登入Gadis berhenti berjalan kala Gavriel mengajaknya menuju ke sebuah SUV berwarna hijau. Meskipun bukan penggila dunia otomotif, Gadis tahu mobil yang ada di hadapannya ini adalah mobil mewah yang harganya bahkan tembus dua milyar rupiah lebih.
"Bunda, ayo kita masuk."
Bukannya terus berjalan dan masuk ke mobil, Gadis justru sudah mengaba
Hampir pukul tiga dini hari Gavriel baru sampai di rumahnya bersama Gadis. Kali ini Gavriel sengaja mengajak Gadis untuk kembali ke Jakarta terlebih dahulu sebelum ia pulang ke Solo. Tentu saja ia melakukan ini bukan hanya karena keinginannya namun juga keinginan Alena. Alena takut jika nanti Gadis akan mampir ke Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Solo. Meskipun mereka pernah berbagi keringat di atas ranjang bersama, namun tidak untuk malam ini. Gavriel membutuhkan istirahat yang sebenar-benarnya karena beberapa jam lagi ia harus kembali ke rutinitas hariannya menjadi budak corporate yang terikat jam kerja.Di saat-saat seperti ini, Gavriel iri pada kehidupan Elang dan Wilson yang bisa bekerja dengan semboyan 'seenak gue'. Namun jika ia ingin mengeluh, ia ingat ada sosok Aditya yang meskipun adalah CEO tapi memiliki jam kerja yang paling banyak dan justru tak pernah terlihat santai.
"Jauh-jauh liburan ke Bali tapi apa yang kita lakuin?" tanya Wilson disela-sela ia menyesapi kepala ikan bakar yang ada di piringnya."Ngendon di cafe setengah hari, on the way cari oleh-oleh buat orang kantor sama orang rumah," ucap Elang sambil meneruskan acara makan ikan bakarnya bersama sambal terasi matang buatan Mama Gavriel yang pedasnya benar-benar nampol di lidah. Ini sesuai dengan seleranya yang menggemari hidangan sambal uleg pedas untuk menu pendamping makannya."Tambahin lagi aktivitas kita. Masih kurang lengkap itu," ucap Aditya yang baru saja meminum air putih setengah botol karena sambal yang dibuat Mamanya Gavriel terlalu pedas untuk dirinya yang tidak terlalu suka makanan pedas."Balik ke villa terus mandi, pakai sarung dan nonton sunset
Gavriel : Gue sama Gadis langsung ke lokasi. Tolong koper gue sama Gadis bawain ke bandara. Kita ketemu di sana aja. Ini ada ikan sama ayam bakar buat lo bertiga dari Mama. Nanti kalo sudah sampai resto, biar dikirim sama babang ojek online ke villa.Elang yang baru saja membaca pesan dari Gavriel hanya bisa menghela napas panjang. Rasa-rasanya ia ingin menjadi Gavriel yang cukup mengeluarkan titahnya saja, maka apa yang ia inginkan akan terkabul."Bangke bener deh temen lo, Dit... enak di dia susah di kita.""Dia kaya gitu karena enggak mau kecewain lo. Kalo dia balik dulu ke sini buat siap-siap dan ambil kopernya doang itu buang-buang waktu. Nanti sampai sana restorannya sudah tutup."Wilson yang
Satu jam setelah pembicaraan Gadis dan Gavriel di kamar, kini Gadis sedang berjalan-jalan sore bersama Ella di sekitar rumah. Meskipun awalnya Gadis menolak untuk ikut, tapi Moanna yang menggeret tangannya akhirnya membuat Gadis mau tidak mau harus meninggalkan Nayunda yang sedang membuat sambal. Sepertinya Ella menyadari kenapa Gadis sangat canggung kala harus meninggalkan Gavriel dan Nayunda di rumah."Kamu enggak usah merasa enggak enak begitu. Aku yakin Gavriel pasti bantuin Mama. Biarin dia punya waktu sama Mama berdua buat bicara dari hati ke hati."Gadis tersenyum mendengar perkataan Ella ini. Gadis tak tahu luka batin apa yang sebenarnya Ella rasakan hingga perempuan ini masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Bahkan hubungan Ella dengan Mamanya terlihat memiliki tembok pembatas yang sangat tinggi.
Gadis menatap Gavriel dari atas sampai bawah dengan mulut yang terbuka lebar. Otaknya langsung konslet karena melihat penampilan Gavriel yang membuatnya kehabisan kata-kata. Apa yang sebenarnya terjadi hingga laki-laki ini berpenampilan ala Marilyn Monroe. Sadar arti tatapan Gadis kepadanya, Gavriel langsung sewot kepada kakaknya."Mbak, kamu itu kalo diajakin mampir toko baju ya mampir. Ini aku mesti ganti pakai baju apa?""Ogah, ngapain mampir. Biarin aja Gadis tahu kegilaan kamu sama teman-teman kamu itu kaya apa kalo sudah ngumpul jadi satu."Gadis menghela napas panjang. Kini ia menaruh pisau yang ada di tangannya.Ia tinggalkan area dapur dan menarik tangan Gavriel untuk menjauhi Nayunda yang masih menatap anaknya itu dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Begitu sa
Gadis yang melihat Nayunda sedang bertelepon di halaman belakang rumah ini menjadi bingung harus melakukan apa sekarang. Karena toh ia masih merasa bahwa dirinya dan Nayunda memiliki benteng pemisah yang cukup tinggi. Jika dulu mantan Mama mertuanya langsung memintanya membahasakan dirinya dengan sebutan 'tante' maka Nayunda masih menggunakan kata 'saya' untuk menyebut dirinya. Sikap ini bisa Gadis artikan sebagai sebuah bentuk bahwa Ayunda memang menerimanya sebagai seorang tamu di keluarganya namun belum untuk menjadi calon menantu. Mengingat dirinya cukup minim wawasan menghadapi wanita seperti Mama Gavriel, kali ini mungkin Alena bisa membantunya. Toh, perempuan itu lumayan sering menonton film serta drama. Pasti wawasannya lebih banyak tentang bagaimana menghadapi keluarga pasangan yang belum menerima kehadiran kita. Tanpa banyak mengulur waktu, akhirnya Gadis mencoba mencari kontak Alena dan langsung mengiriminya pesan.
Hampir dua jam ini Gadis terus menerus berdoa dan berharap jika Gavriel akan berhasil mendapatkan bukti rekaman CCTV di rumahnya. Terlebih ia lupa memberi Gavriel kunci utama rumah. Semoga saja Gavriel dapat masuk ke rumah.
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.