MasukElena mengira hidupnya akan tenang setelah menikah dengan Harli Blackwood, sampai ia mengetahui bahwa anak tirinya adalah Noah, mantan kekasih yang paling ingin ia lupakan. Pertemuan itu membangkitkan kembali hasrat dan cinta lama antara mereka. Noah kini jauh lebih dewasa dan terus menggodanya setiap hari, seolah ingin menghancurkan pertahanan Elena sedikit demi sedikit. Elena terus berusaha menjaga batasan, tapi mampukah ia menahan diri, atau justru tenggelam dalam pesona anak tirinya sendiri?
Lihat lebih banyak“Noah Alexander Blackwood?”
Nama itu terlepas begitu saja dari bibir Elena, tenggelam di antara gemuruh pesta resepsi pernikahan megah yang digelar di mansion keluarga Blackwood. Percakapan para tamu tentang anak bungsu suaminya membuat napasnya sedikit tercekat.
“Kenapa kau menyebut nama anakku, Sayang?”
Suara Harli terdengar santai dari belakang. Elena refleks membalikkan tubuh, memaksakan senyum sambil berharap keras bahwa itu hanya kebetulan nama yang sama dengan mantan pacarnya.
“Tidak, aku … aku hanya penasaran karena banyak tamu yang membicarakannya,” jawab Elena cepat dengan alasan apapun yang terasa masuk akal.
Namun, harapan itu runtuh seketika.
Di tengah kerumunan tamu, berdiri sosok yang sangat Elena kenal.
Deg!
Lutut Elena melemas, jantungnya berdegup liar. Ia berkedip berulang kali, berharap penglihatannya keliru. Tapi sosok di depannya benar-benar nyata.
“Kenapa… kenapa dia ada di sini?” gumamnya tercekat.
Pria tertinggi di ruangan itu memancarkan aura dingin yang berbahaya. Setelan hitamnya terjahit sempurna di tubuh atletisnya, rahang tegas, hidung mancung, dan tatapan tajam yang membuat siapa pun enggan mendekat. Ia tampak seperti eksekutif muda kelas dunia yang mahal dan penuh dominasi.
“My son! Kemarilah!”
Seruan Harli membuat darah Elena terasa surut. Ia berdiri kaku di samping suaminya, pria yang baru ia nikahi pagi tadi.
Gaun malam merah yang membalut tubuhnya terasa tiba-tiba terlalu mencolok. Belahan paha, punggung terbuka, semua terasa salah saat pikirannya kacau dan bibirnya bergetar menahan panik.
Harli tersenyum lebar, tak menyadari apa pun. Ia berbisik lembut di telinga Elena, “Itu putraku yang baru tiba di Indonesia. Lima tahun di Rusia, kuliah dan mengurus bisnis keluarga. Aku sendiri tak menyangka dia datang malam ini.”
“Lima tahun…” gumam Elena dalam hati.
Waktu yang sama sejak ia memutuskan Noah dengan cara paling kejam.
Langkah sepatu itu terdengar semakin dekat, membelah tamu-tamu yang sebagian sudah mabuk.
“Ayah.”
Suara bariton itu.
Elena mengangkat wajahnya perlahan. Jantungnya berontak, degupannya tak mau reda.
Tatapan mereka bertemu.
Noah terdiam sepersekian detik, matanya melebar sebelum ekspresinya mengeras kembali menjadi datar. Elena refleks meraih sisi meja di dekatnya agar tidak roboh, lalu memaksa diri terlihat tenang.
“Noah,” ujar Harli ceria sambil menarik bahu Elena, “kenalkan. Ini istri Ayah. Elena.”
Elena tersenyum kaku, berpura-pura asing. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengulurkan tangan.
“H-halo… Elena,” sapa Elena pelan.
Noah tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Tatapannya menahan wajah Elena tanpa berkedip, membuat jantung Elena serasa hampir copot.
Baru setelah Harli menyenggol lengan Noah, pemuda itu meraih tangan Elena. Genggamannya mengeras, jari-jarinya menekan kuat seolah peringatan. Matanya tajam, dingin, tanpa emosi.
Elena terperanjat. Rasa nyeri menjalar hingga pergelangan tangannya, membuatnya meringis pelan.
Namun tatapan Noah tetap lembut. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sopan, nyaris sempurna.
“Selamat bergabung di Blackwood,” ucapnya dingin. Jelas mengejek.
Elena membalas dengan senyum kaku. Tanpa sadar, pandangannya tersangkut pada garis bibir tebal Noah yang dulu begitu ia kenal, membuatnya terpaku sepersekian detik.
Elena tersentak saat Noah melepaskan genggaman tangannya. Rasa perih masih tertinggal. Elena refleks menarik tangannya dan mengusapnya pelan di sisi gaunnya.
Harli tersenyum puas, lalu kembali larut dalam obrolan bisnis, meninggalkan Elena berdua dengan Noah.
Tak lama, bisik-bisik terdengar dari arah meja tamu.
“Kasihan Tuan Noah. Ibu tirinya malah seumuran dengannya.”
“Paling juga perempuan itu cuma mengincar harta Tuan Harli.”
Elena mengurungkan niatnya untuk membuka percakapan. Rasa kesal dan malu menahannya tetap diam.
Belum sempat suasana berubah, Noah sudah melangkah pergi. Saat melewati meja para tamu tadi, tangannya menyapu permukaannya dengan sengaja.
Brak! Brak!
Beberapa gelas jatuh dan pecah bersamaan. Aula seketika hening.
Noah berhenti. Tatapannya meluncur dingin ke arah mereka. Tak ada kata, namun cukup untuk membuat wajah para tamu itu pucat. Mereka tahu betul reputasi Noah Blackwood.
Tanpa menoleh lagi, Noah berjalan pergi dengan langkah angkuh.
“Noah!” seru Harli terkejut.
Noah tak menggubris. Ia terus menaiki tangga menuju lantai dua, lalu melambaikan satu tangan tanpa ekspresi. “Have fun, Ayah.”
Elena berdiri terpaku, menatap punggung Noah yang tegap hingga menghilang di tikungan tangga. Di matanya, Noah masih sama seperti dulu. Pria sempurna yang selalu membelanya. Pria yang mustahil ia lupakan.
Ini adalah pertemuan pertama mereka… setelah lima tahun perpisahan.
. . . .
Tepat pukul dua dini hari, pesta akhirnya usai. Satu per satu tamu meninggalkan mansion Blackwood, menyisakan keheningan yang terasa berat.
Elena berdiri sendiri di balkon lantai dua. Udara malam dingin menusuk kulitnya. Ia menyandarkan kedua tangan di pagar balkon, menunduk, berusaha meredam dada yang terasa sesak sejak tadi.
“Tenang… aku harus bisa mengendalikan diri,” bisiknya pelan, lebih seperti permohonan pada dirinya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Elena menoleh. Noah sudah berdiri di ambang balkon. Wajahnya datar, namun tatapan matanya tajam dan lelah, seakan membawa beban yang tak pernah benar-benar ia lepaskan.
“Elena.” Suaranya serak.
Jantung Elena berdegup tidak teratur.
Belum sempat ia menjawab, Noah sudah mendekat. Jarak mereka menyempit hingga terlalu dekat untuk disebut aman. Noah sedikit menunduk, tangannya membuka tiga kancing atas kemejanya dengan gerakan tenang.
Hening.
Elena refleks menahan napas. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa berat. Aroma maskulin Noah menyeruak, familiar dan berbahaya bagi ketenangannya. Ia menundukkan pandangan, berusaha menjaga jarak, menjaga batas.
Elena mengangkat wajahnya perlahan. “Noah… aku—”
Kalimatnya terhenti saat Noah mengambil langkah kecil lagi.
Elena menelan ludah. Tangannya mencengkeram pagar balkon, bukan dirinya, bukan Noah. Seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri.
“Parfummu…” ucap Noah lirih tanpa menatap langsung. Lalu senyum sinis muncul di bibirnya. “Masih sama.”
Nada itu membuat dada Elena bergetar. Ada harapan singkat yang bahkan tak sempat ia akui.
Dalam sekejap, Noah meraih pergelangan tangan Elena dan mencengkeramnya kuat. Ia mendorong tubuh Elena hingga punggung wanita itu menghantam dinding balkon.
“Noah!” pekik Elena, napasnya tercekik, dadanya perih.
“Kau pikir aku masih sama seperti dulu, yang mudah kau mainkan?” suara Noah meninggi, sarat amarah yang lama dipendam.
Elena menggenggam pergelangan tangannya dengan lemah. “Noah … lepaskan aku …”
“Kau meninggalkanku demi pria kaya,” potong Noah dingin. “Sekarang kau tiba-tiba muncul di rumahku sebagai ibu tiriku. Kau benar-benar wanita murahan.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada dorongannya.
Elena membuka mulut, ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermimpi menjadi istri pria tua kaya raya. Bahwa ia terpaksa memilih jalan itu karena ibunya sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar. Bahwa rumah tempat ia tinggal dulu bukan tempat pulang, melainkan neraka kecil bersama ayah kandung yang diam dan ibu tiri yang selalu memandangnya seperti beban.
Namun semua alasan itu mati di tenggorokannya.
Tak ada satu pun yang keluar.
Tubuh Noah menekan Elena, membuatnya terjepit. Tenaganya kalah jauh. Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah, bukan karena takut semata, tapi karena rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.
Noah menunduk lebih dekat. Napasnya berat, matanya memerah oleh kemarahan lama.
“Bibir ini,” bisiknya dingin di telinga Elena, “yang dulu bersumpah tak akan pernah meninggalkanku.”
Tangannya terulur, mengusap bibir Elena pelan.
Tubuh Elena gemetar. Ia memejamkan mata, air matanya jatuh perlahan. Ia tidak membalas, tidak juga mendorong. Hanya diam, rapuh, menanggung semuanya.
Noah meraih tengkuknya, kepalanya miring, jarak mereka semakin dekat.
Namun sebelum ia sempat berbuat lebih jauh—
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Suara itu memecah keheningan. Keduanya serentak menoleh.
Pipi Elena langsung memanas mendengarnya, sambil mencubit bahu pria itu dengan kesal.“Noah… ini bukan waktu yang tepat—”Tapi Noah melanjutkan…“Kau sendiri yang mengajakku tadi siang, dan sekarang kau tidak akan bisa melarikan diri.” Jelasnya tersenyum.Noah merasa cepat atau lambat Elena juga akan menjadi miliknya jadi lebih baik menghangatkan diri lebih cepat.Melihat Elena cemberut ia menunduk lebih dalam.“Aku akan pastikan kau melepaskan semua stressmu malam ini di wajahku…”Mata Elena langsung membulat sempurna, langsung ingin protes namun Noah sudah menariknya cepat keluar.“Elena!” Sesil tiba-tiba memanggil dari belakang.Tapi karena sudah terlanjut di luar ia tidak mendengarnya…Sesil langsung membeku di tempatnya.Tangannya perlahan turun.Matanya kosong… sebelum akhirnya kembali dipenuhi air mata.“Dia…pergi begitu saja” ucapnya dengan suara bergetar.Lira yang berdiri di sampingnya hanya menghela napas pelan.Lalu ia menepuk bahu sahabat baiknya dan berjanji Ayahnya akan
Elena benar-benar terdiam saat ini, untuk sepersekian detik otaknya mendadak kosong.“Mas…?” ulangnya nyaris tanpa suara, seperti tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.Noah tersenyum tipis dengan mata jahilnya.“Iya,” jawabnya rendah.Tatapannya kemudian turun ke bibir Elena sekilas, lalu kembali naik ke matanya.“Cepat atau lambat… kamu akan terbiasa.”Deg.Jantung Elena seperti dipukul dari dalam.Belum sempat ia membalas, suara langkah kaki tergesa tiba-tiba mendekat dari arah lorong.Seorang petugas polisi keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius.“Tuan Noah Blackwood.”Noah langsung mengalihkan perhatian, ekspresinya kembali berubah dingin dalam sekejap.“Ada yang ingin berbicara dengan Anda. Sekarang.”Noah tidak langsung bergerak.Tatapannya masih tertahan pada Elena selama satu detik lebih lama… seolah berat meninggalkannya.Lalu perlahan, tangannya yang tadi melingkar di pinggang Elena turun… namun tidak sepenuhnya lepas. Ujung jarinya masih sempat meraih
Mobil Noah akhirnya berhenti halus di halaman luas Mansion Blackwood.Hujan masih turun rintik-rintik, menyisakan jejak basah di kaca jendela. Noah turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Elena dengan tatapan penuh arti, seolah sudah bersiap menuntaskan apa yang sudah ia tahan sejak tadi.Namun begitu Elena melangkah turun…suara gaduh langsung memecah suasana, juga muncul banyak kamera yang berpendar di halaman rumah.Elena langsung menegang kaget, begitu juga Noah yang mengernyit tajam.Di depan pintu utama mansion, beberapa polisi berdiri berjajar. Di tengah-tengah mereka… seorang pria dengan tangan diborgol sedang digiring keluar.Langkah Elena terhenti seketika diikuti matanya yang melebar.“Mas Harli…” ucapnya tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.Noah ikut menatap ke arah itu dan dalam satu detik, ekspresinya berubah drastis, langsung dingin dan urat lehernya sampai tegang.“Itu…” gumamnya pelan, langsung berlari ke depan.Dengan kondisi berantakan, wajah pucat, dan sorot
Setelah kejadian berdarah malam itu, Hartono dan Miranda di makamkan dengan upacara megah, dan sosok yang menjadi tersangka utama adalah Michel yang sekarang di masukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa.Hartono dikenal memiliki banyak wanita simpanan selama hidupnya. Dari hubungan-hubungan itu lahir beberapa anak di luar nikah yang kini mulai bermunculan, masing-masing mengaku sebagai ahli waris sah.Karena itu, pengacara keluarga memutuskan bahwa pembagian harta belum bisa dilakukan sampai semua klaim diperiksa.Sementara itu, dari sisi Miranda semuanya jauh lebih sederhana.Wanita itu meninggalkan surat wasiat yang jelas. Tidak ada perebutan, tidak ada keraguan.Seluruh aset pribadinya yang sebagian besar berupa saham perusahaan Jalius Group dan beberapa property ditinggalkan untuk Elena.Totalnya sekitar 30% kepemilikan saham dari perusahaan keluarga Hartono, serta beberapa aset pribadi bernilai tinggi.Namun meskipun angka itu lumayan besar, jumlah tersebut masih belum menjadikannya pem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.