LOGINAs if her world hadn't crumbled enough, Kendall got drunk and had a one-night stand with a stranger, hours after being diagnosed with stage 3 Ovarian cancer. Told that she may never get pregnant, and she spent her lifesaving on IVF. Luckily, she got a job as a PA to the CEO, Jason. On her first day, she made him her enemy, and to redeem herself, she had to be his girlfriend for the weekend. Things got complicated when Jason’s mother planned an impromptu wedding, forcing Jason to get into a contract marriage with Kendall. She framed Jason, pinning the pregnancy on him. Gradually, Jason began to fall in love with her, only for chaos to visit, Jason’s stepbrother, Thane’s sperm was used for Kendall's IVF. Desperate for revenge, Thane would do anything to ruin the couple. Caught in the web of family feud and drama, will Kendall be able to save their union, even though she has to put everything at stake?
View More"Nyari siapa, Mbak?" tanya Mas Fadli terdengar dari dalam.
Deeeghhh ....Jantungku langsung berdegub kencang sekali. Aku langsung mengintip dari balik tirai. Nampak Mas Fadli sedang berhadapan dengan seorang wanita. Di tangan wanita itu, terdapat plastik bening yang kuyakini adalah roti pesananku. Kugigit bibirku karena merasa bingung luar biasa. Harusnya pesananku datang dua jam kemudian. Aku sudah memesan begitu pada penjualnya. Kenapa datang sekarang? Aaah, apes!"Bawa saja kembali, Mbak!"Jelas suara Mas Fadli meminta wanita itu pergi. Aku langsung keluar."Maaf, Mas. Itu roti pesananku. Aku lagi pengen makan roti isi red velvet. Gak mahal, cuman tiga puluh lima ribu, Mas.""Lain-lain saja kamu pesan. Tanpa seizinku pula," timpal Mas Fadli dengan mata melotot dan wajah masam."Maaf, Mas. Aku benar-benar pengen. Aku akan bayar pakai uang tabunganku."Seolah abai dengan ucapanku, Mas Fadli menuju gerbang dan membukanya. Itu sudah menjadi isyarat bagi pedagang itu untuk segera keluar."Mas!" seruku."Ini, Mbak. Tidak usah dibayar. Ambil aja. Kasian, lagi ngidam begitu," ucap Mbak Pedagang menatapku sayu. Ia berjalan cepat mendekatiku dan menyerahkan plastik bening yang ada di tangannya. Tanganku akan terjulur tapi tiba-tiba suara Mas Fadli menghentikanku."Jangan! Bawa kembali barangmu, Mbak! Kami bukan peminta dan harus dikasihani. Silahkan!"Suara gerbang yang dibuka lebih lebar terdengar berderit. Mas Fadli menatap tajam ke arah kami. Kedua mataku berkaca-kaca, buram penglihatanku. Aku mengusap kelopak mataku, agar jelas wajah Mbak Pedagang yang tak jauh dariku."Ma-maafkan saya, ya, Mbak.""Saya juga minta maaf. Seharusnya saya datang sesuai anjuran Mbak. Pikirnya sekalian lewat tadi antar pesanan juga. Nanti kita bisa komunikasi ya, Mbak," ucap wanita jilbaber itu. Pembawaannya tenang tapi entah hatinya. Aku mengangguk menahan malu. Perkara roti seharga 35 ribu, benar-benar jatuh harga diriku."Tolong kalau istri saya pesan-pesan lagi, jangan ditanggapi."Mas Fadli berucap tepat saat wanita itu melewatinya. Wanita itu hanya diam dan keluar. Seharusnya ini tidak terjadi. Ya Allah, aku malu sekali. Kepegang perutku yang mulai nampak buncit. Aku segera mendekatinya."Mas! Kok gitu banget kamu?! Perkara roti saja kamu pelit sekali!""Bukan pelit, tapi hemat. Kamu ya, kebiasaan. Senang sekali belanja online. Mau makan roti tinggal ke warung Bi Mumun di depan juga ada.""Roti yang kupesan itu beda, Mas," lirihku mulai terisak.Seolah tak peduli. Mas Fadli masuk ke dalam rumah. Aku terpaksa mengikutinya. Kulihat dia mengambil uang lima ribu yang dia simpankan untukku di atas kulkas. Sekali dalam dua hari, dia memberiku uang lima ribu sebagai uang jajanku. Itu artinya, sehari jatahku hanya dua ribu lima ratus."Tunggu di sini. Berhenti menangis. Begitu saja jadi cengeng.""Tapi Mas, aku ingin roti yang tadi. Aku sedang ngidam roti itu, Mas. Ini bawaan bayi.""Eeeh jangan ngadi-ngadi. Jangan jadikan alasanmu ingin makan roti dengan menjual nama janin. Heran, sudah sarapan, masih mikirin makan roti. Ingat, Qi, kita harus belajar berhemat! Kamu mau punya rumah tanpa ngutang kan? Belajar sabar. Kalau sekarang dituruti, jadi kebiasaan bebelian begitu," ketusnya dengan wajah yang sangat asam.Aku hanya bisa mengusap air mataku. Sungguh aku ingin makan roti itu. Tak lama, Mas Fadli sudah di depanku dengan sepelastik kecil aneka roti. Ada roti yang harga seribuan dan dua ribuan. Bisa diperkirakan belanjanya tujuh ribu. Diletakkannya begitu saja tanpa bicara lalu pria itu meraih kunci motor. Tanpa ritual seperti biasa; salim tangan dan cium kening istri, Mas Fadli pergi berangkat kerja. Dia salah salah satu pegawai negeri di instansi pemerintah. Dua tahun aku menikah dengannya, dia belum mau jujur memberitahuku berapa gajinya.Suara ponselku berdering. Mbak yang tadi menghubungiku menelpon. Aku segera mengangkatnya."Halo, Mbak. Suaminya sudah berangkat kerja? Saya antarkan lagi ya, rotinya.""Bukan sombong atau apa, Mbak. Tanpa ridho dari suami, aku takut jadi bencana. Maafkan saya, ya.""Ya sudah kalau begitu, Mbak. Sehat-sehat ya, bumil."Aku tersenyum mendengar keramahan pedagang itu. Baru kali ini aku merasa ada orang yang benar-benar berpikiran positif. Semoga laris dagangannya. Dengan hati yang terus kutempa kesabaran, aku mengunyah roti harga seribuan. Kutahan-tahan air mataku agar tidak jatuh lagi tapi tidak bisa."Ya Allah," lirihku. Tak ada ucapan lain yang bisa keluar dari mulutku. Bayangan foto roti isi selai merah, red velvet itu membuat liurku mengental. Kuelus perutku meminta anakku untuk bersabar."Kita harus belajar berhemat kata Papa, Nak. Biar bisa punya rumah sendiri, gak ngontrak gini. Sabar ya, Nak," ucapku sendirian sembari mengunyah.Dreeettt ....Aku terkesiap. Itu suara getaran hp. Aku cek hpku yang sudah retak-retak dan buram layarnya, tidak ada panggilan masuk. Mataku langsung menoleh ke atas kulkas yang menyala. Rupanya Mas Fadli lupa membawa hpnya. Pasti dia meletakkannya begitu saja saat dia mengambil uang lima ribu itu.1 panggilan tak terjawab: MamaAku mencoba menghubungi kembali dan berniat mengabarkan bahwa Mas Fadli tidak bawa hp tapi seperti biasa, gagal. Ponsel itu terkunci. Mas Fadli tidak pernah juga memberitahuku pasword hapenya. Kutunggu saja, mungkin Mama mertua akan kembali menelpon. Namun sebuah pesan w******p masuk dan terlihat di notifikasi pop up.[Sudah di kantor ya, Nak? Tiga jutanya sudah Mama terima. Deal ya. Dua jutanya akan Mama simpankan. Satu juta buat belanja rumah, ya. Terimakasih, ya."Pekat rada air liurku membaca pesan ini. Tapi ponsel itu kembali bergetar.2 pesan dari Adik Nita.[Foto][Bang, duit 500 ribunya dah aku ambil. Terimakasih, ya.]Kali ini gemetar tanganku ya Allah. Aku benar-benar terkejut. Baru saja kejadian, suamiku tak punya malu menolak orang yang datang membawa orderan roti seharga 35 ribu hanya demi belajar hemat. Sedangkan dia mengirimkan ibunya uang sampai tiga juta dan adiknya lima ratus ribu. Allahuakbar, sakitnya hatiku.Memang semua kebutuhan rumah, dia sudah sediakan. Bahkan stok pangan selama seminggu sudah tersedia di kulkas. Tapi jangan tanya bagaimana jenisnya. Perutku sudah begah rasanya makan dengan lauk yang paling minim harganya.Sudah dua tahun aku menikah dengannya, aku tidak pernah makan daging sapi. Kalau pun daging, ya biasanya tulang-tulang yang diselimuti sedikit daging. Untuk daging ayam pun begitu. Kalau pun ada, yang dibeli adalah bagian leher, jeroan, kepala dan kaki. Sesekali ada sayapnya. Ikan asin, tempe, tahu, dan dijatahkan 7 butir telur untuk seminggu.Setiap hari Minggu, Mas Fadli yang berbelanja ke pasar dan dia pula menuntutku untuk bersabar dalam hidup hemat. Katanya, agar bisa segera beli rumah secara cash. Tapi, jika kuingat-ingat lagi, Mas Fadli hanya makan pagi di rumah. Siang dan sore, sepulang kerja dia makan di luar. Jadi selama ini, isi kulkas itu memang untukku?Kembali ponsel itu bergetar dan pesan dari mama mertua tiba.[Besok bawa Qirani ke rumah ya. Bantu-bantu. Ada acara arisan komplek]Aku mendecih. Sudah enam kali acara makan-makan di rumah mertua, akulah yang menjadi babu. Kali ini tidak. Lihat saja, cukup sudah aku kalian bodoh-bodohi lagi. Aku menatap langit-langit kontrakan yang usang ini. Ini akan menjadi permulaan pembalasan untuk orderan roti yang tertolak.A YEAR LATERJason stood on the soft carpet, lifting Liam in the air, his hearty laughter echoing in the warm room. Liam let out a joyful cry, extending his small hands towards his father's face. "Do you find that amusing, eh?" Jason grinned and delicately lowered Liam, placing a kiss on his round cheek. Kendall lounged on the sofa with her legs tucked beneath her, sipping tea as she observed. Her smile was soft but filled with pride. “He loves when you do that. It’s his favorite game now.” Jason looked over at her, his expression tender. Certainly, it is. "He's already seeking thrills, just like his father." “Thrill-seeker?” Kendall arched her eyebrow, placing her cup onto the coffee table. "Do you actually mean stubborn?" He’s definitely inherited that from you.” Jason chuckled, settling Liam into his lap. “I prefer to think of it as determination.” He leaned forward conspiratorially and whispered to Liam, “Don’t let your mom fool you. You get that charm from me too.” Liam
Kendall sensed her muscles were sore and smelled antiseptic about her. A faint discomfort in her stomach was a reminder of the procedures she had undergone. The warm, subdued light of the setting sun illuminated the room, but her vision was cloudy and her thoughts was foggy.A well-known voice called out Kendall's name, filled with relief and a touch of remorse. She blinked, forcing her eyes to focus. Jason was next to her, his usual sharp attitude mellowed by tiredness. His shirt looked wrinkled, his tie was untied, and his face showed signs of countless restless nights. "Jason?" she rasped, her parched throat feeling rough. “What… where am I?” He gently informed her that she was in the hospital, moving closer in the process. You underwent a cesarean section, and the physicians performed surgery for your cervical cancer. You’ve been unconscious for days.” His concerned was evident in the wavering of his voice. She instinctively reached towards her stomach, but he intercepted her
Jason walked back and forth in the clean waiting room of the hospital, his hands tightly clenched by his sides. The remote sound of machines beeping, the soft whispers of doctors in the corridor, and the tap of shoes against the linoleum surface felt excessively clear and intense. The rhythm of his own heart drowned out his thinking.“Why? Why did she wait to tell me?”His thoughts continued to rush, but it was futile. The doctors had rushed Kendall into surgery, explaining everything so quickly that their words became a blur. Cervical cancer. Emergency cesarean. Save both her and the baby. Jason wanted to scream, to tear at something, but instead, he stood frozen, his gaze fixed on the closed doors where Kendall had been taken. He had failed her. How could he not have seen that? For weeks and months on end, he failed to realize that something was amiss. His thoughts constantly went back to their disputes, to the times when she appeared delicate yet remained silent. “Mr. Carter?”J
Kendall stood on Jason's mansion doorstep, holding her coat tightly as her hands shook. The chill of the evening air nipped at her skin, yet it paled in comparison to the frostiness within her. She had to do this. There wasn't any alternative available. Jason had an unreadable expression on his face when the door opened, his eyes looking at her as if she was unfamiliar."Jason..." she said with a voice that cracked, her eyes begging for empathy. He stood silently, observing her, not responding right away, as though anticipating her to say something."I have to speak with you," Kendall murmured, moving closer, feeling her legs wobble beneath her. Jason moved out of the way, allowing her to enter silently, but he still stood rigidly, as if ready for combat. The door closed with a click.Kendall stopped in the foyer, trying to regain her balance. She momentarily lost focus, but quickly blinked to clear her vision. "Jason, I have been foolish," she started softly, her voice now filled
The vibrant lights of the toy shop shimmered on the racks, creating a cozy illumination as Jason and Kendall entered. The atmosphere was infused with a mix of exhilaration and reminiscence, and Kendall's eyes sparkled as she surveyed her surroundings, beaming. Jason found himself captivated by her e
"Thane?" Dr. Sophia’s voice hardly exceeded a whisper as she observed his formidable figure, her astonishment transitioning into a slight trace of anxiety. She attempted to compose her expression, but the fear in her eyes was unmistakable. Thane's stare was icy and sharp as he moved ahead. "Surprise
A cold, stony silence settled between them as Thane processed her words, his face frozen in a mixture of disbelief and dawning comprehension. “Some other Kendall… or the Kendall I know?” he demanded, his tone sharp and biting. “Jason’s wife?”“Yes,” Felicia replied, her voice barely more than a whisp
It was Thane.Kendall—no, Felicia—sensed his presence like a chilling breeze seeping into her bones, an alarming reminder of the control he exerted over her. She didn’t have to look at his face to sense the anger emanating from him, the quietness that enveloped them thick with unvoiced menaces. Every


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore