LOGINEdward meninggal dunia dalam penyesalan. Kehidupan suksesnya yang berhasil mengumpulkan 500 miliar dolar, tidak berarti baginya. Malaikat memberinya kesempatan untuk kembali ke saat saat dia masih memiliki anak istrinya. Kali ini, dia tidak akan membiarkan mereka pergi. Dia akan jadi kaya bersama mereka.
View MoreRuangan itu berbau antiseptik dan kesepian.
Edward Harrington berbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, dikelilingi mesin-mesin yang mencatat detak jantungnya dengan bunyi bip yang teratur, seperti jam yang menghitung mundur. Tujuh puluh tahun. Begitu panjang usianya, namun begitu sedikit yang bisa ia banggakan di hadapan Tuhan.
Lima ratus miliar dolar. Angka yang membuat para raja industri menunduk hormat. Angka yang tercetak di majalah-majalah bisnis terkemuka dunia. Namun di ranjang ini, lima ratus miliar dolar itu terasa seperti debu, tidak berguna, tidak hangat, tidak mampu mengisi kekosongan yang menganga di dalam dadanya selama puluhan tahun.
Semua sudah ia tanda tangani. Perusahaan, aset, portofolio investasi, semuanya diserahkan kepada yayasan amal yang ia dirikan diam-diam sepuluh tahun terakhir. Beasiswa untuk anak-anak miskin di pelosok negeri. Rumah sakit gratis di daerah terpencil. Panti asuhan yang ia bangun dengan uang yang dulu ia kumpulkan dengan tangan-tangan kotor.
'Apakah itu cukup untuk menebus segalanya?'
Edward memejamkan mata.
Ketukan pelan di pintu membuat ia membuka mata kembali. Seorang pria tua berdiri di ambang pintu, tua sekali, dengan rambut putih yang bersih seperti salju dan mata yang aneh, terlalu cerah untuk usia setua itu. Ia mengenakan pakaian sederhana, baju putih lusuh yang entah mengapa terlihat sangat bersih, sangat murni.
"Bolehkah saya masuk?" suara orang tua itu lembut, seperti angin yang meniup daun di musim gugur.
Edward mengernyit. "Siapa Anda?"
"Hanya seorang tua yang ingin mendoakan Anda." Orang tua itu tersenyum. Senyum yang aneh, bukan senyum basa-basi, melainkan senyum seseorang yang tahu. "Saya mendengar tentang apa yang Anda lakukan. Seluruh warisan Anda, untuk anak-anak yang tidak pernah mengenal Anda. Itu perbuatan yang mulia, Tuan Harrington."
Edward menghela napas berat. "Mulia." Ia mengulang kata itu dengan nada pahit. "Saya melakukannya karena rasa bersalah. Bukan karena kemuliaan."
"Kadang-kadang," kata orang tua itu sambil melangkah masuk dan duduk di kursi di sisi ranjang, "niat yang lahir dari penyesalan jauh lebih jujur daripada niat yang lahir dari kesombongan."
Hening sejenak.
"Boleh saya bertanya sesuatu, Tuan Harrington?" Orang tua itu menautkan jari-jarinya di atas lutut. "Dari semua yang pernah terjadi dalam hidup Anda, dari semua kesalahan, dari semua dosa, apa yang paling Anda sesali?"
Edward menutup matanya. Pertanyaan itu seperti pisau yang menembus tepat ke jantungnya.
"Elaine," bisiknya. "Dan Tirza."
Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
Elaine Harvey, istrinya yang pertama. Perempuan dengan rambut hitam panjang dan tawa yang renyah, yang pernah menatapnya dengan sepasang mata yang penuh harap di altar pernikahan mereka. Perempuan yang pernah percaya bahwa Edward Harrington adalah laki-laki yang layak untuk dicintai.
Betapa naifnya ia dulu.
"Saya menyia-nyiakan mereka," kata Edward, suaranya retak seperti tembikar tua. "Elaine... saya tidak pernah menjadi suami yang seharusnya. Saya seorang penjudi. Pecandu yang tidak bisa berhenti meski sudah berkali-kali berjanji." Ia tertawa pahit, tawa yang terdengar lebih seperti tangisan. "Saya menjual rumah kami. Rumah yang kami cicil bersama selama tiga tahun. Saya bilang kepada Elaine bahwa ada masalah dengan sertifikat tanahnya, dan bodohnya dia percaya."
Orang tua itu tidak bersuara. Hanya mendengarkan.
"Perhiasan pernikahannya. Cincin yang saya belikan dengan gaji pertama saya. Gelang emas dari ibunya yang sudah meninggal." Edward menelan ludah dengan susah payah. "Saya mencurinya waktu dia tidur. Saya jual ke toko emas di pasar loak. Saya gunakan uangnya untuk bayar utang judi, lalu besoknya saya berjudi lagi dan kalah lagi."
Ruangan itu terasa semakin sempit.
"Tirza waktu itu baru masuk SD. Elaine sudah menabung selama dua tahun untuk biaya sekolahnya, dia sembunyikan di dalam kaleng biskuit di belakang lemari. Dia pikir saya tidak tahu." Edward memejamkan mata lebih rapat. "Saya tahu. Saya ambil semua isinya. Tiga juta dolar. Saya habiskan dalam satu malam."
Keheningan yang menyiksa mengisi ruangan itu.
"Elaine akhirnya pergi membawa Tirza. Saya tidak mencegah. Saya bahkan lega karena itu berarti tidak ada lagi yang bisa memarahi saya, tidak ada lagi yang bisa menangis di depan saya." Edward membuka matanya, menatap langit-langit yang bersih dan dingin. "Betapa rendahnya saya waktu itu."
"Lalu apa yang terjadi kemudian?" tanya orang tua itu dengan lembut.
"Saya jatuh miskin. Benar-benar miskin, tidur di kolong jembatan, makan dari belas kasihan orang." Nada suara Edward berubah, ada sesuatu yang berbeda di sana, bukan kebanggaan, tapi semacam rasa syukur yang aneh. "Itu yang menyadarkan saya. Bukan nasihat orang, bukan ceramah. Kelaparan yang menyadarkan saya."
Ia bangkit dari lubang itu perlahan. Sangat perlahan. Bekerja serabutan, lalu mendapatkan kesempatan kecil di bisnis properti, lalu berkembang, lalu besar. Namun saat ia kaya, saat ia akhirnya mampu mencari Elaine dan Tirza, Elaine sudah menikah lagi dengan pria yang lebih baik. Dan Tirza...
"Tirza meninggal dunia tidak lama setelah perpisahan dengan ku," bisik Edward. "Kecelakaan. Dia tidak sempat tahu bahwa ayahnya sudah berubah."
Orang tua itu mengangguk pelan, tidak mendesak, hanya hadir.
"Saya menikah lagi," lanjut Edward, hampa. "Perempuan muda yang cantik. Saya pikir saya bisa memulai lagi, membangun keluarga yang saya hancurkan dulu." Ia tertawa kecil, pahit. "Istri kedua saya berselingkuh. Ternyata Anak yang dikandungnya bukan anak saya. Saya usir dia dan saya tidak pernah menikah lagi setelah itu."
"Jadi Anda hidup sendiri selama bertahun-tahun."
"Sendiri dengan harta yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa memeluk saya." Edward menatap orang tua itu. "Itulah hukuman yang pantas untuk saya."
Orang tua itu tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum di pintu tadi, senyum seseorang yang tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
"Tutuplah mata Anda, Tuan Harrington," kata orang tua itu. "Biarkan saya berdoa untuk Anda."
Edward tidak bertanya lagi. Ia menutup matanya.
Ia mendengar suara lirih, seperti bukan kata-kata manusia, seperti suara yang lebih tua dari bahasa itu sendiri. Suara yang hangat. Suara yang membuat dadanya yang sesak perlahan terasa ringan.
Kemudian gelap.
Kemudian sunyi.
Seseorang menepuk-nepuk pipinya.
"Yah. Yah, bangun! Sudah siang!"
Edward membuka matanya dan langsung terduduk dengan jantung yang nyaris copot.
Bukan langit-langit rumah sakit yang ia lihat.
Yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang ia kenal, cat kuning pucat yang sudah mengelupas di sudut, kipas angin tua yang berputar lambat dengan bunyi kreek-kreek ritmis, dan gorden bermotif bunga yang dibelikan ibunya dulu sebagai kado pernikahan.
Dan yang menepuk-nepuk pipinya adalah seorang anak perempuan kecil, kira-kira delapan tahun, dengan rambut dikuncir dua dan bintik-bintik kecil di hidungnya dan mata yang sangat familiar.
"Tirza! kamu hidup?" desis Edward.
Anak itu mengernyit. "Kok gitu? Yah, demam ya? Muka Ayah aneh."
Edward tidak bisa berbicara. Tenggorokannya tercekat.
'Tirza. Anakku. Yang sudah meninggal di kehidupan yang sudah aku lewati. Yang sudah menjadi masa lalu yang tidak bisa disentuh.'
Namun ini nyata. Tepukan kecil di pipinya itu nyata. Bau sampo murah yang dipakai anak itu nyata.
Dengan tangan gemetar, Edward meraih pipi kecil itu dan menggenggamnya dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang bisa hancur kapan saja.
"Tirza," ulangnya lagi, kali ini dengan suara yang retak.
"Iya, Yah, aku Tirza." Anak itu mengernyit bingung, namun tidak melepaskan diri. "Kenapa nangis?"
Edward mengusap matanya. Ia menangis. Ia tidak sadar kapan air matanya jatuh, namun pipinya basah dan dadanya sesak dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, bukan sesak kesedihan, melainkan sesak karena sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung.
Kebahagiaan. Mungkin itulah namanya. Ia sudah lupa rasanya.
"Tidak apa-apa," kata Edward, suaranya masih bergetar. "Ayah hanya senang lihat kamu."
Tirza memandangnya dengan ekspresi campuran antara bingung dan sedikit khawatir, ekspresi yang sangat khas anak delapan tahun yang belum bisa memahami orang dewasa. "Yah, Ibu minta Ayah turun sarapan. Tapi kalau Ayah sakit, aku bilang Ibu ya."
"Jangan." Edward menggeleng cepat. "Ayah tidak sakit. Ayah turun sekarang."
Tirza mengangguk, lalu berlari keluar kamar dengan suara gedebuk-gedebuk kecil yang mengisi lorong sempit itu, suara yang pernah ia dengar dulu, yang pernah ia anggap biasa, yang kini terasa seperti musik paling indah yang pernah menyentuh telinganya.
Edward duduk di tepi ranjang beberapa saat lamanya.
Ia melihat tangannya, tangannya yang muda. Kulitnya kencang, tidak ada bintik-bintik tua, tidak ada pembuluh darah yang menonjol seperti sebelumnya. Ia menggerak-gerakkan jarinya, merasakan sendi-sendinya yang tidak lagi kaku.
'Ini nyata.'
Kemudian ia mendengarnya, suara itu. Suara yang ia kenali dari ruangan rumah sakit yang sudah menjadi milik masa lalu.
"Gunakan dengan bijak, Anak Muda." Suara orang tua itu terdengar dari mana-mana sekaligus dari mana pun, seperti datang dari dalam dinding, dari balik gorden, dari dalam dadanya sendiri. "Kamu tidak dikirim kembali untuk menjadi kaya lebih cepat. Kamu dikirim kembali untuk memperbaiki apa yang kamu rusak."
Edward mengangguk pelan, meski tidak ada siapa pun yang melihatnya.
Ia berdiri. Ia menarik napas panjang.
Dan ia turun ke bawah.
"Hei Li, cukup dengan mulut jahatmu. Kamu bilang kucing buta menangkap tikus mati? Kalau matamu memang terbuka, tunjukkan seberapa banyak tikus yang bisa kamu tangkap sendiri. Kamu mengaku ahli giok, buktikan."Julian yang angkat bicara lebih dulu sebelum Edward perlu merespons."Baik. Masih ada tiga batu mentah tersisa, bukan? Kita pasang semua taruhannya sekarang, setuju?" Li Mu tersenyum dingin."Kapan aku pernah menolak ajakanmu untuk bermain?" jawab Julian tanpa ragu.Ia tahu kemampuannya di dunia giok jauh di bawah Li Mu. Tapi dengan Edward di sisinya, ia tidak berniat mundur. Dan di hadapan Li Mu, mundur bukan pilihan yang ada dalam kosakatanya."Bagus. Kalau begitu kita main besar dengan ketiga batu ini."Meski baru saja merugi satu juta dari taruhan sebelumnya, keyakinan Li Mu tidak sedikit pun goyah.Julian mendengus, lalu melirik Edward sekilas. Edward mengangguk tipis.---"Batu mentah nomor tujuh belas dari tambang lama. Ada kemungkinan menghasilkan giok berkilau. Harga p
"Tidak perlu."Julian mendengus sebagai jawaban atas tawaran taruhan Li Mu."Oh? Menyerah? Ini tidak seperti dirimu, Zhang," kata Li Mu dengan nada yang terus memanas.Julian mengabaikannya. Ia berpaling ke Edward. "Tuan Harrington, Anda yakin?""Cukup yakin," jawab Edward dengan senyum tipis.Alasan ia tidak menyuruh Pak Huang membeli batu-batu yang sudah dipotong sebelumnya bukan karena ia tidak tahu mana yang akan menguntungkan. Beberapa di antaranya memang layak, tapi keuntungannya tidak akan cukup. Paling banyak tiga sampai lima ratus ribu dolar. Jumlah itu tidak akan menutup hutang Pak Huang dan biaya operasi ibunya sekaligus.Jadi ia menunggu.Di kehidupan lampaunya, batu giok hitam nomor enam belas ini, yang saat itu juga tidak laku di harga dua ratus ribu, akhirnya dibeli oleh seorang pemula yang tidak tahu apa-apa, hanya karena penasaran. Tanpa membuka jendela sama sekali, langsung dipotong, dan yang muncul di dalamnya adalah giok biru tua berkualitas tinggi dengan pola kepi
Pukul empat sore.Area perjudian batu giok di dalam bungalo itu sudah penuh sesak. Meski banyak orang, penempatan setiap orang tidak acak. Area terdalam dan terbaik hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki status dan koneksi yang cukup. Di kehidupan lampaunya, Edward hanya bisa mengintip dari luar kerumunan, berdiri berjinjit untuk sekadar melihat apa yang terjadi di dalam. Kali ini, berkat Julian, ia langsung bisa masuk ke lapisan paling dalam."Hei Zhang, kamu bawa cukup uang hari ini? Mau ikut taruhan waktu batu-batu itu dibuka?"Musuh bertemu di tempat sempit.Li Mu berdiri tidak sampai tiga meter dari Julian dan rombongannya. Tepat sebelum acara dimulai, ia sudah membuka mulutnya dengan provokasi yang terukur."Siapa yang takut?" balas Julian. "Aku justru sedang mencari daun bawang yang bisa dipotong hari ini.""Daun bawangnya ada tepat di sebelahmu." Li Mu tertawa kecil. "Orang yang bisa kehilangan satu juta di Maple Leaf dalam satu jam, pasti bisa bantu kamu cari lebih bany
Edward benar-benar tidak menyangka dirinya terseret ke dalam situasi ini.Apa yang sudah ia lakukan sampai orang itu merasa perlu menghina dan merendahkannya di depan semua orang?Julian dan Nathan pun sama herannya.Berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan tentang Edward, memang benar ia pernah menjadi penjudi kelas bawah dengan tumpukan hutang. Tapi seorang pria yang baru saja menghasilkan jutaan dolar dalam tiga hari dari perjanjian properti, lalu marah-marah dan mengumpat setelah kehilangan satu juta di kasino?Itu tidak cocok sama sekali dengan gambaran Edward yang sudah mereka kenal dari beberapa pertemuan terakhir."Apa kesalahan yang telah saya lakukan sampai Anda merasa perlu menghina saya seperti itu?" tanya Edward dengan nada yang terkendali.Li Mu tersenyum tipis. "Tidak ada. Kamu tidak melakukan apa pun yang cukup penting untuk aku permasalahkan. Aku hanya menggunakanmu sebagai sarana untuk menyampaikan sesuatu kepada anak muda keluarga Zhang, bahwa pergaulannya semaki
Karena perjanjian tertulis sudah sah dan mengikat, pihak Goldfield Residence tidak punya pilihan selain memproses transfer kepemilikan sesuai kesepakatan.Prosesnya selesai lebih cepat dari yang Edward bayangkan. Sang istri dari pasangan paruh baya itu ternyata jauh lebih tegas dalam urusan bisnis
"Tuan Harrington!""Tuan Harrington!"Julian dan Nathan berseru hampir bersamaan, keduanya melangkah maju dengan ekspresi khawatir.Bukan karena mereka ingin mengambil keuntungan dari situasi ini. Justru sebaliknya. Kondisi keuangan mereka berdua jelas bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi k
"Tuan Harrington, apakah Anda benar-benar yakin ingin membeli di sini?"Begitu turun dari mobil, Julian tidak bisa menahan diri untuk mencoba membujuk Edward sekali lagi.Edward tersenyum ringan dan menjawab, "Bagaimana kalau saya katakan bahwa harga properti di sini akan naik setidaknya lima kali
"Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu mau membunuh aku dan Tirza sekaligus?!"Edward baru saja dengan gembira menggendong Tirza ketika teriakan Elaine memenuhi ruangan bahkan sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun.Elaine sudah menarik kesimpulannya sendiri. Kamar sewaan yang berubah menjadi se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.