LOGINLily Carter never expected the clumsy tourist she rescued from black diamond slope to have the bluest eyes she’d ever seen or a smile that made her chest ache. Teaching him to ski was supposed to be easy. Keeping her feelings in check? Not so much. Jake seems sweet, awkward and almost too grateful for her time… but he’s hiding something. Because Jake Rylan isn’t just another tourist—he’s one of the most powerful billionaires in the world. She’s falling for the man behind the mask. He’s terrified she’ll hate him when the truth comes out. When secrets melt and sparks turn into fire, will their story end with heartbreak or a love worth more than all the billions in the world?
View MoreArtan Narendra melihat dengan seksama secara jeli wanita yang kini duduk di depannya. Malam ini, untuk yang ke-sekian kalinya ia melakukan kencan buta atas permintaan sang mama.
Seperti malam-malam sebelumnya, kencan buta yang ia jalani gagal begitu saja akibat ulah dan ucapannya sendiri yang tak bisa terkontrol.
Artan sendiri adalah sosok pria dingin dan terkenal angkuh. Keras kepala, mulutnya juga terkenal pedas dalam berucap.
Tapi tak di pungkiri jika ia sosok pria yang sangat tampan dan perfeksionis. Sikap rasa kurang percaya terhadap orang lain yang di miliknya lah yang membuat ia sampai saat ini masih melajang.
Cinta?
Oh, jangan pernah tanyakan pada Artan apa itu cinta? Karena sepertinya ia sendiri pun tak mengerti apa arti dari kata cinta itu.
Apakah Artan pernah jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan dengan wanita?
Ya, Artan tentu saja pernah menjalin suatu hubungan yang di sebut berpacaran. Tapi, bagi Artan itu hanyalah sebatas rasa saling suka dan cinta-cintaan. Alias cinta monyet.
Sudah lama sekali Artan tak pernah merasakan hal itu lagi. Terakhir kali
Artan menjalin sebuah hubungan saat dia duduk di bangku SMA kelas dua.Selebihnya Artan lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Melajang adalah pilihan terbaiknya sampai kini umurnya menginjak 30 tahun ia tetap sendiri.
Rasanya Artan tak bisa lagi merasakan perasaan saat seperti waktu sekolah dulu. Entah saat itu mungkin bisa di sebut sebagai kenakalan remaja. Tetapi, yang pasti ia sangat menikmatinya.
Lalu, apakah Artan tak menikmati kehidupannya yang sekarang? Tentu saja tidak, ia bahkan sangat suka hidupnya yang seperti ini.
Namun ketenangan Artan akan terus di ganggu sang mama yang terus merengek memintanya untuk segera menikah dan memberinya cucu. Artan juga sudah bolak-balik menegaskan jika ia tak ingin terikat ataupun menjalin komitmen yang namanya pernikahan.
Kerena prinsip hidup Artan sekarang ialah sendiri dalam ketenangan.
Apakah Artan punya masalalu buruk yang menyakitkan sehingga membuat ia tak ingin mengenal cinta dan wanita?
Tidak, sama sekali tidak. Intinya, pilihan hidup Artan sekarang adalah melajang menikmati hidup dalam kesendirian.
"Artan!" panggilan itu menyadarkan Artan dari lamunannya dan kembali pada kenyataan saat ini.
"Ya?" tanyanya cuek.
"Apa kamu melamun?"
"Tidak!" lagi Artan menjawab singkat dan terkesan sangat cuek. Kentara sekali aura dingin yang keluar dari nada bicaranya sehingga membuat wanita teman kencannya itu terdiam seraya menggigit bibirnya.
"Ehmm, siapa namamu? Aku lupa." kata Artan enteng, karena sebenarnya ia memang lupa nama wanita itu.
"Suzan,"
"Ah iya, Suzan. Sejak tadi kita duduk di restoran ini tapi hanya diam dan tak memesan makanan. Apa kau tidak lapar?"
Suzan terkekeh. "Sebenarnya, aku belum makan dari tadi pagi."
"Oh ya?" kaget Artan bertanya. "Bagaimana mungkin kau bisa melupakan makan. Apakah kau tidak merasa lapar dari pagi belum makan?"
"Aku tipe orang yang jarang makan sebenarnya."
"Kau sedang dalam program diet?" Suzan menggeleng.
"Aku kadang suka kelupaan waktu. Seperti makan saja aku bahkan sampai lupa jika ke asyikan melakukan hal yang ku suka."
"Uhm, begitukah? Pantas saja tubuhmu kurus sekali seperti orang yang kekurangan gizi."
Sengaja Artan mengeluarkan kata ultimatum pertama yang menyakitkan. Hal itu tentu saja agar Suzan marah dan membenci dirinya serta membatalkan acara kencan buta gila ini.
Sialnya Suzan malah tertawa menanggapi ucapan Artan. "Aku bersyukur dengan diriku seperti apa. Aku juga tak suka gendut Artan."
"Sayang sekali, padahal orang gendut itu menurutku enak. Badannya terasa montok untuk di peluk, iya kan?"
Suzan tersenyum. "Sepertinya begitu."
"Jadi, apakah kau tidak suka bentuk tubuh seperti diriku?" tanya Suzan.
Artan menatap perhatian penuh pada diri Suzan seraya mengelus-elus dagunya. Gaya dan tatapannya seakan sedang menilai penampilan orang tersebut. Suzan harap-harap cemas menunggu reaksi dari penilaian Artan padanya.
Disaat Artan sedang mencari celah dari diri Suzan, saat itu juga mata Artan menangkap sosok wanita yang sepertinya malam ini bisa di jadikannya sebagai alat bantu untuk dirinya keluar dari lingkaran kencan buta ini.
Oke, Artan selesai pada penilaiannya dan bersiap untuk menjawabnya.
"Suzan, aku harus bagaimana mengatakannya padamu?" ucap Artan dengan wajah sendu.
"Tak apa, katakanlah Artan." pinta Suzan penasaran.
Artan melirik wanita yang sedari tadi telah ia incar, wanita itu seperti sedang mencari-cari keberadaan seseorang. Terlihat dari gaya celingak-celinguknya yang menatap ke segala arah tempat di restoran ini.
Artan menunggu wanita itu yang berjalan hampir dekat dengan mejanya sekarang.
"Kau tidak membuatku bernafsu padamu, Suzan. Oh, maafkan aku." kata Artan dengan mimik wajah sedih dan penuh penyesalan.
"APA?!!!" teriak Suzan kuat seraya berdiri dari duduknya.
Suzan marah sekali mendengarnya, ini termasuk penghinaan atas harga dirinya. Berani sekali pria ini merendahkannya, apakah ia pikir kencan buta ini dilakukan agar Suzan bisa membuatnya bernafsu pada dirinya.
Shitttt!
Plakkkk.
Dengan rasa amarah yang luar biasa merasuki diri Suzan, wanita itu melayangkan kuat tangan kanannya menampar pipi kiri Artan.
"Berengsek kau! Apa kau pikir aku seorang jalang, huh? Dasar bedebah."
Segala cacian, makian, dan umpatan pun berhasil Suzan keluarkan untuk Artan. Dengan cepat dan tak ingin membuang waktu lagi karena saat ini mereka sedang menjadi tontonan para pengunjung restoran lainnnya. Suzan meraih tasnya dan bersiap pergi, namun suara Artan menghentikan langkahnya di tambah suara pekikan seorang wanita.
"Dasar kau wanita gila!" itu suara Artan yang sengaja memancing kemarahan Suzan.
Suzan berbalik dan melihat senyuman seringaian Artan yang sedang menggenggam tangan seorang wanita. Wanita itu sendiri yang belum di ketahui namanya meronta-ronta minta untuk di lepaskan.
"Jika kau berpikir aku menyesal maka kau salah. Karena wanita ini!" tunjuk Artan ke arah wanita yang memang sudah di incarnya itu.
"Dia adalah kekasihku!!!" teriak Artan mengumumkan jika wanita yang tak di kenalnya itu adalah kekasihnya.
Suzan geleng-geleng kepala dan langsung melesat pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan apapun lagi. Ini jauh lebih menyakitkan dan Artan tersenyum puas penuh kemenangan.
Tanpa Artan sadari, inilah awal dari segala kekacauan selanjutnya.
Tbc...HENRY Jake Ryland. The news said he was alive. Married. Happy. Married to a woman who damn well wasn’t Lily. My stomach twisted. I’d been there. I’d watched them sign those papers in that tiny advocate office, watched Jake kiss her, watched them drive off to Lily’s cabin in Aspenridge. I had pictures. I’d come here looking for some record—any sign of what had happened to Jake after the storm. But the staff were tight-lipped, and every computer I tried to snoop past had a firewall that laughed in my face. I needed a miracle. That’s when the elevator dinged behind me. I turned, my breath hitched. A woman stepped out, walking slowly, hand resting over her abdomen as if she were steadying herself. Pale, exhausted, bundled in a coat far too thin for the weather. She kept her head down, but I would’ve recognized that hair anywhere, that posture. Lily. Alive. I froze. My limbs forgot how to operate. I opened my mouth to call her name. But a doctor burst out behind her, c
The universe had a twisted sense of humor. Henry knew this because the last time he’d tried calling Jake and Lily—his two favorite chaos magnets—their phones had simultaneously died, and then he had nearly died on the highway trying to get to Aspenridge through a blizzard that looked like Mother Nature had a personal vendetta against him. He’d left the city in a rush, muttering to himself the entire drive.Barely two days after returning from the secret wedding and the tabloids had already gotten the news.The close up picture of them three in that small office proving they had been followed since the beginning. But when the reception died, when every attempt to reach them hit a dead end, the laughter dried in his throat. By the time he reached the mountain pass, a black SUV appeared out of nowhere—blinding lights, screeching tires. It blocked the road, cutting him off so abruptly he nearly skidded into a snowbank. His heart slammed into his ribs as a man stepped out. No badge.
LILY By the time Mr. Collins shut the apartment door behind us, my legs had stopped cooperating. The adrenaline that pushed me through the crowd, through the cameras, through the unbearable sight of Jake standing a breath away yet oceans apart—vanished. All that was left was a trembling shell of a body that wanted to collapse. “Sit, Lily,” Mr. Collins urged softly. I did. The old couch sagged beneath me, familiar and worn and safe in a way nothing else in my life was anymore. My heartbeat was still erratic, thudding hard enough to echo in my ears. Outside the window, the city lights blurred behind the fog of exhaustion. He paced for a moment, hands on his hips. “You could’ve been trampled out there. What were you thinking, going to that madhouse?” “I had to see him.” The words scraped out of me, raw and bruised. Mr. Collins’s expression shifted— a quiet understanding he didn’t dare voice. He slowly took the armchair opposite me. “You cared for him.” Not a question. A gen
JAKE The elevator doors slid open with a soft chime that echoed strangely in my bones. It was my first day back. My first step into the life everyone insisted belonged to me. The executive floor stretched out in polished glass and muted lighting, sleek and impressive in a way that should have sparked pride. Instead, all I felt was a dull pressure behind my ribs, a sensation like I was trespassing on a memory I couldn’t access. My assistant greeted me with an efficient smile, rattling off the morning’s schedule, but her voice drifted behind me as I stepped into the office that had supposedly been mine for years. The moment I crossed the threshold, a strange heaviness settled over me. Everything was perfect, but none of it felt lived in. The air held a sterile chill as though the room had been sealed shut for months. I moved slowly, letting my fingertips drift across the glass desk, the bookshelves, the metal edge of the chair. Every surface was familiar in shape yet foreign in
LILY Darkness pressed against the cabin windows when I stirred. My body ached, my head throbbed, and my chest still felt tight from the panic attack. For a moment, I didn’t know where I was. Then reality hit me—Jake. Our vows. The snow-dusted ridge. The baby growing inside me. The advocate office
LILY Eventually the cold forces me to move. My body aches from kneeling in the snow, my clothes soaked through, but none of it compares to the ache behind my ribs. I walk back down the ridge in a daze, the ruined registry office burned into my vision like an afterimage. When I reach the cotta
LILY “Miss Carter,” the older one says with a nod. “I’m Detective Rowan. This is Detective Vale. We’d like to ask a few questions about the night of your accident.” Accident. The word ricochets through my mind like a bullet. I wet my lips, throat raw. “I… I don’t remember everything.” “That
LILY PRESENT The moment the SUV went dark, the world outside blurred into white. Snow. Wind. Silence. Jake cursed under his breath, slamming the ignition again, but the dashboard stayed dead— like the storm had swallowed the engine whole. My heartbeat didn’t pound.It exploded. Because th












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.