LOGIN“Goyangan Nyonya mantap betul. Tapi beneran suka anu saya? Enggak jijik sama pelayan bau keringat kayak saya?” Agus, pemuda desa yang baru jadi pelayan di rumah mewah, kaget bukan main saat majikan cantiknya minta jatah ranjang. Rahasia panas itu ternyata baru permulaan, karena permintaan gila sang majikan malah membuat Agus semakin terjebak di antara gempuran gairah nyonya rumah.
View More“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil menutup mulut. Belum kapok, dia malah terus maju mendekati Agus. Matanya yang liar itu menatap ke arah barang yang tadi diremasnya kuat.“Kamu pelit banget sih sama aku. Ayo Gus, satu jam aja deh kelonin aku. Jangan setia-setia bangetlah sama si Rosa. Aku tahu apa yang kamu pikir, penasaran kan? Hayo ngaku aja. Masih segar lho, aku rajin perawatan.” Maya melepas kimononya dan mengedip sebelah mata. Kini bukan lagi belahan bening yang kelihatan, tapi dada kenyal itu juga memanggil-manggil untuk dilahap.“Anu… Bu, ingat Pak Bambang. Beliau itu pejabat. Kalau tahu saya macam-macam sama istrinya, bisa-bisa saya dicor di proyek jalanan depan.” Agus sampai mengusap lehernya karena ngeri. Dia tid
“Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut pembebasan.Agus mencoba singkirkan tangan Siska, tapi gadis ini malah melirik tajam dan menepuk dadanya lebih kencang.“Aku mau minta giliran main sama Agus, boleh dong?” Mata Siska menantang Rosa. Siska sengaja menggesek-gesek dada ranumnya ke lengan Agus.Rosa melotot tidak percaya mendengar permintaan gila adiknya. Tangannya terkepal sampai gemetar. Apalagi usai melihat pusaka Agus yang gagah, tak mau lah dia berbagi."Enggak bisa! Cari yang lain aja sana. Dia ini enggak cocok buat kamu!" Rosa mengamuk, wajahnya yang cantik sekarang mirip singa betina.Dia memukul keras tangan Siska dan menarik sekuat tenaga adiknya itu menjauh dari si pelayan muda, sampai tali baju tidurnya lepas, dan Ag
“Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Enggak aneh kan, aku pakai tank top begini?” ketus Siska sambil menyisir rambut berantakannya, tidak sadar Rosa sedang berkeringat dingin.Mendengar kata tank top, naluri Agus membandel. Dia juga mau lihat seperti apa Siska, dan mendorong pintu lemari sedikit.Keberanian Agus membuat Rosa melotot sampai matanya mau melompat.Sekarang Agus menikmati pemandangan tepat di depannya, dia sampai lupa pada tatapan tajam Rosa. Siska terlihat begitu menggoda dengan tank top hitam berbahan tipis yang menempel ketat. Potongan dada rendah membuat sepasang dadanya yang montok dan kencang menyembul nakal.“Busyet, itu pakai bra atau enggak? Gede bener. Mana kencang pula,” pikir Agus. Dia sampai tidak berkedi
“Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masuk ke kamar, dan menutup pintu. “Kelamaan mikir kamu, Gus!” kesal Rosa, yang membuat Agus tidak habis pikir karena tenaganya sangat kuat, meski tadi sudah enak-enak pakai dildo. “Jangan masuk kamar, Nyonya. Kalau Tuan tahu, saya bisa dimarahi.” Agus tidak mau Tuan Hendro sampai salah sangka. Napasnya malah ngos-ngosan. Rasanya lelah sekali meladeni Nyonya Rumah ini. Malah yang lebih bingung adalah Agus tidak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan si Nyonya ini. Matanya bergerak turun memperhatikan bokong Rosa yang bergoyang di balik daster tipis putih itu. “Pasti empuk,” pikir Agus lagi. “Ampun Gusti. Jangan Gus. Sadar, ini Nyonyamu!” Dia sekuat tenaga menahan gairah melihat dag












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.