LOGINDapat undangan pernikahan mantan suami yang menceraikannya karena selingkuh? Valeria galau untuk datang karena dia pasti terlihat menyedihkan. Namun, tiba-tiba seorang brondong superstar bernama Erlang menawarkan diri menjadi pacar pura-puranya. Awalnya cuma pura-pura, Erlang malah menawarkan trial tiga bulan sebagai pacar sungguhan. Valeria menolak, sampai akhirnya luluh oleh bujukan sang brondong memesona dengan dua syarat ketat: private relationship dan no sex! Apakah Valeria benar-benar kebal terhadap pesona sang brondong?
View More“Mantan suamimu itu mau nikah sama selingkuhannya. Kamu nggak malu dilangkahi?”
Valeria memejamkan mata. Sebelah tangannya mencengkeram erat-erat pulpen yang semula digunakannya untuk mengoreksi daftar menu, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel.
Sudah lima menit terakhir dirinya mendengarkan ocehan sang ibu yang menghubunginya tepat di tengah jam kerja. Valeria pikir, ada hal darurat yang perlu didiskusikan. Namun, ternyata wanita paruh baya itu hanya ingin mengomel soal kabar bahwa mantan suami Valeria akan menikah lagi.
“Val? Kamu dengar Ibu tidak?” Suara nyaring ibunya kembali terdengar. “Kok diam saja?”
“Dengar, Bu,” ucap Valeria, masih sabar.
“Nah, itu.” Ibunya berdeham pelan. “Jadi, kapan kamu mau nikah lagi? Jangan buat Ibu ikut malu.”
“Ibu, nikah bukan urusan sepele. Aku nggak mau buru-buru nikah cuma buat ngejar gengsi,” kata Valeria. “Lagipula–”
“Ini kamu nyindir Ibu ya karena sudah menjodohkan kamu sama si Abraham itu!?” Suara sang ibu kembali naik, membuat Valeria harus menjauhkan ponselnya dari telinga. “Harusnya kamu yang perlu instrospeksi diri, Valeria! Selama setahun nikah, gimana pelayananmu ke suami? Kenapa pengantin baru bisa-bisanya sudah selingkuh sama teman kantornya!”
“Bu, sudah ya. Aku dipanggil direktur.”
Valeria buru-buru mematikan panggilan meskipun ia masih bisa mendengar teriakan ibunya di seberang saluran telepon. Helaan napasnya yang berat kemudian terdengar.
Sebenarnya, ia tidak bermaksud menyindir atau menyalahkan sang ibu, meskipun memang benar wanita paruh baya itu yang mengatur perjodohan antara Valeria dan mantan suaminya, Abraham. Kata ibunya, Valeria sudah terlalu tua untuk menikah. Para wanita sebayanya sudah punya anak dua, sementara Valeria bahkan tidak pernah terlihat dekat dengan pria.
Gengsi dengan teman-teman arisan Ibu, begitu kata wanita yang melahirkan Valeria waktu itu.
Namun, pernikahan itu berujung buruk karena mantan suami Valeria selingkuh.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk.” Valeria menyahut saat pintu ruangan diketuk. Ia tak mau repot-repot bertanya siapa yang datang. Energinya sudah terkuras habis menghadapi telepon internasional dari ibunya.
“Buset, wajah udah kayak kertas lecek gitu. Ada pasien nakal?”
Suara feminin menyapanya dengan nada ceria. Queen, wanita sebaya dengannya yang menjadi staf keuangan rumah sakit langsung duduk di kursi tanpa dipersilakan. Tangannya menggeser papan nama meja bertuliskan nama dan gelar sang sahabat.
Valeria Jasmina, S.Gz., M.Gz., Dietisien.
“Tadi Ibu telepon,” jawab Valeria.
“Ooh~ Nuntut nikah lagi?” balas Queen. “Pasti karena dia tahu kabar terbaru mantanmu. Mau nikah sama selingkuhannya waktu itu, kan?”
Valeria tak menjawab. Pandangannya terpaku ke layar laptop yang menampilkan lembar kontrak digital antara rumah sakit tempatnya bekerja dengan Oryza Talent, agensi artis yang memintanya menjadi konsultan gizi agensi.
“Lagian laknat juga si Abraham. Seminggu cerai udah kelihatan gandengan sama selingkuhannya. Sebulan cerai udah tinggal bareng. Emang toksik bentukan cowok kayak gitu.” Queen lanjut mengomel.
Valeria masih diam, membuat Queen berdeham dan membetulkan posisi duduknya.
“Val, gimana kalau kamu ikut aku aja malam ini. Nanti aku kenalkan–”
“Nggak usah. Makasih.” Valeria memotong tanpa melihat ke arah sang sahabat. “Lagipula, aku masih ada urusan. Setelah jam pulang, aku harus ke suatu tempat buat kerja lagi.”
“Hah? Kejar setoran banget.” Queen terbelalak. “Perasaan udah tiga bulan berturut-turut kamu ambil job tugas luar yang dikasih sama Direktur.”
“Anggaran Departemen Gizi-ku bergantung pada kinerja triwulan. Kamu tahu sendiri, Departemen Gizi paling dianaktirikan sama Direktur. Padahal aku butuh alokasi dana besar buat modernisasi alat komposisi tubuh tingkat lanjut.”
Valeria mengemas barang-barangnya. Sudah jam lima sore. Sudah waktunya dia hengkang dari poli tempatnya berpraktek dan meluncur ke tempat lain untuk pekerjaan kedua bersama Oryza Talent.
“Aku pergi dulu.”
“Val! Tunggu!” Queen cepat-cepat berdiri. “Akhir pekan ini kamu nggak ada jadwal, kan? Kamu harus datang ke syukuran pindahan rumahku yang baru!”
Senyum Valeria sangat lebar. “Tentu saja, dong! Aku harus datang! Kita akhirnya bisa tetanggaan, masak aku nggak datang ke acara pentingmu.”
Di parkir basement akhirnya mereka berpisah. Queen sudah dijemput oleh sang suami, sementara Valeria langsung melajukan motor otomatisnya menuju satu alamat di pinggir kota.
“Kok, nggak bisa dihubungi?” Valeria mengernyitkan dahi begitu tiba di lokasi.
Pesan dari direktur rumah sakit kembali dibacanya.
Pukul enam sore tepat pihak Oryza Talent memintanya bertemu di lokasi syuting.
Namun, sudah hampir setengah jam Valeria menunggu, nomor kontak yang diberikan direktur tak juga kunjung bisa dihubungi.
“Langsung masuk saja,” gumam Valeria. “Siapa tahu sudah ditunggu di dalam.”
Di saat yang sama, satu truk boks besar lewat di samping Valeria, mengiringinya saat Valeria berjalan masuk, sekaligus membuat sekuriti tidak menyadari kehadirannya.
Lalu langkahnya lurus terarah ke satu bangunan terbesar di area itu. Banyak orang dengan ID card tergantung di leher berjalan keluar masuk bangunan bercat hitam.
Baru saja ia nyaris membuka pintu, tiba-tiba–
“Itu penyusupnya!”
Valeria menoleh. Badannya membeku seketika saat melihat empat pria gempal berlari cepat ke arahnya dengan ekspresi sangar.
Dia mengerjap. Hal pertama yang melintas di benaknya adalah … ia harus lari!
“Hei, jangan lari! Berhenti!”
Valeria terus berlari. Dia sampai melepas sepatu berhak tujuh sentinya agar bisa berlari cepat.
“Berhenti!”
Panggilan keras itu menarik perhatian orang-orang yang dilewati Valeria. Kini yang mengejarnya bertambah banyak.
Mata Valeria nyalang menatap sekeliling. Dia berbelok ke deretan campervan yang terparkir di sisi timur lokasi. Pintu campervan pertama terkunci. Valeria langsung beralih ke campervan kedua.
Klik.
Pintunya berhasil terbuka. Suara orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung masuk dan menutup pintunya.
Valeria bersandar ke dinding dalam campervan sambil memejamkan mata. Napasnya tersengal-sengal.
“Astaga,” gumam Valeria. “Kenapa mereka–”
“Kamu siapa?”
Valeria membuka mata. Dia menoleh. Pandangannya langsung bertemu dengan sesosok tubuh jangkung dengan wajah tampan berdiri persis di lantai teratas undakan campervan.
Kemeja pria itu yang tak terkancing sempurna tersingkap lebar, mengekspos bidang dada tegap hingga pahatan otot perut yang keras dan tegas. Kilau tipis keringat menangkap cahaya remang ruangan, mempertegas setiap lekuk six-pack yang terbentuk sempurna.
Valeria mengerjap. Buru-buru ia menurunkan pandangan, tanpa sengaja menelusuri lekukan V-line yang tajam menuju pinggang. Celana jins warna biru gelap yang dikenakan sosok asing tergantung agak rendah di tulang panggul dan–
Rasanya seperti baru saja dihantam gelombang tsunami, lalu disambut gempa bumi, saat satu tangan besar dengan jari-jari ramping membekap mulutnya. Belum cukup sampai di situ, dia juga merasakan badannya ditarik masuk pelukan erat-erat.“Diam,” desis suara berat dan dalam.Mata Valeria membelalak. Dia ingin berontak, tetapi helaian berat, basah, dan tidak nyaman sudah membungkus tubuhnya.“Ria? Kamu nggak apa-apa?”Suara keras Queen terdengar panik dari luar kamar mandi. Jantung Valeria kembali dibuat berolahraga. Dia bergerak, tetapi belitan tirai kamar mandi membatasi langkahnya. Valeria akhirnya tahu sesuatu berat, basah, dan tidak nyaman apa yang sudah membungkus tubuhnya.“Jangan bilang ada aku.”Valeria mengerjap. Setelah situasinya sedikit tenang, dia menyadari suara berat yang mengajaknya bicara.Dia mendongak. Wajah basah Erlang muncul di pandangannya. Tetes-tetes air turun dari ujung-ujung rambutnya yang basah. Bibir lelaki itu tersenyum.“Ria?” Kali ini Queen menggedor-gedo
“Pokoknya Ibu nggak mau tahu. Minggu depan kamu datang ke restoran. Ada seseorang yang mau Ibu kenalin ke kamu. Jam 12 siang. Jangan terlambat.”Valeria memejamkan mata. Kepalanya berdenyut-denyut. Dia baru selesai bekerja selama delapan jam nonstop. Seharusnya sekarang dia pulang, tetapi ibunya malah menelepon dan merongrongnya dengan perjodohan.“Ibu, aku sudah kepala tiga. Aku sudah nggak bisa Ibu atur-atur lagi. Minggu depan dan kapan pun juga, aku nggak bakal ikut kencan buta.” Valeria mendesah lelah.“Kamu nggak malu sama mantan suamimu? Ibu lihat medsosnya. Calon istrinya bahkan sudah hamil. Kamu nikah sama dia, sampai cerai belum hamil juga.”Deg.Valeria meremas dadanya. Jantungnya terasa nyeri. Apa yang diucapkan ibunya adalah fakta. Namun, tetap saja dia tidak bisa mendengar kalimat itu keluar dari mulut ibunya sendiri.“Ibu, aku beneran harus pergi.” Valeria sangat lelah. “Minggu depan aku nggak bakal datang. Aku ada dinas keluar negeri.”Valeria mematikan telepon sepihak.
“Bagaimana rasanya ketemu lagi sama saya, Ibu Valeria?”Valeria yang sedang menyusun daftar menu untuk pasien diabetes langsung mendongak. Refleks pertamanya adalah melihat laptop untuk memastikan jumlah antrian.“Erlang Erlangga,” Valeria menyebut nama itu dengan mata masih menatap layar laptop, “Anda tidak masuk di daftar pasien Poli Gizi hari ini.”Ini sudah dua hari sejak terakhir kali mereka bertemu di lokasi syuting. Setelah itu, sama sekali tak ada komunikasi di antara mereka sebab Valeria terlalu sibuk dengan sedikit perdebatan bersama direktur rumah sakit berkaitan dengan tambahan klausul kontrak Oryza Talent.Valeria lantas berkata datar sembari mengalihkan pandangan kepada lelaki di hadapannya. “Itu artinya, Anda tidak bisa masuk ke ruangan saya tanpa izin.”“Sudah diizinkan, kok.” Erlang main duduk begitu saja di kursi di depan meja Valeria. “Asisten Ibu yang menggemaskan di depan langsung buka pintu setelah ambil dua fotoku.”Mulut Valeria terbuka sedikit. Sorot matanya m
Gadis itu langsung menghampiri Valeria.“Maafkan saya. Tadi ponsel saya sedang di-charging. Jadi, saya sama sekali tak mengetahui Anda menghubungi saya.” Gadis itu membungkuk memohon maaf. “Saya Yuxi, perwakilan dari Oryza Talent. Apakah Anda baik-baik saja? Anda ….”Yuxi, si gadis muda itu menatap Valeria dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Sepatu Anda?”“Ada di lelaki itu.” Valeria menunjuk Erlang yang berdiri diam merapat ke dinding.“Bagaimana sepatu Anda bisa ada di Erlang?” Yuxi kebingungan.Valeria mendengus. “Katanya, aku penyusup dan penguntit.”Yuxi mengerjapkan mata. Gadis yang tingginya setidaknya 175 sentimeter itu menunduk memandangi Valeria yang 10 sentimeter lebih pendek darinya. Kemudian, ekpresinya berubah seolah-olah tersadar oleh sesuatu.“Jadi, telepon yang terputus tadi ….” Yuxi tak melanjutkan lagi kalimatnya. Dia menoleh kepada Erlang. “Ada salah paham, Erlang. Ibu ini adalah konsultan gizi barumu. Aku yang panggil dia ke sini.”Erlang masih membisu. Fokusny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.