LOGINElena mengira hidupnya akan tenang setelah menikah dengan Harli Blackwood, sampai ia mengetahui bahwa anak tirinya adalah Noah, mantan kekasih yang paling ingin ia lupakan. Pertemuan itu membangkitkan kembali hasrat dan cinta lama antara mereka. Noah kini jauh lebih dewasa dan terus menggodanya setiap hari, seolah ingin menghancurkan pertahanan Elena sedikit demi sedikit. Elena terus berusaha menjaga batasan, tapi mampukah ia menahan diri, atau justru tenggelam dalam pesona anak tirinya sendiri?
View MoreDi depan Elena, Michel berdiri dengan tangan di pinggang, wajah merah padam, dan banyak krim kue menempel berantakan di bagian dada gaunnya.“Kauuuu… apa yang kau lakukan, Elena?!” bentak Michel, suaranya naik satu oktaf.Elena tersentak. “M–maaf! Aku benar-benar tidak sengaja!”Ia buru-buru menarik tisu dari meja, mencoba membersihkan noda kue itu meski jelas sia-sia.Michel berusaha menahan diri, lagipula Elena adalah istri calon mertuanya. Tapi begitu ia membuka kamera ponselnya dan melihat makeup-nya luntur, rambutnya kusut, dan gaunnya kotor, ia menjerit histeris.“Astaga! Penampilanku hancur! Ini… ini….Elenaaa!!”Dua teman Michel yang berdiri di dekatnya langsung maju dengan wajah sinis. Salah satunya mendorong bahu Elena keras hingga ia hampir jatuh ke belakang.“Ah—!” Elena terhuyung.Namun sebelum ia benar-benar jatuh, tangan kokoh Noah tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menahan tubuhnya.“Kau baik-baik saja?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan hangat.Elena mengangguk gugu
Michel mendorong bahu Elena dengan keras hingga tubuh Elena tersentak mundur dan hampir kehilangan keseimbangan.Pegangan Michel kemudian mencengkeram kedua bahu Elena begitu kuat, membuat Elena meringis menahan sakit.“Setelah ini,” bisik Michel dengan senyum tipis yang kejam, “kau harusnya lebih tahu diri.”Napas Elena tercekat.Tatapan Michel seperti ingin meremukkan sisa martabatnya.Lalu—BRUK.Michel sengaja menabrak bahu Elena dengan keras saat ia berjalan keluar, membuat tubuh Elena sedikit terhuyung.“Jangan sampai aku lihat kau sok dekat lagi dengan Noah,” katanya tajam sebelum menutup pintu dengan kencang.Elena berdiri terpaku.“Michel… dia tidak akan bilang ke Mas Harli kan?” gumamnya lirih. Hanya membayangkan Harli marah saja sudah cukup membuat perutnya mulas.Ia mengusap wajahnya cepat, mencoba menenangkan napas.Tak ada pilihan lain.Ia harus pulang.Tak sanggup kembali ke meja makan dan bertemu Noah juga Michel.Dengan langkah cepat, Elena memanfatkan saat Noah menun
Elena langsung memotong, takut Noah membuka mulut sembarangan.“Ini minumlah, aku sengaja sudah buatkan sup pengar untuk meredakan kepalamu yang pusing.”Noah meliriknya tajam… tapi menerima sup itu tanpa protes.Di tengah sarapan, Harli tiba-tiba meletakkan sendok.“Noah. Hari ini kau bawa Elena ke perusahaan.”Elena langsung mendongak. “Hah?”“Aku berubah pikiran,” lanjut Harli tenang. “Daripada dia hanya bersantai, lebih baik membantu perusahaan. Dia lulusan akuntansi dan teliti. Ajari dia, nanti baru kau berikan jabatan yang cocok.”Wajah Elena memucat.Kerja? Di perusahaan? Dengan Noah?Hancur sudah harapannya untuk hidup tenang.“Tentu,” jawab Noah ringan, seolah menikmati penderitaan Elena.Elena hanya bisa mengangguk. Tak ada alasan menolak. Tapi bayangan tatapan sinis Sarah, cibiran Michel, dan kantor penuh gosip membuat perutnya mual.“Habis kau, Elena…” gumamnya sendiri sembari memainkan nasi goreng di depannya.Setelah sarapan, Elena benar-benar mengikuti Noah sampai ke pe
Malam harinya, di rumah megah itu, Elena lagi-lagi sendirian.Harli pergi entah ke mana dan jujur saja, Elena sangat senang karena tidak perlu mencari ide menghindarinya.Ia mendesah panjang sambil menatap langit-langit kamar.“Bagaimana kalau aku menikmati malam di balkon…?” gumamnya.Terakhir kali ia ke balkon… adalah malam resepsinya. Dan malam itu juga justru dikacaukan oleh Noah.Elena meraih cardigan tipis dan membuka pintu balkon perlahan.Udara dingin menyapu wajah Elena begitu ia melangkah ke balkon. Aroma kopi panas yang baru ia seduh ikut mengepul, membentuk asap tipis yang menari di udara malam.Rasanya… begitu tenang. Untuk pertama kalinya hari itu, ia bisa bernapas lega.Elena menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon, meniup pelan permukaan kopi di cangkirnya.Namun ketenangan itu buyar ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang baru keluar dari mobil di halaman bawah.“Noah?!” bisiknya pelan.Pria itu berjalan sempoyongan menuju pintu mansion, dasinya longgar, kem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.