Masuk“Goyangan Nyonya mantap betul. Tapi beneran suka anu saya? Enggak jijik sama pelayan bau keringat kayak saya?” Agus, pemuda desa yang baru jadi pelayan di rumah mewah, kaget bukan main saat majikan cantiknya minta jatah ranjang. Rahasia panas itu ternyata baru permulaan, karena permintaan gila sang majikan malah membuat Agus semakin terjebak di antara gempuran gairah nyonya rumah.
Lihat lebih banyakDina tak lagi bisa menahan gejolak yang membara di dalam dirinya. Dengan napas memburu dan mata berkabut gairah, jemarinya gerak naik turun sangat cepat. “Waduh, enak tapi jangan dikeluarin sekarang, Din.” Agus belingsatan karena ulah Dina yang menerjang seperti singa betina yang lapar. Aroma parfum mahalnya yang manis bercampur dengan bau keringat tipis pria itu, menciptakan campuran yang membuat kepalanya pusing. Tanpa berkata apa-apa, ibu jari Dina bermain di atas ujung rudal Agus yang sudah basah.“Eeeerr, Dina.”“Kenapa, Mas Agus? Enak ya? Mau lagi ya?” Satu tangan Dina yang gemetar, tapi lincah langsung melucuti kemeja Agus satu per satu, membuka dada bidang yang keras itu untuk disentuh langsung. Kulit Agus terasa panas di bawah telapak tangannya.Agus sulit jawab karena napasnya ngos-ngosan, dia menatap Dina yang mencium dadanya sambil tangannya aktif di balik kolor.Agus hanya berdiri diam dengan senyum miring, membiarkan asisten seksinya yang biasanya sopan itu berubah l
Setelah Karta diseret keluar dengan hina oleh tim audit perusahaan pemilik tender, ruang rapat yang tadinya penuh ketegangan mendadak hening. Agus melangkah ke depan dengan tenang. Dia tidak butuh map tebal atau suap untuk meyakinkan mereka. Dia hanya membuka layar presentasi yang menampilkan visi proyek yang efisien, logis, dan menjanjikan keuntungan triliunan rupiah dengan risiko minim.Pak Mikel, Direktur Utama yang dikenal perfeksionis dan galak, menyipitkan mata. "Proyek ini punya banyak variabel risiko tinggi, Agus. Bagaimana kamu menjamin efisiensinya tanpa mengorbankan kualitas?"Agus tersenyum tipis, tangannya menunjuk grafik di layar. "Sederhana, Pak. Saya memotong jalur distribusi material yang tidak perlu dan mengalihkan dana itu ke teknologi otomatisasi. Hasilnya? Efisiensi meningkat tiga puluh persen tanpa mengurangi standar material sedikit pun.""Cara yang berani," sahut Pak Mikel, suaranya sedikit melunak. "Tapi bagaimana dengan hambatan di lapangan? Banyak pesa
Hari ini pukul 09.00 pagi Agus sudah tiba di aura yang megah dengan lantai marmer yang berkilau dan lampu kristal dari langit-langit tinggi. Agus duduk bersama Cak Kumis dan Dina, jauh sebelum yang lain datang, dengan setelan jas rapi tanpa cela sedikit pun.Tak lama, satu per satu peserta dan dewan komite masuk. Karta datang setelahnya sekitar sepuluh menit kemudian dia melenggang masuk dengan setelan jas seharga satu unit mobil mewah, dagunya terangkat seolah dunia ini memang miliknya sendiri. Pria tua itu menyalami satu per satu anggota komite dengan gaya seorang raja yang sedang membagikan belas kasihan. "Tender ini cuma formalitas, kan, Bapak-bapak?" ucapnya angkuh, disambut tawa basa-basi dari para pejabat yang perutnya sudah kenyang oleh amplopnya.Begitu matanya jatuh pada sosok Agus, seringai meremehkan langsung terbit di wajahnya. "Wah, ternyata Pak Aguss udah datang juga," katanya, sengaja dikeraskan biar seisi ruangan dengar. "Mau jualan apa hari ini, Agus? Jangan bil
Agus teguk kopinya sampai habis dan sisa ampas. Dia menatap layar laptop yang menampilkan data perusahaan fiktif milik Karta. Cak Kumis mondar-mandir di belakangnya, wajahnya sudah kayak cucian kotor yang belum dibilas."Gus, eh, Bos, yakin nih kita mainnya begini? Kalau Karta tahu, kita bisa jadi tumbal proyek," ucap Cak Kumis yang panik.Agus tertawa sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Cak, Karta itu semakin dia ngerasa kenyang dan tenang sama suap, semakin gampang juga kita bikin dia mampus.""Iya, tapi suapnya gila-gilaan, Bos. Oknum komite udah di kantong dia semua," timpal Cak Kumis sambil garuk-garuk kepala plontosnya."Ya, bagus lah, Cak," sahut Agus dengan santai. "Nah mending sekarang kita siapin skrip buat hacker kita. Masukin bukti suap itu ke sistem internal si Karta. Gue mau dia yang presentasiin aibnya sendiri besok. Gimana tuh?"Cak Kumis jadi nyengir lebar, giginya kelihatan semua."Gila, sejak jadi Bos. Agus jadi jelmaan iblis beneran. Berarti kita tinggal duduk
“Non demen banget ya ngajakin enak-enak di gudang lah, gedung kosong lah. Ini kita mau neduh apa mau uji nyali?” celetuk Agus yang mengusap butiran air di keningnya.Siska memajukan bibirnya yang masih basah terkena sapaan air hujan. “Udah ihhh Agus, cerewet bener sih. Emang kamu nggak tahu ya apa
Selesai berpakaian meski berantakan dan keringat sisa pergulatannya bersama Sari masih ada, Agus cepat-cepat keluar dari kamar. Tapi dia teringat ada Sari di sana yang masih lemas. Dia yang sudah lari, kembali lagi dan mencium bibir janda ini dengan rakus.Kali ini wangi Sari terasa beda, tidak lag
Motor bebek Agus berhenti tepat di pelataran parkir sempit penginapan kelas melati yang catnya sudah mengelupas. Pemuda itu berjalan menyusuri lorong kumuh yang baunya campur aduk dan asap rokok mengepul di mana-mana.Mencari nomor kamar 07, sambil melangkah Agus memeriksa ponselnya yang bergetar l
“Anu, Tuan... itu si Sutrisno! Kucing kampung piaraan saya. Lagi birahi dia, Tuan. Maklum, kucing tetangga enggak ada yang mau, jadi dia ngamuk di kolong,” dalih Agus asal sebut.Mendengar dirinya disebut kucing kampung yang ditolak betina, Siska yang emosi langsung menggigit p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak