LOGIN"I'm not the jealous type. But what's mine is mine. I could kill for what's mine. No one has the right to kiss you, touch you, or care for you. That's what I was born to do." His words echoed in the depths of my soul. "I'm leaving, and you can't stop me!" I tried to put up a fight, but it was all futile against his dominating form. "The only way you can leave me is through death. And even after you die, even the devil will make sure you serve me in hell because I am his master," A sinister smile spread across his face. That was the moment I knew I was doomed. *** Lance and Viella have been married for four years without conception. Enduring the persistent nagging from Lance's mother was becoming hell on earth for Viella, and the only way she could live a happy life was to get pregnant by any means possible to produce an heir for the Rollins family. The perfect plan was set in motion, and Viella brought in a surrogate to bear a child for them while she pretended to be pregnant. This was the biggest secret they were to guard with their lives. But what happens when this secret not only spills but Viella loses her husband to the surrogate? What happens when Viella finally finds a man who is ready to burn the world for her, only to be haunted by the demons of her past? Let's find out in this toe-curling romance story of love, betrayal, and lust.
View More"Pa, aku nggak mau! Memangnya aku masih anak kecil??"
Seorang gadis bertubuh mungil, berwajah imut dan manis sedang berdiri di hadapan meja kerja ayahnya. Melayangkan protes terhadap keputusan baru yang dibuat pria berusia lima puluh itu secara sepihak atas dirinya.
Gadis itu bernama Arsy Zeline Kirania. Panggilan sehari-harinya adalah Arsy. Perempuan cantik berusia 24 tahun yang kerap kali mengalami body shaming terselubung dari setiap kalimat yang diucapkan orang-orang yang ada di sekelilingnya, terkait tubuh mungilnya itu.
'Wah, udah dua empat toh, tapi mungil banget ya kamu?'
'Seriusan kamu anak pascasarjana? Kok kayak adek tingkat aku?'
'Aku salah beli baju nih, Sy. Kebeli ukuran S. Kamu mau nggak? Aku kasih deh, nggak usah bayar.'
Keputusan ayahnya, Demian Akira Wijaya, barusan pun tentu saja masih berhubungan dengan fisiknya yang dia anggap sebagai sumber segala masalah tersebut. Bahkan semua orang pun beranggapan demikian.
Mengingat belakangan Arsy suka cerita ke mamanya kalau dia sering digoda oleh lawan jenisnya di kampus, baik itu juniornya, seniornya, tukang ojek, security, kedua orangtuanya pun merasa gadis itu mulai perlu ada penjagaan. Seseorang yang bisa mengawasinya selama Arsy tidak berada di rumah.
"Apa-apaan ke kampus pakai bodyguard? Nanti aku dikira sombong banget loh, Pa, Ma." Gadis itu masih merengek, berusaha menggoyahkan keputusan ayahnya yang sebenarnya cukup dia tau tidak akan bisa ditawar lagi.
"Sudah, papa dan mama tidak mau lagi mendengar kamu dikuntit oleh laki-laki nggak jelas. Disiul-siulin tukang ojek pangkalan. Keputusan kami sudah bulat, Sayang." Sarah, ibunya, memilih untuk menjawab karena ayahnya tidak kunjung bersuara.
Arsy sudah hampir menangis saat ibunya menekankan bahwa keputusan mereka sudah bulat. Bagaimana mungkin dia kemana-mana harus dikawal seseorang. Bagaimana nasib kebebasannya nanti? Memang sihh, dia tidak akan clubing, bolos kuliah, atau melakukan hal bandel lainnya, tidak. Itu bukan dirinya. Tapi 'kan kalau ngapa-ngapain harus diikuti dan diawasi seseorang, jatuhnya horor bukan sih? Apalagi barusan ibunya mengkonfirmasi jika pengawalnya nanti akan ikut masuk ke dalam ruang kelasnya saat dia kuliah. Whattt??!
"Pokoknya aku nggak mau. Terserah Mama dan Papa mau marahin aku. Aku udah dewasa, Ma! Tolong ngertiin aku juga. Aku nggak mau orang-orang jadi takut berteman sama aku gara-gara bodyguard itu."
Arsy meninggalkan ruang kerja ayahnya tanpa peduli orang tuanya akan mengira dia tidak sopan. Kabur saat pembicaraan belum selesai, terlebih lagi itu dengan orang tua, adalah hal buruk yang tidak sepatutnya dia lakukan. Namun kali ini Arsy cukup marah pada kedua orang yang dia panggil mama dan papa itu. Mengapa mereka seperti tidak memikirkan apa efek bodyguard itu dalam statusnya di kampus nanti? Bisa-bisa dia akan menjadi mahasiswa perdana yang akan selalu membawa ekor (pengawal) ke universitas. Entah itu bisa dibanggakan, atau malah akan mempermalukan dirinya.
*****
Sebelas dua belas dengan kejadian di rumah Wijaya, hal serupa pun terjadi di kediaman Gunawan. Orang kepercayaan Demian di perusahaan.
Sebuah penolakan keras tak ayal dilayangkan seorang laki-laki muda dan enerjik, berusia kitaran tiga puluh dua tahun, terhadap ayahnya yang entah ada angin apa mendadak memberikan satu tugas aneh kepadanya. Menjadi seorang bodyguard untuk putri bos papanya di kantor.
What?? Apa-apaan itu? Sejak kapan dia punya look yang cocok sebagai bodyguard? Dia bahkan tidak punya keterampilan untuk menjaga orang lain. Lagian kenapa juga papanya punya ide sampai ke sana? Bukankah papanya juga tau kalau dia sedang merintis karirnya? Dia adalah seorang Legal Manager di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perbankan. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang bodyguard?
"Pokoknya bapak Demian maunya kamu, Van. Papa juga nggak tau kenapa."
"Papa bilang usianya berapa? Dua puluh empat? Bagaimana mungkin Papa menyuruhku menjaga anak kecil?"
"Ayolah, kamu bisa menganggapnya sama seperti Dina, adikmu."
"Beda jauh, Pa! Dina itu cuma selisih tiga tahun dari aku. Anak bos papa itu masih ababil. Lagian papa tau 'kan, karirku sedang bagus sekarang?" Sorot mata tajam Evan semakin menunjukkan aksi penolakannya. Dia sedang mengejar impiannya untuk bisa menjadi staf legal di sebuah bank BUMN terbesar di negeri. Tentu saja dia tidak akan berhenti hanya gara-gara dipaksa menjadi seorang bodyguard.
"Iya, Papa tau, Van. Tapi 'kan ini hanya enam bulan. Sampai Arsy wisuda kuliah magister. Soalnya kata pak Demian, putrinya suka diganggu pria-pria di kampusnya. Setidaknya dia bisa lulus dengan tenang saja. Itu permintaan pak Demian."
"Memangnya dia tidak punya pacar?" Evan kembali bertanya dengan tidak sabaran. Semisal anak kecil itu punya kekasih, kenapa tidak minta kekasihnya saja yang menjaga?
"Tidak punya. Arsy itu anak yang pendiam. Penyendiri. Dia hanya fokus pada studinya. Dia juga belum pernah pacaran. Kata pak Demian sih begitu. Ah sudah lah! Pokoknya kamu harus ke rumah pak Demian besok. Kalau kamu khawatir soal karir, beliau sudah berjanji akan mengangkat kamu jadi staf legal di perusahaannya nanti."
Evan menyugar rambutnya ke belakang. Seenaknya saja mengatur jalan hidup orang lain, umpatnya kesal. Dia sudah menargetkan satu nama bank yang dia inginkan. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk masuk ke dalam perusahaan tempat ayahnya bekerja.
"Besok Arsy kuliah pukul sembilan pagi. Kamu harus sudah ada di kediaman Wijaya setengah jam sebelumnya."
Gunawan menyudahi obrolan dengan puteranya yang masih kebingungan. Maksudnya apa sih? Terus aku harus resign dadakan tanpa ada angin atau hujan? Aku akan dicap sebagai karyawan yang benar-benar tidak punya etika. Umpat Evan dalam hati. Dia benar-benar kelewat kesal.
*****
Keesokan paginya di kediaman Demian Akira Wijaya. Sepasang suami istri sudah berada di meja makan untuk melakukan sarapan pagi bersama. Di hadapan mereka juga sudah duduk seorang pemuda tampan berpakaian casual yang akan ikut sarapan bersama mereka.
"Terimakasih, Nak. Kamu sudah bersedia menjadi penjaga untuk Arsy. Maafkan kami kalau permintaan kami terlalu berlebihan. Kamu pasti terbeban dengan ini." Sarah mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap Evan. Dia dan suaminya sangat tau, jika kemarin Evan juga menolak permintaan konyol mereka saat Gunawan menyampaikan hal tersebut. Evan berat meninggalkan karirnya, begitu katanya.
"Sama-sama, Bu. Semoga saya bisa menjalankan tugas saya dengan baik." Evan terlalu malas berbasa-basi. Dia menjawab ucapan Sarah straight to the point. Tadi dia sudah menandatangani kontrak selama enam bulan dengan gaji yang sangat fantastis. Gaji bulanannya selama menjadi pengawal gadis berusia 24 tahun itu hampir empat kali lipat dari gaji yang biasa dia terima di kantornya. Beban di pundaknya pun teramat berat sekarang.
"Van, kalau semisal nanti kamu butuh apa-apa terkait tugas kamu menjaga Arsy, katakan saja. Telepon Sarah."
"Baik, Pak. Laksanakan." Baru juga sebentar, sifat ajudan Evan sudah keluar. Jiwanya seakan sudah dibeli dengan uang.
"Arsyyy, Arsenn! Kalian kok belum turun-turun juga?" Sarah memanggil putera puterinya dengan sedikit lantang dari meja makan. Ah, Arsen adalah putera sulung mereka yang kini berusia 28 tahun, seorang arsitektur muda yang sedang merintis perusahaannya sendiri.
"Iya, Ma. Ini mau turun kok," jawab suara perempuan dari lantai dua. Evan bisa memastikan itu adalah Arsy. Sungguh tidak terbayangkan, mulai hari ini dia akan menunggu tuan putri itu setiap pagi. Sungguh hal yang membosankan. Juga membuang-buang waktu!
Derap langkah kecil terdengar beberapa saat kemudian. Suara itu berasal dari tangga yang ada di belakang Evan. Dari suara langkahnya, dia yakin itu adalah langkah seorang perempuan.
"Nah, Van, itu Arsy!" Kata Sarah dengan senyum di wajahnya.
*****
LANCE."Mr. Lance?" Mr. McVin's voice pulled me out of my regretful thoughts.I cleared my throat, scanning the board members seated around the polished glass conference table. They were all waiting for me to speak. "Yes. You can get on with the plan. If you'll excuse me," I added, my tone making it clear that there was no room for further discussion.As the acting CEO of Nexara Technologies, a leading firm in technology and innovation, I knew the pressure that came with it. We were the best when it came to tech startups and software development, and I intended to keep it that way. But life wasn't as perfect as people might assume.I'd worked tirelessly for the success of this company, and I couldn't help but hope deep down that my father would wills it to me.It had been five years since my father, Bernard Rollins, retired, and I took over. Taylor, on the other hand, had Regal Reality Estates, one of the leading real estate companies in the country, though not as massive as Nexara.L
VIELLA.My mind was a whirlwind of uncertainty, my thoughts darting in a hundred directions.The ache in my chest wasn't just from the small argument I'd had with Lance before he drifted off to sleep but from the haunting recollection of Hansel.His gaze—cold, intimidating—lingered in my memory, its impact still potent despite all the years that had passed.I shook my head, trying to brush the stubborn memory away. It's been years. Besides, he'd hurt me more than I would ever like to forgive him for. My crumbling marriage needed saving right now. Hansel should be the last person on my mind.I had been pondering over Hansel's words for the past few days. I had also tried my best to heed his advice.In the last five days, I'd visited Noralie three times. That was very unlike me. I'd also made a conscious effort to keep Lance from visiting her too often.I glanced over at Lance, watching him sleep peacefully. The temptation to approach him, to reach out and make an advance tonight, was o
VIELLA."Babe. What are you doing here? Didn't I ask you not to come?" Lance said, his tone unnervingly calm.Wasn't he even concerned that I had just walked in on another woman's head resting on his chest? Was this supposed to be normal? My heart raced as a whirlwind of thoughts clouded my mind."Ma'am Viella," Nora's small voice snapped me out of my spiraling reverie. "I'm glad you're here."Before I could react, the pale-looking girl hurried over and wrapped her arms around me in a desperate embrace.Guilt hit me like a brick wall. Nora looked so innocent. What was I even thinking? How could I suspect there was anything inappropriate happening between her and Lance?Heat crept into my cheeks as embarrassment settled in."Noralie? What's wrong? How are you feeling?" I asked, inhaling deeply to steady myself."I feel so sick. My stomach hurts. My head feels light. I feel nauseous. My whole body aches. My joints..." Nora's list of complaints tumbled out, each one making me feel worse.
VIELLA'S POV.I glanced at the clock again for what felt like the hundredth time that night. It was past midnight, and Lance still wasn't home. His phone had been unreachable all evening, and the fact that I hadn't heard from him only deepened my worry. I paced the large sitting room, my heart hammering in my chest. Each second that passed seemed to amplify my anxiety.This was becoming normal, and I didn't like it.Three weeks ago, we had carried out the plan. Everything was set. Noralie was fully pregnant with our baby.Hansel had done a flawless job, as expected. He was our family doctor, and I trusted him completely. We had known each other since high school—teenage nonsense, really.By the time Hansel returned from the UK, after earning a reputation as one of the best gynecologists in the country, all those silly feelings from our youth had long since faded. I was already happily married when he returned, but we reconnected professionally – against my will, though, because my hus












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews