Gawat, Nyonya Minta Jatah!

Gawat, Nyonya Minta Jatah!

last updateLast Updated : 2026-04-01
By:  AntariksaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
12views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Goyangan Nyonya mantap betul. Tapi beneran suka anu saya? Enggak jijik sama pelayan bau keringat kayak saya?” ​Agus, pemuda desa yang baru jadi pelayan di rumah mewah, kaget bukan main saat majikan cantiknya minta jatah ranjang. Rahasia panas itu ternyata baru permulaan, karena permintaan gila sang majikan malah membuat Agus semakin terjebak di antara gempuran gairah nyonya rumah.

View More

Chapter 1

Bagian 1

“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.”

Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni rumah lainnya. Namun, dia malah dibuat kaget dan refleks mengelus dadanya sendiri. Masalahnya, dia baru saja pulang dari kampus, tapi malah disambut suara yang tidak-tidak dari kamar tamu.

Penasaran, Agus mengintip. Ternyata pintu kamar tamu tidak tertutup rapat. Perlahan Agus mendekat dan melotot.

“Itu Nyonya Rosa? Main sama siapa? Kok nggak kelihatan?” bisik Agus sambil memasang mata tajam untuk mencari tahu.

Dia mendorong sedikit pintunya, dan ternyata tidak ada orang lain di dalam kamar. Nyonya Rosa bermain sendiri sampai mulutnya mangap-mangap keenakan. Agus menelan ludah melihat milik Nyonya yang bening dan mulus aduhai, yang pucuknya kelihatan tegang di balik baju tidur tipis warna putih. Pemandangan itu sangat menantang untuk dicicipi, membuat celana jeans belelnya terasa sesak karena 'adik kecilnya' terbangun.

Agus sadar diri, dia hanya pelayan di sini. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu. Apalagi Agus ingat, dia kerja untuk kuliah, dan dia kuliah untuk menaikkan derajat Emak di kampung. Awalnya memang dia tidak tergoda dengan Nyonya Rosa, tapi semakin hari, tingkah Nyonya semakin aneh. Apalagi sejak Tuan Besar sering ada urusan di luar kota.

“Duh, Gusti. Ini cobaan atau rezeki?” Agus mengelus bagian di balik ritsletingnya yang terasa semakin sakit.

Napas Agus memburu. Saking nafsunya, dia tanpa sengaja mencakar pintu hingga meninggalkan bunyi. Nyonya Rosa yang sedang asyik di dalam langsung menoleh ke arah pintu yang sekarang terbuka sedikit lebar.

“Siapa itu? Jangan-jangan maling!” Suara Nyonya Rosa yang marah mulai mendekat, membuat jantung Agus berkonser ria.

“Mati aku kalau ketahuan. Mending aku cepat-cepat ke kamar daripada kena damprat,” gumam Agus. Dia memilih memutar badannya yang tiba-tiba terasa berat.

Bukan apa-apa, soalnya kalau dia kena marah, bisa-bisa dia dipecat oleh Nyonya Rosa. Agus tidak mau hal itu terjadi karena baru sebulan ini  dia bekerja sebagai pelayan di rumah gedong bak istana, menggantikan Emak yang sakit-sakitan. 

Agus harus berjuang menempa hidup di dunia yang tidak adil ini. Dia perlu mencari uang yang banyak supaya bisa lulus kuliah dan mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Namun, sepertinya nasib baik tidak memihak padanya. Sebelum sempat menjauh, terdengar suara Nyonya Rosa yang memanggil dengan keras.

“Heh, siapa kamu? Berhenti!” perintah sang Nyonya.

Agus melihat ke arah lantai dua. Kalau Tuan Besar Hendro sampai bangun, tamatlah riwayatnya. Dia bisa diblokir  sebagai manusia di muka bumi ini. Suara langkah Nyonya Rosa semakin dekat, membuat Agus berkeringat bukan main sampai seluruh badannya basah.

Begitu Nyonya Rosa ada di depannya, dia langsung menunjuk Agus. “Eh, kamu Agus pelayan baru, bukan?”

Kini dada bening dan kenyal itu ada di depan mata. Di belahannya yang sempit, meluncur keringat Nyonya yang membuat Agus berandai-andai bisa bermain di sana.

“Heh, Agus! Malah jelalatan ke mana-mana!” omel Nyonya Rosa.

“Anu… Nyonya. Maaf. Saya—”

“Ngintip aku? Hih, kurang ajar kamu, Gus! Aku ini istri bosmu!” Mata Nyonya Rosa melotot seolah mau melompat keluar.

“Bukan ngintip, Nyonya. Saya baru pulang kuliah malam. Saya tidak sengaja… itu,” kata Agus tidak sanggup menjelaskan apa yang baru saja dia lihat. Keringat semakin deras mengalir di pelipisnya.

Akhirnya Agus menunduk supaya tidak melihat dada bening itu lagi. Tapi keadaan malah lebih sial karena pemandangannya justru lebih aduhai. Kaki mulus dan putih Nyonya terpampang nyata, ditambah lagi 'perabotan' di balik rok tidur putih yang tembus pandang. Tenggorokan Agus menjadi kering karena tahu Nyonya Rosa tidak memakai pakaian dalam.

“Aduh, apes aku,” batin Agus, tidak tahu harus bagaimana lagi.

“Kuliah malam? Pasti itu alasanmu saja supaya bisa mengintip aku, iya? Aku laporkan suamiku baru tahu rasa kamu, Gus!” Suara Rosa menusuk, membuat Agus pasrah jika harus dipecat malam ini juga. Masalahnya, yang dia tahu Tuan Hendro sangat berkuasa. Memecat pelayan seperti dirinya tentu bukan hal besar.

“Tunggu, Nyonya! Jangan lapor Tuan Besar. Saya benar-benar baru pulang kuliah!” Agus memberanikan diri mengangkat kepala.

Kedua tangan Agus bergerak refleks bermaksud memohon maaf, tapi karena jarak mereka sangat dekat dan dia panik, ujung jarinya tidak sengaja menyentuh pucuk tegang di balik kain tipis Nyonya Rosa. Sentuhan itu membuat Agus mematung. Namun, Nyonya Rosa bukannya mundur, malah semakin melangkah maju sambil membusungkan dadanya.

“Nyonya, saya bisa jelaskan... ini semua tidak sengaja. Sungguh, Nyonya!” Suara Agus serak, campuran antara hasrat dan cemas.

Nyonya Rosa tidak berteriak. Dia malah tersenyum miring, menatap si pelayan muda dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Tidak sengaja? Tapi tanganmu tepat sasaran, Gus. Kamu nafsu ya, lihat aku seperti tadi?” tanya Nyonya Rosa. Agus sadar ini adalah jebakan paling berbahaya.

Tubuh Nyonya Rosa terlihat sangat segar, kulitnya kencang layaknya wanita usia 20-an, meskipun Agus tahu majikannya ini sudah kepala tiga. Agus berjalan mundur perlahan, tapi punggungnya malah menabrak lemari hias. Dia benar-benar terpojok.

Tiba-tiba, pandangan Nyonya Rosa turun ke bawah, tepat ke arah celana jeans belel Agus. Matanya melebar dan mulutnya menganga, lalu dia tertawa kecil yang terdengar sangat menggoda di telinga Agus.

“Itu... kamu bangun? Sampai menonjol begitu?” Rosa berbisik.

Spontan, Agus langsung menutupi bagian depannya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. “M-maaf Nyonya, ini... ini di luar kendali saya.”

Nyonya Rosa merapatkan tubuhnya hingga Agus bisa merasakan panas dari kulit wanita itu. Jari tangannya yang lentik mulai bermain di kerah kemeja flanel yang lembap oleh keringat dingin.

“Kamu pasti takut dipecat kalau aku mengadu ke suamiku, iya? Bayangkan, bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi beasiswamu juga bisa aku cabut dalam sekejap,” bisik Rosa.

Tubuh pemuda ini sekarang kaku, terjepit di antara lemari dan kemolekan sang majikan.

“Gimana kalau kamu penuhi kemauan aku? Gampang, kok.” Nyonya Rosa mengedipkan mata.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status