로그인What happens when the man who has everything loses his moral compass? Ethan, the son-in-law of billionaire James Parker, is about to find out. As he navigates the treacherous world of wealth and power, Ethan must confront the darkness within himself and the family he's married into. Will he emerge from the shadows with a newfound sense of purpose, or will his quest for revenge destroy him?
더 보기Panggilan datang saat fajar.
Bukan ketukan. Bukan teriakan. Lonceng rendah dan dalam seperti besi bergema di sayap klinik seperti denyut nadi di tulang. Satu nada panjang. Lalu hening.
Setiap werewolf yang belum berpasangan di Benteng tahu apa artinya.
Aku membeku dengan tangan di baskom berisi valerian dan daun mint salju yang sudah dingin. Rempah-rempah itu berubah hijau di antara jari-jariku. Di seberang ruangan, seseorang menarik napas tajam. Orang lain mengumpat pelan.
“Sudah waktunya,” bisik Mirelle.
Lonceng berbunyi lagi. Lebih pendek kali ini. Serigalaku bergerak.
Bukan rasa takut. Bukan juga gembira.Dia gelisah, mondar-mandir di dalam tulang rusukku. Kukunya berbunyi lembut di tulangku. Aku menutup mata dan bernapas perlahan, seperti yang diajarkan Inara padaku. Tarik napas melalui hidung. Hembuskan napas melalui mulut. Tenangkan dirimu. Jangan biarkan naluri hewani memimpin.
Perasaan itu tidak memudar.
“Kiara.” Suara Inara tenang, tetapi matanya tajam saat ia menyeberangi ruangan. “Pergi. Ganti pakaian.”
“Aku hampir selesai di sini.”
Ia mengambil mangkuk dari tanganku tanpa bertanya dan menyisihkannya. “Ramuan herbal akan menunggu. Bulan tidak akan menunggu.”
Itu menarik perhatianku.
Di sekitar kami, sayap penyembuh mulai bergerak. Anak perempuan dan laki-laki seusiaku—beberapa lebih muda, beberapa lebih tua—berebut jubah, merapikan rambut, menggosok tangan hingga lecet. Beberapa tersenyum. Satu menangis terang-terangan, bahunya bergetar saat temannya mencoba menenangkannya.
Upacara perkawinan.
Itu terjadi sekali setiap beberapa tahun. Terkadang lebih lama. Hanya ketika bulan sejajar dengan tepat. Hanya ketika sihir kawanan mengatakan sudah waktunya.
Langka. Sakral. Mengubah hidup.
Aku sendiri pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku telah mengajarkannya kepada anak-anak dengan lutut lecet dan rasa ingin tahu yang berlebihan. Malam ini, perasaan itu terasa berat di dadaku.
Inara melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya. “Kau tak perlu berharap,” katanya pelan. “Dengarkan saja. Perhatikan. Dan ingatlah siapa dirimu.”
Aku mengangguk. Itu lebih mudah daripada berbicara.
Harapan adalah hal yang berbahaya di Citadel. Terutama bagi seseorang sepertiku.
Aku berganti pakaian dengan cepat. Gaun sederhana. Abu-abu pucat. Tanpa sulaman, tanpa perhiasan. Serigala yang belum berpasangan tidak seharusnya menonjol. Malam ini kami hanyalah wadah. Kemungkinan. Tidak lebih.
Aku mengepang rambutku erat-erat di punggungku. Praktis. Akrab. Tanganku hanya gemetar sekali, dan aku menenangkannya dengan mencengkeram tepi meja.
Denyut nadiku terasa… salah.
Terlalu cepat. Lalu terlalu lambat. Seperti mencoba menyesuaikan ritme yang bukan milikku.
Aku menekan dua jari ke tenggorokanku. Menelan.
“Tenangkan dirimu,” gumamku.
Mirelle muncul di sisiku, matanya berbinar, pipinya memerah. “Bisakah kau merasakannya?” tanyanya. “Udaranya? Rasanya seperti badai akan datang.”
“Badai biasanya tidak berbau seperti dupa,” kataku.
Dia tertawa. Gugup. “Kau selalu merusak puisi.”
“Seseorang harus melakukannya.”
Kami berjalan beriringan saat lonceng panggilan berbunyi untuk ketiga kalinya. Terakhir.
Aula-aula Benteng sudah mulai dipenuhi orang. Lantai batu bergema dengan langkah kaki. Obor menyala di sepanjang dinding, nyalanya berwarna biru karena sihir. Bendera-bendera tergantung tinggi di atas kami—hitam dan emas, lambang Blackthorn dijahit dengan benang yang berkilauan seperti api.
Kekuatan bersemayam di sini. Kekuatan itu menekanmu. Mengingatkanmu di mana kau berdiri.
Dan di mana kau tidak berdiri.
Saat kami berjalan, potongan-potongan percakapan melintas di hadapanku.
“…kudengar Pangeran Alpha akan hadir secara langsung—”
“…kata mereka ikatan itu belum terwujud dalam satu generasi—”
“…bayangkan terpilih malam ini—”
Aku mengabaikannya. Aku selalu begitu.
Pintu Aula Besar menjulang di depan, diukir dengan bulan dan serigala serta sejarah panjang kawanan kami. Para penjaga berbaris di pintu masuk, wajah mereka tanpa ekspresi, tangan mereka bertumpu pada pedang upacara. Salah satu dari mereka melirikku, lalu membuang muka.
Aku tahu tatapan itu.
Penyembuh. Pangkat rendah. Berguna. Tak terlihat.
Serigalaku berubah lagi, lebih mendesak sekarang. Panas membubung di perutku, tajam dan tak terduga. Aku tersandung setengah langkah.
Mirelle menangkap lenganku. “Kau baik-baik saja?”
“Baik.” Kata itu keluar singkat. “Hanya—lapar, kurasa.”
Dia mengerutkan kening tetapi membiarkannya saja.
Di dalam Aula Besar, udara berubah.
Lebih pekat. Berenergi. Sihir berdesir di bawah kulitku seperti kawat listrik. Langit-langit melengkung tinggi di atas kami, terbuka ke langit, tempat bulan menggantung besar dan terang—hampir purnama, cahaya perak mengalir ke dalam lingkaran yang terukir di lantai batu.
Lingkaran itu.
Setiap serigala yang belum berpasangan tertarik ke arahnya, kaki bergerak tanpa sadar. Kami mengatur diri kami di sepanjang lingkaran luar, bahu membahu, sebuah batas hidup antara ruang ritual dan pengadilan yang mengawasi.
Pengadilan sudah berkumpul.
Para bangsawan dan wanita bangsawan dengan pakaian hitam mewah. Anggota dewan duduk di singgasana berukir mereka. Para prajurit berbaris di dinding, baju besi dipoles, mata tajam. Mereka mengawasi kami seolah-olah kami adalah persembahan yang diletakkan untuk diadili.
Aku menundukkan pandanganku.
Inara benar. Harapan tidak punya tempat di sini.
Nyanyian dimulai. Suara-suara rendah. Kata-kata kuno. Jenis kata yang bergetar di tulangmu meskipun kau tidak lagi memahaminya.
Indraku menajam dengan menyakitkan.
Aku bisa mencium semuanya. Debu batu. Lilin. Darah dari luka baru di suatu tempat di dekat sini. Serigala-serigala individual. Ketakutan. Antisipasi. Keinginan.
Dan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang asing.
Denyut nadiku tersendat lagi, lalu mulai sinkron dengan ritme yang tidak bisa kukenali. Bukan nyanyian. Bukan suara drum.
Detak jantung lain.
Aku mengerutkan kening, jari-jariku mencengkeram rokku.
Ini baru.
Pendeta Agung melangkah ke dalam lingkaran, tongkatnya memukul batu sekali. Keheningan datang dengan cepat dan dahsyat.
“Bulan mengawasi,” ucapnya. “Kawanan menjadi saksi. Biarkan kebenaran muncul.”
Gelombang sihir menyebar keluar dari lingkaran. Itu menyentuh kulitku seperti listrik statis. Serigalaku mengangkat kepalanya, telinganya tegak, suara rendah bergetar di dadaku.
Tidak. Tenang.
Aku memaksa bahuku untuk rileks. Bernapas.
Ini hanya gugup. Upacara selalu seperti ini. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Aku pernah berdiri di tepi dan menyaksikan orang lain gemetar, menangis, ambruk ketika ikatan itu tidak terwujud.
Sebagian besar ikatan tidak demikian.
Itulah bagian yang dilupakan orang.
Ritual berlanjut. Nama-nama disebutkan. Darah dipersembahkan. Cahaya bulan semakin terang, memutihkan batu hingga hampir putih.
Lalu—
Pintu di ujung aula terbuka.
Semua kepala menoleh.
Perubahan di ruangan itu terjadi seketika dan terasa nyata. Sihir melonjak. Serigala menundukkan kepala tanpa disuruh. Bahkan nyanyian pun tersendat sejenak sebelum berlanjut, lebih lembut sekarang. Penuh hormat.
Aku tidak perlu melihat untuk tahu siapa itu.
Serigalaku sudah tahu.
Panas membanjiri pembuluh darahku, tiba-tiba dan dahsyat. Napasku tersengal-sengal. Irama yang tak terlihat menghantamku, terkunci di tempatnya seperti gigi pada roda gigi.
Aku mendongak.
Pangeran Mikail Kievanov melangkah masuk ke aula.
As Ethan ran, his heart pounded in his chest, and his lungs burned from the exertion. He didn't dare look back, fearing what he might see.The forest seemed to stretch on forever, the trees blurring together in a green and brown haze. Ethan's feet pounded the earth, his senses on high alert as he navigated the dense underbrush.Just when he thought he couldn't run anymore, Ethan saw a glimmer of light up ahead. He burst through the trees, emerging into a small clearing.In the center of the clearing stood a car, its engine running, the headlights casting a warm glow over the surrounding area.Ethan didn't hesitate, sprinting towards the car with a surge of hope. He yanked open the door, diving inside just as the car began to move.As the car sped away from the clearing, Ethan turned to face the driver. It was Marcus, his best friend and former business partner."Ethan, thank God I found you," Marcus said, his eyes scanning Ethan's face. "What happened?"Ethan took a deep breath, tryin
As the other car drew closer, Ethan's eyes locked on the driver's face. It was a face he knew all too well. A face that made his blood run cold.It was Victor, James Parker's right-hand man.Ethan's mind was racing with questions. What was Victor doing here? How did he find them?Sophia's eyes were wide with fear as she turned to Ethan. "What's going on?" she whispered.Ethan shook his head, his eyes locked on Victor's face. "I don't know," he admitted. "But I think we're in trouble."Victor's eyes locked on Ethan's, and for a moment, they just stared at each other. Ethan could feel the tension building, the air thickening with anticipation.And then, without warning, Victor's car swerved, blocking their path. Ethan slammed on the brakes, and their car skidded to a stop just inches from Victor's bumper.Ethan's heart was pounding in his chest, his senses on high alert. He knew they were in grave danger, but he didn't know what Victor wanted.Sophia's eyes were wide with fear as she tu
As they made their way through the dark and deserted hallway, Ethan couldn't shake the feeling that they were being watched. He kept looking over his shoulder, expecting to see someone lurking in the shadows.Sophia seemed to sense his unease and took his hand, her grip tight and reassuring. "What's wrong?" she whispered, her eyes scanning the hallway.Ethan hesitated, unsure of how to respond. He didn't want to alarm Sophia, but he couldn't shake the feeling that something was off."I don't know," he admitted finally. "I just feel like we're being watched."Sophia's eyes narrowed, her expression serious. "Let's get out of here," she said, tugging on his hand.They quickened their pace, their footsteps echoing through the hallway. Ethan's heart was pounding in his chest, his senses on high alert.As they approached the front door, Ethan could feel a sense of relief wash over him. They were almost safe.But just as they reached the door, Ethan heard a noise behind them. It was a faint
Ethan stood at the altar, his eyes locked on the beautiful woman walking towards him. Sophia Parker was a vision in white, her lace gown shimmering in the sunlight streaming through the stained glass windows of the church.As she reached his side, Ethan took her hand, feeling a surge of love and adoration. They exchanged vows, promising to love and cherish each other for the rest of their lives.The ceremony was a blur of laughter, tears, and music. Ethan's best friend, Marcus, stood by his side, beaming with pride. Sophia's father, James Parker, smiled broadly, his eyes shining with happiness.As the newlyweds were pronounced husband and wife, the congregation erupted into cheers and applause. Ethan and Sophia shared a tender kiss, basking in the joy and love surrounding them.The reception was a lavish affair, with champagne toasts, gourmet food, and a live band playing the couple's favorite songs. Ethan and Sophia danced their first dance as husband and wife, surrounded by their fr
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰