تسجيل الدخولDemi cinta, Amara menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen. Dengan sepenuh hati, ia berusaha memenangkan cinta suaminya. Namun, ketika mantan kekasih Tobias kembali hadir, Amara tersadar—semua pengorbanannya sia-sia belaka. Tepat di malam ulang tahun pernikahan mereka, Tobias menuntut cerai. Bahkan, ia tak segan mengancam Amara. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepaskan semua harapannya pada Tobias dan memilih pulang ke rumah untuk menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford. Saat mereka bertemu lagi, Amara dan Tobias bukan lagi suami-istri—melainkan dua rival yang saling berhadapan. "Tuan Larsen, haruskah saya mengingatkan Anda sekali lagi? Kita sudah bercerai." "Amara... itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon... kembalilah padaku."
عرض المزيد“Pria itu benar-benar keterlaluan,” gerutu Melanie saat ia dan Amara masuk ke apartemennya. Ia memang tidak melihat langsung apa yang terjadi antara Tobias dan Amara, tetapi dampaknya jelas terlihat—suasana hati Amara hancur saat kembali ke Giovanni. “Berani-beraninya dia datang dan merusak malam kita. Kalau aku bertemu dia lagi, aku akan—” “Mel,” potong Amara pelan, berusaha menenangkan sahabatnya sebelum Melanie mengatakan hal yang berlebihan. “Sudah, biarkan saja.” “Biarkan saja?” seru Melanie dengan mata menyipit tajam. Ia menatap Amara yang berjalan ke dapur, mengambil air dari lemari es, lalu menuangkannya ke dalam gelas. “Tobias sudah menyiksamu bertahun-tahun, mengancam akan menceraikanmu, dan sekarang kau menyuruhku membiarkannya begitu saja? Mana mungkin aku bisa?” Amara tersenyum tipis. “Karena aku menginginkannya,” jawabnya lembut. “Kalau aku masih memedulikannya, berarti dia menang. Jadi aku akan menganggapnya orang asing. Dan orang asing tidak layak mendapat perha
Tobias tiba di rumah sakit dalam waktu yang sangat singkat. Ia bergegas menuju meja resepsionis dan langsung menanyakan kondisi Celestine dengan raut cemas. "Kamar Nona White ada di lantai tujuh, nomor 26," jawab resepsionis itu. Ia juga menginformasikan bahwa tim dokter masih menangani Celestine karena kondisinya belum stabil, sehingga pengunjung diminta untuk menunggu sejenak. "Baik, terima kasih." Tanpa membuang waktu, Tobias berbalik dan melangkah lebar menuju lift. Langkahnya penuh tekad, meski pikirannya sedang kalut luar biasa. Apa sebenarnya yang merasuki Celestine sampai dia nekat melakukan hal semacam ini? Tobias sama sekali tidak mengerti. Ia sangat berharap Celestine baik-baik saja dan segera pulih tanpa komplikasi serius. Hanya dengan begitu mereka bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu sampai di lantai tujuh, Tobias segera menemukan kamar yang dimaksud. Ia melihat Fiona duduk di lorong. Begitu Fiona melihat kakaknya, kerutan di dahinya semakin d
Permintaan Amara wajar saja membuat Helios tertegun hingga kehilangan suara. Selama beberapa menit pertama, pria itu hanya berdiri membeku di tempatnya, tak bergerak sedikit pun, menatap Amara dengan ekspresi seolah ia sedang menunggu kalimat lanjutan—atau mungkin berharap bahwa semua ini hanyalah lelucon yang terucap di saat yang salah. Namun Amara tidak mengatakan apa-apa lagi. Tatapannya tetap tertuju pada Helios, lurus, tajam, dan penuh kesungguhan. Tidak ada senyum, tidak ada keraguan. Pandangan itu jelas menunjukkan satu hal: Amara tidak sedang bercanda. Helios mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Atau lebih tepatnya, memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru. Apakah Amara benar-benar serius memintanya untuk memukul Tobias? Satu-satunya pria yang selama ini selalu Amara perlakukan bak emas. Pria yang mendapatkan perhatian penuh darinya—perhatian yang begitu besar hingga membuat dada Helios sering kali terasa sesak dan tidak
"Tadi itu luar biasa!" puji Melanie saat Amara mulai melangkah turun dari panggung. Amara berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan tatapan Tobias yang mengikuti setiap gerakannya. "Biasa saja, kok," jawab Amara sambil tertawa kecil. Amara merasa jauh lebih santai daripada yang ia duga. "Sepertinya aku harus lebih sering melakukan ini." "Tentu saja harus," setuju Melanie. Mereka berdua berjalan menuju bar untuk memesan minuman. Sambil menunggu bartender datang, seseorang kembali mengambil kursi di sebelah Amara. Amara memutar bola matanya, mengira itu adalah pria lain yang ingin mengajaknya berkenalan. Namun, sebelum Amara sempat berkata apa pun, orang asing itu menyela. "Biar aku yang bayar minumannya." Pria asing itu menoleh ke arah Amara dan mengangkat alis. "Ini bentuk terima kasih karena sudah menghibur kami semua." Dan sesuai ucapannya, pria asing itu membayar minuman mereka lalu segera pergi, meninggalkan Melanie dan Amara yang saling bertukar pandang dengan geli






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.