Masuk"Pa....Papa."
Suara teriakan Aryanti dari dalam rumah membuat Sudibyo mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kursi penumpang mobil. Ia memilih menunggu istrinya itu hingga sampai menghampirinya di halaman rumah.
"Pa, hari ini enggak usah main bulutangkis dulu."
Sudibyo langsung
Berada satu tenda dengan Gavriel dan Lean membuat Gadis bersyukur karena dua orang yang ia sayang ada di dekatnya malam ini. Ini adalah hari-hari terakhirnya untuk bisa menghabiskan waktu dengan dua orang ini. Senin pagi ia harus kembali ke Solo dan menyiapkan barang-barangnya sebelum acara travelling-nya selama beberapa bulan kedepan dimulai."Bunda ini sakit, ya?" tanya Lean sambil menunjuk bekas cacar air yang ada di wajah Gadis. "Ini sudah sembuh, Le, cuma tinggal bekasnya aja.""Maaf ya, Bunda... Lean enggak ikut ke Solo kemarin sama Ayah.""Kenapa kamarin enggak ikut ke Solo?" tanya Gadis sambil menatap Lean dengan wajah memelasnya.Gavriel yang
Gadis memperhatikan mobil yang berjalan di depannya sambil menyedakapkan kedua tangannya di depan dada. Ia heran bagaimana bisa Hanna pergi begitu saja ketika acara di tempat Aditya belum selesai. Bahkan saat ia melewati ruang tengah, Aditya masih beramah tamah dengan para tamu undangan. Gavriel yang melihat bagaimana Gadis menatap mobil Hanna yang berjalan di depannya hanya bisa tersenyum."Kamu ini kenapa lihatin mobilnya si Hanna begitu?""Enggak, cuma heran aja kenapa Hanna kabur sebelum acara ultahnya Adit selesai? Padahal 'kan Adit pacar dia.""Iya mereka pacaran 15 tahun yang lalu, kalo sekarang sih enggak. Lebih tepatnya Adit yang ngejar-ngejar Hanna sekarang dan mereka enggak pacaran.""Why?""Nanti juga kamu tahu sendiri kenapa."
Elang tidak berhenti tertawa dibalik kemudi mobil. Ia masih tidak menyangka jika dirinya bahkan diminta melakukan tes mantoux oleh Aryanti dan Sudibyo kala sampai di ruang perawatan Gadis tadi. Meskipun bingung dan heran dengan permintaan kedua orangtua Gadis itu, namun ia tak kuasa menolaknya. Akhirnya Elang melakukan tes itu dan mau tidak mau beberapa hari lagi ia harus mengunjungi faskes untuk mengecek hasil testnya itu. Semoga saja hasilnya negatif. Saat ia sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Elang baru bertanya kepada Gavriel alasan orangtua Gadis meminta dirinya melakukan hal itu. Meskipun Gavriel tidak menjelaskan secara gamblang namun Elang tahu apa yang membuat Gavriel dan Gadis meributkan masalah positif dan negatif.Elang bahkan tak pecaya jika Gavriel dan Gadis begitu solid bukan hanya menjadi pasangan, tapi juga sebagai partner
Gavriel membuka matanya dan ia merenggangkan tubuhnya sore hari ini. Siapa sangka jika sejak pukul 11 siang hingga empat sore ini dirinya bisa tidur tanpa adanya gangguan sama sekali. Saat ia menoleh ke arah sisi ranjang Gadis berada, tampak sosok Gadis yang sedang sibuk menatap layar laptop dengan raut wajah penuh konsentrasi."Kamu lagi ngapain, Dis?" tanya Gavriel sambil mulai berjalan mendekati Gadis.Mendegar pertanyaan Gavriel ini, Gadis langsung menghentikan aktivitasnya yang sedang menganalisa laporan keuangan perusahaan Papanya. Sejak berada di rumah sakit, Gadis justru semakin tekun mempelajari seluk beluk pekerjaan Papanya yang ternyata cukup berat untuk otaknya ini yang sudah lama 'penisun' untuk berpikir cepat, tepat dan akurat dalam urusan pekerjaan.Baru s
Setelah Elang mengantarkan pesanan Gavriel beserta koper cabin size ke kamar perawatan Gadis, Elang segera bertanya mengenai rekomendasi tempat wisata yang bisa ia kunjungi di Solo dari siang hingga sore nanti. Karena ia tidak akan bisa mengunjungi tempat wisata malam yang ada di kota ini, maka ia harus banyak-banyak mengeksplor tempat wisata ramah anak yang bisa ia kunjugi suatu saat nanti bersama Leander. Setelah Gadis menyebutkan tempat-tempat itu, Elang segera pamit. Ia berjanji akan kembali ke RS pukul lima sore untuk menjemput Gavriel dan berpamitan kepada orangtua Gadis.Ketika Elang sudah tidak berada di dalam ruangan ini, Gavriel segera membuka bubur ayam yang ada di dalam kantong plastik putih itu. Ia taruh di atas meja yang biasa digunakan untuk makan pasien."Thanks, Gav," ucap Gadis pada Gavriel
Solo di pagi menjelang siang ini cukup membuat Elang merasa nyaman berada di sini. Apalagi ia sudah selesai berenang di kolam renang hotel dan kini ia sedang bersantai sambil menikmati menu sarapan pagi pesanannya. Sambil bersantai menikmati hangatnya sinar matahari pagi hari ini, ia membuka handphonenya dan melihat beberapa gambar 'aib' Gadis yang dini hari tadi ia ambil tanpa sepengetahuan Gadis sendiri. Wow... siapa sangka jika Gadis akan separah ini ketika terkena cacar air. Kini Elang mencoba untuk mengecek handphonenya. Tidak ada pesan penting kali ini. Ia beralih untuk melihat story teman-temannya. Hanya gelengan kepala yang bisa Elang lakukan karena ternyata ketiga temannya sudah membuat story yang mengatakan bahwa mereka menikmati weekend ini bersama pasangan. Di mulai dari Gavriel yang membuat story dengan memfoto Gadis yang sedang menonton televisi dari jarak jauh. Lalu ada Aditya
Gavriel menoleh untuk melihat jam di sudut dinding kamar perawatan Gadis. Kala melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan Gadis juga tak kunjung menutup matanya, membuat Gavriel merasa sedikit khawatir.
Hampir dua jam ini Gadis terus menerus berdoa dan berharap jika Gavriel akan berhasil mendapatkan bukti rekaman CCTV di rumahnya. Terlebih ia lupa memberi Gavriel kunci utama rumah. Semoga saja Gavriel dapat masuk ke rumah.
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson







