LOGINKabur dari kejaran muncikari, Isela pergi ke ibukota untuk berjumpa dengan ayahnya membawa harapan agar bisa menemukan rumah baru dan mendapatkan pengobatan pada satu matanya yang mengalami kebutaan. Namun, alih-alih diperkenalkan sebagai putri Grayson Benjamin. Isela justru diperkenalkan sebagai pelayan baru untuk ketiga anak Grayson. Isela yang tidak memiliki pilihan, memutuskan bertahan meski statusnya sebagai putri Grayson tersembunyikan. Dapatkah Grayson menerima Isela ketika dia tahu bahwa pelayan itu adalah putrinya? Atau justru Isela menemukan rumah baru dari seseorang yang datang tidak terduga dalam hidupnya?
View MoreSebuah sedan hitam bergerak cepat melintasi kegelapan malam yang berkabut, suara mesin yang kasar terdengar berdecit setiap kali dipaksakan untuk melaju lebih kencang.
Catelyna menghisap rokoknya dalam-dalam, menyebarkan asap didalam sedan yang tengah dia kendarai, wajah cantiknya terlihat penuh dengan luka lebam sampai bibirnya mengalami robekan dengan sisa-sisa darah yang mengering. Di sisi Catelyna, terdapat seorang gadis muda yang tengah memeluk erat tasnya dengan gelisah, dua pasang bola mata yang berbeda warna itu memandangi spion dengan ketakutan, dalam hatinya dia tidak berhenti merapalkan do’a agar orang-orang yang mengejar mereka tidak dapat menyusul. “Ibu akan mengantarmu sampai halte, akan ada bus terakhir yang lewat sebentar lagi menuju ibukota. Katakan pada sopirnya agar kau berhenti di taman kota, di sana kau akan bertemu dengan seseorang bernama Lilith, dia akan membawamu ke rumah ayahmu,” ucap Catelyna. “Kenapa aku harus pergi sendiri? Kita bisa pergi berdua,” bisik Isela dengan suara bergetar menahan tangisan. “Kau lupa aku ini siapa? Aku ini pelacur, mana ada orang yang mau menerima kehadiran seorang pelacur di rumahnya. Jika aku memaksakan diri pergi denganmu, kau akan kembali mendapatkan masalah karena pekerjaanku.” Bibir Isela terkatup rapat menelan kepedihan menghadapi kenyataan bahwa ini adalah malam terakhirnya bersama ibunya. “Kenapa, baru sekarang Ibu memberitahu bahwa aku memiliki ayah?” bisik Isela nyaris tidak terdengar. Catelyna menggenggam erat kemudinya, sorot matanya berubah sendu menyembunyikan begitu banyak perasaan bersalah yang sulit untuk dia ungkapkan. Ada banyak alasan mengapa selama ini dia diam, namun Catelyna tidak ingin menjelaskannya karena itu akan sangat melukai hati Isela. Ada rahasia besar yang harus Catelyna simpan, dan orang yang berhak membuka rahasia itu bukanlah Catelyna, melainkan orang lain. Sebentar lagi, rahasia itu pasti akan segera Isela dengar setelah dia berjumpa ayahnya, dan Catelyna harus siap jika pada akhirnya Isela tidak lagi bersedia menemuinya. “Kau tidak perlu bertanya apapun dan kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Ayahmu pasti akan mengobati matamu dan menyekolahkanmu. Jadi, kau tidak perlu menangisi kehidupan miskin yang akan segera kau tinggalkan, kau harus bahagia disana dan lupakan saja aku.” “Aku juga bahagia saat bersama Ibu.” “Tapi aku tidak bisa menjamin masa depanmu Isela, karena itu kau harus pergi,” jawab Catelyna dengan suara yang meninggi untuk menutupi kesedihannya. Sebagai seorang ibu yang sudah mengurus Isela selama 18 tahun lamanya, sangat berat untuk Catelyna melepas putrinya begitu saja, disisi lain Catelyna sadar bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk masa depan putrinya. Catelyna tidak akan membiarkan Isela melalui jalan yang sama seperti dirinya. Meski Isela hidup dengan uang dari ibunya menjadi seorang wanita penghibur, Isela harus harus hidup lebih baik dari Catelyna. Catelyna tidaklah membuang Isela, dia hanya mengembalikan Isela pada keluarga dan tempat seharusnya. Jari-jari kurus Isela saling bertautan dipangkuan, gadis itu membuang muka menyembunyikan tangisan pedihnya, semakin jauh mereka melakukan perjalanan, semakin dekat pula waktu perpisahannya dengan sang ibu. “Bisakah suatu hari nanti kita bertemu?” “Sebaiknya tidak perlu, setelah menjadi anak dari keluarga terhormat, kau tidak perlu mengenal orang sepertiku lagi,” jawab Catelyna menolak. Tangan Isela meremas kuat tasnya, air mata yang telah dia tahan kembali berjatuhan membasahi pipi, “Kau adalah Ibuku.” Catelyna tersenyum menelan kesedihan. “Kau boleh menemuiku, setelah nanti kau bisa membuktikan bahwa kau bisa hidup lebih baik dariku.” “Suatu hari nanti aku akan membawa Ibu dari tempat terkutuk itu,” lirih Isela kembali menangis, menyembunyikan wajahnya dibalik tas yang dia peluk. Catelyna adalah seorang penari erotis di rumah bordil, seorang wanita penghibur bagi para pria hidung belang yang mencari kesenangan. Karena pekerjaan Catelyna, sejak kecil Isela pun akhirnya tinggal di rumah bedeng kawasan bordil, menyaksikan setiap kejahatan dan kemaksiatan. Saat memasuki bangku sekolah, Isela mulai merasakan bagaimana sulitnya memiliki ibu seorang wanita penghibur, dia kerap kali menjadi sasaran bully dan mendapatkan hinaan orang-orang. Catelyna telah berusaha untuk berhenti dari pekerjaannya, namun sang muncikari tidak pernah membiarkan hal itu terjadi. Catelyna hanya boleh berhenti asalkan mampu membayar tebusan dalam jumlah yang sangat besar. Sementara Catelyna tidak memiliki siapapun untuk bisa membantunya. Kini masalah kembali bertambah, muncikari itu berencana menggantikan Catelyna yang sudah mulai tua, dengan Isela tepat setelah nanti dia lulus sekolah SMA. Semalam, Catelyna bertengkar hebat dengan muncikari itu kala mencoba mengambil Isela untuk dibawa ke rumah khusus. Sebisa mungkin Catelyna bertahan menghalanginya meski harus dipukuli sampai babak belur. Ditengah malam saat semua orang mulai beristirahat, Catelyna meminta Isela untuk segera beres-beres dan membawanya pergi meninggalkan kota dengan mobil curian milik muncikari. Isela cukup terkejut saat Catelyna bercerita bahwa dia memiliki ayah bernama Grayson Benjamin dan mulai besok Isela akan tinggal dengannya. Isela tidak dapat menolak permintaan ibunya karena dia tahu, Catelyna ingin Isela aman. Catelyna memegang erat kemudi dan berkendara secepat mungkin melewati beberapa kendaraan didepannya. “Turun Isela!” perintah Catelyna begitu memarkirkan mobilnya di depan halte perbatasan kota. Isela melompat keluar membawa tas dan kopernya, dilihatnya Catelyna dengan air mata berlinangan, menatap ibunya dengan lekat, meresapi wajahnya yang akan sangat dia rindukan. Catelyna yang telah berusaha tegar sepanjang malam akhirnya tangisannya terpecah, wanita itu mendekat terburu-buru dan memeluk Isela dengan erat, mengecupi wajah putrinya yang telah basah oleh air mata. “Jaga kehormatanmu Isela, jangan pernah seperti ibu. Jika nanti kita tidak sengaja bertemu dan kau malu melihat ibu, bersikap asinglah, ibu tidak akan pernah marah. Kau harus sehat dan selalu menjadi anak yang baik, janji Isela?” Air mata Isela kian berderai merintih pilu, Isela mengangguk dengan berat. Perlahan pelukan Catelyna mengurai, melepas pergi putrinya. “Pergilah Isela.” Kaki Isela terpaku ditempatnya, begitu berat harus pergi, satu gerakan saja kakinya melangkah membelakangi Catelyna, maka itu adalah perpisahan mereka. “Pergi Isela!” bentak Catelyna agar putrinya tidak membuang waktu. Akhirnya, Isela pun berbalik dan berlari masuk ke dalam bus yang kebetulan sudah berhenti menunggu akan akan segera berangkat. Catelyna terisak memandangi kepergian Isela yang harus dia relakan dengan ikhlas. Catelyna akhirnya memasuki mobilnya, pergi melanjutkan perjalanan untuk mengecoh orang-orang yang telah mengejarnya. Dan benar saja, van hitam yang telah mengejarnya selama berjam-jam mulai kembali terlihat dari belakang. Catelyna berkendara secepat yang dia bisa selama itu bisa melancarkan kepergian Isela. Catelyn sadar bahwa dia akan menerima hukuman yang setimpal setelah mencuri mobil dan sejumlah uang untuk bekal Isela. Catelyna tidak menyesal telah melakukannya, selama dia berhasil membebaskan Isela, itu sudah lebih dari cukup baginya meski bagian yang terburuknya dia akan dilenyapkan.Riuh suara penonton terdengar menggema di tribun. Sebuah gelanggang es, kini tengah dijadikan panggung penting untuk para pair skating yang mengikui olimpiade musim dingin. Keluarga Grayson duduk berbaris mengisi kursi. Marizawa yang pernah menjadi tokoh penting di dunia es skating, kehadirannya menjadi pusat perhatian banyak orang. Ditengah pusat perhatian itu, Marizawa tersenyum dengan mata berkaca-kaca terharu, jantungnya berdebar kencang diletupi oleh kebahagiaan. Marizawa merasa seperti dibawa kembali pada masa mudanya yang dia habiskan di lantai es, mengekspresikan seluruh jiwanya dengan menari. Marizawa sangat bangga, warisan bakat yang sangat dia cintai telah menurun pada kedua cucunya yang sebentar lagi akan tampil. Marizawa tidak mengharapkan apapun, hanya dengan menyaksikan Isela dan Riven tampil bersama, itu sudah menjadi sebuah kehormatan yang tak terhingga untuknya. “Kapan mereka akan tampil? Aku sudah sangat gugup,” ucap Grayson tampak gelisah. “Sabarlah, Grayson.
Begitu proses putusan persidangan telah selesai dilakukan. Grayson langsung meninggalkan kursinya bersama Aurelie, menghampiri Riven dan Sanders untuk memberikan mereka dukungan.Grayson tidak berbicara sepatah katapun pada Dahlia yang saat ini sedang menangis pilu di kursinya. Setelah resmi bercerai, bagi Grayson segalanya telah selesai, tidak ada tanggung jawab yang perlu dia lakukan pada Dahlia. Grayson tidak sudi harus memberinya perhatian, mengingat seberapa teganya Dahlia selama ini padanya.Dari tempatnya, Isela masih duduk dan memperhatikan tanpa berani mendekat.Isela cukup puas mendengar hukuman yang harus Dahlia jalani selama sepuluh tahun di dalam pejara. Mungkin terdengar tidak adil untuk keluarga korban yang meninggal. Tetapi, ini akan memberikan peringatan yang cukup keras untuk Dahlia, yang harus menjalani masa tuanya dalam kesendirian di balik jeruji besi.Air mata terus berlinangan tanpa henti, tangannya terulur kembali harus diborgol. Wanita itu menatap ke sekelil
Setelah enam bulan menanti dan melewati proses penyelidikan, akhirnya hari putusan pengadilan akhirnya telah tiba.. Dahlia menjalani tahanan di penjara berfasilitas terbaik. Setiap hari dia menghabiskan waktunya dalam ruangan, sekalinya keluar hanya untuk merasakan hangatnya sinar matahari tanpa mau berinteraksi dengan siapapun. Dunia Dahlia yang gemerlap oleh kebebasan, kesenangan dan kemewahan telah berubah, sangat gelap dan sunyi. Dahlia masih sering menangis setiap kali dia merasakan kesepian, dia masih tidak menyangka bahwa di penjara lah dia menghabiskan masa tuanya. Seumur hidupnya Dahlia, dia selalu diberi kemudahan, dia selalu berada di atas angin sebelum akhirnya sebuah ‘karma’ datang merusak sayapnya dan membuat Dahlia jatuh, sejatuh-jatuhnya. Dahlia terperosok di dalam kesendiria, putus asa, hingga titik dimana dia sampai malu saat memandangi diri sendiri di cermin. Berkali-kali Dahlia jatuh sakit dengan kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Dalam perenungannya,
Sapuan cahaya merah menyentuh kulit yang bertelanjang tak tertutupi sehelai benang pakaianpun. Jach terbaring miring menyandarkan kepalanya pada kepalan tangan. Kehangatan dari panas tubuh masih menguar disekitar.. Suara deru napas terdengar ditengah kesunyian Jach yang tengah memandangi Isela yang memunggunginya. Tangan Jach terulur, ujung telunjuknya menjangkau tubuh telanjang Isela dan mengusap cekungan tulang pinggangnya yang menggoda pandangan. Pakaian mereka berceceran dilantai dengan beberapa pengaman yang telah terpakai. Jach bergeser mendekat, tidak sempat dia memeluk, tangan Isela menepisnya, seketika gadis itu berguliang ke pinggiran ranjang dan menggulung diri dengan selimut. Matanya yang sambab habis menangis menatap curiga gerak-gerik Jach. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Isela dengan suara serak. “Aku hanya ingin membangunkanmu. Kupikir kau sedang tidur,” jawab Jach dengan sorot mata cerahnya, bahkan tidak ada elah sedikitpun yang tersirat diwajahnya. “Bohong!”
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore