Share

Sinyal Bahaya

Author: EnKa Jasmine
last update publish date: 2026-09-20 15:00:59

Sejak percakapan singkat di teras malam itu, ada sesuatu yang bergeser dalam hubungan kami. Arkan tidak lagi menatapku dengan mata elangnya yang sarat kecurigaan. Sikapnya memang tetap kaku dan minim kata, tetapi kehangatan terselubung yang ia tunjukkan, seperti membiarkanku menggambar sketsa tanpa menginterupsi atau sekadar memastikan Bu Wini tertidur sebelum ia berangkat ke kantor, membuat hatiku yang beku perlahan mencair.

Sayangnya, ketenangan itu adalah ketenangan sebelum badai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jejak yang Tercium

    Lari dari ruang laundry sore itu terasa seperti melarikan diri dari medan perang. Dadaku sesak, napasku berburu kencang, dan air mata rasanya tak mau berhenti menetes. Aku mengurung diri di kamar mandi ruang belakang selama belasan menit, membasuh wajahku berulang kali dengan air dingin hingga rasa sembap di mataku sedikit berkurang.Aku harus kuat. Aku harus mempertahankan benteng ini. Semakin Arkan berusaha mendekat dan menunjukkan kebaikannya, semakin keras pula aku harus menepisnya. Sebab aku tahu, begitu Arkan tahu siapa aku sebenarnya di masa lalu, kebaikan itu akan berubah menjadi belati tajam yang menusukku tanpa ampun. Lebih baik aku yang menyakiti diriku sendiri sekarang daripada harus melihat tatapan kecewa dan jijik dari pria itu nanti.Namun, Arkan bukanlah pria yang mudah menyerah.Setelah penolakan keras yang kuberikan di ruang laundry, suasana rumah utama berubah menjadi hening yang menegang. Arkan tidak lagi berusaha memanggil

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Perang Dingin

    Pengakuan Arkan di perpustakaan hari itu tidak membawa kedamaian yang kuharapkan. Justru sebaliknya, kata-kata itu menjelma menjadi hantu baru yang terus menakut-nakuti setiap jengkal pikiranku.Karena kamu bukan sekadar suster bayaran bagiku, Mey.Setiap kali teringat kalimat itu, dadaku berdesir hebat—sebuah sensasi manis yang sangat ingin kunikmati, tetapi langsung dibunuh secara kejam oleh kenyataan pahit yang mencengkeram hidupku.Aku tidak boleh luluh. Aku tidak boleh membiarkan perasaanku tumbuh untuk pria setinggi Arkan.Bisikan-bisikan kejam Erick di dapur tempo hari kembali bergema di telingaku, meracuni setiap sudut logikaku: “Ingat posisi milikmu di sini. Kamu cuma mantan wanita penghibur dari Surabaya yang kebetulan pakai baju tertutup. Jangan mimpi bisa bersanding dengan Arkan!”Erick benar. Bagaimanapun aku berusaha menutupi seragam sustersku dengan kebaikan, kenyataan bahwa tubuh dan masa laluku p

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Benteng Pertahana

    Kata-kata Arkan di dapur sore itu terus bergaung di kepalaku bagai gema yang tak kunjung padam. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk mas-ku sendiri.Kalimat pendek yang diucapkan dengan nada serak dan penuh penekanan itu berhasil meruntuhkan sebagian benteng pertahanan batin yang kubangun rapat-rapat selama ini. Untuk pertama kalinya sejak aku melarikan diri dari dunia malam Surabaya, ada seorang pria yang berdiri di depanku bukan untuk memanfaatkan tubuhku atau menguliti dosaku, melainkan untuk melindungiku.Namun, di saat yang sama, rasa bersalah justru menghujam dadaku makin dalam. Arkan adalah pria yang jujur, tegas, dan terhormat. Dia melindungiku karena dia mengira aku hanyalah suster polos yang menjadi korban ketidaksopanan kakaknya. Bagaimana jika suatu hari dia tahu bahwa aku dan Erick punya rekam jejak yang menjijikkan di masa lalu? Apakah tatapan protektif di mata elang itu akan berganti menjadi tatapan benci dan jijik?"

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Sinyal Bahaya

    Sejak percakapan singkat di teras malam itu, ada sesuatu yang bergeser dalam hubungan kami. Arkan tidak lagi menatapku dengan mata elangnya yang sarat kecurigaan. Sikapnya memang tetap kaku dan minim kata, tetapi kehangatan terselubung yang ia tunjukkan, seperti membiarkanku menggambar sketsa tanpa menginterupsi atau sekadar memastikan Bu Wini tertidur sebelum ia berangkat ke kantor, membuat hatiku yang beku perlahan mencair.Sayangnya, ketenangan itu adalah ketenangan sebelum badai.Hari Sabtu sore, Bu Wini merasa kondisinya sudah jauh lebih segar. Atas permintaannya, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga rumah utama untuk minum teh bersama. Mbak Nisa datang membawa Icha yang riang, sementara Erick berjalan di belakang mereka dengan gaya anggun yang memuakkan. Arkan yang akhir pekan ini memilih berdiam di rumah juga hadir, duduk di sofa tunggal sambil memangku laptopnya."Mey, tolong ambilkan cangkir teh tambahan di dapur ya," puji Mbak Nisa tulus dari m

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penyelamat di balik Ketegangan

    Suasana di dalam dapur rumah utama mendadak sedingin es di kutub utara. Pertanyaan Arkan yang bernada datar namun menuntut itu menggantung berat di udara, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Jantungku berpacu gila-gilaan karena ketakutan yang membuncah. Pisau dapur di tangan kananku perlahan meluncur turun, namun jemariku yang memegangnya masih bergetar hebat.Erick yang beberapa detik lalu tampak begitu berkuasa dan penuh intimidasi, kini mendadak mengubah raut wajahnya secepat kilat. Ia menarik tangannya yang tadi hampir menyentuh pipiku, lalu berbalik menghadap adiknya dengan tawa renyah yang dipaksakan. Keahlian pria itu dalam memasang topeng kepalsuan benar-benar membuat lambungku mual."Eh, Arkan. Kamu belum berangkat ke kantor?" Erick menepuk bahu Arkan dengan gaya santai, seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi di sudut gelap ini. "Ini, Mas cuma mau minta tolong sama suster baru Ibu. Mas tadi nyari Mbak Nisa untuk nanya apa stok b

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Rapuh di balik dingin

    Rapuh di Balik DinginAku menghabiskan sisa hari itu dengan mencurahkan seluruh fokus dan tenaga pada pekerjaan. Berada di dekat Bu Wini adalah satu-satunya benteng pertahananku dari cengkeraman ketakutan yang terus mengintai. Setiap kali aku menginjakkan kaki ke luar kamar, bayang-bayang sosok Erick seolah membuntuti. Tatapan matanya yang penuh ancaman di meja makan tadi pagi masih membakar ingatan, membuat tengkukku dingin dan jemariku refleks bergetar.Namun, di dalam ruangan bertiras lembut ini, di dekat Bu Wini, aku menemukan sedikit ruang untuk bernapas. Aku membantu menyiapkan obat-obatan tepat waktu, merapikan selimut, menyapu lantai kamar hingga tak bersisa debu, dan setia mendengarkan cerita masa lalunya yang panjang.Bu Wini adalah tipe wanita tua yang hangat. Beliau sering menceritakan bagaimana almarhum suaminya membangun keluarga ini dari nol, bagaimana Erick tumbuh menjadi sosok yang keras, dan bagaimana Arkan putra bungsunya selalu menyimpan segala bebannya seorang diri

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Kesempatan

    Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakar

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Laki-laki itu

    Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Maaf

    Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status