MasukSaat mengetahui pernikahannya ternyata palsu, perasaan Citra hancur. Selama ini ia hanya menjadi “istri” tanpa status. Dikhianati, dimanfaatkan, dan dipermainkan tanpa ampun. Tak ingin terus menjadi wanita bodoh, Citra memilih pergi. Dalam keterdesakannya, ia justru bertemu dengan pria dingin yang tak pernah ia bayangkan akan kembali hadir dalam hidupnya—musuh dari mantan suaminya sendiri. Sebuah tawaran tak masuk akal pun datang: pernikahan. Tanpa banyak pilihan, Citra menerimanya. Bukan hanya untuk bertahan hidup… tapi juga untuk membalas. Kali ini, ia bersumpah—orang yang pernah menghancurkannya akan menyesal telah meremehkan dirinya.
Lihat lebih banyak“Pengajuan kredit Anda ditolak, Bu.”
CS Bank itu mendorong dokumen pribadi yang diajukan Citra.
“Kenapa?” Citra meminta penjelasan.
“Surat-surat pendukung yang Anda lampirkan palsu.”
Deg.
Citra membeku.
Bahkan setelah ia mengulangnya beberapa kali di otak, kalimat yang diucapkan petugas di hadapannya tersebut terdengar tidak masuk akal.
“Palsu?” ulangnya kemudian, mempertanyakan.
Barangkali ia salah dengar.
Petugas tersebut mengangguk pendek.
“Benar, Bu. Lebih tepatnya akta pernikahan. Dalam catatan sipil, tidak ada pernikahan yang terdaftar atas nama Ibu Citra dan Bapak Miko.”
“Coba diperiksa lagi, Pak.” Citra masih ingin memastikan. Ia menggeleng pelan. “Tidak mungkin. Saya menikah. Ada wali, ada saksi… semuanya lengkap.”
Dengan gerakan gugup dan gemetar, Citra membuka layar ponselnya. Menunjukkan foto-foto saat dulu Miko menikahinya di rumah sakit ketika ayahnya kritis.
Petugas itu mengangguk kecil dengan penuh kesabaran dan rasa kasihan.
“Saya mengerti, Bu. Tapi berdasarkan data yang ada…” ia mendorong kembali berkas itu perlahan, “…pernikahan ini tidak terdaftar.”
Citra merasa kepalanya berputar.
Saat ini ia sedang mengajukan kredit pinjaman untuk biaya operasi ayahnya. Akhirnya, setelah menunggu selama berbulan-bulan, ada donor yang cocok untuk sang ayah.
Akan tetapi, Miko, suaminya, berkata bahwa ia tidak punya uang lagi karena perusahaan tempatnya bekerja sedang dalam masalah.
Tidak tahu lagi mau meminjam ke teman atau siapa, Citra pun berinisiatif mengajukan kredit. Namun, karena Citra saat ini sudah tidak bekerja, ia wajib melampirkan KTP suami dan buku nikah sebagai salah satu syarat pinjaman.
Siapa yang menyangka kalau ia justru mendengar hal tidak masuk akal ini?
Citra menatap berkas di hadapannya. Masih tak percaya ia menghubungi kantor urusan agama. Meminta untuk dicek surat nikahnya. Dan hasilnya sama. Surat nikahnya palsu.
Nanar menatap berkas itu dengan kosong. Tangannya perlahan meraih kembali map itu. Merasa dirinya benar-benar menjadi wanita paling bodoh di dunia ini.
Dalam pernikahannya, Citra adalah istri yang patuh. Ia rela melakukan semua yang diperintahkan suami dan keluarga iparnya, baik itu pekerjaan rumah atau apa pun demi mendukung pekerjaan suaminya.
Ia tak menyangka pria yang dulu begitu ia cintai mati-matian, bahkan rela mengancam minggat kalau ayahnya tak merestui hubungan mereka, ternyata memalsukan pernikahan mereka.
Tapi mengapa Miko melakukan semua ini?
Ingatan menyeretnya pada masa lalu.
Ketika tiba-tiba Miko menawarkan pernikahan padanya. Ia melamar dengan begitu manis di hadapan banyak orang, membawa bunga, bertekuk lutut di depannya, lalu menyodorkan kotak cincin, sambil berkata, “Will you marry me?”
Sebagai gadis yang sejak SMA sudah tergila-gila padanya, menerima kejutan semanis itu di tengah riuh tepuk tangan, siapa yang tak terkesan dan luluh?
Citra bahkan mengabaikan saran temannya, Lily, saat itu.
“Cit, Miko baru putus dari Nikita. Dan wanita itu kabarnya akan segera menikah dengan pengusaha kaya raya. Jangan percaya padanya.”
“Kalau sudah putus, kenapa? Wajar kan kalau ia melamarku,” ujar Citra yang menutup diri dari saran sang teman.
“Pikirkan dulu. Jangan-jangan ia hanya menjadikanmu pelampiasan saja.”
Dan Citra tetap menutup telinganya. Baginya, Miko tidak akan mempersiapkan kejutan semanis itu kalau ia tak benar-benar mencintainya.
Tidak hanya Lily yang ditentangnya, bahkan sang ayah pun waktu itu sudah melarang dan mengingatkannya. Hanya saja, Citra yang terus mendesak membuat ayahnya merelakan.
Citra putri satu-satunya. Sudah kehilangan kasih sayang ibunya sejak SD. Melihatnya bahagia adalah prioritasnya. Ayah Citra hanya berharap semua instingnya tentang Miko tidak akan pernah terjadi.
Nyatanya, saat ini Citra dihadapkan pada surat nikah palsu.
Benar-benar kebohongan yang tak bisa ditoleransi sejauh apa pun itu. Citra malu pada dunia dan semua orang yang dulu menentangnya. Bahwa, selama ini, ia hanya menjadi istri palsu pria brengsek itu?
Dengan langkah gontai, Citra pulang ke rumah. Ia berniat menanyakan hal ini kepada Miko. Ia harus mendapat penjelasan yang masuk akal.
Citra masih berharap bahwa ada kesalahpahaman atau alasan mendesak kenapa Miko memalsukan surat pernikahan mereka.
Namun, begitu ia sampai di rumah, ia justru mendapati kamar tidur mereka berantakan. Sprei dan bantal tak di tempatnya dengan baik. Sementara baju dalam wanita berserakan di lantai.
“M-Mas?” Citra memanggil suaminya dengan nada gemetar. Tubuhnya terasa kaku dan dingin, meski jantungnya berdebar keras. “Kenapa kamar kita berantakan?”
Tiba-tiba ia mendengar suara asing dari dalam kamar mandi.
Kakinya seperti disemen ke dalam beton, tapi Citra tetap memaksakan dirinya untuk melangkah ke arah kamar mandi.
Dan … di sanalah ia menemukan sang suami. Sedang bercinta dengan begitu panas di dalam bathtub kamar mandi mereka.
Sepasang mata wanita itu tiba-tiba beradu dengan milik Citra yang sedang berkaca-kaca.
Namun, bukannya terkejut atau panik, wanita itu justru tersenyum meledek dan melanjutkan perbuatannya dengan sang suami yang juga begitu menikmati kegiatan menjijikkan itu.
“Miko, uhmmm…. c’mon baby. Lebih dalam lagi!”
“Ya, Sayang. Seperti yang kau mau…”
“Ahh, istrimu orang yang paling beruntung memilikimu.”
“Stop bahas wanita dungu itu. Hari ini aku untukmu…”
Mendengar kata-kata itu, sedianya Citra ingin langsung menggrebek mereka. Menjambak wanita itu dan menginterogasi Miko.
Namun, ia tak kuat. Sekujur tubuhnya gemetar; tidak tahan melihat kegiatan yang menjijikkan itu.
Ia membanting pintu dan berbalik, berlari ke luar sementara suara-suara di dalam kamar mandi justru terdengar makin keras dan jelas.
“Siapa itu, Sayang?” Miko menoleh ke arah pintu.
Namun sang wanita hanya menutup telinganya dan berkata, “Bukan siapa-siapa. Hanya angin…”
Lalu kembali membawanya terhanyut dalam kelembutan bibirnya yang memabukkan.
Next.
“Setelah pemberitaan gila ini meledak, kamu bahkan tidak memiliki inisiatif sedikit pun untuk datang dan menjelaskannya kepadaku secara jujur. Dulu, saat awal kalian menikah, harusnya kamu menceritakan masa lalumu jika memang kamu tidak memiliki tujuan terselubung untuk memanfaatkan cucuku!”Citra kembali menundukkan kepalanya. Ia memilih menahan diri, membiarkan tubuhnya pasrah menerima rentetan tuduhan demi tuduhan yang terus diarahkan kepadanya.Ia sudah mencoba meluruskan, tetapi Sofia sudah telanjur menutup pintu maaf.Di tengah badai tuduhan itu, Citra justru lebih mencemaskan kondisi kesehatan fisik wanita tua tersebut ketimbang memaksakan diri untuk egois membela nama baiknya.“Citra minta maaf, Nek,” lirihnya parau.Sayangnya, kata maaf yang meluncur dari bibir Citra justru menjadi bumerang. Sofia menangkapnya sebagai bentuk pengakuan bersalah atas semua tuduhan perselingkuhan dan penipuan tersebut.“Bisa-bisanya kamu memanfaatkan ketulusan keluarga ini!” gerutu Sofia penuh e
Citra melangkah dengan ritme jantung yang berpacu liar. Rasa cemas dan ragu menyergap benaknya saat tumit sepatunya menapaki lantai marmer rumah besar Nenek Sofia.Ia datang diantar oleh Oki, dan kini ia masih terpaku di depan pintu jati yang megah, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki hanya untuk sekadar mengetuknya.Citra membutuhkan waktu untuk menata mentalnya. Ia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk jika alasan pemanggilannya oleh Nenek Sofia hari ini adalah karena pemberitaan miring yang sedang viral di luar sana.Namun, jauh di lubuk hatinya, Citra terus merapalkan doa. Semoga dugaannya salah. Semoga Sofia memintanya datang ke Bogor murni karena merindukan kehadiran sang cucu menantu.Setelah menarik napas dalam-dalam, Citra akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kayu berukir besar itu.Tidak butuh waktu lama, Bu Ratmi membuka pintu. Begitu melihat sosok Citra yang berdiri di ambang pintu, raut wajah Bu Ratmi seketika menegang, lalu ia menoleh ke arah sang n
Citra tertegun, separuh jiwanya belum sepenuhnya mencerna langkah suaminya. Tapi, ia sudah barang pasti akan mendukung Alex.“Tentu saja, aku akan selalu melangkah bersamamu, Lex.”Mendengar pernyataan Citra yang diucapkannya dengan sungguh-sungguh itu, ketegangan di pundak Alex seketika menurun digantikan rasa lega yang luar biasa.Ketakutan terbesar dalam hidupnya saat ini adalah jika masalah brutal ini membuat mental Citra goyah, memicu keretakan dalam hubungan mereka, hingga akhirnya memaksa wanita itu melangkah pergi darinya.Alex tidak akan pernah bisa membiarkan kebahagiaan berharga yang baru sekejap ia rasakan bersama Citra lenyap begitu saja akibat ulah orang lain.“Aku akan melaporkan balik Miko atas kasus pemalsuan dokumen negara, Sayang. Betapapun kuatnya bekingan yang ia dapatkan dari Om Wirya di belakangnya, aku tidak akan mundur selangkah pun untuk menyerangnya.” Alex meyakinkan.“Dan, aku sudah menyewa tim pengacara baru yang independen dan menyerahkan bukti-bukti bahw
Mereka bahkan belum sempat menyentuh hidangan sarapan pagi itu ketika ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar nyaring.Nama Nenek Sofia terbaca jelas di layar. Namun, begitu Citra menggeser tombol hijau dengan jemarinya, bukan suara sang nenek yang menyahut, melainkan suara parau Bu Ratmi, asisten rumah tangga di rumah Bogor.“Ada apa, Bu Ratmi?” tanya Citra. Matanya melirik ke arah balkoni kamar hotel, tempat Alex juga tampak sangat sibuk sejak subuh, bergantian menerima panggilan telepon dengan raut wajah tegang.“Mbak Citra, aduh, maaf mengganggu pagi-pagi. Ini Nyonya Sofia titip pesan, beliau bertanya apakah Mbak Citra punya waktu luang untuk datang ke Bogor akhir pekan ini?” tanya Ratmi. Nada bicaranya terdengar biasa dan normal, tidak mengindikasikan ada sesuatu yang genting. Citra membatin, mungkin neneknya itu hanya sedang didera rindu.“Uhm...” Citra sempat ragu untuk menjawab, tetapi sedetik kemudian, sebuah teriakan samar dari arah latar belakang panggilan itu langsung menus
Tiba-tiba saja Citra merasa ada yang mengawasinya. Dari sudut ekor matanya, ia melihat seseorang membuntuti. Tapi begitu ia menghentikan langkah dan menoleh, semuanya normal. Tidak ada orang yang terlihat mencurigakan.Apa itu hanya Johan yang biasa mengawasinya dari jauh? pikir Citra sembari melan
Citra butuh ke toilet sebentar. Sekalian ia ingin merapikan penampilannya dan memeriksa ponselnya. Barangkali ada panggilan atau pesan dari Alex.Ada satu pesan masuk. Namun hanya satu kata yang tak jelas.[Hei…]Seperti itu pesannya. Sangat tidak bermutu. Sama-sama mengirim pesan, apa tidak bisa m
“Dek?” panggil Arik pada Tika. Ia sudah berkenalan dengan gadis itu kemarin saat ke kantor Wong Family.Ternyata Tika adalah adik kelasnya dulu saat SMA. Makanya ia memanggil "Dek" pada gadis itu. Dengan kesamaan alumni yang tiba-tiba dipertemukan kembali, mereka cepat sekali akrab.“Manajermu cant
Itu pesta yang meriah.Namun bagi Mona dan Miko, acara itu terasa seperti siksaan yang berlangsung terlalu lama.Bahkan sebelum acara selesai, keduanya sudah memilih keluar lebih dulu.Sepanjang malam, dada Mona terasa sesak.Matanya terus dipaksa melihat Citra berdiri di depan sana, tersenyum, ber


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak