LOGIN"Kok tumben, biasanya juga Papah mau berduaan terus sama Mamah, Nay ngga boleh ikut," kata Naya heran ketika Maya memberi tahu jika acara staycation agenda rutin sebulan sekali kedua orang tuanya kali ini, Naya diajak ikut bergabung. Maya mengangkat bahunya tidak tahu. "Papah yang bilang." Setelah mendapat informasi dari Mamahnya jika mereka akan pergi staycation, tentu saja Naya sangat bersemangat. Menyiapkan barang bawaanya dari semalam, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Kita cuman dua malam di villa itu, Nay. Koper kamu besar sekali," komentar Husein ketika melihat putri bungsunya sedang menuruni tangga di belakang Edi—security yang sedang membawa turun koper miliknya dari kamar. "Hehee... ngga papa dong, Pah! Keperluan Nay banyak banget jadi kalau pakai koper kecil ngga muat," jawab Naya. "Koper kita sama lho, tapi masuk barang-barang Mamah, Papah, Kai juga. Ini kamu... sebesar ini sendirian?" H
"Apa kesibukannya?" Samudra tidak langsung menjawab, terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Gina. "Di rumah," jawaban itu yang menurutnya pas untuk pertanyaam Mamahnya yang secara tidak langsung menanyakan pekerjaan Naya. "Pasti pintar masak?" "Tidak juga." Gina tertawa hambar, malah hampir seperti tertawa meremehkan. "Lalu apa yang dia bisa? Menghabiskan uang kedua orang tuanya?" "...." Samudra memilih diam, bukannya tidak bisa menjawab, lelaki itu hanya tidak ingin obrolan keduanya berakhir dengan perdebatan. "Tuhan sudah baik memberikan Raina kepada kamu, tetapi kamu memilih perempuan yang jelas-jelas akan merepotkanmu! Dia terlahir dari keluarga berada, tidak heran jika dia akan menjadi anak manja yang segala keinginannya harus dituruti, nanti." Samudra hanya mendengarkan. Gina sedari awal memang tidak setuju, bahkan ketika mengetahui putusnya hubungan pertunangannya dengan Raina karena Naya
Samudra kembali beberapa menit setelahnya dengan membawa goodie bag kecil di tangan. Keningnya mengernyit ketika tidak menemukan Naya di ruang tengah. "Naya ngambek, pergi ke kamar," kata Maya melihat kebingungan di mata Samudra. "Ketuk saja pintu kamarnya," titah Husein dengan tangan sibuk memegang iPad, sesekali menyeruput kopi yang tersedia. "Boleh?" tanya Samudra memastikan. Husein mengangguk. Lalu setelahnya Samudra menaiki tangga menuju ke kamar Naya. "Yang pintunya...." Maya menunjuk ke ujung lorong. "Sebelah kiri." Samudra mengangguk. "Baik, Bu." Lelaki itu melangkah menuju kamar Naya dengan wajah tenang, seolah-olah dia benar-benar baru pertama kali mengetahui letaknya. Di antara beberapa pintu yang tampak serupa, hanya satu yang berbeda. Sebuah rangkaian bunga kecil menggantung di bagian tengahnya, dengan papan nama sederhana bertu
Tidak melakukan sesuatu yang berarti, kegiatan sehari-hari Naya hanya berdiam di rumah, bangun tidur sesukanya, makanan sendiri sudah siap tersaji tinggal menyantap, berleha-leha, bermain dengan Kai jika bocah itu ada di rumah, berdiam diri di garden rooftop ditemani milk shake vanilla, atau hot chocolate dan beberapa makanan junkfood lainnya yang sedang ingin Naya makan. “Lo sih yang paling untung, Nay. Enak ya jadi pengangguran, tapi duit ngalir teroooss!”Naya memang seharusnya merasa beruntung. Tidak perlu bangun pagi untuk bekerja, tidak perlu memikirkan uang, bahkan semua kebutuhannya sudah tersedia. Namun, ada kalanya semua kemudahan itu justru terasa membosankan.Kembali menyuapkan burger ke dalam mulutnya, tangannya sibuk menggulir layar handphone. Perempuan itu sedang duduk di salah satu bean bag yang ada di garden rooftop sore ini. Melihat-lihat postingan terbaru teman-teman. Okta—salah satu temannya beberapa hari yang lalu sedang berlibur ke Bali kata Stevani, Na
Setelah menyampaikan niatnya Samudra tidak langsung pergi dari rumah, sempat mengobrol bersama Husein di halaman samping dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa camilan sore. Hujan juga menguyur kota, tadi. Jadi kedua orangtuanya menyarankan Samudra untuk tetap tinggal. Bahkan lelaki itu ditawari untuk ikut makan malam bersama sebelum pamit pulang ke rumah.Perihal lamaran memang belum mendapat jawaban pasti, tetapi bukan berarti orang tua Naya abai atau membenci Samudra. Lagipula lelaki itu bukan sosok asing di keluarga Ganendra. Kedua orang tua Naya hanya perlu diyakinkan jika meraka tidak salah akan menyerahkan putri bungsunya kepada Samudra."Cerita apa aja sama Mamah, Papah?" tanya Naya ketika keduanya sudah berada di parkiran. "Cerita kita udah tidur bareng juga?" lanjut Naya sarkas yang berhasil membuat Samudra menoleh menatapnya."Tidak."Naya mengganguk lalu memalingkan muka menatap kearah lain, seperti enggan bertatapan dengan lelaki itu. "Aku kira Dokt
"Username aja 17, eh ternyata umurnya udah 36 tahun. Gue ngga nyangka ya selera lo malah jauh banget dari seorang Nathan ke Samudra—ralat Om Samudra!" "Stev!" Naya lagi-lagi merengek. "Udah dong, ngeroasting mulu ih, ngga berhenti-berhenti." Stevani mendelik menatap Naya beberapa saat, lalu kembali menatap ke depan memperhatikan jalanan yang dilaluinya, tangannya sibuk memegang stir, tetapi mulutnya sedari tadi tidak bisa diam berkomentar ini dan itu tentang Samudra. "Ya gue ngga habis pikir aja, Nay. Lo bukan seorang fatherless, bukan juga dari keluarga broken home. Kenapa harus Samudra yang umurnya jauh lebih tua? Sepemahaman gue cewe-cewe fatherless atau ngga broken home yang biasanya nyari cowok yang lebih tua karena dia butuh sosok laki-laki dewasa yang bisa diandelin di hidupnya. Lah lo... keluarga cemara parah, tajir—apa yang kurang?" Naya masih cemberut, Stevani ini benar-benar tidak berhenti sedari tadi, sibuk
+628xxxxxxxxxx |Disya sedang pergi ke Jogja, pertemuan akan dilakukan setelah Disya pulang dari sana. Naya mengulum bibirnya, hatinya merasa sedikit lega ketika Samudra menggiriminya pesan seperti itu. Setidaknya masih ada beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diri sebelum pertemuannya dengan Disya
"Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini
Kedua tangannya bergetar ketakutan, namun ia tetap memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, air matanya tidak berhenti menetes walaupun ia menahannya mati-matian. Naya merutuki dirinya sendiri ketika mengingat, dan tersadar atas apa yang telah ia katakan kepada Disya, tentang dirinya dan Samudra
"Belum balik?" Samudra segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sedari tadi dia perhatikan, ketika mendengar suara Wisnu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Samudra melirik Wisnu sebentar sambil berdehem pelan manjawab pertanyaannya, berbalik lalu melangkah pergi yang tentu l







