登入"Gav, ini sudah pagi. Kamu harus bangun terus mandi."
"Iya tapi ini dulu diselesaikan," ucap Gavriel pelan sambil menarik tangan Gadis agar kembali memainkan juniornya.
Akhirnya Gadis memainkan junior milik Gavriel. Ada rasa syukur yang Gadis rasakan karena ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri kali ini setegang apa junior mil
Puluhan karangan bunga berjejer di sepanjang jalan menuju ke rumah orangtua Pradipta. Tidak hanya karangan bunga yang menghiasi jalan menuju rumah yang ada di salah satu kompleks perumahan tersebut, namun juga deretan mobil yang terparkir memenuhi sisi kanan dan kiri jalan. Sepanjang langkah kakinya, Gadis berusaha menahan air mata. Bagaimanapun juga mantan Papa mertuanya adalah orang baik semasa hidupnya. Beliau rajin mengikuti beberapa kegiatan organisasi mulai organisasi keagamaan hingga organisasi kemasyarakatan. Satu hal yang Gadis pelajari dari almarhum adalah beliau yang tidak pernah egois dan selalu ingat untuk menyantuni para yatim hingga memiliki puluhan anak angkat semasa hidupnya.Begitu Gadis memasuki pintu pagar rumah orangtua Pradipta, pelukan langsung ia terima dari asisten rumah tangga yang bekerja untuk keluarga ini. Meskipun awalnya Gadis berusaha tegar ta
Aryanti menatap Sudibyo yang tengah duduk di hadapannya di ruang tunggu bandara siang hari ini. Kali ini mereka masih menunggu pesawat Gadis yang akan landing beberapa menit lagi. Andai saja bukan karena permintaan suaminya, Aryanti tidak akan mau repot-repot memberitahu Gadis mengenai kabar duka ini."Ma, tolong sembunyikan ekspresi setengah hatinya Mama. Kita ke sini untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Papanya Dipta. Terlepas bagaimana dulu Dipta memperlakukan Gadis, tapi orangtuanya begitu sayang dengan anak kita dan sudah menjaganya bertahun-tahun dengan baik.""Pa, kita sudah berpura-pura tidak tahu kalo sewaktu kita ke Jogja kemarin, Gadis pergi ke Surabaya untuk menjenguk orangtua Dipta. Mama rasa itu sudah lebih dari cukup tapi Papa tetap saja kekeuh untuk hadir melayat. Sebenarnya kirim karang
Pukul 06:50 WIB Gavriel sudah turun ke dapur untuk sarapan bersama Gadis. Saat melihat ada dua buah roti maryam coklat di atas meja ditambah segelas susu mau tidak mau Gavriel tertawa."Menu sarapannya udah sama kaya anak TK aja pagi ini.""Adanya itu di kulkas. Tadi kalo kamu enggak ngajakin olahraga di ranjang juga pagi ini aku bisa buat menu sarapan yang lebih layak daripada ini."Sambil menarik kursi yang ada di ruang makan, Gavriel akhirnya duduk di sana. "Dis, kita sarapan dulu. Kamu lagi ngapain di dapur.""Lagi siapin bekal sama minum buat kamu," ucap Gadis sambil kini mulai membawa kotak makan serta sebuah botol corkcicle warna pink berisi air minum ke arah meja makan.
"Gav, ini sudah pagi. Kamu harus bangun terus mandi.""Iya tapi ini dulu diselesaikan," ucap Gavriel pelan sambil menarik tangan Gadis agar kembali memainkan juniornya.Akhirnya Gadis memainkan junior milik Gavriel. Ada rasa syukur yang Gadis rasakan karena ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri kali ini setegang apa junior milik Gavriel yang sedang tertutup selimut."Yang semangat mainnya biar aku cepet bangun.""Ini udah bangun.""Kamu tahu 'kan sekarang mesti ngapain? Masa harus aku ajarin."Rasanya Gadis ingin menggetok kepala Gavriel yang ada di hadapannya ini dengan lampu tidur yang ada di me
Hampir pukul tiga dini hari Gavriel baru sampai di rumahnya bersama Gadis. Kali ini Gavriel sengaja mengajak Gadis untuk kembali ke Jakarta terlebih dahulu sebelum ia pulang ke Solo. Tentu saja ia melakukan ini bukan hanya karena keinginannya namun juga keinginan Alena. Alena takut jika nanti Gadis akan mampir ke Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Solo. Meskipun mereka pernah berbagi keringat di atas ranjang bersama, namun tidak untuk malam ini. Gavriel membutuhkan istirahat yang sebenar-benarnya karena beberapa jam lagi ia harus kembali ke rutinitas hariannya menjadi budak corporate yang terikat jam kerja.Di saat-saat seperti ini, Gavriel iri pada kehidupan Elang dan Wilson yang bisa bekerja dengan semboyan 'seenak gue'. Namun jika ia ingin mengeluh, ia ingat ada sosok Aditya yang meskipun adalah CEO tapi memiliki jam kerja yang paling banyak dan justru tak pernah terlihat santai.
"Jauh-jauh liburan ke Bali tapi apa yang kita lakuin?" tanya Wilson disela-sela ia menyesapi kepala ikan bakar yang ada di piringnya."Ngendon di cafe setengah hari, on the way cari oleh-oleh buat orang kantor sama orang rumah," ucap Elang sambil meneruskan acara makan ikan bakarnya bersama sambal terasi matang buatan Mama Gavriel yang pedasnya benar-benar nampol di lidah. Ini sesuai dengan seleranya yang menggemari hidangan sambal uleg pedas untuk menu pendamping makannya."Tambahin lagi aktivitas kita. Masih kurang lengkap itu," ucap Aditya yang baru saja meminum air putih setengah botol karena sambal yang dibuat Mamanya Gavriel terlalu pedas untuk dirinya yang tidak terlalu suka makanan pedas."Balik ke villa terus mandi, pakai sarung dan nonton sunset
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur j
Gavriel yang melihat Alena diam saja hanya bisa menghela napas panjang. Sejak tadi temannya itu tampak sedang berpikir keras. Entah apa yang Alena pikirkan, tapi Gavriel mengira jika itu karena ia kecewa dengan penerbangan kelas ekonomi yang dirinya
Gavriel menoleh untuk melihat jam di sudut dinding kamar perawatan Gadis. Kala melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan Gadis juga tak kunjung menutup matanya, membuat Gavriel merasa sedikit khawatir.







