登入Menatap layar handphone yang menampilkan postingan terakhir di salah satu akun sosial media miliknya. Bukan hanya story, tetapi postingan yang artinya siapapun yang melihat profil akun sosial media miliknya akan langsung melihat postingan foto tersebut.
Senyuman lebar Mamah, Papah, Kai, dan Samudra yang berdiri di sampingnya, tangan kanan lelaki itu melingkar dengan apik di pinggangnya, membuat mereka berdua tampak benar-benar seperti pasangan. Keluarganya sudah melihat.Bukan hal yang mudah membawa Naya ke luar dari klub. Samudra tidak mungkin sampai menyeretnya, lelaki itu membopong tubuh Naya masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya berpamitan pergi kepada teman-teman Naya. Beruntungnya Naya tidak berteriak, ia hanya menggerutu dan merengek kecil meminta untuk diturunkan. "Nanti temen-temen aku nyariin.... mau ke mana sih?" tanya Naya ketika mobil sudah berada dalam perjalanan. "Saya sudah pamit sama mereka." Naya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Eumm.... nanti Kak Nathan juga marah kalau aku ngga dijagain temen-temen...." Samudra seketika langsung menoleh menatap Naya yang duduk di sampingnya ketika nama Nathan disebut. Nathan dan Zara memilih untuk tidak ikut bergabung ke klub dengan alasan Zara yang sedang dalam kondisi mengandung. Naya jelas sudah dalam pengaruh alkohol sekarang, bicaranya mulai melantur, kadang bergumam dan merengek tidak jelas. Samudra mencoba mengabaikan apapun yang dikatakan oleh Naya. "Kak Nathan...." Naya tampak me
Suasana klub jauh lebih ramai dari caffe Rainbow, musik berdentum keras memenuhi ruangan, gemerlap lampu warna-warni yang cahayanya bergerak menyorot ke segala sisi, juga sorakan para pengunjung yang memenuhi lantai dansa. "Habis ini mau ke mana? Gue punya ide!" Setelah obrolan panjang di caffe, rupanya hal itu tidak cukup untuk seseorang bernama Satria. Lelaki itu menyarankan mengunjungi klub alih-alih langsung pulang meskipun jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Di awal, Naya sempat menolak untuk ikut ketika Okta, Sisil, Laras terus membujuk karena mereka sudah tergiur dengan ajakan Satria sebelumnya. "Ayolah Nay, udah lama juga kita ngga ke klub sama lo. Itung-itung party sebelum lo married hehe..." "Lagian ada Dokter Sam, dia juga ikut, biar bisa jagain lo, aman kan?!" Kira-kira seperti itu rayuan mereka. Ketika Naya menggeleng untuk menolak, teman-temannya malah sengaja memohon-mohon kepada Samudra agar ik
"Nay, lo dapet dari mana sih modelan kaya gini?" tanya Sisil heboh, maniknya masih fokus menatap layar handphone milik Naya yang menampilkan beberapa potret foto pertunangannya dengan Samudra. "Buset, Sil! Kaya ngga pernah liat langsung aja. Ngeliatin fotonya gitu banget," cibir Laras menjitak bagian atas kepala Sisil sampai membuat perempuan itu mengaduh sakit. "Aduh.... justru karena belum puas ngeliat langsung, jadi gue gini banget ngeliatin fotonya," jawab Sisil ketus. "Yeuu ngga boleh kaya gitu lo, Sil! Dokter Sam kan udah punya Naya, jangan berani-berani rebut cowo orang ya!" Okta ikut mengompori, bahkan menyentil kening Sisil dengan cukup keras sampai kening perempuan itu memerah. "Ih kampret! Sakit tahu!" Sisil makin cemberut. Naya terkekeh pelan melihat tingkah mereka. Jujur ia merindukan su
Naya kira acara pertunangannya akan berlangsung dengan cukup sederhana, hanya dihadiri beberapa keluarga besar dan beberapa kerabat dekatnya. Tetapi, dugaannya salah. Acara pertungan diadakan cukup mewah, walaupun berlatar di kediaman Husein Ganendra tetapi mengundang ratusan tamu untuk ikut menyaksikan acara pertunangan. Tidak hanya keluarga besar dan teman dekat Naya, tetapi beberapa kerabat Husein dan Maya juga ikut hadir. Naya tahu, ini adalah acara pertunangan pertama yang keluarganya gelar, sepertinya kedua orang tuanya yang malah begitu excited mempersiapkan acara, untuk pemilihan dekorasi, catering dan segala macamnya Maya sendiri yang mengatur, walaupun sebelumnya meminta pendapat kepada Naya sebelum memutuskan pilihan. Naya tidak banyak berkomentar, sejujurnya ini bukan pertunangan yang ia impikan, jadi bagaimanapun konsep pertunangannya tidak akan berpengaruh apapun untuk dirinya.
"Saya rasa ini tidak adil." Naya melirik Samudra dengan alis terangkat satu, wajahnya ketus. Tidak adil? Lelaki itu bicara tentang keadilan apa. Jika bicara tentang keadilan harusnya di sini Naya yang mengatakan itu. Sejak awal, hubungan ini tidak adil untuk dirinya.Segalanya. "Saya kira, saya sudah cukup berusaha untuk mendapatkan restu kedua orang tua kamu, restu keluarga kamu. Tetapi apa yang kamu lakukan tadi, kamu tidak berusaha sedikitpun untuk membuat Mamah saya percaya pada hubungan kita, dan membuatnya memberi restu." Samudra kembali menjelaskan, dengan pandangan lurus ke depan menatap jalanan yang sedang dilalui. Keduanya sedang berada di dalam mobil, menuju kediaman keluarga Ganendra untuk mengantar Naya pulang setelah selesai dengan acara dinner bersama Gina. "Hubungan kita?" Naya tertawa sumbang, sampai membuat Samudra menoleh untuk beberapa saat sebelum kembali fokus dengan kemudinya. "Sejak kapan ini jadi hubungan
Menatap layar handphone yang menampilkan postingan terakhir di salah satu akun sosial media miliknya. Bukan hanya story, tetapi postingan yang artinya siapapun yang melihat profil akun sosial media miliknya akan langsung melihat postingan foto tersebut. Senyuman lebar Mamah, Papah, Kai, dan Samudra yang berdiri di sampingnya, tangan kanan lelaki itu melingkar dengan apik di pinggangnya, membuat mereka berdua tampak benar-benar seperti pasangan. Keluarganya sudah melihat. Teman-temannya sudah melihat. Orang-orang yang mengenal Naya sudah tahu kalau ada seseorang bernama Samudra yang sekarang ada di dekatnya. Beberapa keluarga Ganendra mengkhawatirkan hubungan itu. Bagaimanapun mereka tahu tentang perang dingin antara Samudra yang adalah kakak dari Disya, dengan Devan. Disya sendiri pernah jadi bagian dari keluarga Ganendra sebelum pada akhirnya perempuan itu meminta berpisah karena kesalahan Devan. Tentu saja semua orang aka
+628xxxxxxxxxx |Disya sedang pergi ke Jogja, pertemuan akan dilakukan setelah Disya pulang dari sana. Naya mengulum bibirnya, hatinya merasa sedikit lega ketika Samudra menggiriminya pesan seperti itu. Setidaknya masih ada beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diri sebelum pertemuannya dengan Disya
"Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini
"Belum balik?" Samudra segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sedari tadi dia perhatikan, ketika mendengar suara Wisnu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Samudra melirik Wisnu sebentar sambil berdehem pelan manjawab pertanyaannya, berbalik lalu melangkah pergi yang tentu l
Naya datang ke klub untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Tadinya Naya tidak berniat datang, namun salah satu temannya terus membujuk. Bahkan temannya itu merengek, mengatakan jika Naya sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya, banyak yang merindukannya. Mengingat sudah sekitar tig







