berhasil memicu trauma tersembunyi. Dulu, mereka menikah karena kesalahan satu malam yang terjadi setelah Kinara melakukan pertemuan dengan seorang klien. Ada yang menaruh obat di minumannya. Kinara yang tak sadarkan diri tidur dengan seorang pria. Ia sama sekali tak mengingat detail yang terjadi. Di bawah pengaruh minuman itu, ia akhirnya hamil. Tak selang berapa lama, Rian datang mengakui kesalahannya, dan Kinara yang terlanjur hamil tidak punya pilihan lain selain menerima lamaran Rian. Ayahnya yang malu mendesak keduanya melangsungkan pernikahan beberapa hari setelah pengakuan itu. Rumah tangga mereka berjalan selama dua tahun. Selama itu juga Kinara tidak merasakan kehangatan atau pun perhatian. Awalnya, ia memaklumi jika mereka menikah tidak didasari cinta. Ternyata, pria itu berselingkuh sejak tahun pertama pernikahan mereka. Ia dinikahi hanya demi harta dan status keluarganya. Pengalaman itulah yang membentuk Kinara hari ini. Ia menjadi seorang wanita yang dingin, berjarak, bersumpah tidak akan pernah membiarkan pria mana pun mengendalikan hidupnya lagi. "Sedang apa kamu di sini, Rian?" tanya Kinara datar sambil merapikan blazer abu-abunya. "Ini area terbatas perusahaan. Orang luar tidak bisa masuk sembarangan." Rian terlihat tersinggung. "Orang luar? Kamu menyebut mantan suamimu sendiri sebagai orang luar, Kinara? Angkuh sekali kamu. Merasa hebat sekarang hanya karena jabatan yang diberikan ayahmu itu?" "Kita sudah resmi bercerai tiga tahun lalu secara hukum," pangkas Kinara cepat, melipat kedua tangan di dada. Menatap datar mantan suaminya. "Jadi ya, kamu adalah orang luar. Kalau ada urusan bisnis, hubungi admin divisiku. Kalau tidak ada, silakan pergi." Sejak melihat chat mesra yang ia temukan tiga tahun lalu di ponsel pria itu, Kinara sudah lama membuang nama Rian dari daftar prioritas di hidupnya. Semua telah ia kubur bersama cincin kawinnya. Sekarang, pria itu datang lagi hanya untuk membuat jam kerjanya berantakan. Rian tertawa sumbang, melangkah mendekat dengan gaya arogan yang biasa ia gunakan untuk menundukkan Kinara dulu. "Aku datang ke sini bukan untuk urusan bisnis," ujar Rian dengan nada melunak, namun terkesan sangat merendahkan. "Aku datang untuk memberi kamu kesempatan kedua. Kita rujuk!" Kinara terdiam sejenak. Alisnya bertaut pelan. "Rujuk? Kamu bercanda?" "Aku bicara serius, Kinara. Aku tahu hidup sebagai janda di lingkungan korporat itu berat. Kamu dipandang sebelah mata oleh orang-orang, digosipkan sana-sini, dan harus membesarkan Arka sendirian. Kasihan anak kita. Dia butuh sosok seorang ayah." Kinara menghela napas pelan. Lagi-lagi soal statusnya. Ia sudah terlalu sering mendengar varian cibiran yang sama. Menjadi janda di usia muda dengan posisi tinggi sebagai senior manager tidak semudah yang dibayangkan. Setiap hari, ia harus berhadapan dengan tatapan meremehkan para jajaran direksi yang meragukan kemampuannya. Belum lagi, banyak bisik-bisik miring dari rekan kerja yang sering menudingnya naik jabatan karena dia anak Presdir perusahaan. Banyak yang mencibirnya tak memiliki kemampuan untuk jabatannya saat ini. Bahkan menyinggung status janda miliknya sebagai salah satu kegagalan terbesar. Kinara sudah terbiasa menghadapi semua itu. Ia tidak membuang energi untuk tersinggung. Ia hanya menatap Rian lurus. “Aku menolak,” ujar Kinara. “Ada hal lain? Jika tidak, silakan pergi. Jangan bawa-bawa nama Arkana ke dalam masalahmu sendiri.” Raut wajah Rian mengeras, topeng keramahannya terkelupas seketika. "Dengar, Kinara," suara Rian merendah penuh nada ancaman. "Bisnis keluargaku sedang butuh dana, dan ayahmu pasti tak akan membiarkan menantunya melarat. Kalau kita rujuk, reputasimu akan bersih. Kamu tidak jadi janda lagi. Aku sudah dengar, orang-orang selalu mencibir status jandamu, kan? Ini penawaran menguntungkan untuk kita berdua." Kinara menatap Rian lama. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak berubah. Selalu menganggap wanita yang dijadikan istri sebagai alat untuk mencapai kepentingannya sendiri. Dulu, Rian menelantarkannya demi selingkuhan yang dia pelihara di luar, dan kini setelah bangkrut, ia datang berlagak menjadi pahlawan. Padahal yang Rian ingin memanjat lewat status Kinara sebagai putri seorang Presdir. Bagaimana mungkin seseorang tak punya cermin untuk melihat dirinya sendiri? Sungguh menjijikkan. "Kamu benar-benar tidak berubah, Rian. Selalu egois dan licik," komentar Kinara, ia menghela napas pelan. "Aku tidak butuh laki-laki untuk menopang hidupku. Aku tidak butuh kamu untuk membesarkan Arka. Dan aku sama sekali tidak butuh pria tidak berguna seperti kamu untuk menjaga reputasiku. Aku mampu berdiri sendiri." Penolakan itu langsung membakar ego Rian. Pria itu mendadak maju dan mencengkeram pergelangan tangan Kinara dengan kuat. "Kamu cuma janda tua, tidak usah sok jual mahal!" bentaknya. "Tanpa status pernikahan, kamu itu tidak ada harganya, cuma tunggu waktu buat dijatuhkan dari kursi manajermu itu! Kamu butuh aku!" Emosi Kinara yang dari tadi berusaha ditekan, akhirnya lepas saat hinaan itu meluncur begitu saja dari mantan suaminya. Sudah tiga tahun ia berjuang mati-matian agar orang lupa akan status janda itu, tiga tahun membuktikan bahwa semua ini berkat usaha kerja kerasnya. Orang-orang berpikir ia naik jabatan jalur dalam, padahal ditekan habis-habisan oleh ayahnya. Harus bekerja lebih keras daripada orang lain di perusahaan. Rian yang tak tahu apa-apa seenaknya menindas harga dirinya. "Lepaskan tanganku!" perintah Kinara dingin, mencoba menghempaskan cengkeraman Rian. "Rian, lepaskan. Aku bisa panggil security sekarang juga!" "Panggil saja! Mari kita buat skandal sekalian, agar semua orang melihat betapa tak tahu dirinya—" "Maaf, Pak. Sepertinya Anda terlalu kasar pada seorang wanita." Sebuah suara bernada berat dan tenang mendadak memotong kalimat Rian dari arah belakang. Sebelum Rian sempat menoleh, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Rian yang sedang menahan Kinara. Dengan sekali dorongan dan puntiran keras yang menyakitkan, pria asing itu memaksa Rian melepaskan cengkeramannya. "Agh!" Rian meringis kesakitan sambil melangkah mundur dua tindak. "Siapa kamu?! Berani-beraninya campur tangan!" Kinara langsung mundur, mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Di sampingnya, berdiri seorang pria muda bertubuh jangkung dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu menatap Rian tajam, berdiri memasang badan di depan Kinara. "Saya staf baru di divisi pengembangan bisnis. Anak magang baru untuk belajar di kantor ini," jawab pria muda itu santai sambil menunjukkan ID Card-nya. "Nama saya Leo. Dan tugas saya pagi ini adalah memastikan sampah tak diundang ini tidak mengotori lorong kerja yang dipimpin ibu manajer kami.”Pagi baru saja merambat di pelataran parkir kantor Buana Alam Mandiri. Sebuah sedan hitam mewah berhenti halus di dekat lobi utama. Dari balik kaca jendela, Kinara mendengus pelan sebelum melangkah keluar. Pria muda itu benar-benar tak bisa dibantah. Leo bersikeras mengantarkan Arkana ke sekolah sekalian mengantar Kinara ke kantor demi memastikan keselamatan mereka. Kinara merapikan blazer kerjanya dan melangkah menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa tindak berjalan, langkahnya terhenti kaku. Radit berdiri di dekat pilar lobi dengan wajah tegang, matanya menatap tajam ke arah sedan hitam yang baru saja berlalu, lalu beralih penuh emosi pada Kinara. Tak jauh dari sana, Sarah melangkah menghampiri dengan senyum miring yang sarat akan provokasi. "Kinara!" panggil Radit dengan suara menekan, memangkas jarak di antara mereka. Di tangannya, sebuah lembaran cetak siaran pers dari Jakarta tergenggam erat. "Kamu masih mau diantar oleh pria itu setelah berita ini tersebar luas?!" Radit m
pintu apartemen terrbanting keras. Kinara melempar tas kerjanya ke atas meja konsol dengan napas memburu kencang. Raut wajah dewasa yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini dipenuhi oleh amarah yang membakar serta luka mendalam yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapt. Klek. Pintu utama terdorong lagi. Leo melangkah masuk dengan setelan jas kustomnya yang terpasang rapi. Binar mata hitam pria itu tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun, melainkan kegelapan posesif yang amat pekat. Ia melangkah tegap, memangkas jarak di antara mereka tanpa ragu. "Kinara, dengarkan aku dulu—" "Dengar apa lagi, Valentino?!" potong Kinara tajam, memutar tubuhnya dan menatap Leo dengan pandangan menusuk. Bibirnya tersenyum sinis, sebuah senyuman pahit yang sarat akan kekecewaan. "Dengar bagaimana kamu merancang pernikahan megahmu dengan Giselle Chen di Jakarta?! Atau mendengar kebohongan manis apalagi yang mau kamu suapkan padaku setelah semalam berpura-pura menjadi pria paling setia?!" Leo
"Aku yang mengantar kalian," ujar Leo tegas seraya meraih kunci mobil dari atas meja. Pria bertubuh tegap itu berdiri menghalangi jalan menuju pintu keluar apartemen, menatap Kinara dengan binar mata posesif yang tak bisa dibantah. Kinara menghentikan langkahnya, menatap Leo dengan raut wajah datar. "Tidak perlu, Leo. Aku bisa naik taksi atau angkutan umum bersama Arka seperti biasa. Kalau kamu yang mengantar dengan mobil mewahmu itu, para karyawan di kantor bakal heboh dan memicu desas-desus yang tidak penting." Leo menyunggingkan senyum miring yang amat cerdik. Menyadari benteng pertahanan Kinara yang terlalu keras jika dihadapi secara langsung, pria muda itu melirik pelan ke arah bocah kecil di samping Kinara. "Arka," panggil Leo seraya berlutut menyamakan tingginya dengan Arkana. "Kamu lebih suka diantar Paman naik mobil yang ada pendingin dinginnya, atau desak-desakan panas di jalanan sama Ibu, hm?" Mata bulat Arkana seketika berbinar terang. Bocah kecil itu memegang erat uju
Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan pendar hangat di atas lantai kayu. Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih membumbung tipis. Kinara berdiri kaku di depan cermin besar. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan kini diliputi raut jengkel yang luar biasa. Jemari lentiknya menarik kerah jubah mandinya sedikit ke bawah, memperlihatkan beberapa bercak kemerahan yang tercetak jelas di sekitar leher dan tulang selangkanya. "Pria gila itu ..." gumam Kinara berdesis pelan, meremas kerah jubahnya erat-erat. Bercak-bercak tanda kepemilikan itu menyebar begitu kentara. Pria muda itu benar-benar beringas dan tidak tahu aturan semalam. Kinara harus memutar otak, memoleskan concealer tebal berkali-kali di lehernya agar bekas cumbuan gila itu tidak menjadi bahan gunjingan di kantor nanti. Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja berkerah tinggi yang tertutup rapat, Kinara melangkah keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore