Home / Romance / ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO / La muerte de la señora Higgins.

Share

La muerte de la señora Higgins.

Author: Neng Alfiani
last update publish date: 2026-05-08 15:38:57

El aire en la habitación pareció congelarse.

—¿Qué? —susurró Bella, con una voz casi inaudible.

​—La señora Higgins murió anoche —repitió Christian, con voz ronca—. Se cayó por las escaleras de la casa de Dominic. Otra empleada encontró su cuerpo esta mañana.

​A Bella le escocieron los ojos. Sintió una opresión insoportable en el pecho. Sus manos, aún prisioneras en las de Christian, comenzaron a temblar violentamente.

​—No... no puede ser... —balbuceó Bella, con la voz entrecortada—. Hablé con
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO   Berdua tenang

    Malam itu, Lucas tidak bisa tidur.Dia berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar yang putih kusam. Pikirannya terus berputar. Tentang Adrian. Tentang ancaman yang dia lontarkan sebelum pergi. Tentang mata Adrian yang penuh kebencian. Tentang bagaimana dia bisa melindungi Maya dari seseorang yang obsesif.Lucas bangkit dari ranjang dan berjalan ke jendela. Dia membuka tirai dan menatap jalanan Riverton yang sepi. Lampu-lampu jalan menyala redup, menciptakan lingkaran cahaya kuning di aspal yang basah oleh embun malam. Tidak ada mobil. Tidak ada orang. Hanya kesunyian yang menyelimuti kota kecil itu.Dia meraih ponselnya dan memeriksa pesan. Tidak ada pesan baru dari Maya. Tidak ada pesan dari Isabella. Tidak ada pesan dari keluarganya. Hanya keheningan yang membuatnya semakin gelisah.Dia duduk di sofa ruang tamu, menyalakan televisi dengan volume rendah. Gambar-gambar bergerak di layar, tapi dia tidak fokus. Pikirannya melayang ke Maya. Apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah

  • ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO   Masalah baru.

    Hari-hari setelah konfrontasi dengan Adrian terasa berbeda bagi Lucas. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu. Bukan karena dia takut pada Adrian, tapi karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Cara Adrian menatapnya. Cara Adrian mengepalkan tangannya. Cara Adrian mengatakan bahwa Maya adalah miliknya.Milik. Kata itu terasa asing di telinga Lucas. Dia tidak pernah suka dengan konsep memiliki seseorang. Cinta bukan tentang memiliki. Cinta tentang menghargai. Tentang menghormati. Tentang membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Itu yang dia pelajari dari Christian dan Bella. Meskipun mereka pernah melalui masa-masa sulit, mereka tidak pernah saling memiliki. Mereka saling melengkapi.Lucas menghela napas. Dia sedang duduk di bangku taman kampus, menikmati sinar matahari sore yang hangat. Buku catatannya terbuka di pangkuan, tapi dia tidak bisa fokus. Pikirannya melayang ke mana-mana.Dia memikirkan Isabella. Dia memikirkan bagaimana gadis itu sekarang. A

  • ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO   Minggu yang berat

    Dua minggu berlalu sejak pertemuan Lucas dengan Maya. Persahabatan mereka tumbuh dengan cepat. Mereka belajar bersama, makan siang bersama, dan sesekali berjalan-jalan di sekitar kampus. Maya adalah gadis yang ceria dan mudah bergaul. Dia selalu punya cerita untuk dibagikan, selalu punya tawa untuk ditularkan. Lucas merasa nyaman bersamanya. Tidak seperti bersama Isabella—yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang dan pikirannya kacau—bersama Maya, Lucas bisa menjadi dirinya sendiri. Tenang. Santai. Tanpa beban.Tapi hari itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.Lucas sedang duduk di kantin kampus, menikmati roti isi dan kopi hitamnya. Maya belum datang. Dia bilang akan menyusul setelah menyelesaikan tugas tambahan dari dosen. Lucas menunggu dengan sabar, sesekali menatap ponselnya untuk melihat pesan masuk.Tiba-tiba, seseorang duduk di depannya. Bukan Maya.Lucas mengangkat kepalanya, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata biru yang tajam. Seorang pemuda dengan rambu

  • ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO   Ruang Baru

    Satu bulan telah berlalu sejak Lucas pertama kali menelepon Isabella. Satu bulan yang mengubah banyak hal. Tidak secara drastis, tidak seperti badai yang menyapu bersih segalanya. Lebih seperti air sungai yang perlahan mengikis batu—perlahan, sunyi, tapi pasti. Lucas masih merasakan sakit. Dia masih merindukan Isabella. Dia masih mempertanyakan banyak hal tentang hidupnya. Tapi rasa sakit itu tidak lagi menguasai dirinya. Dia mulai bisa berfungsi. Dia mulai bisa tersenyum. Dia mulai bisa bernapas tanpa merasa seperti sedang ditindih beban yang tak terlihat.Pagi itu, Lucas duduk di balkon apartemennya, menikmati secangkir kopi hitam dan roti panggang. Langit Riverton berwarna biru cerah dengan awan-awan putih yang bergerak pelan. Angin pagi bertiup sejuk, membawa aroma bunga dari taman dekat apartemennya. Dia menatap jalanan di bawah, melihat orang-orang yang mulai beraktivitas. Ada yang berjalan ke tempat kerja, ada yang membawa anak-anak ke sekolah, ada yang hanya duduk di bangku ta

  • ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO   Kota Baru.

    Hari-hari berikutnya di Riverton mulai terasa berbeda bagi Lucas. Bukan karena kota itu berubah, bukan karena cuaca menjadi lebih cerah, tapi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan mulai bergeser. Dia masih merasakan sakit. Dia masih merindukan Isabella. Dia masih marah pada ibunya. Tapi rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti belati yang menusuk setiap saat. Lebih seperti luka lama yang mulai mengering, perih jika tersentuh, tapi tidak lagi berdarah.Pagi itu, Lucas bangun lebih awal dari biasanya. Dia membuka jendela kamarnya dan membiarkan udara pagi masuk. Udara Riverton yang sejuk dan bersih menyapu wajahnya, membawa aroma rumput basah dan bunga-bunga liar dari taman dekat apartemennya. Dia menarik napas panjang, menghelanya perlahan, lalu tersenyum tipis.Dia memutuskan untuk tidak langsung pergi ke kampus. Hari ini, dia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Dia ingin menjelajahi kota kecil ini lebih jauh. Mungkin dia akan menemukan sesuatu yang menarik. Mungkin dia

  • ESCLAVA DEL DESEO DEL AMO   Berpisah untuk bersama.

    Tiga minggu telah berlalu sejak Lucas pindah ke Riverton. Tiga minggu yang terasa seperti tiga tahun. Setiap pagi dia bangun dengan rutinitas yang sama—mandi, sarapan sederhana, berjalan ke kampus, duduk di kelas, pulang, makan malam sendiri, lalu tidur. Tidak ada variasi. Tidak ada kejutan. Tidak ada apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari masa lalu.Hari itu, hujan turun deras di Riverton. Lucas duduk di balkon apartemennya, menatap tetesan air yang jatuh dari langit. Udara dingin menusuk kulit, tapi dia tidak peduli. Dia sudah terbiasa dengan dingin. Dingin yang datang dari luar, maupun dari dalam hatinya.Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Lily."Kak, Ibu sakit. Dia terus menangis sejak kau pergi. Dia tidak mau makan. Ayah juga terlihat sangat sedih. Kapan kau pulang?"Lucas menatap pesan itu lama. Jarinya menggantung di atas keyboard, ingin membalas, tapi tidak tahu harus berkata apa. Dia merindukan Lily. Dia merindukan Christian. Bahkan dia merindukan Bella, meskipun ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status