LOGINRian seharusnya sudah mati dalam kecelakaan maut itu. Namun, sebuah suara purba di ambang maut menawarkan kesepakatan yang mustahil ditolak: Nyawa kembali, namun raga tak lagi milik sendiri. Kini, Rian bangkit dengan api yang membara di nadinya. Ia bukan lagi sekadar buruh logistik, melainkan wadah bagi Wisanggeni—Dewa Api pemberontak yang penuh dendam. Di tengah kepungan organisasi rahasia yang ingin menjadikannya senjata dan ancaman kegelapan yang mulai merayap dari dunia bawah, Rian harus bertaruh. Bisakah ia mempertahankan kemanusiaannya saat jiwa sang Dewa mulai mendominasi? Ataukah ia memang ditakdirkan hanya untuk menjadi sumbu yang menghanguskan dunia? Satu tubuh. Dua jiwa. Satu api yang akan mengubah takdir langit dan bumi.
View MoreDengung mesin forklift itu bukan lagi suara.
Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas Rian nggak mau mampir dulu?' katanya. "Cie, ditungguin lho," goda Maya. Suara tawa adiknya itu terdengar begitu jauh, seolah datang dari dunia lain yang lebih cerah. "Mas, beneran deh. Nanti kalau aku sudah nikah, Mas harus mulai pikirkan diri sendiri. Aku mau lihat Mas bahagia juga." Rian terdiam. Ia menatap lampu lalu lintas yang masih berwarna merah. Di depannya, ribuan lampu rem mobil menyala seperti butiran darah di tengah kota yang abu-abu. "Mas bahagia kalau kamu aman, May. Cukup itu saja." "Ih, jawaban klise! Kayak di sinetron," gerutu Maya. "Ya sudah, hati-hati. Jangan ngebut. Aku lagi goreng bakwan, jangan sampai Mas telat makannya." "Iya, May. Sebentar lagi..." Klik. Sambungan terputus. Hanya itu. Singkat. Di balik tempurung kepalanya, sebuah mesin hitung mulai bekerja secara otomatis. Gaji bulan ini. Sisa tabungan selama dua belas tahun memeras keringat. Biaya pernikahan Maya bulan depan. Hasilnya? Nol besar. Semuanya pas-pasan, namun secara matematis, tugasnya dianggap usai. Maya sudah lulus. Maya akan menikah dengan pria pilihannya. Maya akan aman. Lalu, bagaimana dengan Rian? Pertanyaan itu muncul seperti hantu, lalu hilang ditelan bising knalpot. Motor bebek tua itu bergetar hebat. Mesinnya merintih saat dipacu di atas enam puluh kilometer per jam. Rian tidak peduli. Di tengah kemacetan kota yang gila, ia merasa seperti sesuatu yang asing. Sebuah bayangan yang terselip di antara kerumunan manusia hidup. Ia menatap barisan mobil mewah di sisinya. Mungkin orang-orang di dalam sana punya mimpi yang masih menyala. Mungkin mereka punya tujuan. Rian? Ia hanya punya rasa lelah yang sudah mengakar di tulang-tulangnya. Lelah yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur satu malam. Lalu, wajah wanita itu melintas. Seketika, jemari Rian yang kaku di atas stang motor mengendur. Wanita yang namanya selalu ia kunci rapat di balik lidah. Sosok yang hanya berani ia tatap dari kejauhan, seolah wanita itu adalah matahari yang akan membutakan matanya jika dipandang terlalu lama. Seandainya aku punya waktu sepuluh tahun lagi... Bukan sebagai kakaknya Maya. Bukan sebagai buruh logistik. Apakah aku punya keberanian untuk menyebut namamu? Penyesalan itu terasa lebih pahit daripada asap knalpot yang ia hirup. Seandainya waktu bisa terulang. Lampu lalu lintas masih hijau. Dunia mendadak melambat. Suara decit ban yang beradu dengan aspal meledak, memekakkan telinga. Sebuah truk kontainer dari arah berlawanan kehilangan kendali. Raksasa besi itu menerjang ke arahnya seperti maut yang sudah lama menunggu janji. Rian tidak menghindar. Tidak ada teriakan. Tidak ada ketakutan. Hanya ada satu rasa yang merayap di dadanya: Keikhlasan. Akhirnya. Bruk! Aspal jalanan terasa sangat keras dan dingin saat menyentuh kulitnya. Suara logam yang hancur menjadi suara terakhir yang ia kenali sebagai manusia. Dunia Rian seketika padam. Kegelapan total menyelimuti pandangannya. Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki, merayap naik, mengincar jantung yang sudah lelah berdenyut. Napas terakhirnya menguap, menyatu dengan polusi kota. Namun, tepat di titik nadir itu, sesuatu terjadi. Sesuatu yang panas. Sesuatu yang purba. Sesuatu yang sangat besar. Entitas itu mendobrak masuk ke dalam tubuh Rian yang telah kosong. Deg. Jantung yang tadi mati, tiba-tiba menghantam rongga dadanya sekali. Keras. Seperti palu godam yang menghantam landasan besi. Mata Rian terbuka. Namun, itu bukan lagi mata seorang buruh logistik yang malang. **** Kegelapan itu tidak memiliki ujung. Rian berdiri di sana, di atas permukaan air yang tenang dan sehitam jelaga. Tidak ada rasa sakit. Luka dari aspal jalanan tadi menguap, meninggalkan sensasi ringan yang asing. Sunyi. Inilah yang ia dambakan selama dua belas tahun di kehidupan nya yang bising. Sebuah jeda tanpa suara mesin. Kehampaan yang jujur. Namun, kesunyian itu hanyalah ilusi singkat. Di ufuk kegelapan, sebuah titik merah muncul. Kecil, lalu membesar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Pijar itu meledak menjadi lidah api raksasa yang mencakar langit hampa. Api itu tidak membakar kulit Rian. Namun, suaranya menderu-deru, menyerupai derap langkah ribuan pasukan perang yang siap menghancurkan peradaban. Tegang. Air di bawah kaki Rian mulai bergetar. Gelembung-gelembung udara muncul. Mendidih. Di tengah kobaran api, sebuah bayangan berdiri tegak. Sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas, namun auranya begitu mengintimidasi hingga udara di sekitar Rian terasa berat dan beracun. Zirah yang dikenakannya tampak terbuat dari bayangan dan amarah. "Wadah ini kosong." Suara itu tidak merambat melalui udara. Ia bergema langsung di dalam sumsum tulang belakang Rian. "Kau telah menyerah pada takdirmu, Manusia Kecil." Rian tidak berkedip. Tidak juga gemetar. Ia menatap sosok ksatria itu dengan mata yang kuyu dan kantung mata yang menghitam. Ketakutan adalah kemewahan yang sudah lama hilang dari hidupnya. "Aku sudah menyelesaikan tugasku," sahut Rian datar. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—tipis dan rapuh. "Aku hanya ingin tidur." Sosok itu melangkah maju. Setiap pijakannya membuat air hitam di bawah mereka mendesis hebat. "Tidurmu terlalu cepat." Api di sekeliling mereka berkobar lebih tinggi, mengubah warna kegelapan menjadi merah darah. "Ada api yang harus dinyalakan kembali di dunia yang dingin ini." Ksatria itu kini berdiri tepat di depan Rian. Tinggi, menjulang, dan mematikan. Ia bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan sebuah ancaman yang nyata. "Pinjamkan aku ragamu," bisik suara itu, lebih tajam dari mata pedang. Rian merasakan napasnya tertahan. Dunia di sekitarnya mulai retak. "Biar aku yang memikul sisa napasmu." Sosok itu tidak menunggu jawaban. Ia melangkah masuk, menyatu dengan bayangan Rian yang memanjang di atas air. Panas yang purba meledak di dalam dada Rian. Sensasi itu mencekik. Jantung Rian yang tadinya diam, kini dipaksa berdenyut oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar nyawa manusia. Setiap inci sel tubuhnya yang hancur karena kecelakaan tadi seolah dipaksa menyambung kembali dengan paksa. Sakit. Luar biasa sakit. Rian ingin berteriak, namun suaranya tertahan oleh gelombang kekuatan yang merangsek masuk ke dalam jiwanya. "Bangun," perintah suara itu. "Takdirmu belum usai."Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata."Siapa kau?"Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.Sarah tersentak mundur.Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur."Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah tera
Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang memberesk
Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya. Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat. "Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif. Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang. "Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang." Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana. "Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi." Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan. Rian meraih cangkir itu. Ia m
Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri den






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews