LOGINElang Perkasa seorang kuli pasar saat pagi dan malam menjadi bar tender. Dibesarkan di panti asuhan kumuh, pernah dipenjara 5 tahun karena dijebak kasus pembunuhan. Di penjara, dia tidak mati, tapi justru dilatih oleh seorang Grandmaster dunia bawah tanah. Dikhianati kekasihnya demi uang, dianggap sampah oleh masyarakat karena membunuh dengan kejam, dan yang paling sakit orang tuanya tak mengakui Elang sebagai putra kandung! Bagaimana dia akan membuktikan diri atas semua pengkhianatan dan fitnah yang menimpanya? SquarepenA
View More"Terdakwa Elang, atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap korban Vania Angel, Majelis Hakim memutuskan..."
Suara Hakim Ketua yang serak membelah keheningan ruang sidang yang pengap. Di kursi pesakitan, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun duduk dengan punggung tegak, meski kedua tangannya terbelenggu borgol besi yang dingin. Wajahnya lebam, sisa "interogasi" paksa di tahanan kepolisian, namun matanya tidak menunjukkan rasa takut. Hanya kebingungan yang menggerogoti logikanya. Elang tahu, apa pun yang diucapkan hakim hari ini bukanlah keadilan. Itu adalah naskah drama yang sudah disusun oleh orang berkuasa di luar sana. Entah apa yang membuatnya harus dijadikan kambing hitam? Tiga bulan lalu, hidup Elang hanyalah garis lurus yang membosankan namun damai. Dia adalah yatim piatu yang bekerja keras. Siang menjadi kuli angkut di pasar, malam menjadi bartender di Club VVIP paling mewah demi membelikan susu dan buku untuk adik-adiknya di Panti Asuhan Kasih Bunda. Malam jahanam itu masih berputar jelas di kepalanya seperti kaset rusak. 3 Bulan Lalu Musik EDM menghentak dinding Club VVIP, menulikan telinga. Elang sedang mengelap gelas di bar ketika manajer klub memanggilnya dengan panik. "Elang! Antar minuman ini ke Ruang VIP 1. Cepat! Jangan buat Tuan Muda Julian menunggu!" Elang mengangguk patuh. Dia membawa nampan berisi botol champagne seharga motor sport itu menuju lorong VIP yang remang-remang. Dia tahu siapa Julian Dirgantara—putra mahkota Grup Dirgantara, pewaris tunggal kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Sosok yang hidup di langit, sementara Elang hanyalah cacing tanah. Saat Elang hendak mengetuk pintu VIP 1, pintu itu terbuka lebih dulu. Seorang pria muda dengan kemeja sutra berantakan keluar dengan napas memburu. Itu Julian. Wajahnya pucat, ada bercak merah gelap di manset kemeja putihnya. "Tuan Muda?" sapa Elang sopan, sedikit bingung. Julian tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Elang seolah melihat hantu. Namun sedetik kemudian, ekspresi panik itu berubah menjadi senyum miring yang mengerikan. Dia menepuk bahu Elang pelan. "Masuklah! Ada... tip besar untukmu di dalam!" Julian pergi begitu saja, setengah berlari. Elang, dengan kenaifan orang kecil yang butuh uang, masuk ke dalam ruangan. "Permisi, pesanan Anda--" Kata-katanya terhenti di tenggorokan. Nampan di tangannya jatuh, pecah berantakan. Di atas sofa kulit hitam, seorang wanita muda tergeletak dengan posisi tidak wajar. Matanya melotot kosong menatap langit-langit, dan sebilah pisau buah menancap tepat di dadanya. Darah segar menggenangi karpet mahal di bawahnya. Itu Vania Angel. Model terkenal yang sering terlihat bersama Julian beberapa waktu lalu saat naik bersama. Elang membeku. Insting pertamanya adalah lari, tapi hati nuraninya berteriak untuk memeriksa denyut nadi. Dia berlutut, tangannya gemetar hebat saat menyentuh leher wanita itu. Dingin. Tidak ada denyut. "JANGAN BERGERAK! POLISI!" Pintu didobrak kasar. Belum sempat Elang menarik tangannya, serbuan lampu senter menyilaukan matanya. Lima orang polisi berseragam lengkap menyerbu masuk seolah mereka sudah menunggu di depan pintu sejak tadi. "Tangkap dia! Pembunuh tertangkap basah!" teriak kepala polisi itu. "Bukan! Aku baru masuk! Aku hanya--" Elang mencoba membela diri. Sebuah popor senapan menghantam tengkuknya. Dunia Elang gelap seketika. Malam itu, Elang tidak tahu bahwa dia bukan ditangkap karena nasib sial. Dia telah dipilih. Dipilih untuk menjadi tumbal bagi dosa seorang pangeran pemegang kekuasaan hukum negeri ini. "Penjara seumur hidup!" Palu hakim diketuk tiga kali. Suara itu meruntuhkan sisa harapan Elang. Dia menarik napas panjang, paru-parunya terasa terbakar. Seumur hidup. Artinya dia akan membusuk di dalam sel beton sampai menjadi mayat, tanpa pernah melihat matahari bebas lagi. Riuh rendah tepuk tangan terdengar dari bangku pengunjung. Bukan tepuk tangan meriah, tapi gumaman puas dari para elit yang hadir. Elang menoleh perlahan ke barisan depan. Di sana, duduk pria yang menjadi arsitek kehancurannya hari ini. Barata Dirgantara, sosok seorang ayah yang terlihat berwibawa dan gigih memperjuangkan kebebasan putranya. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas hitam yang harganya mungkin bisa memberi makan satu panti asuhan selama setahun. Wajahnya keras, berwibawa, namun di matanya terpancar kepuasan yang dingin. Barata menatap Elang bukan sebagai manusia, melainkan sebagai hama yang baru saja dia basmi demi melindungi nama baik keluarganya. Barata tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mengirim darah dagingnya sendiri ke neraka demi menyelamatkan anak orang lain. Di samping Barata, Larasati—istri sang konglomerat—menutupi mulutnya dengan sapu tangan sutra, menatap Elang dengan jijik yang tak ditutup-tutupi. "Dasar monster!" gumam Larasati cukup keras hingga terdengar oleh Elang. "Untung polisi cepat menangkapnya sebelum dia melukai orang lain." Hati Elang serasa ditusuk ribuan jarum. Dia tidak tahu kenapa ucapan wanita itu terasa lebih menyakitkan daripada vonis hakim. Ada rasa sesak yang asing di dadanya saat melihat tatapan benci wanita itu. Dan di sana, di sudut ruangan, berdiri Julian. Pria yang seharusnya duduk di kursi pesakitan ini. Julian tersenyum, sambil merangkul pinggang seorang gadis. Gadis itu menunduk, menghindari tatapan Elang. Wanita yang Elang cintai. Wanita yang dia lindungi mati-matian. Wanita yang kemarin bersaksi di mimbar: "Ya, Elang memang sering emosi dan terobsesi pada uang. Dia pernah bilang ingin merampok orang kaya." Kesaksian itu adalah paku terakhir di peti mati Elang. Siska menjual kejujurannya demi tas bermerek dan janji dinikahi oleh Julian. Dua petugas pengadilan bertubuh kekar menarik lengan Elang kasar, memaksanya berdiri. "Jalan!" bentak salah satu petugas. Elang tidak melawan. Dia berdiri, menegakkan kepalanya untuk terakhir kali. Dia tidak menangis. Air matanya sudah kering disiksa di ruang interogasi. Dia menatap lurus ke arah orang-orang yang ada di hidupnya selama ini. Tatapannya begitu tajam, begitu gelap, hingga senyum di wajah orang yang melihatnya luntur seketika. Itu bukan tatapan orang kalah. Itu tatapan seekor serigala yang sedang mengingat wajah pemburunya sebelum masuk ke dalam gua. "Nikmatilah kemenangan kalian hari ini!" bisik Elang serak di tengah keriuhan, namun getarannya membuat orang di sekitarnya mengernyitkan dahi.Ruang Operasi Taktis Sadewa, The Tower Di saat Sanjaya dan sisa Dewan Direksi panik mengurus kejatuhan saham dan skandal media, Sadewa duduk tenang di ruangannya yang gelap.Di depannya, tiga teknisi siber militer bayaran sedang melacak sesuatu. Bukan melacak uang, melainkan melacak pantulan gelombang radio."Frekuensi yang membajak TV Nasional tadi malam, dan pengacak sinyal di gudang senjata Pulogadung, keduanya menggunakan algoritma enkripsi yang sama," lapor kepala teknisi. "Ini bukan buatan luar negeri, Pak Sadewa. Ini kode buatan lokal, tapi level jenius."Sadewa menatap rentetan angka biner di layar. Matanya yang tua dan penuh bekas luka menyipit.Dia mengenali pola itu.Itu adalah "Tanda Tangan" digital. Setiap peretas punya gaya menulis kode. Dan gaya ini arogan, efisien, suka meninggalkan celah jebakan."Hanya satu orang yang pernah kuajari sandi morse dan logika sabotase seliar ini," gumam Sadewa, suaranya berat d
"Selamat malam pemirsa, kembali bersama saya Andini dalam Prime News. Berita utama malam ini..."Andini mulai membaca teks yang bergulir. Tapi baru satu kalimat, dahinya berkerut. Matanya membelalak kaget.Teks yang berjalan di layar prompter tiba-tiba berubah warna menjadi merah. Isinya sama sekali berbeda dari naskah yang dia hapal.Sebagai pembaca berita live, insting refleksnya adalah terus membaca apa yang ada di layar agar tidak terjadi dead air (keheningan fatal)."...Berita utama malam ini... Pemilik Nusantara TV Group, Kresna Wijaya... terbukti menjadi otak di balik serangkaian manipulasi opini publik dan kejahatan terorganisir..."Suara Andini bergetar, tapi dia terus membaca kalimat yang bergulir itu dengan tatapan horor.Di ruang kaca, Kresna Wijaya tersedak uap vape-nya."Apa-apaan ini?! Apa yang dia baca?!" Kresna memukul kaca pembatas. "Woy! Ruang Kontrol! Potong siarannya! Masukkan iklan!"Tapi A
"Barata sudah di penjara," potong Elang tajam. "Dan kakakmu memilih menembak kepalanya sendiri daripada melawan. Dia pengecut."Elang mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata Han."The Boss tidak memelihara pecundang."Kalimat itu menohok geng mafia tanah tersebut. Wajah Han berubah dari panik menjadi merah padam karena amarah. Urat di lehernya menonjol."Bangsat kau, E! Anak baru kemarin sore berani kurang ajar!"Han mencabut pistol kaliber 9mm dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Elang. Kroco-kroco di belakangnya ikut mencabut senjata. Suasana ruangan seketika berubah menjadi medan eksekusi."Buka brankasnya atau otakmu berceceran di kursi mahal itu!" ancam Han, jarinya bergetar di pelatuk.Elang tidak mengangkat tangan. Dia bahkan tidak berkedip. Dia hanya menghisap cerutunya lagi."Kau tahu bedanya orang kuat dan orang bodoh, Han?" tanya Elang pelan. "Orang bodoh menodongkan se
Kantor Tuan Hong - Pukul 16.00 WIB.Di ruangannya, Tuan Hong menatap layar TV dengan tubuh gemetar hebat.Siaran langsung itu viral dalam hitungan menit. Hastag #TangkapHong dan #PahlawanLumpur menjadi trending topic nomor satu di dunia. Saham perusahaannya yang tadi sudah hancur, kini resmi dihapus dari papan perdagangan bursa karena indikasi pidana ekstrem.Ponsel khusus di meja Hong berbunyi. Telepon dari The High Table.Hong mengangkatnya dengan tangan basah oleh keringat dingin."Hong," suara Sanjaya terdengar seperti vonis malaikat maut. "Kau ceroboh. Kau mengekspos organisasi kita ke publik. Polisi sudah dalam perjalanan ke gedungmu.""Sanjaya! Tolong aku! Kirim helikopter! Aku masih punya uang cash di brankas!" Hong memohon histeris."The Boss tidak memelihara benalu yang penyakitan," potong Sanjaya kejam. "Bersihkan dirimu sendiri, Hong. Jangan sampai kau ditangkap hidup-hidup dan menyebut nama kami. Atau keluar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews