Mag-log inSepuluh menit kemudian aku pun keluar dari dalam masjid menuju mobil travel, dan sekitar 15 menit kemudian mobil travel yang aku tumpangi pun tiba di depan rumah Intan. Dengan jantung yang berdebar-debar kencang aku turun dari mobil travel lalu melangkah memasuki halaman rumah itu, rasa rindu dan cemas karena kuatir kedatangan ku tak diterima lagi oleh istri ku.Hari baru gelap karena waktu magrib baru saja berlalu, pintu rumah kediaman Intan saat itu masih terbuka karena Intan biasa membuka praktek di rumahnya hingga jam 9 malam. Aku yang telah sampai di teras rumah, perlahan-lahan meletakan koper pakaian dan boneka micky mouse yang tadi aku pangku seturun dari mobil travel, jantung ku semakin berdebar-debar saat aku melangkah ke arah pintu rumah itu.Baru saja aku mau mengucapkan salam, Kania yang beberapa detik ke luar dari kamarnya melihat aku berdiri di depan pintu, spontan saja bocah perempuan cantik yang menggemaskan itu berteriak memanggil sambil berlari ke arah ku.“Papa.....
Dengan mengemudikan mobil yang biasa aku pakai, Grace mengantar ku ke bandara. Grace sebelumnya telah berjanji bahwa dia takan meminta Cak Mul pergi dari depan show room, seperti hal yang telah aku pesankan kepadanya. Bagi Grace, Cak Mul sosok yang sangat baik dan takan mungkin juga ia tega mengusir lesehan Cak Mul dari tempat itu.Tak berselang lama menunggu di bandara, panggilan keberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi pun terdengar, Grace tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan air matanya, berbagai macam hal berkecamuk dalam hatinya. Tak mau berpisah dengan aku pria yang ia cintai, tetapi juga tak ingin mencegah ku kembali ke keluarga ku karena Grace menyadari hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, dan ia pun merasa bersalah telah memisahkan aku dari istri dan putri ku.“Aku nggak tahu harus bilang apa, Ryan. Hatiku benar-benar galau, di suatu sisi aku tak ingin kamu pergi, di sisi lain akupun sadar telah memisahkanmu dengan anak dan istrimu.” ujar Grace
“Mari, saya antarkan menuju ruangan pimpinan! Tadi Ibu memerintahkan saya jika bertemu dengan bapak supaya diantar menemu beliau,” ujar security.“Baik Pak, mari!” aku pun mengikuti security itu ke lantai paling atas dari bank yang memiliki 4 lantai itu dengan lift.“Nah, ini ruangan pimpinannya. Silahkan Bapak pencet belnya, sementara saya akan kembali ke bawah.”“Terima kasih ya, Pak.” ucap ku.“Iya sama-sama, Pak.” ucap security itu pula lalu ia turun ke lantai dasar.Aku memencet bel, lalu tak berselang lama pintu ruangan pimpinan itupun dibuka dan terlihatlah sosok wanita cantik bermata sipit tersenyum saat mengetahui tamu yang memencet bel itu adalah aku“Ayo masuk Ryan!” ajaknya.“Makasih Grace.” Ucap ku.“Udah bersikap santai aja, di ruangan ini kan hanya kita berdua.” ujar Grace yang melihat sikap ku seperti para tamu pada umumnya yaitu sungkan dan sopan.Grace pun mengajak ku duduk di kursi yang memang disediakan bagi tamu-tamu penting di ruangan pimpinan itu, aku pun duduk
“Maaf ya Mas Mul, malam ini aku ngerepotin aja.”“Nggak apa-apa. Udah sepatutnya juga aku nemani Mas Ryan jika ada permasalahan yang datang, itu gunanya teman saling berbagi terlebih saat kita jauh dari keluarga dan saudara.” ujar Cak Mul selalu menenangkan aku.“Makasih Mas. Aku jadi ingat Mas Sugeng, sikapnya dan rasa persaudaraannya mirip sekali dengan Mas Mul. Saat itu aku masih sekolah di Kota P, setiap kali kami ada permasalahan selalu saling berbagi untuk menyelesaikannya. Di perantauan kita memang musti mencari teman sekaligus dapat dijadikan saudara, apalagi tinggal di daerah kota besar seperti Kota S ini.” tutur ku sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan Cak Mul.“Iya Mas, aku juga demikian. Dulu aku juga seorang perantau semasa masih lajang, bahkan sampai ke negeri tetangga. Kita memang harus selalu baik pada orang-orang di sekeliling kita, jika kita ingin hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan dan saling berbagi.” ujar Cak Mul juga menikmati kopi hangat yang ada
Wajah cantik mungil Kania semakin terlihat jelas seakan-akan saat itu berada di depan ku, aku mencoba merangkul namun rangkulan ku hanya menerpa angin, semakin pecah tangis di kedua mata ku, kedua kaki ku benar-benar tak mampu aku gerakan untuk berdiri, rasa pilu yang menyelubungi hati ku seolah membuat ku lumpuh.Aku akhirnya jatuhkan diri menelungkup di lantai sambil meraba kedua paha ku yang terasa keram luar biasa, air mata ku tak henti-henti mengalir suara ku pun mulai terdengar parau saat beberapa kali berteriak memanggil nama buah hati ku itu. Dan tanpa aku sadari tubuh ku pun terkulai lemas, hingga tertidur di lantai kamar ku.Hampir jam 10 malam barulah aku sadar jika tubuh ku saat itu tengah terbaring di lantai di bawah ranjang, ternyata kepiluan hati yang melanda ku sore tadi sempat membuat ku pingsan. Aku bangkit menuju kamar mandi, setelah itu aku pun turun ke lantai bawah lalu menuju lesehan Cak Mul menenangkan diri.“Wah, tumben baru datang! Memangnya Mas Ryan ke mana t
Sejak awal memang Cak Mul tak mengetahui jika show room yang aku kelola milik wanita cantik bermata sipit yang malam itu datang ke lesehannya itu, makanya wajar jika Cak Mul agak kaget saat aku mengatakan jika Grace adalah pemilik show room mobil di samping kanan belakang tempat usahanya itu.“Silahkan Mas, karena apapun keputusan Ryan juga sama dengan keputusanku!” ujar Grace yang juga mengizinkan Cak Mul mendirikan tempat usaha itu.Beberapa menit berselang Cak Mul dan dua orang karyawannya kembali lagi ke meja tempat aku dan Grace duduk dengan membawa seluruh menu yang tersedia di lesehannya itu, Cak Mul mempersilahkan kami untuk menikmati yang barusan disuguhkan, aku dan Grace pun menyantap hidangan itu.“Hemmm... Kamu benar Ryan, pecel lele Mas Mul ini sangat lezat! Berbeda banget dengan yang pernah aku coba di tempat lain,” puji Grace sambil terus menikmati hidangan yang disajikan Cak Mul itu.“Aku aja sampai ketagihan makan di sini, sejak Cak Mul buka makan siang dan makan mala