Share

BAB 45 RENCANA KABUR

Author: Square Pena
last update publish date: 2026-02-25 06:52:07

Elang menatap mata Vea.

DOR! DOR!

Dua letusan menggema di ruangan sempit itu.

Tubuh Vea tersentak hebat ke belakang. Dua lubang merah menganga di dada kirinya. Darah segar menyembur keluar, membasahi hoodie pastelnya. Kursi kayu itu terguling ke belakang.

Vea jatuh. Matanya melotot, lalu perlahan meredup. Tubuhnya kejang sekali, lalu diam. Mati.

Roy berjalan mendekat, menendang kaki Vea. Tidak ada respon.


Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 89 PEMAKAMAN TANPA NISAN -TAMAT-

    Pemakaman Rahasia, Pinggiran Jakarta - (Keesokan Harinya).Hujan gerimis belum juga berhenti, seolah langit Jakarta ikut menangisi kepergian sang hantu penuntut keadilan.Suara cangkul yang menghantam tanah basah terdengar berirama. Dimas dan dua mantan napi dari Blok Hitam sedang menutup lubang lahat itu dengan tanah merah. Otot lengan mereka tegang, tapi tidak ada yang mengeluh. Di mata mereka, pria di dalam peti kayu itu bukan sekadar bos, melainkan dewa penyelamat.Di pinggir liang lahat, Larasati berlutut di atas lumpur. Gaun hitamnya kotor. Dia tidak memedulikannya. Air mata terus mengalir di pipinya yang pucat, tangannya gemetar mengusap gundukan tanah yang baru saja selesai dipadatkan."Maafkan Ibu, Nak..." isak Larasati, suaranya nyaris habis. "Ibu baru memelukmu sebentar... kenapa kau buru-buru pergi..."Tidak ada batu nisan berukir nama di sana. Hanya ada sebuah patok kayu polos.Secara hukum, Elang Dirgantara sudah ma

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 88 KEADILAN YANG DIBAYAR DARAH

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.15 WIB.DOR!Suara letusan pistol kaliber 9mm itu membelah deru angin dari baling-baling helikopter.Bagi Elang, waktu seolah berjalan dalam gerak lambat. Di tengah sisa tenaganya yang sudah habis dan otot jantung yang mulai robek karena efek obat, insting jalanan Napi 9821 mengambil alih untuk terakhir kalinya.Dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia melihat arah laras pistol Sanjaya yang terkunci lurus ke dahi Larasati.Dengan sisa tenaga paling dasar yang dia miliki, Elang memutar tubuhnya yang kaku. Dia menarik bahu Larasati, membanting wanita itu ke aspal, dan menjadikan punggung serta dadanya sebagai tameng hidup.JLEB!Peluru itu tidak mengenai Larasati.Peluru panas itu menembus punggung kiri jas hitam Elang, merobek tulang rusuk rapuh Elister, dan bersarang tepat di bilik jantung aslinya—jantung yang memompakan kehidupan kedua baginya."Ugh!"Tubuh

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 87 WAJAH ASLI SANG HANTU

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.10 WIB.Cahaya putih dari lampu sorot helikopter polisi membutakan pandangan. Angin puting beliung dari baling-baling menerbangkan debu, pecahan kaca, dan rintik hujan ke udara.Di angkasa, bukan hanya helikopter polisi yang mengitari atap gedung itu. Tiga buah drone kamera beresolusi tinggi milik stasiun TV berita nasional melayang dekat, menyorotkan lensa mereka dengan lampu merah yang berkedip tanda siaran langsung.Seluruh Indonesia sedang menahan napas menonton adegan ini.Sanjaya tertawa serak, meski lehernya menempel pada bilah pisau berdarah milik Elang."Kau tamat, Elang," bisik Sanjaya di sela deru angin. "Jutaan orang sedang menontonmu sekarang. Kalau kau menggorok leherku, kau akan dicatat sejarah sebagai teroris gila yang membunuh Ketua Mahkamah Agung. Turunkan pisaumu. Hukum manusia akan melindungiku!"Dari pengeras suara helikopter polisi, suara Toba kembali menggema keras.

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 86 KONFRONTASI DI ATAP

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.05 WIB.Angin puting beliung buatan dari baling-baling helikopter AgustaWestland menyapu atap beton itu. Suara mesin jetnya memekakkan telinga, menenggelamkan raungan sirine polisi jauh di jalanan bawah sana.Sanjaya—sang Ketua Mahkamah Agung yang kini menjadi buronan—mendorong kursi roda Barata dengan kasar menuju pintu helikopter yang terbuka. Dua pengawal elitnya menyeret Larasati yang meronta-ronta dan menangis."Cepat! Masukkan mereka!" teriak Sanjaya pada pilot.Tapi langkah mereka terhenti.Di ambang pintu akses tangga, Elang berdiri. Kemeja hitamnya basah oleh keringat dan darah. Dua pistol Glock di tangannya memuntahkan peluru.DOR! DOR!Dua pengawal yang menyeret Larasati ambruk dengan lubang di kepala mereka. Larasati jatuh berlutut di aspal helipad, menutupi telinganya.Sanjaya memucat. Dia bersembunyi di balik kursi roda Barata, menjadikan pria tua yang sakit

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 85 MENYERBU ISTANA HUKUM

    Jalan Medan Merdeka Utara - Pukul 07.55 WIB.Truk logistik seberat 12 ton itu melolong buas. Pedal gas diinjak rata dengan lantai kabin. Jarum speedometer bergetar di angka 100 km/jam.Di kursi kemudi, Elang menatap lurus ke depan. Kaca depan truk yang sudah dilapisi baja anti-peluru mulai berderak saat rentetan tembakan dari penembak jitu di atap Gedung Mahkamah Agung menghujaninya.Peluru-peluru itu hanya meninggalkan bekas putih di kaca. Elang tidak berkedip. Jantungnya berdetak secepat mesin diesel di bawah kakinya. Obat bius militer dari Kara bekerja sempurna. Dia tidak merasakan takut, tidak merasakan sakit. Dia merasa seperti dewa perang.Di depan sana, barikade beton dan puluhan penjaga bersenjata laras panjang memblokir gerbang utama istana hukum tersebut."Truk itu tidak mau berhenti! Tembak bannya! Tembak!" teriak komandan jaga dengan panik.Terlambat.BRAAAAKKK!!!Bumper perusak truk itu menghantam b

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 84 HARI PENGHAKIMAN

    Safe House Phoenix - Pukul 05.30 WIB. Jarum suntik berbahan baja itu menembus kulit dada Elang, tepat di atas tulang rusuknya. Tangan Dokter Kara bergetar hebat saat menekan pendorong suntikan itu. Cairan kental berwarna kuning keemasan—koktail painkiller dosis militer kelas berat yang dicampur dengan stimulan jantung ilegal—mengalir masuk ke aliran darah Elang. Elang memejamkan mata. Rahangnya mengeras hingga ototnya menonjol. Sensasi awalnya adalah rasa panas yang membakar pembuluh darah, seperti disiram cairan timah. Namun, beberapa detik kemudian, rasa sakit yang menyiksa organ dalamnya selama berbulan-bulan ini lenyap seketika. Dada yang tadinya sesak kini terasa lapang. Otot-otot Elister yang rapuh tiba-tiba dipenuhi tenaga yang meledak-ledak. Tubuhnya tidak lagi merasakan lelah, takut, atau nyeri. Saraf rasa sakitnya telah dimatikan total. "Selesai," bisik Kara, menarik jarumnya dan memb

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 83 ULTIMATUM SANJAYA

    "Jika kau membawa pasukanmu, atau jika kau tidak datang... aku akan mengirimkan kepala mereka berdua ke alamat panti asuhan barumu."Video berakhir.Kabin van menjadi hening. Hanya terdengar suara mesin dan rintik hujan.Kara menutupi mulutnya, tak percaya. "El... tubuh

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 81 TEMBAKAN DARI KEGELAPAN

    Pisau komando itu meluncur ke bawah, membelah tetesan hujan, mengincar tepat di atas bekas jahitan jantung Elang. Elang tidak bisa bergerak. Tenaganya nol. Ototnya lumpuh. Namun, sebelum ujung baja itu sempat merobek kulit dadanya... DZAAP!

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 79 JEBAKAN

    Sadewa menyalakannya. Dia ingin Elang mendengar kematian sahabatnya. Dia ingin memancing sang Hantu keluar dari sarangnya."Elang Dirgantara," ucap Sadewa ke mic. "Dengarkan suara patahnya leher anjing pintarmu ini."Kailan tahu apa yang sedang direncanakan Sadewa. Jika Elang da

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 78 DARURAT

    Ruang Rapat Darurat, Gedung Nusantara TV - Pukul 20.30 WIB."Elang Dirgantara."Sanjaya mengulang nama itu. Matanya menatap Elang dengan campuran rasa takjub dan kebencian yang mendalam. Di sekeliling meja bundar, enam pengawal elit menodongkan senjata otomatis ke kepala Elang. Kresna yang lenganny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status