Share

•08•

"Sayang, sini dong," rengek seorang pemuda sembari merentangkan kedua tangannya meminta untuk dipeluk.

"Apasih kamu. Bangun, gak usah pake tidur lagi," kata gadisnya galak.

"Sayang. Bentar aja kok. Janji," rengeknya semakin menjadi.

Gadis itu menghela nafas. "Gak ada Vin. Udahlah bangun."

"Ayolah Nay, peluk doang." Gavin berucap sambil memajukan bibirnya, merajuk.

Naya menghampiri Gavin yang sedang berada diranjang. Lalu duduk ditepi ranjang. Membuat senyum Gavin mengembang. Dengan cekatan Gavin beringsut untuk memeluk tubuh mungil Naya.

"Sesek Vin, jangan erat banget."

Gavin cengengesan. "Hehe, maaf ya sayang," katanya. Lalu mencium pipi Naya.

Naya menghindar lalu mendorong pelan kepala Gavin. "Bau ish. Mandi dulu sana," titahnya.

"Apasih?" tanyanya. Lalu menciumi wangi tubuhnya. "Masih wangi Nay."

"Enggak, sana mandi Vin. Kamu tuh kebiasaan, kalo telat gimana?" Naya hendak beranjak, tetapi lengannya ditarik oleh Gavin. Yang sekarang posisinya berada dipangkuan Gavin.

Mereka saling bertatap selama beberapa menit. Lalu Naya mengerjapkam matanya. Sadar. Lalu hendak berdiri. Namun, lagi dan lagi Gavin menariknya kembali. Membuat Naya berdecak kesal.

"Morning kiss dulu," kata Gavin sambil menepuk-nepuk bibirnya.

Naya membelalakkan matanya. "Gak ada ah, Vin." Kata Naya mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia salah tingkah.

"Ih gitu, pipinya merah. Berati kamu salting," goda Gavin.

"Gak mau Vin. Jauh-jauh sana," titah Naya mendorong pelan wajah Gavin yang semakin maju.

Gavin bukannya menjauh malah lebih mendekat. Nafas Naya tercekat, jarak sedekat ini membuatnya memerlukan banyak oksigen.

Gavin semakin mendekat ...

Makin dekat ...

Dekat ...

Dan, BYURRRRR!

"AAAAAAAA! BANJIR WOYYY!"

"HUJAN! HUJAN! PAYUNG DONG ANJIR!" teriaknya yang masih belum membuka mata. Dengan perlahan Gavin membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah Mamanya, tangan kanannya yang memegang gayung, dan tangan kirinya memegang pinggangnya. Mukanya terlihat sangat sangar.

"Mama?! Ngapain sih Ma? Basah kan?" amuknya.

"Ngapain-ngapain! Gak liat sekarang jam berapa? Kamu udah telat Gavin! Ngapain juga tuh bibir monyong-monyong? Hah?!"

Mama Renata tak tinggal diam. Dia juga memarahi anak semata wayangnya.

"Hah?" Gavin masih linglung. Kesadarannya belum kumpul sepenuhnya.

"Astagfirullah Ma, Gavin telat. Ngomelnya dianjuk dulu yah," kata Gavin lalu melenggang kearah kamar mandi, berniat membersihkan badannya.

"Berati tadi cuma mimpi? Ck. Tau gitu gue gak usah bangun aja," gerurunya dikamar mandi.

"GAVIN! BURUAN JANGAN NGOMEL MULU!"

***

"Naya sama Kevan berangkat dulu ya, Ma. Assalamualaikum," pamit Naya lalu mencium kedua punggung tangan orang tuanya. Bergantian dengan Kevan.

"Iya hati-hati sayang. Walaikumsallam," kata Jessie dan Devan.

Kini sikembar sedang berada didalam mobilnya. Naya memainkan ponselnya. Kevan yang fokus dengan bahu jalanan.

"Nay, lo sadar gak sih?" Kevan memulai percakapannya.

"Sadar apa?"

"Kalo si Gavin suka sama lo," katanya to the poin.

"Ya terus?"

"Ya lo respon lah."

"Apaan deh."

"Pokoknya lo nggak boleh cuek-cuek sama semua orang."

"Iya abang ku sayangg."

***

Bel masuk sudah berdering 20 menit yang lalu. Tetapi, Gavin belum memasuki kelasnya. Membuat Kevan harus berfikir keras. Kalau Gavin berangkat siang, antara kesiangan atau tidak sekolah dan mengiriminya pesan telat.

"Nay," bisik Kevan dibelakangnya.

Naya menoleh. "Lo ada kabar tentang Gavin?" tanya Kevan.

"Kok lo nanya gue?" tanya balik Naya.

"Ya siapa tau, kan, lo tau."

"Eng-"

"Kanaya," tegur guru yang sedang mengajar didepan. Naya refleks menoleh ke depan.

"Eh, i-iya Bu?"

"Kamu kenapa nengok terus ke belakang? Ada yang kurang?"

Naya gelagapan sendiri. Gara-gara kakaknya ini. "Eng ... nggak Bu, itu tadi, emm ... Anu." Naya merutuki kebodohannya sekarang. Bisa-bisanya di gugup hanya ditanya seperti itu.

"Oh iya, Gavin kemana Naya?" tanya guru itu.

"Ha? Naya gak tau Bu," jawab Naya seadanya. Memang tidak tahu bukan?

"Terus kenapa kamu nengok ke belakang terus?" desak guru itu. Perlu kalian ketahui bahwa guru ini sangatlah killer. Salah sedikit saja bisa dihukum. Yang Naya khawatirkan jika dia harus dihukum. Masa iya, yang salah bukan dia, eh yang dihukum malah dia. Tidak adil bukan?

"Itu tadi Kev-"

"Assalamualaikum, maaf Bu saya telat."

Naya menghela nafas lega. Akhirnya si biang masalah datang juga.

"Kamu telat berapa menit Gavin?"

Gavin melihat kearah tangan kirinya, disana jam tangannya melingkar. "Tiga puluh menit bu," kata nya santai.

"Kamu hormat didepan bendera sampai istirahat."

Tuh kan! Apa kata Naya tadi! Sangat killer. 

"Lah, Bu? Cuma tiga puluh menit kan?" ujarnya linglung.

"Cepetan! Atau mau Ibu tambah?" ancam guru itu.

"Eh, enggak Bu!"

Gavin melangkah kan kakinya kearah mejanya. Lalu menyimpan tas nya disamping kursi Kevan. Sebelum melenggang, dia berkata. "Ketemu di kantin," katanya.

Yang angguki oleh Kevan dan Darrel.

Gavin belum terlalu jauh, dia masih berada dipintu. Tapi, ucapan gurunya yang membuat langkahnya terhenti.

"Kamu juga Naya."

Naya membulatkan matanya sempurna. "Hah? Salah Naya dimana?"

"Tadi kamu mengobrol di jam pelajaran ibu, cepetan."

Naya beranjak. "Ketemu di kantin Ge," katanya. Dibalas anggukan mengerti oleh Gea.

Naya melenggang dari tempat duduknya. Dia melewati Gavin yang termenung di sudut pintu. Dia kan menunggu Naya. Tapi, kok malah dia yang ditinggal?

Tidak habis akal, Gavin mengejar Naya. Mensejajarkan langkahnya.

"Apaansi tuh guru. Gue nggak salah apa-apa juga. Dihukum pula," gerutu Naya.

"Udah kali, kan ada gue." Kata Gavin

Naya memberhentikan langkahnya. Menatap Gavin tajam. "Ya semua ini gara-gara lo tau nggak," kata Naya galak.

"Enggak," jawab Gavin cuek.

"NGESELIN!" jeritnya. Lalu pergi dari hadapan Gavin.

"NGGAK PAPA. BIAR LO MAKIN SUKA!" Gavin ikut berteriak. 

Naya yang mendengar ucapan Gavin berhenti. Dia memegang dadanya yang bergemuruh. Tidak mungkin!

***

Kini Naya dan Gavin sedang berada ditengah lapangan menghadap kearah tiang bendera.

Gavin menoleh kesampingnya. "Nay, muka lo pucet. Lo udah sarapan?" tanyanya.

Naya ikut menoleh. Namun, agak mendongak. Karena perbedaan tinggi mereka. "Udah. Tapi, sedikit. Soalnya tadi gue kesiangan," katanya berucap panjang. Tidak perlu dijelaskan lagi kan?

"Ke kantin aja yuk, gak tega gue liat muka pucet lo."

"Terus ini gimana?"

"Gak papa, nanti bilang aja lo belum sarapan," kata Gavin yang kini posisinya berada dihadapan Naya. Bermaksud menghalangi sinar matahari.

"Gak mau," tolak Naya.

"Nanti kalo lo ping—"

"Udah Vin, ngadep depan lagi. Gue gak papa," potongnya cepat.

Gavin menurut. Tetapi, matanya terus memperhatikan gerak-gerik Naya. Gadis itu memijit pelipisnya, bermaksud menghilangkan pening dikepalanya. Lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Namun, peningnya masih terasa, dan semakin memberat.

"Vin ..." cicit Naya, tangannya memegang bawah baju seragam Gavin.

"Ke UKS aj—"

Brukk

Belum sempat Gavin membereskan ucapannya. Naya terjatuh dan tak sadarkan diri dipangkuan Gavin.

Dengan cekatan Gavin membopong tubuh Naya, membawa gadis yang pingsan ini ke UKS.

Bel istirahat sudah berdering sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi, keberadaan Naya dan Gavin tidak ditemukan oleh Kevan, Gea dan Darrel.

"Lo chat aja si Gavin atau si Naya Van. Ribet kalo gini," kata Darrel.

"Kenapa gak dari tadi sih, Rel."

Kevan membuka ponselnya. Lalu beralih ke aplikasi W******p.

Baru saja dia ingin mengirim pesan, Gavin mengiriminya pesan terlebih dahulu.

Gavinlol:

Naya di UKS. Gue lupa ngasih tau.

Kevan:

LO NGAPAIN DI UKS HA?! JANGAN

MACEM MACEM LO YA. AWAS!

Gavinlol:

Gak usah capslook anjing! Buruan sini. Bawain bubur. Teh angetnya udh ada.

Kevan melenggang kearah penjual bubur Ayam. Memesankannya sesuai perintah Gavin. Ia juga baru ingat, bahwa Naya tadi sarapan hanya sedikit. Dikarenakan dia bangun siang.

"Uks," katanya.

Lalu mereka bertiga berjalan tergesa menuju UKSM

Pintu UKS tertutup rapat. Membuat Darrel menggelengkan kepalanya. "Wah Van! Gak beres nih, ngapain ditutup-tutup gini ha?! Gak bisa ini Van," kata Darrel menggebu-gebu.

Kevan menjitak dahi Darrel kesal. "Pikiran lo ya, minta gue cokel tuh otak? Ha?!"

"Eh, jangan dong!"

"Masuknya kapan? Malah ribut," kata Gea lalu membuka pintu UKS.

Diikuti keduanya.

"Vin, kok bisa pingsan?" tanya Gea yang sudah berada di brankar milik Naya.

"Katanya dia sarapannya sedikit. Mukanya pucet banget tadi. Gak tega gue liatnya," jawab Gavin.

"Alahhh! Ngomong aja lo peduli," koreksi Darrel.

"Diem anj–"

Ucapan Gavin terhenti ketika Naya mulai bergerak, perlahan matanya terbuka.

Kevan dengan sigap membantu Naya duduk. Lalu menyodorkan minum. Diambil oleh Naya dan diteguk tinggal setengahnya.

"Lo kenapa bisa gini sih Nay? Lo kenapa sarapan dikit? Terus kenapa lo bisa kesiangan? Semalemnya lo ngapain? Kalo Mama sama Papa tau gimana? Gue yang dimarahin," cerocos Kevan.

"Van, dia baru sadar goblok! Masih pusing kepala dia, udah lo tanya sebegitu banyak," kata Gavin gemas sendiri.

"Gue khawatir sebagai kakak Vin. Lo nggak ngerti," jawab Kevan.

"Lo berdua diem. Ini semua gara-gara kalian berdua," kata Naya.

"Kok, kita?" ucapnya bersamaan.

"Pertama, Lo Gavin. Kalo lo gak telat, atau seenggaknya hubungin nih temen lo," kata Naya menunjuk Kevan. "Gak mungkin dia tanya gue, dia taunya gue deket sama lo. Padahal bertukar pesan pun jarang," lanjutnya.

"Oh, lo mau nya chattingan tiap hari sama gue?" goda Gavin.

Naya tidak menggubris. "Dan kedua. Lo, Kevan. Andai lo nggak manggil-manggil gue. Gue gak mungkin noleh dan jawab semua pertanyaan lo. Dan untuk semalam gue tidur malem karena ..." Naya sengaja menggantungkan ucapannya.

"Karena?" ulang Kevan.

"Gak usah tau," kata Naya.

Gea menoleh ke arah Naya. Ada yang berbeda dari sahabatnya ini. "Nay, kok lo jadi cerewet. Padahal baru siuman," kata Gea melongo.

"Ya ini gara-gara Kevan! Coba aja kalo dia gak ngancem gue, gak bakalan jadi kek gini," sewotnya.

"Gara-gara Kevan?" Beo Gavin, Gea dan Darrel. Sementara Kevan mengulum senyumnya. Hampir saja Naya kelepasan. Pikirnya.

"Iya dia ngancem kalo gue gak hangat sama orang lain. Dia bakalan nyebarin kalo gue suk–" seolah tersadar. Naya menghentikan ocehannya. Dia menatap Kevan tajam. Yang ditatap malah bodo amat!

Tuhkan! Apa kata Kevan. Hampir saja. Padahal Kevan tidak menyebarkannya.

"Suk? Suk apa Nay? Lo pake susuk?" tanya Darrel ngaco.

"Sembarangan!" kilah Naya.

"Suk apadong?" tanya Gea yang masih terbengong-bengong.

"Nanti juga kalian tau."

***

any feedback to appreciate me, thanks for reading this❤️

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status