MasukSaat mengetahui pernikahannya ternyata palsu, perasaan Citra hancur. Selama ini ia hanya menjadi “istri” tanpa status. Dikhianati, dimanfaatkan, dan dipermainkan tanpa ampun. Tak ingin terus menjadi wanita bodoh, Citra memilih pergi. Dalam keterdesakannya, ia justru bertemu dengan pria dingin yang tak pernah ia bayangkan akan kembali hadir dalam hidupnya—musuh dari mantan suaminya sendiri. Sebuah tawaran tak masuk akal pun datang: pernikahan. Tanpa banyak pilihan, Citra menerimanya. Bukan hanya untuk bertahan hidup… tapi juga untuk membalas. Kali ini, ia bersumpah—orang yang pernah menghancurkannya akan menyesal telah meremehkan dirinya.
Lihat lebih banyakPyarrr!!Pecahan gelas itu sampai mengenai kaki Citra. Ia langsung mengaduh pelan.Alex yang melihatnya buru-buru menghampiri. Masih dengan dada telanjang yang sukses membuat Citra panas dingin setiap kali memandangnya. Seolah pria itu sengaja memamerkan dada bidang dan otot perut sixpack-nya.Bahkan Miko—suami dari pernikahan palsunya—jelas tak segagah Alex.Tentu saja. Alex adalah seorang aktor yang memang harus menjaga tubuhnya tetap sempurna di depan kamera.Ah, kenapa malah membanding-bandingkan begini? Batin Citra kesal pada dirinya sendiri.“Kenapa?” tanya Alex, membuyarkan lamunannya.Citra buru-buru memasang wajah santai lalu nyengir kecil. “Enggak apa-apa, kok.”Alex menunduk. Tatapannya langsung jatuh pada darah yang menetes di kaki Citra. “Enggak apa katamu? Berdarah begini…”“A-aku bisa mengatasinya sendiri. Biar aku sekalian bersihkan pecahan kacanya.”“No. Pergi obati lukamu. Biar aku yang bereskan.”Nada bicara Alex terdengar tegas dan tak memberi ruang untuk membanta
Beberapa hari di kampung halamannya, Citra pun merasa sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian sang ayah.Ini hari kelima pascakematian ayahnya. Siang ini ia kembali mendatangi makamnya. Menaburkan bunga-bunga segar di atas gundukan tanah yang masih segar itu. Ia juga menyisakan untuk makam sang ibu.Citra duduk di antara dua pusara itu. Menatap dua nama di sana dan teringat masa kecil ketika ia masih bersama keduanya.Ia tak mau menangis lagi. Air matanya sudah habis. Sudah puas menangisi nasibnya. Kini senyumnya merekah meski tak akan bisa seperti sebelumnya.“Citra mau balik, Ayah, Ibu. Kalian baik-baik di sini. Jangan bertengkar, ya?” tukasnya, mengukir senyum seolah kedua orang tuanya sedang duduk di depannya.“Rumah kita sudah kembali. Jadi aku akan sering datang mengunjungi kalian.” Ada rasa sukur dan terima kasih teruntuk Alex yang sudah dengan mudah membeli kembali rumah penuh kenangan itu.Citra bangkit. Mengambil keranjang bunga dan berjalan keluar dari pemakaman. Bahkan d
“Tapi bagaimana kau tahu ini adalah rumahku yang sudah aku jual?”Citra mengikutkan pandangannya pada pria yang kini melangkah menuju bagasi mobil, mengambil beberapa barang, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.Karena tak mendapat jawaban, Citra pun mengikuti langkah pria itu.“Lex?” tanyanya lagi, masih penasaran.“Apa kau tak lelah?” Alex justru balik bertanya. Ia ingin Citra beristirahat lebih dulu, sebab setelah ini ada hal yang harus dibicarakannya. “Istirahatlah dulu.”Citra mengangguk pelan. Namun, sebelum masuk ke kamar, ia menyisir pandangannya ke setiap sudut ruangan. Rumah yang benar-benar penuh kenangan.Dadanya terasa sesak. Meski rumah ini sudah dijual setahun yang lalu, bayangan sang ayah yang suka duduk di teras sambil menyeruput kopi dan membaca sesuatu masih terlihat begitu jelas di benaknya.Ia masuk ke kamar tanpa perlu bertanya kepada Alex. Citra masih paham betul di mana letak kamarnya.Tubuhnya lengket dan basah. Citra segera masuk ke kamar mandi untuk members
Hari sudah mulai pagi. Hampir sepanjang perjalanan mereka tak mengobrol. Alex fokus menyetir, sementara Citra sudah tampak begitu lelah.Ia terkantuk dan tidur bersandar di jok. Alex tak mengusiknya.Sesampainya di Bogor, udara dingin menyambut mereka. Hamparan kebun teh yang masih berkabut terbentang luas, mengingatkan pada masa kecil yang hampir Alex lupakan.Mobil Alex sudah berhenti di TPU. Sementara ambulans masih tertahan di masjid kampung setelah mensholatkan jenazah. Menunggu sebentar, penggali makam yang belum menyelesaikan tugasnya.Untungnya, tepat ketika matahari terbit, semua sudah selesai.Citra mulai terbangun. Ia tertegun saat mengedarkan pandangan ke sekeliling.Ia menoleh ke samping. Kursi sopir yang sebelumnya ditempati Alex sudah kosong.Citra beralih menatap ke arah jendela. Ternyata Alex sudah berada di luar.Pria itu mengenakan masker hitam dengan tubuh berbalut jaket hoodie.Alex pasti kedinginan di tengah udara pagi di kebun teh Bogor yang menusuk.Ada rasa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan