LOGINTragedi mengharuskan mereka bertemu setiap saat setelah peristiwa mustahil yang terjadi anatara ia dan dirinya. Tertukarnya dua jiwa dalam raga berbeda. Peristiwa yang tak pernah terpikirkan oleh akal manusia pada umumnya. Seiring berjalannya waktu mereka harus membiasakan lingkungan anyar dalam tubuh yang baru. Menghadapi setiap lika-liku permasalahan secara bersamaan dalam kondisi genting.
View More"Ish! Kaia, it's freezing out here, you'll turn to ice."
I looked down from the rooftop, expecting to see Liam's usual scrawny frame with a cup of cocoa. But the voice wasn't his. Instead, there was a man standing at the edge of our backyard. Halfway covered by the porch light that had blown. He had broad shoulders and dressed in black. His hood was pulled back to show dark hair with silver streaks. His eyes shine bright as light. They looked... wrong. But familiar. God, why familiar? "You're not Liam," I said. "No." His voice was low and calm. "But you looked like you were about to fall off that roof. I figured I should say something before you did." I narrowed my eyes. "Do you always sneak into people's yards at midnight?" He tilted his head. "Only when the moon forgets to rise." Something about the way he said it made me pause, quiet, almost poetic. I had been out there because of the exact same thought. No moon. Not a sliver only. The sky felt wrong for hours. I pulled my blanket tighter. "Who are you?" He stepped closer to the house. Not too near. Enough, however, to make me discern the trenchant line of his jaw, and the manner of his movement. Such as he was in the dark. "My name's Kieran. I just moved into the old cabin across the woods." That was a lie. Nobody had lived in that cabin for five years. With it's cracked walls and faded paint, it served as a.home for nocturnals and animal pests. However, deep inside I did not feel that something was screaming danger. Not yet. Instead, there was this strange tension crawling under my skin. The sort that you have before a storm It wasn't fear. It was heat. "Right," I said slowly. "And you came by to say hello at midnight?" He chuckled. "Not exactly. I heard... something. A cry. Thought someone might be in trouble." That froze me. "You heard it too?" His smile disappeared. "It wasn't human." My heart raced. I had heard it as well. Minutes ago. A voice too crude, too fragmented, to be natural. Somehow, I had almost forgotten it. Until now. The bedroom window beside me screeched open. "Kaia?" Liam's voice broke through the air. Sleepy and anxious. "Are you okay?" I glanced back. "I'm fine." He squinted down. "Who's that?" "A stranger." I paused. "Sort of." Kieran raised a brow. "I'll take that as a compliment." "You shouldn't." Liam frowned. "Kaia, come inside. Now." But something had shifted in the air. I wasn't ready to go back in. Not yet. Not when my skin was crawling with the sense that something huge was about to unfold. I climbed down from the roof using an old vine support. It wobbled under my feet, but I landed steady. Kieran watched me closely. Not in a creepy way. But like he was scanning for something under my skin. As if he could see it. The tightness in my chest, the thing that had always been there, trying to claw its way out. "You don't feel it?" he asked. "What?" "The pull." I stared at him. The silence stretched. And then… A scream. Wild and guttural. From deep within the forest. The same sound I had heard earlier, only now louder. Closer. Both of us turned. "You should go inside," Kieran said, stepping slightly in front of me. "I'm not going anywhere." He looked at me. Gazed at me really. As though he was attempting to put a memory, which was escaping him. "I know what you are," he said. I blinked. "Excuse me?" "Not exactly. But I know what you're not. You're not broken. You're not wolfless." I felt the breath leave my lungs. Nobody had used that word. Not aloud. But they all thought it. The others. The pack. The world. My skin began to crawl. "How do you know things about me?" His face softened. Just slightly. "Because I've spent my whole life hunting things like you." "That's... reassuring." "I didn't mean it that way." He added quickly, "I don't hunt to kill. I was part of the system that built you." I shook my head. "No. You're talking nonsense." "I'm not." I turned to run. My legs didn't get far. Another cry shattered the stillness. This is nearer than ever before. It made my bones hum. Kieran reached for my wrist. Not to hinder me, but to keep me straight. "Don't run towards it," he said. "Not tonight." His hand was warm. Steady. And in contact there was something that shocked me. It was as though my skin had suddenly recalled something that it had lost its whole life. I pulled away. But my legs were already moving. Away from the house. Toward the woods. Kieran cursed under his breath and followed. Branches tore at my arms, roots clawed at my shoes, but something stronger drove me forward. I didn't question it. My feet knew where to go. He caught up to me at Miller's Creek. The water was as black as glass. Still and silent. I stopped. My chest was heaving. The air was thick and charged. "There," I whispered. The shimmer in the air was faint at first. Such as heat over pavement. Then it began to glow. Between two ancient oaks, the ripple widened. A shape stepped through. Not one. Two. Tall. Ragged. Blood and mud stained. And those eyes… Silver. Unnatural. Wolf eyes. I froze. "That's not possible," I whispered. "There's no moon tonight." The figure smiled. Too many teeth. Too sharp. "Hello, little wolf," it said. Voice smooth as silk over broken glass. "I've been waiting for you." Kieran stepped in front of me, blocking my view. His stance changed. Protective and ready. And I felt it then. The tuggings in my blood. The one thing which I had never experienced. Not fear, but belonging. And something more that was coming out, slowly, in the pause between the heartbeats. Attraction.Joan melangkah masuk ke bandara. Setalah kejadian pertunangan Zain dan Joy yang gagal, Joan memilih meninggalkan Indonesia bersama kakeknya. Tepatnya Joan akan kuliah di luar negeri. Ia membawa kakeknya sekalian untuk dititipkan di rumah tantenya yang ada di Belanda selama Joan sibuk kuliah.Varos juga akan mendapat perawatan yang lebih baik di sana. Joan sudah menyiapkan semuanya.Joan memilih akan menjalani hidup baru. Keputusannya sudah bulat dan akan dijalankannya."Ayo, Kek," ucap Joan lalu membawa Varos masuk ke dalam pesawat.***Malam ini adalah malam yang berpengaruh bagi nyawa Prita. Sebab saat ini mereka bertiga sudah memegang pistol untuk melenyapkan Prita begitu saja jika Prita tidak menuruti apa yang mereka perintahkan.Seperti yang dikatakan Cici bahwa malam ini bertepatan dengan malam gerhana bulan Merah, malam yang langka bagi Prita dan Zain, namun agaknya akan terlewatkan sia-sia sebab Prita akan segara dileny
Zain menghela napas berat seolah mengeluarkan beban.Merasa gagal, karena belum juga menemukan Prita–ia menangis, menitipkan air matanya di rumah pohon."Seharusnya gue yang diculik! Bukan lo, Pri," kata Zain sembari memandang ke arah rumah tua yang dulu Prita lihat."Kenapa lo yang ngalamin ini?" Zain kembali menunduk dengan air mata yang mulai bercucuran.Tiba-tiba Zain teringat apa yang dulu Prita katakan mengenai Zeno yang akan membunuhnya. Zain teringat dengan kedatangan Misha. Zain mulai mengerti kemana Prita pergi. Mereka telah mengukir Prita."Zeno berniat membunuh lo!" kata Prita waktu itu.Zain bangkit untuk segera mencari keberadaan Zeno di rumahnya. Ia harap Zeno masih ada di sana. Zain akan meminta Zeno memberitahu padanya di mana keberadaan Prita. Zain tidak akan membiarkan Zeno menyakiti Prita.Zain lekas naik ke motornya–motor mewahnya yang ia ambil di pinggir jalan. Motonya yang ditinggalkan Prita begi
Kepergian Danu sudah seminggu lebih, tetapi Liana masih banyak melamun. Liana teringat Danu yang suka mengeluh karena selama ini ia belum mendapatkan apa yang ia mau. Anak itu ingin menjadi pewarisnya Delon, tetapi Delon sama sekali tidak mau membuat Danu menjadi senang. Yang Delon pikirkan hanyalah Zain. Zain si anak haram itu. "Bi, tolong buatkan saya kopi!" seru Delon para pekerja di rumahnya. Mendengar suara Delon, Liana jadi tertegun. Dulu ia pernah berusaha meracuni Delon. Akan tetapi, berhasil digagalkan oleh Zain. Dan sekarang adat kesempatan emas bagi Liana untuk meracuni Delon. Karena tidak ada harapan lagi, Danu sudah tiada, Liana hanya tinggal mengakhiri kisahnya dengan membunuh Delon dan Liana akan berusaha melenyapkan Zain juga dan dengan begitu semua harta dan kekuasaan Delon akan jatuh ke tangan Liana. Liana segera beranjak dari kursi dan secepat kilat menuju dapur. "Biar saya aja, Bi!" cegah Liana pada Bi Ina. "Baik, N
Semua anak-anak Parpati sedang berada di depan ruangan Deo. Mereka dikabari oleh Yudi, sebab ketika Yudi mengunjungi kediaman Deo, pembantuan memberi tahu bahwa Deo masuk ke rumah sakit usai tertusuk pisau."Kita berdoa aja semoga Deo selamat," imbuh Zain."Iya, Zai, lebih baik kita banyak-banyak ini doa supaya Deo segera siuman," tambah Jali yang terlihat paling khawatir.Di sudut kursi, Mela masih mengiringi keadaan Deo dengan tangisannya. Sementara Rino menundukkan kepalanya menunggu dokter keluar.Yudi beranjak menghampiri mereka berdua."Tante, Om," panggil Yudi sehingga mereka mendongak ke arahnya."Saya Yudi, temannya Deo," sapa Yudi memperkenalkan diri.Mela menghapus air matanya dan menerima tangan Yudi dan ingin bersalaman dengannya."Deo, sering ke rumah Yudi. Dia sering curhat masalah kalian," gumam Yudi membuat Rino dan Mela saling memandang satu sama lain."Dia curhat mengenai kami?" tanya Mela.
Zeno salah karena telah bermain-main dengan Zain. Sekarang kondisi Zeno habis babak belur oleh Zain.Hampir saja Zeno melecehkan tubuh Prita. Akan tetapi, untungnya yang Zeno hadapi bukanlah Prita melainkan jiwa Zain.Zain melesat meninggalkan kediaman Zeno dengan amarah yang masih be
Esok hari sebelum pergi ke sekolah, Prita meminta bertemu dengan Zain terlebih dahulu, sebab Prita mempunyai bukti yang sangat akurat untuk membuat Zain percaya bahwa orang yang selama ini dekat dengannya, mengasihinya adalah orang yang paling jahat. Dia adalah musuh dalam selimut yang sudah meni
Tinggal satu langkah lagi rencana Zeno akan berjalan mulus tanpa kendala apa pun. Hanya satu yang kurang, yaitu sejumlah uang untuk menyewa penculik.Bagaimana Zeno akan berhasil menangkap Zain dan membawanya ke gedung itu jika tidak ada yang membantunya. Ya, Zeno harus membayar beber
"Saya tidak akan membiarkan kamu berhubungan dengan anak itu lagi!" Ketus Delon pada sang putra yang terbilang selalu membangkang."Kau tahu, tadi sore pacarmu mendatangi rumah saya dan membuat keributan di sana. Dia itu anak yang tidak tahu sopan santun, Zai. Tidak jelas bebet dan bo
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore