LOGINWhat happens when the man who has everything loses his moral compass? Ethan, the son-in-law of billionaire James Parker, is about to find out. As he navigates the treacherous world of wealth and power, Ethan must confront the darkness within himself and the family he's married into. Will he emerge from the shadows with a newfound sense of purpose, or will his quest for revenge destroy him?
View MoreDesing suara anak panah menembus angin bersamaan dengan salju yang turun. Para pemanah memburu tiga orang yang diduga memiliki harpa ajaib. Mereka ras yang berbeda di antara para kristal hitam. Ketiganya memiliki rambut seputih salju. Mereka tengah berlari menghindari hujan anak panah.
“Eirlys, jangan menengok ke belakang, teruslah berlari!” teriak seorang pemuda kepada gadis di depannya.
Pemuda yang jauh lebih tinggi dari gadis yang dipanggil Eirlys tersebut berhenti dan berbalik, merapalkan mantra membentuk bunga-bunga es yang menghambat laju anak panah tersebut.
“Terus berlari!” teriak pemuda tersebut kepada dua orang perempuan yang bersamanya.
Napas mereka tersengal-sengal, kepulan uap air seperti asap di setiap napas yang mereka hembuskan karena udara yang begitu dingin. Bernapas saja terasa begitu berat, sementara salju turun perlahan membuat rambut putih mereka semakin putih tertutup salju.
“Kak Lixue!” Gadis yang bernama Eirlys menoleh dan memanggil pemuda tersebut.
“Menuju ke jembatan cepat!” perintah pemuda itu.
Pemuda itu berlari menyusul kedua perempuan yang telah mendahuluinya. Berlari di atas tumpukan salju tidak mudah, setiap langkah kaki mereka melesak ke dalam salju dan perlu tenaga ekstra untuk mengangkatnya.
“Jangan biarkan mereka kabur, tangkap mereka!” seruan dari pihak lawan yang mengejar mereka. Gerombolan pria berpedang mulai melompat dan turun untuk mengejar mereka bertiga. Sementara para pemanah masih tetap di tempatnya, menarik busur mereka untuk menghalangi ketiganya mencapai istana es.
“Ambil harpanya!” seru salah satu dari mereka disertai teriakan balasan tanda setuju dengan ucapan rekannya.
“Serang mereka jangan sampai lolos!”
Desing anak panah kembali terdengar, kali ini jauh lebih sedikit dari sebelumnya. Lixue kembali merapalkan mantra. Dia menghentikan laju anak panah tersebut dengan kekuatan es, satu persatu anak panah jatuh karena membeku di udara. Beberapa dari para pemanah mulai membeku akibat mantra dari Lixue mempengaruhi mereka juga.
Kepulan uap yang keluar dari napasnya berwarna putih seperti asap putih yang terus keluar masuk setiap kali tarikan napas dan hembusannya. Udara semakin dingin. Namun, ketiga orang itu tidak merasakan dingin sama sekali, kondisi yang begitu menegangkan antara hidup dan mati membuat tubuh mereka cukup panas.
“Eirlys!” seru Lixue saat melihat gadis berambut putih itu terjatuh, terjerembab dalam tumpukan salju. Pemuda yang bersamanya langsung membantu gadis itu untuk segera berdiri sementara wanita yang jauh lebih tua diantara keduanya menghadang dan bernyanyi hingga sebuah badai terbentuk. Badai itu menyapu orang-orang yang membawa pedang hingga terdorong dan tidak terlihat lagi karena tertimbun tumpukan salju.
“Cepat, itu hanya akan menghalangi mereka sementara!”
Wanita itu adakah ratu dari istana es, Fey Varsha. Sebuah istana yang berada jauh di sebelah utara dunia bawah. Wilayah yang selalu tertutup salju sepanjang tahun hingga sebuah keajaiban terjadi beberapa tahun yang lalu. Seorang pangeran elf datang dengan harpa ajaib dan membuat wilayah bersalju ini bersemi. Untuk pertama kalinya dataran es ditumbuhi bunga-bunga indah layaknya musim semi.
“Eirlys kau tidak apa-apa?” Lixue memapah Erilys dan membawanya berlari bersamanya. Pemuda itu melepaskan liontin berbentuk harpa dan memberikannya kepada gadis berambut putih seputih salju. “Jaga ini, Eirlys!”
Gadis dengan rambut putih itu menoleh ke arah kakak laki-lakinya. Dia menggelengkan kepala. Firasat buruk tiba-tiba terasa saat menerima liontin itu, sebuah firasat akan perpisahan di antara keduanya.
“Cepat, kita kembali ke istana!” Fey Varsha memimpin dan menarik Eirlys bersamanya sementara Lixue justru terdiam dan memandang keduanya yang berlari menuju ke sebuah danau besar dengan istana es di tengahnya.
“Tunggu, Ibunda, Kak Lixue masih di belakang!” seru Eirlys. Namun, wanita dengan gaun putih seputih rambutnya tidak mengindahkan dan terus menarik tangan anak perempuannya. Dia tidak berhenti dengan semua ucapan Eirlys.
“Maaf, Eirlys, maaf,” batin Fey Varsha. Dia sudah membuat kesepakatan dengan anak laki-lakinya. Jika kondisi memaksa dan mereka tidak bisa selamat, setidaknya harpa tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka menginginkan harpa untuk kepentingan diri sendiri, menginginkan harpa untuk memperkaya diri mereka.
“Selamat tinggal Ibunda, Eirlys,” ucap Lixue dengan lirih seakan hanya berupa desiran angin. Dia berbalik menghadang para pengejarnya. Pangeran es itu kembali menyerukan mantra dan memanggil makhluk setinggi tiga meter yang terbuat dari salju. Monster salju tersebut dikendalikan oleh Lixue. Monster itu meraung dan menyerang para pria berpedang yang telah berhasil keluar dari tumpukan salju.
“Kalian ingin bertarung, ayo lawan aku!” seru Lixue.
Eirlys menoleh dan melihat monster salju yang dipanggil kakaknya. Dari sudut matanya bulir bening mulai mengalir. Air mata Eirlys jatuh membasahi pipinya.
“Kuatkan dirimu Eirlys,” ucap Fey Varsha di sela-sela derap langkah mereka. Jembatan sudah terlihat, keduanya melewati jembatan, berlari sepanjang jembatan yang melengkung di atas danau dingin sedingin es lalu mereka masuk ke dalam istana yang terbuat dari kristal es.
“Ibunda, kita tunggu kakak,” pinta Eirlys memohon. Mata gadis itu berkaca-kaca, dia tidak bisa meninggalkan kakaknya di luar bersama dengan musuh mereka.
Fey Varsha menatap anak perempuannya yang sudah sembab karena menangis. Suara teriakan terdengar. Dia melihat sebuah harapan saat makhluk salju itu telah menghentikan para pria berpedang dan tidak ada lagi hujan anak panah yang terlihat.
“Kita tunggu, Lixue.” Fey Varsha yang melihat secerca harapan menghentikan mantra yang akan dia gunakan. “Lixue, cepat masuk!” teriak Fey Varsha.
Eirlys mengangguk dengan senyuman merekah di bibirnya. “Kakak, cepat!” teriak Eirlys.
Lixue yang mendengar suara adiknya berbalik, dia merasa aman setelah para pengguna pedang sudah tertimbun salju. Dia berlari menuju jembatan. Tiba-tiba saat di tengah-tengah jembatan dia mendengar suara. Suara desingan anak panah yang mengarah pada dirinya lalu menembus tubuh remaja pemuda yang tengah berlari ke arah istana es. Anak panah yang lain dengan api membara menancap tepat di atas jembatan es yang kini menjadi pijakannya. Retakan terjadi di atas jembatan tersebut.
“Ibunda ... Eirlys,” ucap Lixue menatap keduanya. Kedua wanita itu sama terkejutnya saat melihat anak panah melesat ke arah Lixue.
“Kakak!” teriak Eirlys yang ingin berlari ke arah kakaknya.
Fey Varsha menarik Eirlys hingga gadis itu terduduk di lantai. Gadis itu hanya bisa memandangi tubuh kakaknya yang kini mulai roboh, ikut terjatuh bersama dengan runtuhnya jembatan es yang membentang dari pinggir danau menuju ke Istana Es.
“Kak Lixue!” teriak Eirlys.
Sebuah lingkaran sihir terbentuk dan menyelubungi tubuh Lixue, lingkaran sihir yang dibuat oleh Ratu Es, Fey Varsha. Sihir itu melindungi Lixue, setidaknya itulah yang diharapkan Fey untuk putranya.
“Masuklah, Eirlys!” perintah Fey Varsha.
Gerbang tertutup, sang ratu mengeluarkan tongkat sihir. Sebuah tongkat yang panjang hingga setinggi manusia dewasa, dia pun mengetukan tongkat tersebut ke lantai dan sebuah lingkaran sihir terbentuk, menyebar ke seluruh penjuru. Getaran seperti gempa bumi terasa, semakin lama semakin kencang. Istana Es mulai bergerak turun, masuk ke dalam danau perlahan-lahan.
Para pemburu yang mengejar mereka bertiga hanya bisa menyaksikan tenggelamnya istana es hingga tidak terlihat lagi. Istana Es masuk ke dalam danau dan tidak menyisakan sedikit pun keberadaannya. Sementara Lixue, tenggelam ke dalam danau yang dingin dan membeku dalam es abadi, diselimuti selubung tipis yang mempertahankan nyawanya.
Sejak hari itu Istana Es tidak ada lagi, mereka mulai melupakan akan adanya ratu penguasa es di bagian utara dunia bawah. Mereka juga melupakan adanya harpa yang pernah menjadi incaran semua makhluk karena kekuatannya. Mereka terlupakan dan hanya meninggalkan cerita yang disebut dalam dongeng. Kisah indah sang Ratu Es yang bertemu dengan Pangeran Elf hingga menjadikan dunia seindah musim semi.
Sebuah buku berwarna biru dengan gambaran istana salju ditutup bersamaan dengan lembaran terakhir cerita yang telah dibacakan. Pemuda dengan rambut hitam pendek dan mata sekelam malam menatap heran kedua anak kembar yang menatapnya. Alisnya mengerut dan mulutnya berdecak.
“Ceritanya sudah selesai,” ucap Rafael seakan mengerti tatapan keduanya.
Yui dengan cekatan menarik buku yang dipegang Rafael seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan pria itu.
“Tapi seharusnya berakhir bahagia, kan,” protes Yui membongkar dan mencari halaman selanjutnya. Nihil, tidak ada lembaran lain selain cerita yang telah selesai dibacakan oleh Rafael.
“Apa harpa itu benar-benar ajaib?” tanya Yuan menatap lurus ke arah Rafael yang tengah bersandar pada kursi.
“Entahlah,” jawaban Rafael seakan menggantung di udara. Pria itu kemudian terdiam lalu bangkit dan memilih tumpukan buku yang ada di meja. “Aku ingat sesuatu,” lanjutnya.
Rafael tesenyum dan memperlihatkan sebuah buku kepada kedua anak kembar di depannya, “Ini dia.”
“Bacakan lagi!” Kedua anak kembar duduk kembali di hadapan Rafael dan bersiap untuk mendengarkan kembali sebuah cerita tentang harpa ajaib seperti dalam judul buku yang dipegang Rafael.
As Ethan ran, his heart pounded in his chest, and his lungs burned from the exertion. He didn't dare look back, fearing what he might see.The forest seemed to stretch on forever, the trees blurring together in a green and brown haze. Ethan's feet pounded the earth, his senses on high alert as he navigated the dense underbrush.Just when he thought he couldn't run anymore, Ethan saw a glimmer of light up ahead. He burst through the trees, emerging into a small clearing.In the center of the clearing stood a car, its engine running, the headlights casting a warm glow over the surrounding area.Ethan didn't hesitate, sprinting towards the car with a surge of hope. He yanked open the door, diving inside just as the car began to move.As the car sped away from the clearing, Ethan turned to face the driver. It was Marcus, his best friend and former business partner."Ethan, thank God I found you," Marcus said, his eyes scanning Ethan's face. "What happened?"Ethan took a deep breath, tryin
As the other car drew closer, Ethan's eyes locked on the driver's face. It was a face he knew all too well. A face that made his blood run cold.It was Victor, James Parker's right-hand man.Ethan's mind was racing with questions. What was Victor doing here? How did he find them?Sophia's eyes were wide with fear as she turned to Ethan. "What's going on?" she whispered.Ethan shook his head, his eyes locked on Victor's face. "I don't know," he admitted. "But I think we're in trouble."Victor's eyes locked on Ethan's, and for a moment, they just stared at each other. Ethan could feel the tension building, the air thickening with anticipation.And then, without warning, Victor's car swerved, blocking their path. Ethan slammed on the brakes, and their car skidded to a stop just inches from Victor's bumper.Ethan's heart was pounding in his chest, his senses on high alert. He knew they were in grave danger, but he didn't know what Victor wanted.Sophia's eyes were wide with fear as she tu
As they made their way through the dark and deserted hallway, Ethan couldn't shake the feeling that they were being watched. He kept looking over his shoulder, expecting to see someone lurking in the shadows.Sophia seemed to sense his unease and took his hand, her grip tight and reassuring. "What's wrong?" she whispered, her eyes scanning the hallway.Ethan hesitated, unsure of how to respond. He didn't want to alarm Sophia, but he couldn't shake the feeling that something was off."I don't know," he admitted finally. "I just feel like we're being watched."Sophia's eyes narrowed, her expression serious. "Let's get out of here," she said, tugging on his hand.They quickened their pace, their footsteps echoing through the hallway. Ethan's heart was pounding in his chest, his senses on high alert.As they approached the front door, Ethan could feel a sense of relief wash over him. They were almost safe.But just as they reached the door, Ethan heard a noise behind them. It was a faint
Ethan stood at the altar, his eyes locked on the beautiful woman walking towards him. Sophia Parker was a vision in white, her lace gown shimmering in the sunlight streaming through the stained glass windows of the church.As she reached his side, Ethan took her hand, feeling a surge of love and adoration. They exchanged vows, promising to love and cherish each other for the rest of their lives.The ceremony was a blur of laughter, tears, and music. Ethan's best friend, Marcus, stood by his side, beaming with pride. Sophia's father, James Parker, smiled broadly, his eyes shining with happiness.As the newlyweds were pronounced husband and wife, the congregation erupted into cheers and applause. Ethan and Sophia shared a tender kiss, basking in the joy and love surrounding them.The reception was a lavish affair, with champagne toasts, gourmet food, and a live band playing the couple's favorite songs. Ethan and Sophia danced their first dance as husband and wife, surrounded by their fr












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews