Teilen

Ini Inginku

last update Veröffentlichungsdatum: 03.06.2021 20:08:30

Aku masih bergeming. Menatap foto keluarga yang tersimpan di galeri ponsel. "Buat apa sih Teh foto bersama?" Protesku. Hari itu Teh Anggi memaksaku pergi ke studio foto. Untuk foto keluarga katanya. Padahal menurutku foto pakai kamera ponsel dengan kecanggihannya saat ini, itu sudah cukup.

"Neng, kamu bakal kangen kita nanti." Aku ingat betul kata-katanya. Dan sekarang- aku benar-benar rindu akan kebersamaan itu. Aku tersenyum, mengingatnya menjadikanku teringat kembali perjuanganku untuk memperoleh kebebasan. Kebebasan yang kukira baik, namun justru menyesatkan.

"Ayolah, Teh... bantuin Neng," rengekku pada Teh Anggi, saudara perempuanku satu-satunya. Anak kebanggaan abah dan ambu. Teh Anggi tak merespon, ia masih saja fokus dengan tumpukan berkas dan laptop di depannya. Kesal - aku menggoyang-goyang tangan Teh Anggi. Dia mulai terganggu. "Teteh sibuk, Neng ..." protesnya. Namun, aku enggak peduli. Teh Anggi harapanku satu-satunya untuk dapat meyakinkan abah dan ambu.

Aku menekuk kepala. Mengerucutkan bibir hampir seperti bebek tetangga yang biasa di giring ke sawah. Aku silangkan kaki dan menyedekapkan tangan di depan dada. Keinginanku sudah bulat. Aku ingin kuliah di Jakarta. "Teh, aku bukan Teteh yang hanya bisa nurut dengan titah abah. Aku punya cita-cita. Aku juga ingin mengejar cita-citaku," protesku. Berharap hati Teh Anggi luluh dan menuruti mauku seperti hari-hari biasanya. Mana tega sih Teh Anggi membuatku sedih.

"Neng-" panggilnya. Benarkan dia enggak akan tega. "Tadi kamu denger sendiri 'kan? Gimana kata abah?" ternyata belum berhasil juga. Kukira akan cepet luluh. Nyatanya malah ngirim siraman rohani  untukku.

"Teh... Teteh enggak pengen kalau Neng bisa mewujudkan cita-cita Neng? Duniaku bukan di pondok pesantren, Teh. Neng punya cita-cita sendiri." Aku tak ingin menyerah segala alasan aku ungkapkan di depan Teh Anggi. "Ayo dong, Teh."

"Bukannya teteh enggak mau. Tapi, coba deh Neng pikir-pikir lagi. Apa yang dikatakan orang tua pasti benar. Enggak ada orang tua yang ingin menyesatkan anaknya." Teh Anggi kembali fokus pada tumpukan berkasnya. Gagal. Aku pikir bisa dengan mudah mempengaruhi teteh tapi hasilnya masih nihil. Aku beranjak meninggalkan teh Anggi. Lalu masuk ke kamar. Aku hempaskan tubuhku diatas kasur yang sudah mulai kempes. Saking lamanya belum ganti. Paling hanya dijemur di bawah terik matahari untuk menghilangkan tungau atau debu yang menempel.

Lama hanya bergelut dengan pikiran yang tak kunjung menemui jawabannya. Aku menoleh ke arah nakas. Kuraih pamflet salah satu universitas yang aku dapat dari .guru kelasku. "Kamu adalah impianku," tegasku.

Tekadku sudah bulat. Bagaimanapun nanti hasilnya aku harus mencoba bicara lagi dengan abah. Aku ingin mengembangkan hobi menggambarku. Menjadi seorang desainer sudah menjadi cita-citaku dari dulu. Universitas impianku itu adalah universitas terbaik di Indonesia, memiliki banyak kerja sama dengan banyak perusahaan luar negeri. Termasuk Paris, kota yang dikenal dengan menara Eiffel-nya yang juga  memiliki julukan  la Ville des Lumières atau kota cahaya.

Hari berganti hari. Setelah mencoba memohon namun gagal. Berbagai cara aku lakukan, mulai dari tak mau makan malam bersama yang mana menjadi ritual yang menyatukan kami sekeluarga sampai sama sekali tak ingin keluar kamar. Hingga tiba akhirnya kata ajaib yang aku inginkan itu lolos dari dua bibir abah, "Ya kuizinkan."

Bukan main senangnya hatiku waktu itu. Aku segera mengurus semuanya. Pastinya dibantu oleh teh Anggi kakak perempuanku yang sabarnya tiada obat. Dengan kemampuanku yang memang di bidang itu tentu saja aku bisa lulus seleksi. Akupun pindah ke ibu kota setelah pengumuman kelulusan, tentunya dengan mengantongi restu ambu dan abah. Berkat temannya teh Anggi, aku bisa mendapatkan kos-kosan yang enggak terlalu jauh dari kampus. Tidak terlalu ketat, pas sesuai keinginanku.

Siang itu, tepat dua hari aku tinggal di Jakarta. Tempat yang penuh dengan beraneka ragam gemerlap dunia. Aku belum begitu dapat teman. Kos ini cukup ramai beberapa mahasiswa. Namun, semuanya sudah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Aku merasa sendiri di sini. Orang pertama yang kutemui adalah Dini. Mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Dia cukup perhatian padaku, menawari makan atau jajanan. Kamar kami bersebelahan. Entah kenapa Aku malah enggak begitu tertarik dengan kehadirannya. Tahu sendiri kan apa yang aku inginkan selain kuliah fashion designer di Jakarta? Aku ingin kebebasan. Dunia Dini terlalu monoton, hanya sebatas kuliah, ngajar privat dan kamar kos.

"Nanti habis maghrib, aku ada pengajian bareng ibu-ibu di mushola. Deket kok dari sini. Kalau mau kamu boleh ikut," ujarnya setelah menawariku ketoprak yang dia beli dari abang keliling. Kebetulan aku memang belum makan. Karena masih belum tahu mau makan di mana. Aku mengeryitkan dahi. Ya kali ikut majlisan. Di kampung aja males-malesan. Paling berangkat sebulan sekali kalau lagi piket RT.

"Enggak dulu deh, Kak. Aku mau cari keperluan buat PKKMB besok," tolakku. Padahal enggak ada yang perlu kusiapin buat kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru. Untungnya ia percaya, jadi enggak perlu cari alasan lagi.

Cukup lama kita berbincang sekedar sharring pengalaman. Juga tentang pengalamannya di fakultas kedokteran yang sama sekali enggak menarik menurutku. Kuakui dia memang cerdas, rajin dan rendah hati. Idaman lah buat akhi yang mencari ukhti. Perbincangan kami pun harus berakhir karena Dini yang harus mengisi kegiatan di mushola. Aku masih termangu seorang diri di atas bangku bambu di bawah pohon mangga menikmati senja kota Jakarta.

"Hidup itu sekali, buat happy aja kenapa." Seorang gadis berambut coklat datang menghampiriku. Penampilannya sangat jauh dariku yang terkesan kampungan. Aku hampir tercengang dibuat olehnya. Kulitnya yang putih mulus dan semua yang menempel ditubuhnya bukan barang grosiran yang biasa aku dan teman-temanku dapatkan di pasar tradisional. Maklum, hidup sederhana diterapkan oleh abah sejakku kecil.

Sejak pertama kali berkenalan, aku sudah tertarik untuk berteman dengannya. Penampilannya yang gaul dan yang paling membuatku suka, dia menyenangkan untuk sharing tentang dunia fashion. Kedekatan kamipun berlanjut. Tak sebatas hanya kos, tapi kita sering menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan di kampus. Semakin jauh mengenalnya aku semakin kagum. Di tengah kesibukannya di semester akhir dia masih bisa membagi waktu untuk bekerja parttime. Aku enggak tahu pasti apa kerjaannya, yang jelas aku bangga bisa dekat dengannya. Membuatku insecure. Bagaimana tidak, aku selama ini hanya menjadi cewek sok kuat, sok ingin hidup mandiri jauh dari orang tua, namun belum ada keinginan untuk benar-benar mandiri. Keinginan jauh dari orang tua hanya sebatas agar kebebasanku tidak terkekang.

***

"Neng, jangan lupa salat ya. Jaga kesehatan dan belajar yang bener," pesan ambu mengakhiri video call malam ini. Sepertinya mereka tetap menganggapku putri kecil mereka. Hampir setiap saat mereka kirim pesan, telefon, bahkan video call untuk mengecek keadaanku.

Lama-lama aku enggak nyaman dengan perhatian yang terkesan berlebihan. Jiwa berontak yang selama ini kupendam kembali meletup. Aku mulai jarang merespon panggilan dari kampung. Bahkan pesan-pesan yang dikirim untuk, hanya kubalas sebisanya. Gemerlap dunia di sekitarku benar-benar memberi pengaruh besar padaku. Membuatku yang manja, menjadi benar-benar pembangkang. Bukan cuma lewat perkataan seperti dulu. Tapi aku sudah satu tingkat lebih berani dengan mewujudkannya lewat perbuatan.

Tak ada rasa sesal di hatiku. Aku menikmati semua kemewahan dunia ini. Merajut sejarah baru bersama orang-orang yang kuanggap benar-benar sefrekuensi denganku. Bukan keluarga yang katanya sayang, namun tak membiarkanku bergerak bebas.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Bayangan Masa lalu

    Tangan yang memegang mangkuk sup ayam ini mendadak terasa begitu dingin dan gemetar. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai diri sebelum melangkah keluar dari dapur rumah utama menuju rumah belakang tempat Bu Wini berada pagi ini. Di sana, di meja makan yang melingkar, suara tawa kecil seorang anak perempuan terdengar bersahut-sungguhan dengan suara lembut ibunya.Seharusnya itu menjadi pemandangan keluarga yang hangat. Namun bagiku, itu adalah ruang eksekusi yang siap menguliti lembaran hitam masa laluku."Pagi, Bu Wini, Mbak Nita," sapaku seloroh sembari meletakkan mangkuk sup di tengah meja dengan gerakan sehati-hati mungkin. Aku sengaja menundukkan kepala, menolak untuk mengedarkan pandangan lebih luas."Wah, pas sekali, Mey. Baunya harum sekali, terima kasih ya," sahut Mbak Nita dengan senyum tulus yang begitu manis. Wajahnya memancarkan kebahagiaan seorang ibu yang sedang mengandung anak kedua. Bersih, anggun, dan terhormat. Kontras sekali dengan wanita sepertiku."Sa

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Say Hai..

    Hari kian menua. Berulang kali aku melihat jam tua yang terpampang di dinding. Namun, tak ada tanda-tanda bagi segera datang. Ingin rasanya aku terpejam beberapa saat tapi pikiranku melayang entah kemana. Bayangan pesan singkat juga foto yang masuk dalam ponselku siang tadi sukses mengusik pikiranku. Kenapa harus datang lagi? Aku benar-benar ingin bertaubat. Tak ingin berurusan dengan dunia malam itu lagi.Kesal tak kunjung bisa terlelap, aku memutuskan untuk keluar kamar berbekal senter ponsel. Sengaja aku tidak menghidupkan lampu karena masih terlalu larut untuk bangun. Aku menunju dapur yang berada di lantai satu belakang ruang tamu. Bingung tidak ada yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk membuat secangkir teh untuk menghangatkan tubuh.“Kenapa aku harus khawatir? Ini masa lalu, kan? Semua orang punya kesempatan untuk berubah kan?” ucapku lirih. Mencoba mengusir kerisauan yang merasuk isi kepala.Dalam keheningan, sayup-sayup terdengar gemerincing

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nomor Baru

    "Bagus, kamu jago juga merangkai bunga," puji Bu Wini setelah perdebatan panjang pagi ini. Satu vas dengan rangkaian bunga segar sudah tertata indah dan siap untuk mengisi ruang. Kini mereka melanjutkan vas berikutnya. Selain hobi mengoleksi lukisan, bu Wini juga menyukai bunga. Tiga minggu sekali biasanya ada kurir yang mengantar bunga untuk bu Wini. Wanita itu juga hobi berkebun. Memanfaatkan sebagian kecil pekarangan rumah untuk menanam berbagai macam jenis bunga. "Terima kasih, Bu." Satu minggu kami selalu menghabiskan waktu bersama, membuatku bisa melihat sisi hangat bu Wini. Ternyata bu Wini tak segalak yang kubayangkan waktu pertama kali bertemu. Bu Wini yang awalnya begitu menutup diri dari jangkauanku, perlahan menunjukkan kepedulian terhadapku. "Kapan mulai kuliah?" tanya Bu Wini. "Mulai minggu depan, Bu." Ekor mataku menangkap anggukan kepala Bu Wini. Tangannya masih terampil menata bunga di vas yang lain. Sedang matanya fokus dengan

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Suami-Istri

    "Oh ya, Mas. Soal pengasuh buat ibu, alhamdulillah sudah dapet." Anita mengambil jas dan tas dari tangan laki-laki di depannya yang baru memasuki rumah dengan koper di tangan kirinya. "Oh, baguslah. Terima kasih ya," jawab laki-laki itu. "Iya, sama-sama. Sudah seharusnya, Pa." "Icha sudah tidur?" "Sudah. Dia keliatannya seneng banget dengan pengasuhnya ibu. Dari sore tadi sejak dia datang, Icha main di rumah ibu." "Oh, ya? Tumben, biasanya Icha kan enggak mudah akrab sama sembarang orang," ujar Erik. Ia sedikit heran. "Iya, itu. Anaknya menyenangkan kelihatannya. Semoga saja ibu cocok sama dia." Erik mwnganggukkan kepala. "Amin, oh ya anak Papa satu ini rewel tidak?" Erik beralih menatap istrinya. Dieluanya perut Anita yang sudah membuncit. "Enggak, Pa. Dede cuma lagi kangen sama Papa. Papa kapan punya waktu buat kita?" ucap Anita dengan menirukan suara anak kecil. Erik masih mengelus perut Anita. Ia membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya tepat di depan perut Anita. "Maafin

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jalan

    “Ibu juga minta maaf, selama kamu tinggal di sini baik perkataan ataupun perbuatan ibu sengaja atau itu menyakiti perasaanmu. Ibu doakan semoga harapanmu tercapai ya,” ucap Bu Luluk saat aku berpamitan dengannya.“Sama-sama, Bu. Saya yang terima kasih, Ibu sudah bersedia menampung Mey selama ini. Saya permisi dulu. Ini kuncinya.” Aku menyerahkan kunci kamar pada Bu Luluk. Setelah itu aku pergi meninggalkan rumah lantai dua yang terletak di samping kos yang aku tempati.Langkahku terhenti begitu sampai di samping pagar. Aku membalikkan badan, menatap kembali bangunan bercat abu-abu yang sudah menjadi rumah bagiku selama lebih dari satu tahun ini. Meskipun singkat, tapi di sinilah aku belajar tentang hidup. Bahwa hidup tak hanya berpusat dengan duniaku. Bukan hanya aku yang menderita selama ini, bukan hanya aku yang merasa terikat selama ini. Semua orang punya beban hidup yang berbeda-beda. Dan di sini aku melihat banyak orang de

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jalan Tuhan

    “Hai...” sapaku sambil melambaikan tangan. Gadis kecil itu tak membalas. Ia mendongak ke arah Mbak Nelly.“Icha... ini Mbak Mey temannya Mbak,” ucap Mbak Nelly lembut. Gadis itu beralih menatapku lalu melambaikan tangan. “Hallo, Mbak... Aku Icha.”“Cha... sudah dibilangin, kalau habis main diberesin.” Suara wanita terdengar nyaring terdengar. Aku dan Mbak Nelly menoleh ke arah sumber suara, melihat seorang wanita di balik dinding pembatas menenteng keranjang plastik sambil memunguti mainan yang berceceran. Wanita itu belum menyadari kedatangan kami.Mbak Nelly menunduk menatap gadis mungil yang berdiri di depannya. “Kak Icha nakal ya?” Mbak Nelly berbisik. Gadis itu meletakkan telunjuk di depan bibir mungilnya. Memberi isyarat agar lawan bicaranya diam.“Sana bantuin Mama, kasian adik bayi di perut, lho.” Icha menekuk wajah, ia berbalik meninggalkan tempatnya berdiri. Aku dan Mb

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Kesempatan

    Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakar

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Laki-laki itu

    Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Maaf

    Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status