Share

Mengobrol Lagi

Author: Kim Soraya
last update publish date: 2026-09-15 23:29:24

Hari-hari di sekolah berjalan dengan cara yang aneh untuk dua insan yang terpaksa menjadi asing kembali. Bukan sunyi yang berat, tapi juga bukan damai sepenuhnya.

Nayara dan Arkana tetap berada di dunia yang sama, sekolah yang sama, lorong yang sama, tapi seolah bergerak di garis paralel. Kadang mereka duduk jarak dua meja di kantin tanpa saling menyapa, karena memang merasa tidak perlu ada yang membuka obrolan, kadang mereka masih sering papasan seperti biasanya dan hanya berlalu atau sekadar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Forced to be Yours (Maid)   Goodbye My Lover

    Keisha sampai mengguncang bahu Nayar saking senangnya. "Sejak kapan lu bisa main piano? Dasar gila." Ia mengacak-acak rambut Nayara sebagai bentuk haru sekaligus bangga. Nayara tersenyum kikuk. Ia sempat melirik ke arah Arkana yang langsung memalingkan wajah. "Gue ke toilet dulu ya, Kei." Pamitnya. Ia segera beranjak dari kursi untuk menuju ke toilet. Ekor matanya sempat menangkap mata Arkana yang mengikuti langkahnya dari kursi. Namun, Nayara tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh. Pesta itu berlangsung cukup lama. Kali ini, Nayara tidak memilih pulang dan meninggalkan pesta lebih dulu seperti di pesta ulang tahun Arkana waktu itu. Kali ini, ia bisa bertahan sampai pesta resmi selesai. Keisha menyalakan layar ponselnya yang menyala sambil menyapu parkiran yang mulai sepi dengan matanya. "Lu jangan pulang sendiri. Udah malem." Pinta Keisha pada Nayara dengan nada setengah khawatir dan setengah galak."Kan gue emang sering pulang sendiri, Kei. Malam juga biasanya gue pulang sendir

  • Forced to be Yours (Maid)   Hidden Talent

    Nayara bisa menyesuaikan diri di pesta malam itu. Ia bahkan mengambil segelas minuman dan cheers ke beberapa orang yang ada di sekitarnya sambil tersenyum ramah. Mereka menyambut dengan senyum yang tak kalah ramah. Setelah cheers ke beberapa orang di sekitarnya, langkah Nayara tiba-tiba berbelok. Ia melangkah sedikit lebih jauh, menembus jarak yang selama ini sengaja dibiarkan ada. Ia menghentikan langkah tepat di depan Arkana. Ia tersenyum tipis tanpa ragu. Lalu tanpa kata, ia mengangkat gelasnya ke depan. Arkana sempat terkejut sepersekian detik. Namun, ia cepat sadar dan ikut mengangkat gelas untuk menyambut gelas Nayara. 'Cling'Suara kaca bertemu terdengar kecil. Tapi entah kenapa, terdengar nyaring di kepala keduanya dalam ruangan megah itu. Nayara meneguk minuman lebih dulu sebelum berlalu dari hadapan Arkana begitu saja tanpa sepatah katapun.Arkana masih berdiri di tempat tanpa bergerak sedikitpun. Menatap punggung Nayara yang menjauh. Dadanya kembali berdering melihat p

  • Forced to be Yours (Maid)   Eye Contact...

    Setelahnya, hari-hari berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, tidak ada yang berubah, dan tidak ada yang berkembang. Kabar pesta ulang tahun besar-besaran kembali meledak di seantero sekolah. Kali ini, Aurel yang berulang tahun. Pestanya digelar besar-besaran dan nyaris membuat seisi sekolah datang. Tentu saja Nayara harus turut hadir karena ajakan Keisha yang sedikit memaksa. Lampu-lampu gantung, musik yang hidup, meja panjang penuh makanan dan camilan. Konsepnya terlalu familiar bagi Nayara. Begitu ia melangkah masuk, dadanya langsung bergemuruh aneh. Flashback: "Lu tau nggak berapa harga cookies yang lu makan itu? Seratus lima puluh ribu untuk satu cookiesnya." "Lebih baik gue jadi pembantu, daripada harus makan kue dari orang sombong kayak lu." Flashback Off Memori kecil itu muncul tanpa izin. Ulang tahun Arkana. Hoodie yang Nayara kenakan. Tatapan pertama yang dingin. Nada bicara yang sama sekali tidak ramah. Dan tentu saja, drama kecil yang entah kena

  • Forced to be Yours (Maid)   Peduli Namun Semakin Asing

    Meski Arkana menolak dibawa ke UKS, Dimas dan Vano tetap gigih menggiring tubuhnya ke sana. Perawat memeriksa keadaan cowon itu dengan teliti. Untungnya, Arkana dikatakan hanya perlu beristirahat dan jangan melakukan aktivitas berat selama beberapa hari sampai pilih sepenuhnya. "Denger, tuh. Lu harus istirahat, harus rajin minum air, harus... apa lagi ya?" Dimas memasang tampang pura-pura berpikir. "Lu harus rajin gerak dan jemur di matahari pagi juga." Ia malah sengaja meledek jahil. "Berisik. Gue yang sakit, kenapa lu yang repot?" Protes Arkana dingin."Gue kan mewakili. Kalau ada Nayara di sini pasti dia bakal lebih..." Dimas langsung menghentikan ucapannya saat Vano reflek menendang pergelangan kakinya. Arkana langsung mendongak. "Lebih apa? Lebih khawatir?" Ia tersenyum tipis. "Mustahil." Sahutnya pahit. Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dia pasti khawatir kok. Tadi dia khawatir banget dan reflek mau nolongin." Sahutnya menghindari tiba-tiba. Vano menepuk pundak

  • Forced to be Yours (Maid)   Arkana Sakit?!

    Besoknya, sekolah berjalan seperti biasa. Nayara melangkah seorang diri dengan tegap dan tenang sambil memegang sebotol minuman dingin di tangannya. Ia berjalan ke arah kantin.Geng Arkana ada di sana dengan pasukan lengkap seperti biasa. Tapi Arkana sendiri tidak ada di sana. Nayara sempat melirik ke arah mereka sebelum lanjut melangkah dengan santai. Tak berniat memikirkan tentang kenapa Arkana tak ada di sana. Lebih tepatnya, hatinya sedang lelah untuk bereaksi. Keisha sedang tidak bisa menemaninya karena ia sedang membagi waktu dan sudah waktunya ia menemani Ravin. Nayara tidak pernah protes, karena memang ia tidak pernah untuk ditemani. Hari itu berlalu tanpa kejadian berarti. Sampai bel pulang sekolah berbunyi. Lorong sekolah mulai ramai. Siswa-siswi berdesakan, bunyi pintu yang ditutup kencang, suara tawa dari siswa-siswi yang berlari riang sambil bercanda. Nayara memilih keluar agak belakangan. Saat melewati lorong, ia melihat punggung yang terlalu familiar beberapa meter

  • Forced to be Yours (Maid)   Perasaan Arkana

    Arkana mendapat notifikasi ajakan untuk bergabung di pertemuan kecil-kecilan di cafe yang sudah ditentukan. Malam harinya, ia meraih hoodie santai untuk melindungi diri dari dinginnya angin malam. Di perjalanan, ia baru sadar baterai ponselnya habis dan membuatnya terlambat datang ke cafe tersebut, dan ia akhirnya memilih taxi sebagai transportasi yang mengantarnya ke cafe. Sejak siang, ponsel itu sebenarnya sudah low. Tapi ia terlalu malas memperhatikan ponselnya. Lagipula, beberapa hari terakhir, ia memang jarang memegang ponsel. Bukan karena benar-benar tidak peduli. Justru karena terlalu banyak hal di pikirannya. Makanya saat Dimas sempat mengirim pesan: "Lu di mana?" Ia bahkan tidak membacanya. Arkana nebeng mobil Vano sepulang dari cafe. Ia duduk di samping Vano yang sedang mengemudi. Hoodienya ia tarik menutup setengah wajahnya dan matanya terpejam walau ia tidak benar-benar tidur. "Tumben lu nggak bawa kendaraan apapun. Mobil lu mana?" Tanya Vano sambil fokus mengemudi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status