Share

Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"
Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"
Author: EnKa Jasmine

Titik Nol Diri

Author: EnKa Jasmine
last update publish date: 2021-06-02 22:56:03

Aku terlahir sempurna. Cantik dan lumayan pintar. Namun bukan berarti tanpa kekurangan. Baik buruk kita di masa lalu tetaplah masa lalu yang hanya bisa dikenang sebagai evaluasi diri agar menjadi manusia yang lebih baik.

Arini, begitu orang memanggilku. Nama indah yang disematkan Abah sembilan belas tahun yang lalu. Aku mempunyai keluarga yang harmonis Teh Anggi yang lembut, polos dan mudah sekali kubohongi. Ambu yang lembut dan Abah yang dingin namun perhatian. Kami hidup bahagia sekali. Tapi itu dulu sebelum aku memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan tinggal di ibu kota yang keras ini.

“Selamat pagi, Mey,” seorang perempuan dengan pakaian APD masuk ruanganku, dan 'Mey' nama panggilanku di Jakarta.

“Pagi..." balasku.

“Saya periksa dulu ya," pinta Dini.  Dokter yang merawatku dua pekan ini. Aku mengangguk membiarkannya memeriksa kondisiku saat ini.

"Mey... Apa enggak sebaiknya kamu hubungi keluargamu?" sarannya setelah melalukan berbagai rangkaian pemeriksaan. Kami sudah lama saling kenal. Tidak kenal dekat hanya kita pernah tinggal satu atap waktu aku masih berstatus sebagai mahasiswa LaSalle Collage International di Jakarta sebelum hidupku benar-benar sesat. Usianya lima tahun lebih tua dariku.

"Buat apa? Apa kondisiku separah itu?" jawabku ketus.

"Bukan gitu, keluargamu pasti mengkhawatirkanmu," jawabnya. 

"Udahlah lakukan saja tugasmu." Aku tak ingin menanggapinya. Jika ditanya rindu atau tidak dengan keluarga, jelas aku rindu. Aku butuh keluargaku. Apa lagi penyakit yang menyerangku saat ini. Benar-benar membuatku takut. Namun, aku tak sanggup untuk menampakkan diri dengan kondisiku, malu.

Dini mengembuskan napas kasar. Dua pekan sering bertemu mungkin dia sudah paham dengan keras kepalanya aku. Hebatnya dia masih saja sabar menemaniku meski kadang aku berkata kasar padanya. Aku beruntung bisa bertemu dengannya. Entah apa yang akan terjadi padaku jika aku tak bertemu dengannya saat titik nol-ku.

"Ya sudah terserah kamu. Aku pergi dulu. Hasilnya mungkin akan keluar besok." Dini keluar ruangan setelah selesai memeriksaku. 

Aku kembali sendiri melawan penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawaku. Dalam hening, aku teringat kembali dengan saran Dini untuk menghubungi keluargaku. Ada rasa sesak yang menghujam dada. Masih pantaskah aku menerima maaf dari mereka. Kuambil ponsel diatas nakas, membuka galeri menatap foto keluarga yang sudah lama kutinggalkan. Tanpa sadar butiran bening menerobos dengan lancangnya membasahi pipi polosku. Wajah cantik yang sering dipuji ribuan orang di setiap postingan feed instagramku kini tak lagi berisi. Tubuh seksi tinggi semampai kini sudah kurus kering. Aku hampir putus asa. Namun mengingat apa yang sudah kulakukan di masa lalu, membuatku sekali lagi bersyukur. Ini pesan cinta dari Yang Maha Kuasa, bentuk kasih sayang-Nya. Hingga tak membiarkanku tersesat semakin jauh lagi.

Aku mengambil smartphone yang aku simpan di dalam laci. Smartphone yang kumiliki yang dibelikan Teh Anggi sebelum aku meninggalkan Bandung.

Melihat isi galeri di mana foto keluargaku tersimpan membuat dadaku semakin sesak. Aku benar-benar takut tak sempat mengucapkan maaf sebelum meninggalkan dunia ini. Keluar dari galeri ponsel. Aku membuka I*******m. Ingin rasanya menyapa teman-temanku di sana. Tak ada yang istimewa di sana. Hanya orang-orang yang numpang eksis memamerkan kebahagiaan mereka. Melihat tingkah mereka mengingatkanku pada diriku yang dulu. Dengan sombongnya menikmati titipan Tuhan.

“Lihatlah sekarang Mey, kemana orang-orang yang memujamu?” lirihku.

Pencarianku berhenti kala menangkap satu postingan dari akun pemberitaan daring dengan tagline pasien terkapar covid yang kian bertambah. Tenaga media yang makin memprihatinkan.

Gelombang negatif mulai membekap pikiranku, mengirimkan pesan-pesan kecemasan dan melemahkan syaraf di sekujur tubuhku. Tanganku gemetar hingga ponsel jatuh di sampingku. Aku termasuk salah satu pasien yang terpapar covid-19. Aku kira cuma demam biasa. Namun, akhirnya aku harus tinggal juga di rumah sakit untuk menjalani perawatan. Dadaku terasa sesak. Padahal hanya ingin menghirup udara yang gratis. Nikmat dari Allah yang kerap kali aku abaikan.

***

Gelap berganti terang. Hari yang biasa kulalui dengan duduk-duduk manis di kafe-kafe ternama kini aku habiskan dengan terbaring lemah di atas tempat tidur. Seperti biasa, sarapan pagi, obat dengan aturan pakainya serta vitamin sudah bertenger di atas meja. Sebenarnya aku sudah jenuh, namun aku juga tak ingin mati sia-sia.

"Sudah bangun?" Dini masuk ke ruang rawatku masih dengan APDnya.

"Sudah," jawabku. "Kenapa masih saja di sini? Nggak pulang?"

Dini tersenyum, seolah tak ada beban dalam hidupnya. Padahal jelas-jelas bahaya ada di sekitarnya. "Aku enggak pulang. Banyak yang membutuhkanku di sini. Lagian kasian keluargaku kalau aku pulang. Bisa saja aku menularkan virus pada mereka."

Aku ikut tersenyum. Dina masih saja seperti dulu. Jiwa sosialnya tinggi. Dan selalu mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan dirinya sendiri. Aku makin bangga padanya. Andai saja dulu aku memilih berteman dengannya.

"Sudah diminum obatnya?" tanya Dini.

Aku menunjuk ke arah nakas, "Bentar lagi."

"Mey, aku - " kata Dini yang membuatku penasaran.

"Kenapa?" tanyaku.

"Kamu pasti sembuh dan kamu harus sembuh." Mendengar jawabannya aku ragu, bukan itu yang akan ia katakan tadi. Dini bukan orang yang pandai berbohong. "Udah terus terang aja. Apa kondisiku mulai parah?"

Aku mencoba menguatkan hatiku. Walau sebenarnya aku takut. Ada hal yang harus kutebus sebelum hal itu datang.

"Bukan begitu. Ini tentang Angel, teman kamu."

"Kenapa?" tanyaku.

"Dia sudah tiada." Satu lagi kejutan  yang kudapatkan. Satu orang yang kusayangi pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku tatap mata Dini, berharap semua yang dikatakan itu tidak benar. Namun, sekali lagi tidak ada kebohongan di matanya.

Angel, teman baikku. Gadis yang selalu ada disampingku, bahkan saat dunia meninggalkanku. Saat keluargaku tak ada untukku. Dari Angel, aku bisa mengenal hidup lebih luas lagi. Bukan hanya sekedar halaman rumah dan teras masjid. Abah selalu membatasi semua gerakku. Menuntutku untuk menjadi gadis penurut berhijab menutup dada seperti Teh Anggi yang selalu Abah banggakan.

"Hidup itu sekali, buat happy aja kenapa." Seorang gadis berambut coklat datang menghampiriku. Penampilannya sangat jauh dariku yang terkesan kampungan. Aku hampir tercengang dibuat olehnya. Kulitnya yang putih mulus dan semua yang menempel ditubuhnya bukan barang grosiran yang biasa aku dan teman-temanku dapatkan dipasar tradisional. Maklum, hidup sederhana diterapkan oleh Abah sejakku kecil.

"Eh - mbak," sapaku.

"Anak baru?" tanyanya padaku. Saat itu adalah hari kedua aku di kota orang, dan jauh dari keluarga.

"Iya, mbak."

"Angel.” Ia mengulurkan tangannya padaku. Melihatku yang masih terpukau menatapnya membuatnya mengulangi kata-katnya lagi. “Angel aja. Panggil aku Angel, kamarku sebelah sana." Ia menunjuk salah satu pintu yang tak jauh dari kamarku.

Aku mengangguk. "Salam kenal, Angel."

Gadis itu mengangguk. Lalu, ia melenggang meninggalkanku menikmati senja pertama di ibu kota.

"Mey..." Dini menepuk bahuku. Menyadarkanku dari lamunan kala pertemuan pertamaku dengan Angel. "Kamu yang kuat ya, Mey. Kita doa bersama untuk Angel."

Aku mengangguk. Kupejamkan mata sambil merapalkan doa sebisaku. 

Setelah berdoa, aku menoleh ke arah Dini. "Apa Tuhan akan menerima taubatku?" Lirihku.

"Tuhan itu Maha Pengampun, Mey. Mohonlah ampun pada-Nya dengan sungguh-sungguh." Dini mengusap tanganku pelan. Menepis gelombang negatif yang mengombang-ambingkan hatiku. Aku bersyukur masih bisa mengenal Dini.

"Izinkan aku bersimpuh di bawah telapak kaki Ambu," pintaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Alana4444
pake POV 1 ya? Seriusan keren. lanjut thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ancaman di Balik Pagar

    Pandanganku mendadak kabur. Seluruh persendianku serasa diloloskan paksa saat sepasang mata tajam berias tebal itu menatapku dari balik kaca mobil.Nadine.Wanita itu melangkah keluar dari mobil sedan hitamnya. Gaun ketat berwarna merah menyala dan aroma parfum menyengat yang menguar dari tubuhnya terasa begitu asing dan sangat menakutkan. Di lingkungan kompleks perumahan yang tenang ini. Langkah kakinya yang diampu sepatu hak tinggi terdengar menyentak, mendekatiku yang mematung di samping tempat sampah besar dekat gerbang."Ternyata benar dugaan kawan-kawan di Surabaya," ujar Nadine dengan nada mengejek, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya menyapu tubuhku dari ujung jilbab hingga ujung seragam suster putih polos yang kukenakan. "Meylissa... si primadona yang tiba-tiba hilang ditelan bumi, ternyata menyamar jadi suster alim di rumah orang kaya.""N-Nadine..." suaraku tercekat di tenggorokan, rapat dan bergetar parah. Jantungku berpacu gila-gilaan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jejak yang Tercium

    Lari dari ruang laundry sore itu terasa seperti melarikan diri dari medan perang. Dadaku sesak, napasku berburu kencang, dan air mata rasanya tak mau berhenti menetes. Aku mengurung diri di kamar mandi ruang belakang selama belasan menit, membasuh wajahku berulang kali dengan air dingin hingga rasa sembap di mataku sedikit berkurang.Aku harus kuat. Aku harus mempertahankan benteng ini. Semakin Arkan berusaha mendekat dan menunjukkan kebaikannya, semakin keras pula aku harus menepisnya. Sebab aku tahu, begitu Arkan tahu siapa aku sebenarnya di masa lalu, kebaikan itu akan berubah menjadi belati tajam yang menusukku tanpa ampun. Lebih baik aku yang menyakiti diriku sendiri sekarang daripada harus melihat tatapan kecewa dan jijik dari pria itu nanti.Namun, Arkan bukanlah pria yang mudah menyerah.Setelah penolakan keras yang kuberikan di ruang laundry, suasana rumah utama berubah menjadi hening yang menegang. Arkan tidak lagi berusaha memanggil

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Perang Dingin

    Pengakuan Arkan di perpustakaan hari itu tidak membawa kedamaian yang kuharapkan. Justru sebaliknya, kata-kata itu menjelma menjadi hantu baru yang terus menakut-nakuti setiap jengkal pikiranku.Karena kamu bukan sekadar suster bayaran bagiku, Mey.Setiap kali teringat kalimat itu, dadaku berdesir hebat—sebuah sensasi manis yang sangat ingin kunikmati, tetapi langsung dibunuh secara kejam oleh kenyataan pahit yang mencengkeram hidupku.Aku tidak boleh luluh. Aku tidak boleh membiarkan perasaanku tumbuh untuk pria setinggi Arkan.Bisikan-bisikan kejam Erick di dapur tempo hari kembali bergema di telingaku, meracuni setiap sudut logikaku: “Ingat posisi milikmu di sini. Kamu cuma mantan wanita penghibur dari Surabaya yang kebetulan pakai baju tertutup. Jangan mimpi bisa bersanding dengan Arkan!”Erick benar. Bagaimanapun aku berusaha menutupi seragam sustersku dengan kebaikan, kenyataan bahwa tubuh dan masa laluku p

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Benteng Pertahana

    Kata-kata Arkan di dapur sore itu terus bergaung di kepalaku bagai gema yang tak kunjung padam. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk mas-ku sendiri.Kalimat pendek yang diucapkan dengan nada serak dan penuh penekanan itu berhasil meruntuhkan sebagian benteng pertahanan batin yang kubangun rapat-rapat selama ini. Untuk pertama kalinya sejak aku melarikan diri dari dunia malam Surabaya, ada seorang pria yang berdiri di depanku bukan untuk memanfaatkan tubuhku atau menguliti dosaku, melainkan untuk melindungiku.Namun, di saat yang sama, rasa bersalah justru menghujam dadaku makin dalam. Arkan adalah pria yang jujur, tegas, dan terhormat. Dia melindungiku karena dia mengira aku hanyalah suster polos yang menjadi korban ketidaksopanan kakaknya. Bagaimana jika suatu hari dia tahu bahwa aku dan Erick punya rekam jejak yang menjijikkan di masa lalu? Apakah tatapan protektif di mata elang itu akan berganti menjadi tatapan benci dan jijik?"

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Sinyal Bahaya

    Sejak percakapan singkat di teras malam itu, ada sesuatu yang bergeser dalam hubungan kami. Arkan tidak lagi menatapku dengan mata elangnya yang sarat kecurigaan. Sikapnya memang tetap kaku dan minim kata, tetapi kehangatan terselubung yang ia tunjukkan, seperti membiarkanku menggambar sketsa tanpa menginterupsi atau sekadar memastikan Bu Wini tertidur sebelum ia berangkat ke kantor, membuat hatiku yang beku perlahan mencair.Sayangnya, ketenangan itu adalah ketenangan sebelum badai.Hari Sabtu sore, Bu Wini merasa kondisinya sudah jauh lebih segar. Atas permintaannya, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga rumah utama untuk minum teh bersama. Mbak Nisa datang membawa Icha yang riang, sementara Erick berjalan di belakang mereka dengan gaya anggun yang memuakkan. Arkan yang akhir pekan ini memilih berdiam di rumah juga hadir, duduk di sofa tunggal sambil memangku laptopnya."Mey, tolong ambilkan cangkir teh tambahan di dapur ya," puji Mbak Nisa tulus dari m

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penyelamat di balik Ketegangan

    Suasana di dalam dapur rumah utama mendadak sedingin es di kutub utara. Pertanyaan Arkan yang bernada datar namun menuntut itu menggantung berat di udara, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Jantungku berpacu gila-gilaan karena ketakutan yang membuncah. Pisau dapur di tangan kananku perlahan meluncur turun, namun jemariku yang memegangnya masih bergetar hebat.Erick yang beberapa detik lalu tampak begitu berkuasa dan penuh intimidasi, kini mendadak mengubah raut wajahnya secepat kilat. Ia menarik tangannya yang tadi hampir menyentuh pipiku, lalu berbalik menghadap adiknya dengan tawa renyah yang dipaksakan. Keahlian pria itu dalam memasang topeng kepalsuan benar-benar membuat lambungku mual."Eh, Arkan. Kamu belum berangkat ke kantor?" Erick menepuk bahu Arkan dengan gaya santai, seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi di sudut gelap ini. "Ini, Mas cuma mau minta tolong sama suster baru Ibu. Mas tadi nyari Mbak Nisa untuk nanya apa stok b

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penebusan

    Aku memutar-mutar ponsel di genggamanku. Sambil berusaha menerawang kata apa yang pantas untuk kukatakan ketika berbicara dengan Teh Anggi. Dari pesan singkat yang ia titipkan pada bu Luluk, sudah pasti Teh Anggi sudah mengetahui semuanya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa marah

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Pulang

    Aku menatap gedung mencakar langit di hadapanku penuh haru. Syukur, masih ada kesempatan bagiku untuk menikmati keMaha baikan-Nya. Dua bulan tinggal di sini, sudah cukup membuatku tersiksa. Gedung megah namun mencekam. Tak ada tawa bahagia di dalamnya.Aku menengadahkan kepala, kupejamkan

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ini Inginku

    Aku masih bergeming. Menatap foto keluarga yang tersimpan di galeri ponsel. "Buat apa sih Teh foto bersama?" Protesku. Hari itu Teh Anggi memaksaku pergi ke studio foto. Untuk foto keluarga katanya. Padahal menurutku foto pakai kamera ponsel dengan kecanggihannya saat ini, itu sudah cukup.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status