MasukAdelynn is left with no choice, but to get married to a CEO, in order to clear off her father's huge debts. Six months into their marriage, she encounters her exboyfriend, Jensen. He becomes dangerously obsessed with getting her married to him. With this agenda on his mind, he tries to get rid of Dominic, Adelynn's billionaire husband. When she realizes that she's in love with both men, she has to make a crucial decision. Will she choose to save her marriage with her billionaire husband or will she give in to her desires to be with her exboyfriend who is also her boss? When the truth about Jensen's crooked personality is revealed and Dominic's intentions come into play, what is Adelynn willing to do for the sake of love? Guys, please check out this book. I'm not going to disappoint, I promise.
Lihat lebih banyakTerkadang kenangan indah itu sulit dilupakan.
🥀🥀🥀
"Mas Ilham!" teriak Aisyah sembari membuka mata. Napasnya memburu seperti seorang yang selesai berlari.
"Astagfirullah, aku mimpi lagi," gumamnya.
Azan Subuh berkumandang jelas di mesjid yang tak jauh dari rumahnya. Aisyah mengatur napas lebih dahulu sebelum bangun dari tempat tidur.
Ia membawa langkah ke arah kamar mandi, mengambil wudu dan bersiap melaksanakan salat Subuh sebagai kewajibannya pada Ilahi Rabbi.
Dalam heningnya Subuh, Aisyah menikmati waktu menghadap Sang Khalik. Meresapi setiap gerakan demi gerakan salat hingga akhir, lalu memanjatkan doa.
Di atas hamparan sajadah, ada beberapa doa yang Aisyah pinta. Salah satunya, ingin selalu dimudahkan dalam segala urusan. Termasuk mencari rezeki untuk keluarganya.
Salat selesai, Aisyah membuka mukena, dan menyimpan di tempatnya kembali. Ia pun keluar kamar hendak menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Bu Fatimah --Ibu kandungnya-- tampak sedang berjibaku dengan penggorengan. Aisyah mendekat, lalu berkata, "Ibu sudah sehat?"
Bu Fatimah menoleh ke samping. Lengkung senyum bagai bulan sabit ia perlihatkan pada anak semata wayangnya. "Alhamdulillah, sudah, Nak."
Lega. Begitulah gambaran hati Aisyah. Ia yang sehari-hari harus bekerja dan meninggalkan sang Ibu sendirian di rumah pun tak perlu khawatir sepanjang hari kembali.
Aisyah dengan cekatan membantu ibunya. Bu Fatimah sehari-hari membuat aneka gorengan, nasi uduk, nasi kuning untuk dijual di depan rumah mereka. Pekerjaan ini telah Ia lakoni sejak Aisyah sekolah SMA sampai sekarang.
"Nak, pulang kerja nanti, beliin Ibu kebutuhan rumah, ya," pinta Bu Fatimah. Tangannya sibuk menggoreng bakwan di wajan. "Nanti pakai uang hasil jualan aja. Punyamu ditabung."
Aisyah mengulas senyum. "Hari ini aku gajian, Bu. Biar aku aja yang beli."
"Tapi, Nak. Kamu juga pasti punya kebutuhan pribadi. Apa lagi kamu harus mencicil hutang bekas pengobatan Almarhum Ayahmu dulu."
"Kebutuhan kita jauh lebih penting dari pada kebutuhan pribadiku, Bu."
Rasa haru bercampur bahagia menyeruak dari hati Bi Fatimah. Didikannya begitu tertanam baik di diri Aisyah. Mereka mungkin miskin harta, akan tetapi tidak dengan hati.
Waktu terus berjalan hingga jam dinding rumah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Dengan dibantu Aisyah, Bu Fatimah membuka jualannya di depan.
Satu per satu pelanggan datang. kebanyakan dari mereka adalah tetangga sekitar. Nasi uduk buatan Bu Fatimah sudah tersohor di perumahan tersebut. Selain rasanya enak, porsinya pun cukup banyak.
Aisyah pamit ke kamar untuk bersiap-siap berangkat kerja. Tepat pukul O7.00 WIB, Aisyah berangkat setelah menyantap seporsi nasi uduk buatan ibunya. Ia mencium tangan Bu Fatimah, lalu berkata, "Aku berangkat dulu, Bu. As-salamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Fatimah.
Sebuah motor matic berwarna pink adalah satu-satunya kendaraan yang Aisyah gunakan untuk operasional selama ini. Kendaraan itu ia beli dengan uang cash hasil bekerja, meski hanya motor second.
Lalu lintas kota Jakarta begitu ramai di pagi hari. Terlebih, hari Senin menjadi hari yang paling sibuk untuk semua orang.
🌸🌸🌸
Di gerai GraPARI, Aisyah hanyalah pekerja biasa yang menjadi Call Center salah satu telepon seluler.
Sebagai seorang Call Center, Aisyah dituntut harus bisa berkomunikasi baik dengan semua pelanggan. Tak jarang, ia harus tetap tersenyum. Meski, raganya sedang dilanda kelelahan.
Seperti pagi ini, Aisyah baru saja sampai meja. Beberapa teman seprofesinya pun menyapa satu per satu, dan Aisyah menjawab dengan baik.
"Aisyah, kamu semangat banget hari ini," ucap Erka --teman sebelahnya. Matanya menatap tajam pada Aisyah. "Seneng, ya, karena mau gajian."
Aisyah tertawa kecil. "Kamu bisa aja. Perasaan aku selalu semangat setiap hari."
"Eh, Aisyah, sepulang kerja anterin aku nyari baju buat kencan, yuk?" Erka menoleh ke samping, melengkungkan senyuman manis seolah merayu pada Aisyah. "Aku nggak punya baju nih."
"Astagfirullah. Terus yang numpuk di lemari kamu itu apa namanya?" Aisyah menggeleng, heran.
Erka tertawa kencang sehingga menyebabkan karyawan lain memperhatikan interaksi keduanya.
"Itu mah baju lama, Aisyah. Masa mau kencan pake baju jelek," tukas Erka membela diri.
"Kamu ini ada-ada, Ka."
"Jadi mau nggak?"
"Boleh aja, tapi jangan lama-lama. Aku harus belanja kebutuhan rumah pesanan Ibu."
"Asiap, Aisyahku tercinta. Kamu memang teman paling the best." Erka mengacungkan jempol ke arahnya.
Mereka pun memulai bekerja semana mestinya. Menjawab semua pertanyaan dari berbagai pelanggan dengan ramah. Sesekali selalu ada pelanggan yang rewel, akan tetapi itulah risiko dari sebuah pekerjaan.
Desas-desus terdengar dari satu mulut ke mulut yang lain, bahwa akan ada SPV baru menggantikan Pak Irfan yang telah pensiun beberapa hari lalu. Kabarnya, SPV pengganti ini masih tergolong muda. Kira-kira usianya dibawah 30 tahun. Cukup muda untuk seukuran seorang lelaki lajang.
Erka, si biang gosip pun turut andil dalam menyebarkan kabar segar tersebut. Para karyawan wanita penasaran bagaimana wajah manager mereka yang baru.
"Katanya, sih, orangnya cakep banget," ungkap Erka yang mendapatkan kabar dari temannya yang bekerja di kota Semarang. Kebetulan, SPV baru tersebut mutasi dari kota tersebut.
"Ah… yang bener kamu, Ka." Wanita berseragam sama dengan Erka pun tersentak. "Kamu nggak lagi bohong, kan?"
"Ya Allah, kapan aku bohong, sih, Ras."
Ya, wanita itu bernama Rasti --teman sebelah Erka. Gadis berambut panjang yang sering dikuncir kuda itu berpikir keras. Bukannya Erka sering mengerjainya selama ini. Jadi … wajar saja jika ia kurang percaya.
"Yang kemarin. Katanya ada diskon di kedai makanan sebelah, tapi kenyataannya bohong," tegas Rasti.
Erka mengeluarkan tawa kecil. "Kamu pendendam amet, Ras. Aku, kan, cuman bercanda."
"Bercandamu kebangetan, Ka!" ketus Rasti.
"Ya, maaf, deh."
Di sela-sela kesibukan, dan menunggu telepon dari pelanggan. Terkadang mereka saling berkomunikasi untuk menghibur diri dari penatnya pekerjaan.
Aisyah berdiri, rasa ingin buang air kecil tak bisa tertahan. Ia pun berjalan cepat ke arah toilet yang berada di belakang lantai dasar. Hari ini kantor begitu sibuk. Ada 10 Call Center yang bertugas, dan semuanya selalu menerima telepon dari setiap pelanggan.
Aisyah mempercepat hajatnya. Ia tak ingin terlalu lama meninggalkan meja yang akan menyebabkan fatal baginya. Ya … dia harus selalu siap sedia ketika ada telepon masuk.
Sekembalinya Aisyah, netranya mendapati seorang lelaki bertubuh atletis sedang mengangkat telepon di mejanya. Suara lelaki itu ramah dan sopan. Aisyah tersadar, ia pun mendekat.
"Baik. Terima kasih sudah menghubungi kami." Lelaki itu menutup sambungan telepon, mendongakkan kepala ke atas memperhatikan Aisyah dengan tatapan sulit diartikan.
"Kamu yang bekerja di meja ini?" tanyanya tegas.
Aisyah mengangguk. "Iya, Pak."
Semua orang menatap ke arah Aisyah. Berharap gadis berjilbab merah itu tidak mendapatkan teguran di hari pertama SPV mereka bekerja.
"Jangan terlalu lama meninggalkan mejamu. Bekerjalah secara profesional!" ujarnya tak kalah tegas dengan yang tadi.
"It's amazing" Adelynn said, a smile on her face. Dominic embraced her from behind. "I know, right? I'm so glad it's all over" he said as he watched their son, Kyle, and Austin's daughter play with a bunch of building blocks. "You know, marrying you has proved to be one of the best choices I've ever made" Adelynn stated and her husband grinned. "How do you feel?" He asked. She turned to give him a kiss on the cheek. "I feel--- I feel happier than ever and it's all because I'm married to the love of my life" Adelynn told him. "I feel the same way too, Adelynn. I wouldn't trade you for anyone else, love" he whispered in her ear. Austin and his wife, Rielle, stood few metres away, watching the couple with big smiles on their faces. "They look so happy" Rielle breathed. "They deserve it" Austin grinned. ... DOMINIC Knowing Adelynn changed me. I was a lonely teen with a horrible chi
"I'm going to send you an address and you'll have to meet me there. But, you will have to come alone. Trust me, you won't like what would happen to your husband if you either failed to show up or failed to come alone""O-kay. Send me the address" Adelynn responded, fear sinking into her heart.The line went dead and Jensen grinned at Dominic."She will be here soon and I'm going to make her mine. You won't be able to do a damn thing about it" Jensen said and blew a whistle. Six men walked in and approached Dominic. While Jensen left the basement, they began to beat up Dominic, viciously..... "No, Adelynn. I can't let you do that. If you go to him, you will be walking right into a trap. Dominic trusted me to keep you safe and that's what I plan on doing" Giovanni said to a frustrated Adelynn. "I can't just sit back and do nothing! My husband is probably in pain right now and the more we wait, the more the s
"What was Jensen like when you two were still dating?" Thea asked. She was reclining by the pool with Adelynn. "Jensen was very nice, understanding and loving at first. But as our relationship grew, he couldn't stay away from me. I thought it was because he loved me so much. He also started to make sure that I was nowhere around any guy, including my best friend who he actually killed"Thea's gaze softened."I'm so sorry""I guess I was blinded by my so called 'love'. I didn't disapprove whatever Jensen said was right. He was controlling my life and I continued to ignore it. It was so easy for him to turn me against Dominic. He made me label my husband as the villain" Adelynn said and Thea sighed."Well, I'm glad that you were finally able to turn away from your toxic relationship with Jensen"Adelynn smiled sadly."I treated Dominic wrongly, but he refused to be swayed. He ref
"Hey" Adelynn said to Dominic who had just opened his eyes. She took his free hand in hers and pressed a kiss to the back of his palm. "How are you feeling?" She asked."Numb" he rasped."Austin told me what happened" She told him and he exhaled slowly, his eyes briefly fluttering close."I didn't want you to worry""You could've gotten badly hurt, Dom" Adelynn pointed out. "I was well aware of the fact that things could suddenly go south. But, Rielle's life and that of her unborn child was at stake" Dominic stated.Adelynn let out a sigh. "I know. I just--" she drew in a shaky breath, her eyes misting over."Hey, look at me. I'm right here" her husband assured her, giving her hand a little squeeze. "Everything happened so fast, Dominic. I've never been so scared"After a brief pause, Adelynn lowered her gaze."There's something you need to know" she said to him and his gaze l






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.