INICIAR SESIÓNWren Holloway was branded and rejected at her Claiming. The Moon Goddess chose her for Prince Caiden. He denied her in front of the court. The High Priestess cut her bond and scarred her shoulder. She watched her sister Lyra become the Luna she was promised to be. The Alpha King gave her one hour. Marry the Butcher or die on the altar. Exile at the border forced her into Alpha Draven Duskbane’s keep. He is Caiden’s uncle. The male who ended the last war by lining his walls with heads. Draven is lethal and precise. But around Wren, instinct overrides hatred. The longer she stays, the harder it gets to see her as anything other than his. Her gray eyes flash silver. The color that killed his parents. The color he vowed to destroy. Her brand hides witch runes. Lyra sold Wren’s firstborn to a marsh witch to steal the crown. The debt still stands. If Wren bears an heir, the witch takes it. If she doesn’t, the curse kills every Duskbane pup for twenty more years. Now she has to choose. Stay weak and let the witch win, or become strong enough to burn down the kingdom that branded her, in a court that was designed to make girls like her disappear.
Ver más“Argh….”
Basah, dingin, dan lengket. Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah. “Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Sepertinya, tempat ini memang tidak cocok untukmu, Jo.” Menjadi mahasiswa pintar dan sering membantu teman mengerjakan tugas, tidak serta merta membuat Jovita diterima saat kemiskinan melekat erat dalam kehidupannya. “Hei, apa-apaan ini?” Viola datang membelah kerumunan. Gaun silvernya berkilau mewah di bawah lampu kristal. “Jojo itu sahabatku! Aku yang mengundangnya….” Kalimat Viola terjeda, dilihatnya Jovita dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kenapa pakai baju ini? Kenapa tidak pakai gaun yang kuberi kemarin?” Tawa renyah sekumpulan mahasiswa elit itu mendadak senyap, digantikan seringai geli merendahkan. Dalam benak mereka, saking miskinnya Jovita, baju saja pemberian dari Viola. Bukan hanya baju pesta yang baru saja disebut Viola, tapi baju andalan yang sering digunakan ke kampus adalah pemberian Viola. “Aku harus bekerja.” Jovita memaksakan senyum untuk sahabatnya. “Selamat ulang tahun, Vio.” “Masuk ke kamar mandi di belakang ballroom sekarang, Jo. Bersihkan dirimu,” perintah Vio tegas, tapi terdengar peduli. Jovita mengangguk samar, bergegas menuju ke kamar mandi. Membersihkan baju bukan tujuan utamanya, tapi meninggalkan orang-orang yang merendahkannya. Begitu Jovita menghilang dari ballroom, sorot mata Vio langsung beralih antusias ke ambang pintu. “Tepat waktu,” gumam Viola dengan senyum puas, bergegas menghampiri sosok yang baru memasuki ballroom tanpa menoleh lagi ke arah Jovita. “Dylan!” Viola menyapa pemuda tampan itu dengan nada manja dan menggoda. “Selamat ulang tahun,” ucap Dylan dingin sambil menyerahkan kado tanpa minat. Tatap mata Dylan tidak tertuju pada Viola, justru memindai seisi ballroom seperti ada orang lain yang dicarinya. Berbeda dengan keriuhan di dalam ballroom, lorong menuju toilet terasa sunyi dan dingin. Jovita berjalan lambat sembari mengusap noda di dadanya. Langkahnya mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara bariton yang sangat ia kenal dari balik belokan. “Oh… Sayang. Aku mohon sekali lagi!” Suara itu terdengar nelangsa, jauh dari gambaran sosok Raymond Chandra, pemilik biro arsitektur raksasa yang biasanya berdiri tegak, dingin, dan tak tersentuh di rumah mewah tempat Jovita sering menumpang belajar. “Aku mohon pengertianmu, Karin. Aku tidak mungkin meninggalkan ulang tahun Vio sekarang. Dia bisa ngamuk, dan itu sangat buruk untuk hubungan kita nanti.” Dengan kepala mendongak dan ponsel masih menempel erat di telinganya, Raymond menarik napas panjang. Gurat lelah tampak jelas di dahi pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu. Di bawah sorot lampu lorong hotel, segala kelebihan Raymond seolah raib. Yang tersisa kini hanya pria yang terjepit di antara dua perempuan yang menguasai hidupnya, putri tunggal dan kekasihnya. Napas Jovita tertahan, dadanya mendadak sesak oleh rasa iri yang janggal. Memorinya terlempar ke gubuk pengap yang ia sebut rumah, teringat Joni, ayahnya. Jangankan memohon dengan suara selembut itu, Joni hanya tahu cara berteriak, mengayun sabuk dan membanting botol minuman keras jika keinginannya tak dipenuhi. Ayahnya adalah alasan mengapa sang ibu memilih pergi beberapa tahun lalu, meninggalkan Jovita yang harus banting tulang membiayai hidupnya sendiri. “Seandainya aku memiliki ayah seperti dia,” batin Jovita perih. “Mungkin Bunda tidak akan kabur, dan aku akan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.” Tiba-tiba, Raymond memutar tubuh. Matanya langsung menangkap sosok gadis di sudut lorong, Raymond mengenali sahabat putrinya itu. “Jojo?” Raymond menurunkan ponselnya. Matanya menyipit, menelusuri seragam katering yang dikenakan gadis itu. “Kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak di dalam bersama Vio dan yang lainnya?” Jovita menunduk. “Saya... saya sedang bekerja, Om.” Raymond terdiam sejenak. menyaksikan penampilan Jovita yang sangat kontras dengan gaun-gaun pesta seharga puluhan juta yang berseliweran di ballroom sana. Jovita adalah sahabat dekat Viola, tidak datang sebagai tamu undangan, melainkan sebagai buruh kasar. “Ayo, ikut merayakan ulang tahun Vio.” “Tidak Om,” tolak Jovita tanpa berpikir panjang, menunduk menatap seragamnya. “Saya tidak ingin merusak pesta Vio.” Sebagai seorang pelayan saja kedatangannya tidak diterima, apalagi jika sampai dia masuk bersama sang donator acara. Raymond memperhatikan jemari Jovita yang saling meremas, lalu mengangguk samar seolah paham situasi. Dia tidak akan memaksa. Raymond paham, berada di tengah pesta mewah dengan seragam katering pasti membuat Jovita tidak nyaman. “Baiklah kalau begitu. Lain kali kalau ada masalah jangan sungkan untuk bicara, mungkin Om bisa bantu.” Jovita mengangguk. “Terima kasih, Om.” “Jangan terlalu memaksakan diri.” Kalimat pendek Raymond, layaknya kepedulian yang menghangatkan hati Jovita. Raymond berbalik, melangkah tegap menuju ballroom, meninggalkan Jovita yang terpaku menatap punggung lebar itu. Punggung yang terlihat begitu kokoh untuk bersandar. Menjelang jam sebelas malam pesta akhirnya usai. Lorong hotel mulai lengang, menyisakan sisa aroma parfum mahal yang menguap di udara. Di depan lobi, Viola tampak gelisah. Matanya tertuju pada Dylan, pria incarannya itu terlihat mondar-mandir di dekat pintu kaca, mengawasi setiap orang yang keluar. Viola tahu persis siapa yang sedang ditunggu pemuda itu, dan kenyataan tersebut membuat hatinya terbakar cemburu. “Papa!” Viola mencegat Raymond yang baru kelar dari lift. “Papa, tolong antar Jojo pulang, ya? Sudah malam, kasihan dia.” Raymond mengernyit, mengalihkan pandangan pada Jovita yang muncul dengan kemeja flannel sederhana. “Pokoknya Papa harus antar. Vio nggak tenang kalau Jojo pulang sendiri jam segini,” ucap Viola dengan manja, sambil menarik lengan papanya mendekat ke arah Jovita. Jovita mencoba menolak. “Enggak usah, Vio. Aku bisa sendiri.” “Jojo, jangan bantah!” Viola memelotot. “Papa nggak keberatan, kan?” Raymond menatap Jovita sejenak, lalu mengangguk singkat. Bukan hanya untuk menuruti permintaan anaknya, tapi juga kasihan pada Jovita. “Ayo, saya antar.” Dengan perasaan sungkan yang amat sangat, Jovita akhirnya menurut. Saat mobil hitam milik Raymond perlahan meninggalkan pelataran hotel, Viola tersenyum puas. Ia berbalik dan melangkah cepat menghampiri Dylan yang masih menunggu Jovita. “Dylan!” panggil Viola dengan nada yang dibuat sedih. “Bisa antar aku pulang? Papa tiba-tiba ada urusan bisnis mendadak, aku ditinggal sendiri.” Dylan menoleh, matanya masih tampak mencari. “Kamu lihat Jovita?” Viola mendesah pelan, pura-pura tidak acuh. “Oh, Jojo? Dia sudah pulang dari tadi. Kamu telat, tadi ada cowok yang jemput.” Wajah Dylan seketika lesu. Ia mengembuskan napas kecewa dan cemburu mendengar Jovita bersama pria lain. “Dylan! Bisakan antar aku?” Tatap mata Viola memohon manja. Dylan mengembuskan napas kasar. Ia tahu keluarga Viola memesan penthouse di hotel ini untuk menginap, tapi penolakan hanya akan membuat semakin lama untuk menghindar dari Viola. “Masuk!” perintah Dylan dengan terpaksa. Sementara itu di mobil Raymond membelah jalan yang mulai lengang. Jovita merasa kerdil di jok kulit yang empuk. Tangan Jovita bertumpu di pangkuan, saling meremas ujung kemeja belel. “Kenapa mengambil kerja sampingan di hari ulang tahun sahabatmu sendiri?” Suara bariton Raymond memecah keheningan, matanya tetap lurus menatap jalanan. “Saya butuh uang, Om.” “Untuk?” “Tunggakan semesteran saya sudah lewat tiga bulan. Kalau minggu depan belum lunas, saya di-DO.” Jovita menunduk malu. “Kalau cuma itu, saya bisa bantu.” Raymond melirik singkat. “Sebagai gantinya, saya ingin bantuan kecil.” Jantung Jovita mencelos hingga membuatnya langsung menoleh. Di dalam mobil yang remang, wajah matang Raymond tampak begitu tenang, tapi tetap menyiratkan kuasa yang mutlak. Hidup keras mengajarkan Jovita satu hal, tidak ada makan siang gratis, apalagi dari pria sekaya Raymond. “Apa... apa yang harus saya lakukan untuk itu, Om?” tanya Jovita, suaranya bergetar. Raymond mengetukkan jarinya di setir, menatap gadis muda di sampingnya yang tampak ketakutan namun butuh pertolongan. “Kamu adalah orang yang paling didengar oleh Vio saat ini,” ucap Raymond dengan nada rendah yang dingin. “Bantu saya meyakinkan dia… agar mau menerima Karina sebagai ibu barunya.”The first bag of concrete soil comes from Milo on a bicycle that has no chain.He pushes it, because pushing is faster than walking when you are seventeen and you have somewhere to be. The bag is a rice sack, stenciled with a faded panda, tied with wire. Inside is soil, but not soil like we know it.It is gray, gritty, with flecks of white and a smell that is not earth but almost earth, like rain on a sidewalk that has been hot all day.Mara takes the bag like it is gold, because it is. She opens it on the low root table that Hinge grew for deposits that are too big for bowls.“This is from the food court,” Milo says, out of breath. “Where Cinnabon was. The crack ate the concrete for four months. The fungus ate the crack. Now there is this much.”He holds up his hands, a small mound, maybe two cups.Creek kneels and puts her face close, not to smell, but to listen. “It is soil,” she says, surprised. “Not good soil. Young soil. But soil. It has calcium, it has fungus, it has goosefoot
We start calling it the crack farm because the boy tells us to.His name is Milo, we learn on his third visit. He is seventeen, but he looks fifteen because he grew up on mall pretzels and rainwater, and he is angry in a way that is not loud, just steady, like water cutting concrete.On his fourth visit he does not bring dust. He brings a slab of concrete, broken, no bigger than a plate, with a green line running through the crack that splits it.“I grew it,” he says to Mara, placing the slab carefully in the empty bowl that has become his. The bowl that was his dust is now his account.Mara peers at the green line. It is goosefoot and clover tangled together, roots white and fine, holding the two halves of concrete so they do not fall apart.“It is not holding soil,” Creek says, touching the roots. “It is making soil. The roots exhale acid, tiny, that eats concrete. Concrete becomes calcium. Calcium becomes soil.”“How long?” Draven asks, because he always asks how long.“Years,” Cre
The boy with dust on his boots comes back.He does not come back the next day. He comes back nine days later, which is how long it takes to walk from a dead mall to Hinge Town if you are seventeen and you keep stopping to look at cracks in concrete to see if anything is growing.His jar is no longer empty. It has three green things in it, leggy and pale, reaching for light that was not enough.“I planted them in the crack where the food court was,” he says to Mara, not to me, because Mara is the bank now. “The clover died. The leaf died. But these lived. I don’t know what they are.”Mara looks. So does Creek, who has moved to Hinge Town three days a week because she says the water here needs listening.Creek touches the pale shoots. “Weeds,” she says, not unkind. “Concrete weeds. Goosefoot. They grow where nothing else will. They are telling you the concrete is tired.”The boy’s face falls. “I wanted yes.”“You got yes,” Lyana says from her spot by the moss ledger, where she has been
Draven calls it a bank and then it becomes a bank, because words are like that when Trees are listening.We do not mean a bank with money. We mean a bank the way a river has a bank, a place that holds and a place that gives. But Mara likes both meanings, so she starts using her paper ledger for deposits and withdrawals, and Lyana copies her with moss, and now we have two ledgers that match, one in paper that will fade and one in moss that will grow.The rules get painted on a second sign under the first one. Lyana paints them in careful letters while Hinge holds the board steady with a root.RULES OF THE BANK OF YESBring a story. Dirt is a story.Take a story. Seed is a story.You cannot withdraw more yes than you deposit in trying.Ask sideways.People line up again the next morning, but differently now. Before they brought dirt because they were desperate. Now they bring dirt because they want to be part of the ledger.The woman from the paper town comes back with her sister, who b
“What will she tell me?” Draven’s voice didn’t rise. It didn’t need to.The temple doors were open behind us. Snow blew in. Lyra’s face went gray.“The witch,” she stammered. “I mean, nothing. I meant—”“Lyra,” Caiden hissed. Too late.Draven let go of my elbow. He walked back into the temple. Slow
The branding iron hit my shoulder before I finished screaming the Moon Goddess’s name.Flesh sizzled. The smell of my own burning skin filled my nose. The entire Royal Court of Duskbane watched in silence.“Hold her down,” Prince Caiden said. His voice was bored. He didn’t look at me. He watched my
The witch’s sister laughs, blood dripping from the cracked altar stone. The whole Summit watches my belly like it’s a death sentence. Draven’s hand locks around my wrist, his claws digging in to hold me upright because my knees want to give out. “Double curse,” the witch’s sister says. “One takes
The pups cried for three days.All over the territories, dead pups took first breaths. Healed. The healers called it miracle. The Alphas called it threat.Because if an omega could break a twenty-year curse, what else could she break?The answer came on day four.I woke bleeding. Not my palm. Lower












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reseñas