Mag-log inKesalahan kakak laki-lakinya karena menyakiti dan mempermainkan adik Samudra, membuat Naya harus berada diposisi sulit. Banyak hal yang harus Naya relakan termasuk meninggalkan kekasihnya. "Kakakmu itu tidak hanya merenggut kehormatan adik saya, dia juga sudah menyakiti hati keduanya." Tragedi itu terjadi karena sebuah balas dendam. Nyawa dibalas dengan nyawa, mata dibalas dengan mata—katanya. "Kak Nathan sudah menikah, aku memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup, dan... apa ... menikah—" Naya memberanikan diri untuk mendongak menatap tepat di manik mata lelaki itu. "Kenapa? Supaya dokter Sam lebi mudah menghancurkan hidupku?" lanjutnya. Wajah Samudra berubah mengeras setelah mendengar perkataan Naya, menatap Naya dengan kilat marah. "Iya! Jika kamu menikah dengan saya, saya akan lebih mudah untuk membunuhmu dengan perlahan-lahan!" Tidak! Naya tidak ingin menikah dengan laki-laki yang jelas-jelas sudah menghancurkan hidupnya. Namun, takdir tidak selalu menuruti apa yang kita inginkan. Pernikahan itu terjadi—tanpa cinta, bahkan restu dari beberapa orang. ***
view moreMobil akhirnya berhenti di halaman sebuah villa yang cukup jauh dari keramaian. Jalan menuju villa melewati banyak pepohonan besar, membuat suasananya lebih terasa sejuk dibandingkan jalanan kota yang mereka tinggalkam beberapa waktu yang lalu. Ketika baru memasuki villa, pandangan langsung tertuju pada hamparan air biru di tengah bangunan. Kolam renang memanjang itu dikelilingi oleh teras kayu dengan beberapa tanaman tropis, membuat batas antara ruang dalam dan luar terasa hampir tidak ada. Kamar-kamar berada di sisi villa, menggunakan kaca besar sebagai pintu yang mengarah langsung ke area kolam, di sisi lain ada ruang keluarga yang cukup luas, lengkap dengan sofa, televisi, bahkan satu perlengkapan karaoke membuat ruangan itu cocok untuk menghabiskan malam bersama. Tidak jauh dari sana terdapat meja biliar, berdiri di bawah lampu gantung yang memberikan suasana sedikit berbeda dari area keluarga. Sementara di sisi lainnya terdapat d
"Kok tumben, biasanya juga Papah mau berduaan terus sama Mamah, Nay ngga boleh ikut," kata Naya heran ketika Maya memberi tahu jika acara staycation agenda rutin sebulan sekali kedua orang tuanya kali ini, Naya diajak ikut bergabung. Maya mengangkat bahunya tidak tahu. "Papah yang bilang." Setelah mendapat informasi dari Mamahnya jika mereka akan pergi staycation, tentu saja Naya sangat bersemangat. Menyiapkan barang bawaanya dari semalam, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Kita cuman dua malam di villa itu, Nay. Koper kamu besar sekali," komentar Husein ketika melihat putri bungsunya sedang menuruni tangga di belakang Edi—security yang sedang membawa turun koper miliknya dari kamar. "Hehee... ngga papa dong, Pah! Keperluan Nay banyak banget jadi kalau pakai koper kecil ngga muat," jawab Naya. "Koper kita sama lho, tapi masuk barang-barang Mamah, Papah, Kai juga. Ini kamu... sebesar ini sendirian?" H
"Apa kesibukannya?" Samudra tidak langsung menjawab, terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Gina. "Di rumah," jawaban itu yang menurutnya pas untuk pertanyaam Mamahnya yang secara tidak langsung menanyakan pekerjaan Naya. "Pasti pintar masak?" "Tidak juga." Gina tertawa hambar, malah hampir seperti tertawa meremehkan. "Lalu apa yang dia bisa? Menghabiskan uang kedua orang tuanya?" "...." Samudra memilih diam, bukannya tidak bisa menjawab, lelaki itu hanya tidak ingin obrolan keduanya berakhir dengan perdebatan. "Tuhan sudah baik memberikan Raina kepada kamu, tetapi kamu memilih perempuan yang jelas-jelas akan merepotkanmu! Dia terlahir dari keluarga berada, tidak heran jika dia akan menjadi anak manja yang segala keinginannya harus dituruti, nanti." Samudra hanya mendengarkan. Gina sedari awal memang tidak setuju, bahkan ketika mengetahui putusnya hubungan pertunangannya dengan Raina karena Naya
Samudra kembali beberapa menit setelahnya dengan membawa goodie bag kecil di tangan. Keningnya mengernyit ketika tidak menemukan Naya di ruang tengah. "Naya ngambek, pergi ke kamar," kata Maya melihat kebingungan di mata Samudra. "Ketuk saja pintu kamarnya," titah Husein dengan tangan sibuk memegang iPad, sesekali menyeruput kopi yang tersedia. "Boleh?" tanya Samudra memastikan. Husein mengangguk. Lalu setelahnya Samudra menaiki tangga menuju ke kamar Naya. "Yang pintunya...." Maya menunjuk ke ujung lorong. "Sebelah kiri." Samudra mengangguk. "Baik, Bu." Lelaki itu melangkah menuju kamar Naya dengan wajah tenang, seolah-olah dia benar-benar baru pertama kali mengetahui letaknya. Di antara beberapa pintu yang tampak serupa, hanya satu yang berbeda. Sebuah rangkaian bunga kecil menggantung di bagian tengahnya, dengan papan nama sederhana bertu
+628xxxxxxxxxx |Disya sedang pergi ke Jogja, pertemuan akan dilakukan setelah Disya pulang dari sana. Naya mengulum bibirnya, hatinya merasa sedikit lega ketika Samudra menggiriminya pesan seperti itu. Setidaknya masih ada beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diri sebelum pertemuannya dengan Disya
"Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini
Kedua tangannya bergetar ketakutan, namun ia tetap memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, air matanya tidak berhenti menetes walaupun ia menahannya mati-matian. Naya merutuki dirinya sendiri ketika mengingat, dan tersadar atas apa yang telah ia katakan kepada Disya, tentang dirinya dan Samudra
"Belum balik?" Samudra segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sedari tadi dia perhatikan, ketika mendengar suara Wisnu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Samudra melirik Wisnu sebentar sambil berdehem pelan manjawab pertanyaannya, berbalik lalu melangkah pergi yang tentu l
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.