"...but I love someone else". "You're getting married to Valerie Kings next week and that's final" Valentino Preston, a 26 year old young lad who is the CEO of Preston empire, the biggest empire in Washington Dc. He's in love with Mariana Kings, Valerie's cousin. But things change when he finds out he's getting married to his lover's cousin. How will he deal with it? Will he love her or not??.
Lihat lebih banyak"Mas, aku hamil!" ucap Queenza pada sang suami, dengan tangan yang bergetar ia menyodorkan sebuah testpack pada suaminya.
Ervan yang tengah asik bermain game mendongakkan kepalanya. Ia menatap Queenza dan juga testpack itu secara bergantian. Ia lalu berdiri dan mendekati Queenza.PLAAKK!Ervan menampar keras pipi Queenza sampai Queenza terhuyung dan jatuh ke atas lantai.Queenza terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang berdenyut. Ia sekuat tenaga menahan tangisnya. Hati Queenza sakit teramat sakit. Karena bukan senyuman bahagia dan pelukan hangat yang ia dapatkan dari sang suami, akan tetapi tamparan keraslah yang ia terima."Sial! Kenapa kamu bisa hamil? Kamu itu bodoh atau bagaimana sih! Aku kan sudah beberapa kali bilang, pakai alat kontrasepsi! Kenapa kamu gak nurut? Atau ini memang rencana kamu? Kamu pikir dengan kamu hamil, aku akan mencintai kamu? Jangan mimpi! Sampai kapanpun aku gak akan pernah mencintai kamu. Ngerti!" ucapnya dengan sinis. Ia lalu pergi begitu saja dari kamar itu.Saat Ervan melewati Queenza yang masih terduduk, bukannya membantu Queenza untuk berdiri ia malah menendang tubuh Queenza agar tak menghalangi jalannya."Mas! Kamu mau ke mana? Ini sudah malam!" seru Queenza saat ia melihat suaminya yang hendak membuka pintu.Ervan menoleh dan tersenyum menyeringai, "Bukan urusanmu aku mau pergi ke mana. Yang perlu kamu urus sekarang adalah janin yang ada di dalam perut sialanmu itu! Lebih baik kau musnahkan bayi itu! Aku gak sudi memiliki keturunan darimu!" ujarnya sarkas sambil pergi melangkah dan membanting pintu dengan keras.Queenza menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka kehidupannya akan berubah drastis seperti ini. Ia pikir ia akan hidup bahagia bersama Ervan, walaupun mereka menikah karena terpaksa dan tak saling mencintai, ia pikir mungkin dengan kehadiran bayi ini, Ervan akan berubah. Namun, nyatanya tidak. Ervan masih tak peduli padanya dan menganggap dia hanya hewan peliharaan. Bahkan hewan peliharaan saja masih lebih mulia dibanding dia.Queenza memegangi perutnya. Ia berjanji tak akan menggugurkan bayi yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya. Ia akan mempertahankan bayi itu bagaimanapun caranya. Apapun yang terjadi, ia akan melindungi bayinya.Keesokan harinya.Queenza yang merasa tak enak badan tidak langsung bangun dan masih meringkuk dibalik selimut. Karena pusing dan mual yang ia rasakan membuat ia menjadi lemas dan tak bertenaga.Beruntungnya Ervan semalam tak pulang jadi Queenza bisa beristirahat sejenak sebelum melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun, ketenangan yang Queenza baru rasakan sejenak, harus sirna kala ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Ia tau siapa itu, tapi ia enggan untuk bangun karena tubuhnya yang terasa lemas.Queenza terkejut saat Ervan menarik tangannya dengan kasar dan menyeretnya ke dalam kamar mandi.Setelah sampai di kamar mandi, Ervan mengisi bathtub dengan air dingin. Saat bathtub itu sudah terisi penuh Ervan menjambak rambut Queenza dan melelepkan kepala Queenza ke dalam bathtub itu. "Bangun sialan! Dasar pemalas.""A-ampun Mas! Ampun!" Dengan napas yang memburu ia berucap saat Ervan melepaskan kepalanya dari air. Ia meraup oksigen sedalam-dalamnya.Ervan tak berucap apa-apa lagi dan pergi keluar dari kamar mandi begitu saja.Queenza bergegas mandi dan berganti pakaian, ia tak ingin membuat kesalahan lagi dengan membuat Ervan menunggunya untuk sarapan.**Queenza yang tengah asyik memasak dikejutkan dengan suara seseorang dari arah belakangnya."Tumben kamu baru masak jam segini?" tanya orang itu sambil membuka pintu kulkas. Ia lantas membawa sebotol air mineral dari dalam kulkas itu."Ah ... i-iya, ta-tadi saya bangunnya kesiangan," ucap Queenza dengan terbata. Ia merasakan gugup dan juga canggung dengan kakak iparnya ini."Kenapa kamu selalu gugup seperti ini? Bukannya kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu," bisiknya tepat di telinga Queenza.Queenza tersentak dan jantungnya berdetak dengan cepat kala ia mengigat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu.Queenza yang hendak tertidur namun urung saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Ia pikir itu Ervan sang suami dan ia pun membiarkannya saja.Queenza memutuskan untuk menutup kembali matanya. Tapi ia terkejut saat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dan dengan nakalnya tangan itu bergeliara di dadanya.Queenza yang tengah membelakangi orang itu pun berpikir, jika itu adalah suaminya dan membiarkannya saja. Ia dengan cepat mematikan lampu tidurnya karena tak ingin sampai sang suami mengamuk karena tak dimatikan lampunya saat mereka akan bercinta.Ervan memang sering kali marah jika mereka akan melakukan hubungan suami istri dengan lampu yang terang. Dan selalu menginginkan kamar gelap gulita. Karena Ervan selalu berucap tak ingin melihat wajah Queenza yang menjijikan menurut Ervan.Tangan yang semula hanya bergeliara di dada Queenza kini turun ke bawah.Kecupan-kecupan nakal Queenza rasakan di lehernya. Ia merasa senang dan menikmatinya."Mas, Kamu abis minum ya?" tanya Queenza saat orang itu sudah melepaskan pagutan bibir mereka."Hmm!"Tak lama kemudian lelaki itu segera melepaskan baju Quenza dengan perlahan. Ia menciumi seluruh tubuh Queenza.Queenza yang terlena dengan cumbuan itu hanya menggeram nikmat. Ia merasakan keanehan dengan suaminya ini. Namun ia tak ingin memikirkannya, karena ia sudah terlena dengan cumbuan-cumbuan yang memabukan dari lelaki yang kini tengah berada di atas tubuhnya.Saat kejantanan sang lelaki itu menghujam milik Queenza. Queenza sempat mengerang kesakitan karena merasakan sesak di bawah sana."Mas ... Ahh sa-kit!" ucap Queenza saat senjata lelaki itu terus menghujam milik Queenza.Lelaki itu memelankan temponya dan dengan segera melumat kembali bibir Queenza yang sedari tadi tak bisa diam.Queenza mengernyitkan keningnya. lagi-lagi ia merasa aneh dengan lelaki yang kini ada di atasnya ini. Tak biasanya suaminya ini mendengarkan rintihannya. Dan membuat ia rileks serta membuat ia menikmati permainan mereka.Biasanya Ervan selalu mementingkan kepuasannya sendiri, tapi kali ini suaminya itu mendengarkannya.Tapi lagi-lagi Queenza mengenyahkan pikiran itu karena saking nikmatnya permainan mereka.Tiba puncaknya mereka berdua pun mencapai klimaks bersama.Setelahnya lelaki itupun turun dari atas tubuh Queenza dan berbaring di sisi Queenza.Queenza hendak menyalakan lampu tidur. Namun tangannya segera ditarik oleh lelaki itu dan membawa Queenza dalam dekapannya yang hangat.Queenza yang baru pertama kali merasakan dekapan hangat sang suami pun urung untuk menyalakan lampu dan memilih menikmati malam yang indah ini.Pagi harinya.Queenza yang masih merasa nyaman dengan dekapan sang suami enggan untuk bangun. Ia pun semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu. Akan tetapi indra penciumannya yang tajam mengedus bau parfum yang berbeda dari tubuh yang kini tengah ia peluk itu."Apa Mas Ervan ganti parfum? Wangi banget deh, meskipun semalam sudah berkeringat," gumam Queenza sambil terkekeh pelan. Ia terus mendusel-duselkan hidungnya di dada bidang itu.Lelaki yang dipeluk Queenza merasa terusik, ia pun mengerjapkan-ngerjapkan matanya. Perlahan ia melihat sekelilingnya. Keningnya mengernyit kala ia melihat ruangan yang asing baginya. Dan saat ia hendak bangun. Ia terkejut melihat seorang wanita yang tengah memeluknya dan ia pun memeluk wanita itu."Kamu siapa?" tanya lelaki yang tengah Queenza peluk itu."Queenza yang tengah menikmati aroma tubuh lelaki itu pun mendongakan kepalanya. dan Ia sangat terkejut saat melihat siapa yang tengah ia peluk saat ini."Queenza,""Mas Dimas,"Ucap mereka berdua bersamaan. Mereka sama-sama terkejut dengan apa yang sudah terjadi.Queenza tak pernah menyangka jika yang semalam ia kira suaminya itu, ternyata kakak iparnya.Lamunan Queenza buyar saat ia mendengar bisikan seseorang di telinganya."Jangan kebanyakan ngelamun! Nanti masakannya gosong," bisik Dimas tepat di telinga Queenza. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan dapur.Queenza menatap punggung Dimas yang mulai menjauh. Ia pun memegangi perutnya dan bergumam, "Apa jangan-jangan ....?"It was afternoon the next day, Valerie just finished acting a scene and Megan called it a day for her.Valerie watched as Megan spoke to the directors with a sad look.Megan hasn't spoken to her as a friend since last night's incident...anytime she wants to speak to her, she'll speak as her manager and not her friend and it's bothering Valerie."See you next week. Have a nice day", Megan bid the directors goodbye with a smile on her face.When she turned to meet Valerie, the smile disappeared and she put on a straight face. Valerie saw this and bit her lips."Let's head home", Megan said as professionally as she could."C'mon don't tell me you're still angry with me?", Valerie asked"I don't know what you're talking about, I'm in the car", Megan said and walked awayValerie sighed and went after her and joined her in the car.The driver started the car and drove off. Valerie and Megan sat at the back bu
"I'm sure you know why I called you here", Mary said. "Yes", Valerie replied. "Good. Look, I know it's not your choice to marry Valentino but we insist on you both getting married", Mary said"And why's that? I mean he's dating my cousin Mariana and they're so in love..why don't you just let them get married", Valerie asked."I know all of that but we don't want your cousin, what we want is you. You have to get married to Valentino", Mary said.Valerie stared at the woman in front of her in disbelief. "But I don't have an ounce of feelings for him...you're not my family so you don't get to decide who I get to spend the rest of my life with. Marriage isn't something one will just jump into like that", she said exactly the way it was in her mind."I know that and I know you're not comfortable with the decision but you'll learn to love him when you both marry. He's a good boy", Mary advisedValerie wanted to turn her down but her thirst for
There was silence as everyone sat down in the sitting room. The exchange of invisible daggers through eye contacts made the environment tensed."So you finally snatched the most important thing in my life", Mariana spoke out harshly. "Point of correction, I didn't snatch anything or anyone from you", Valerie calmly corrected."You shameless slut, haven't you got any remorse for what you did...you seduced Valentino into marrying you. I hope you're happy now", Avery fired."Dad, say something", Mariana said. Charles cleared his throat and stared at the women in front of him. He knew if he doesn't say the right thing, two of them were ready to attack him."Valerie, how did this happen? You never told us you had eyes on Valentino...what's this we're hearing", Charles asked"Uncle I never had eyes on Valentino, how can I have anything to do with Mariana's fiance. I'm also shocked by the news but I promise I didn't do anything", she explained t
A black Lamborghini stopped in front of a huge company and five men dressed in black marched towards the car and one of them opened the door.A shiny black shoe popped out of the car first before the entire body came out. He was dressed in a blue tuxedo and was putting on black sunglasses. He adjusted his suit before walking into the company.Alex, his assistant followed him from behind with his suitcase and they were escorted by bodyguards.The whole company was rowdy and noisy because the staff was discussing with one another but when they heard those footsteps they became silent and comported themselves. The once noisy place became as silent as a graveyard."Good morning President Preston", they greeted in unison and no one dared look at him directly because of fear of losing their jobs.Aside from that they could feel an unfriendly aura being emitted from Valentino and tension was in the air.Valentino ignored the greetings a
It was Monday, the first working day of the week and everyone was either on their way to work or to school.Sounds of vehicles moving and people chattering were heard as people hustled and bustled the streets of Washington Dc.In a large pinkish bedroom could a petite feminine figure be spotted on a big bed and she was deep in sleep.*knocks* *knock*Megan knocked on the door but got no reply. She sighed before pushing the door open. She wasn't surprised when she saw Valerie still in bed.Knowing the type of person Valerie was, she was a deep sleeper...She brought out a whistle and blew it near Valerie's ear startling her.Valerie jerked from her bed in fear and frowned when she saw Megan next to her."I've told you countless times to wake me up gently...do you perhaps want to kill me by increasing my blood pressure", Valerie askedMegan looked at her without feeling remorse. "Get up, you're late for your photo shoot with M&M Cosmetics", she said."Shoot", Valerie exclaimed when she h
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Komen