LOGINBlurb GoodNovel – Terjebak dalam Pernikahan Rahasia "Jangan pernah bilang siapa pun kalau kamu istriku." Itulah satu-satunya syarat Revan saat menikahi Nandita secara diam-diam. Sebagai abdi negara, satu kebocoran saja bisa membuatnya kehilangan pekerjaan. Lebih dari itu, ia akan kehilangan Aini, istri pertamanya, sekaligus ibu dari anak-anaknya. Nandita menerima semuanya demi cinta. Ia rela hidup tanpa pengakuan, menunggu tanpa kepastian, dan tersenyum meski hatinya hancur setiap kali Revan pulang ke rumah yang lain. Namun, semuanya berubah ketika dua garis merah muncul di test pack miliknya. Haruskah Nandita terus bersembunyi demi melindungi Revan? Atau sudah saatnya ia berhenti menjadi rahasia?
View MoreMatahari hampir tenggelam ketika Nandita tiba di Pantai Lasiana. Langit di atas Teluk Kupang berwarna jingga keemasan, dan deretan pohon lontar berdiri tegak seperti penjaga yang setia menunggu malam. Angin kemarau berembus kering, membawa aroma garam bercampur debu jalanan.
Perempuan berlesung pipi itu memilih bangku kayu yang paling jauh dari keramaian. Di Kupang, kota yang tidak terlalu besar, wajah seseorang mudah dikenali, dan satu tatapan yang salah bisa berubah menjadi cerita panjang di warung kopi keesokan harinya. Revan berjanji datang pukul setengah enam. Jam tangan Nandita sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Wanita berambut ikal sebahu itu merapikan selendang tenun ikat bermotif Timor di bahunya, hadiah dari Revan ketika usia pernikahan mereka genap tiga bulan. Hanya selendang itu pemberian suaminya yang bisa dikenakan di depan umum. Cincin pernikahan mereka tidak pernah melingkar di jari manisnya, tetapi tergantung pada seutas kalung tipis, tersembunyi di balik kerah baju. Selama enam bulan menjadi istri Revan, Nandita belajar banyak hal: tidak menelepon lebih dulu, menghapus riwayat pesan setiap malam, dan memanggil suaminya "Kakak" di depan orang lain seolah-olah lelaki itu hanyalah kenalan biasa. Yang paling sulit dari semuanya adalah belajar menunggu. Sedan abu-abu akhirnya berhenti di area parkir pukul enam lewat dua puluh. Seorang lelaki bertubuh tegap turun dengan kemeja dinas cokelat khaki yang lengannya digulung sampai siku. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada wajah yang dikenal. "Maaf, Dik. Rapat dengan kepala biro berlangsung lebih lama," ucap Revan. "Tidak apa-apa, Kak. Senjanya juga belum habis." Pria berahang tegas itu duduk dengan jarak sekitar satu jengkal. Di tempat umum, mereka tidak pernah bergandengan tangan. Dari kejauhan, keduanya terlihat seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi bangku. Wajah Revan tampak lelah. Garis halus di sudut matanya semakin jelas diterpa cahaya senja. "Minggu depan saya ada perjalanan dinas ke Labuan Bajo selama tiga hari. Sepulang dari sana, saya usahakan mampir." Nandita tidak menjawab. Kata usahakan sudah terlalu sering didengarnya, seperti janji yang dibuat dari pasir pantai: mudah dibentuk, lebih mudah lagi hilang tersapu ombak. Revan mengeluarkan bungkusan kecil dari tas kerjanya. "Ini. Se'i sapi dari Baun. Kamu bilang rindu, bukan?" Aroma daging asap langsung menyeruak. Senyum lebar muncul di wajah Nandita, dan lesung pipinya terlihat jelas. "Kakak masih ingat." Untuk sesaat, mereka seperti pasangan suami istri pada umumnya. Nandita bercerita tentang seorang kakek dari Oesapa yang selalu menawar harga obat seperti menawar ikan di pasar, dan Revan tertawa lepas, tawa yang jarang sekali muncul akhir-akhir ini. Lalu ponsel Revan berdering. Layar itu menampilkan satu nama yang selalu membuat dada Nandita sesak: Aini. Revan berjalan beberapa langkah menjauh sebelum mengangkatnya. "Iya, Ma... Ma, tolong pelankan suaranya... Salsa demam lagi? Saya tidak sedang bersenang-senang, Ma. Saya baru selesai rapat... Ya, ya. Saya pulang sekarang." Suara Aini terdengar melengking dari ponsel itu, cukup keras sampai Nandita menangkap kata "tidak berguna" dua kali. Bahu suaminya merosot perlahan, seperti lelaki yang terlalu lama memikul beban yang tidak terlihat. Nandita tahu, rumah bercat krem di Oebobo itu bukan tempat yang hangat bagi Revan. Setiap kesalahan kecil berakhir dengan teriakan, gajinya selalu dianggap kurang, dan anak-anak sering dijadikan alat untuk menyudutkannya. Meski begitu, Revan tidak pernah menjelek-jelekkan ibu dari anak-anaknya di depan orang lain. Justru karena itulah Nandita semakin menghormatinya. "Dik, Salsa demam. Saya harus pulang sekarang." "Pulanglah, Kak. Anak-anak lebih membutuhkan Kakak." Kalimat itu terdengar tenang, tetapi tangan yang meremas ujung selendang bergetar pelan. Lelaki bertubuh tegap itu menyentuh punggung tangan Nandita sekilas, lalu berbalik menuju mobil. Tidak ada pelukan, tidak ada kecupan di kening. Yang tersisa hanyalah lampu belakang mobil yang menghilang di tikungan Jalan Timor Raya. Rumah kontrakan Nandita di Penfui berupa rumah petak sederhana dengan dinding semen yang belum dicat dan dua batang pohon kelor di halaman. "Nona, baru pulang? Suamimu belum pulang berlayar?" sapa Mama Yohana, tetangga sebelah yang sedang menganyam daun lontar di teras. "Belum, Mama. Kapalnya masih di Surabaya." Kebohongan itu sudah diucapkan berkali-kali. Para tetangga mengira suaminya seorang pelaut yang jarang pulang, cerita yang cukup masuk akal di Nusa Tenggara Timur. Di dalam rumah, Nandita menyantap se'i itu dengan nasi dingin dan sambal lu'at buatan Tante Mariam. Makanan seenak apa pun terasa hambar jika disantap sendirian. Ingatannya melayang ke malam enam bulan yang lalu, di rumah panggung Tante Mariam di Kampung Solor. Hujan turun deras. Hanya ada segelintir orang di ruang tamu yang sempit: Nandita, Revan, Tante Mariam, Ustaz Hamid, dan dua saksi dari masjid kampung. Suara Revan bergetar ketika mengucapkan ijab kabul. Setelah kata "sah" terucap, lelaki itu berbisik, "Saya akan menjagamu, Nandita. Saya janji." Sebelum mereka pulang, Tante Mariam menarik Nandita ke dapur. "Nak, pernikahan yang disembunyikan itu seperti menyimpan bara di dalam saku. Lama-lama, kalau tidak terbakar tanganmu, terbakar bajumu. Kamu sudah siap?" Waktu itu, Nandita mengangguk dengan yakin. Cinta membuatnya merasa mampu menghadapi apa saja. Pukul sepuluh malam, ponselnya bergetar lagi. "Salsa sudah tidur. Demamnya sudah turun. Maaf untuk tadi. Terima kasih sudah selalu mengerti." Perempuan bermata bulat itu menatap layar cukup lama. Jarinya mengetik perlahan "Aku selalu mengerti, Kak. Tetapi sampai kapan aku harus mengerti?" Kalimat itu dibaca berulang-ulang, lalu dihapus huruf demi huruf. Pesan yang akhirnya terkirim jauh lebih singkat: Syukurlah. Semoga Salsa cepat sembuh. Setelah itu, seperti malam-malam sebelumnya, Nandita menghapus seluruh riwayat percakapan mereka. Tidak boleh ada jejak. Tidak boleh ada bukti. Nandita mematikan lampu dan berbaring menghadap jendela. Dari celah tirai, bulan sabit tampak menggantung di atas Bukit Cinta. Tangannya meraba cincin yang tergantung di leher, menggenggamnya erat seakan-akan benda kecil itu adalah satu-satunya bukti bahwa pernikahannya benar-benar ada. Di luar, angin kemarau terus berembus, membawa debu dan kesunyian yang sama setiap malam. Nandita terlihat terus menunggu.Revan pun langsung menarik kursi lalu duduk secara perlahan. Map biru itu diletakkannya di atas meja, tepat di depan dada bagaikan sebuah perisai terakhir yang dimilikinya. Di seberang meja, Aini tidak menatapnya sedikit pun. Wanita bermata tajam itu hanya memandang lurus ke arah para pemeriksa. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, Jari-jarinya hanya memutar-mutar cincin kawin emas yang masih melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin yang dipasangkan Revan sepuluh tahun lalu di gedung pertemuan yang penuh tamu. Di hadapan Revan duduk ketua tim pemeriksa, seorang priai paruh baya berkacamata tipis bernama Pak Yakobus Lake, Pria paruh baya itu terlihat membuka berkas di hadapan Revan. "Saudara Frans, silakan sampaikan kembali laporan Saudara." Frans membetulkan letak kacamatanya. Lalu Pria berperut buncit itu berbicara dengan lancar, seolah-olah sudah berlatih berkali-kali. Diceritakannya tentang amplop
"Bukti apa, Pak?" tanya Revan dengan suara tertahan. "Sebuah foto," jawab Pak Markus. "Foto amplop cokelat tebal di atas mejamu, bertuliskan nama sebuah perusahaan konstruksi dari Sumba. Tanggalnya Agustus tahun lalu, dua hari sebelum pengumuman pemenang proyek pembangunan gedung arsip." Revan memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari itu. Seorang lelaki dari perusahaan konstruksi datang ke ruangannya dengan senyum lebar, meletakkan amplop cokelat di atas meja, lalu pergi sebelum Revan sempat menolak. Isinya uang tunai dalam jumlah besar. Sore itu juga, Revan mengembalikan amplop tersebut ke kantor perusahaan itu di Jalan Soeharto, ditemani seorang staf keuangan senior yang menjadi saksi. "Pak, amplop itu sudah saya kembalikan pada hari yang sama," ujar Revan. "Ada saksinya. Ibu Sarlota Manafe, staf keuangan kita yang sekarang sudah pensiun." Hening sejenak di seberang telepon. "Kalau begitu, temui Ibu Sarlota sebelum hari Senin. Inspektorat membutuhkan keterangannya." R
Revan menatap wajah Salsa yang tertidur di dadanya. Napas gadis kecil itu hangat dan teratur. Jari-jarinya yang mungil masih mencengkeram kerah kemeja ayahnya.Lalu lelaki bertubuh tegap itu menatap Raka. Bocah berkacamata bulat itu menunggu dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah sudah tahu ayahnya akan pergi.Revan berdiri perlahan. Dengan sangat hati-hati, diserahkannya Salsa ke dalam gendongan Tante Rina. Gadis kecil itu menggeliat sebentar, lalu kembali terlelap. Setelah itu, Revan berlutut di depan putranya dan memegang kedua bahunya."Raka, dengar Papa. Ada orang yang sedang sakit dan membutuhkan Papa sekarang. Tetapi Papa janji, Papa akan kembali. Papa tidak akan pernah berhenti menjadi ayahmu dan ayah Salsa. Tidak akan pernah."Raka mengangguk sambil mengusap air matanya. "Janji, Papa?""Janji."Revan mencium kening putranya, lalu berdiri menghadap Aini. Perempuan bermata tajam itu masih berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada."Ancaman tidak akan membuat saya be
Revan memejamkan mata. Ponsel di telinganya terasa sangat berat.Di sampingnya, Nandita duduk mematung. Perempuan berlesung pipi itu mendengar setiap kata yang diucapkan Aini, karena suara perempuan itu terdengar jelas dari pengeras suara ponsel di dalam mobil yang sunyi."Bagaimana, Pa?" desak Aini. "Pilih sekarang. Perempuan itu atau anak-anakmu."Revan membuka mata dan menatap Nandita. Perempuan bermata bulat itu menggeleng pelan, seolah-olah berkata bahwa suaminya tidak perlu memilih dirinya. Namun, Revan sudah mengambil keputusan sejak semalam, di atas Jembatan Liliba."Saya tidak akan menceraikan Nandita, Ma."Hening panjang di seberang telepon."Saya akan tetap menjadi ayah bagi Raka dan Salsa, apa pun yang terjadi," lanjut Revan dengan suara tegas. "Tetapi saya tidak akan meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anak saya. Saya sudah cukup lama menjadi pengecut.""Mengandung?" Suara Aini meninggi. "Jadi perempuan itu hamil?"Revan tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.