Home / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 42. Malam Panas Yang Tak Ada Habisnya

Share

42. Malam Panas Yang Tak Ada Habisnya

last update publish date: 2026-10-06 23:19:33

Jarum jam di dinding di kamar Charles dan Cassie menunjukkan pukul satu dini hari. Malam di Kota London sunyi, lampu kota berkedip lembut dari balik jendela besar kamar mereka.

Setelah acara panas mereka yang tercipta beberapa saat yang lalu, keduanya ternyata masih terjaga dan belum sepenuhnya terlelap. Cassie dan Charles seolah-olah tenggelam dalam pelukan satu sama lain.

Charles berkata,

“Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk bicara, Darling.

Aku masih merasa seperti sedang bermi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GODAAN SANG PROFESOR   45. Dalang dari Penculikan Mulai Terungkap

    Suasana tegang di jalan.Langit London pagi itu kelabu, hujan gerimis menetes di kaca mobil hitam yang meluncur pelan di ruas jalan kota. Charles menyetir sendiri, wajahnya masih letih setelah semalam menunggui Cassie yang kini beristirahat di rumah sakit.Dia pun melirik ponsel di dasbor. Ada pesan dari Margareth, sahabat istrinya.“Cassie tidur tenang. Anda jaga dirimu juga, Prof. Charles.”Charles menghela napas panjang. Baru saja dia akan membalas pesan itu, tiba-tiba,Screett! sebuah sedan abu-abu berbelok melintang di hadapan mobilnya, memblokir jalan. Charles menginjak rem sekuat tenaga. Mobilnya berhenti mendadak, membuat tubuhnya terlempar ke depan.Charles teriak.“Sial!”Pintu sedan abu-abu terbuka. Seorang pria tinggi dengan wajah tirus turun, mengenakan jaket kulit hitam. Wajahnya tampak tegang, matanya merah seperti terbakar amarah. Di tangannya berkilat sepucuk pistol.Charles mengenali pria itu seketika. Rahangnya mengeras.Dia pelan, mendesis. “Alan!”Alan mendekat pe

  • GODAAN SANG PROFESOR   44. Perburuan Charles

    Masih di TKP.Langit London makin kelabu, hujan gerimis mulai turun. Polisi masih menanyai saksi di depan swalayan. Charles berdiri kaku, wajahnya tegang. Napasnya terengah.Martin duduk di trotoar, memegangi perban di kepalanya. Matanya basah. Charles meraih bahu Martin.Charles berkata dalam nada rendah. “Martin, lihat aku. Aku butuh kamu ceritakan persis apa yang kamu lihat.”Martin mengusap wajahnya. “Nyonya Cassie berjalan keluar sambil bawa belanjaan. Lalu pria tinggi yang memakai jaket hitam mendekat dari samping. Orang itu langsung menutup mulut Mrs. Cassie pakai sapu tangan. Dia pingsan seketika. Mereka lalu memasukkannya ke dalam mobil van abu-abu.”Charles mendesak.“Kamu lihat plat nomornya?”Martin menggeleng lemah. “Tidak, Tuan. Saya sempat terjatuh karena kena pukulan keras. Saat saya bangun, van itu sudah jauh.”Charles memejamkan mata. Rahangnya mengeras. “Sial!”Seorang perwira polisi, Inspector Davies, mendekat. Wajahnya serius.“Mr. Bliss. Kami sudah cek CCTV pintu

  • GODAAN SANG PROFESOR   43. Penculikan Cassie

    Pagi yang cerah.Matahari Kota London masih bersinar malu-malu, menyembul di balik awan kelabu. Udara musim semi sejuk. Cassie melangkah keluar dari rumah mewahnya, mengenakan coat warna krem, rambut terurai rapi. Sopir pribadi, seorang pria paruh baya bernama Martin, sudah menunggunya di dekat sedan hitam mengkilap.Martin tersenyum ramah. “Selamat pagi, Mrs. Bliss.”Cassie membalas dengan senyuman. “Pagi juga, Martin. Hari ini kita ke swalayan. Aku harus beli beberapa perlengkapan untuk liburannya bersama sang suami.”Martin membukakan pintu mobil. “Baik, Mrs. Bliss.”Cassie duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela sambil membayangkan liburan mereka. Senyum kecil terbit di bibirnya. Dia merasa damai. Semua drama masa lalu seolah sudah lewat.Kurang dari setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah swalayan besar di pusat kota. Cassie berjalan menyusuri lorong-lorong rak. Suara keranjang belanjaan berdecit pelan. Dia memilih sunblock, beberapa botol air mineral, camilan, dan p

  • GODAAN SANG PROFESOR   42. Malam Panas Yang Tak Ada Habisnya

    Jarum jam di dinding di kamar Charles dan Cassie menunjukkan pukul satu dini hari. Malam di Kota London sunyi, lampu kota berkedip lembut dari balik jendela besar kamar mereka.Setelah acara panas mereka yang tercipta beberapa saat yang lalu, keduanya ternyata masih terjaga dan belum sepenuhnya terlelap. Cassie dan Charles seolah-olah tenggelam dalam pelukan satu sama lain.Charles berkata,“Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk bicara, Darling.Aku masih merasa seperti sedang bermimpi memperistrimu.”Cassie terkekeh pelan, melangkah mendekat. “Aku juga. Rasanya seperti aku baru saja masuk ke cerita dongeng.”Charles membelai pipi Cassie dengan ibu jarinya. “Kamu memang putri di dongeng hidupku.”Cassie tersenyum malu. “Dan kamu, pangeran tampanku. Walaupun lebih cerewet.”Charles mengerutkan kening pura-pura tersinggung. “Cerewet? Aku hanya banyak bicara kalau itu soal betapa aku mencintaimu, Darling.”Cassie mencubit pinggang Charles. Cassie: “Nah, itu salah satu cerewe

  • GODAAN SANG PROFESOR   41. Persiapan Resepsi Pernikahan Cassie dan Charles

    Satu minggu setelah wisuda, London diselimuti sinar matahari musim semi yang cerah. Langit biru membentang, awan putih berarak pelan. Sejak pagi, Hotel Claridge’s, hotel bintang lima di jantung Mayfair, penuh kesibukan. Bunga mawar putih dan biru memenuhi lobi, wangi harum tercium hingga ke luar pintu putar.Di salah satu kamar suite mewah, Cassie duduk di depan cermin rias. Riasan lembut mempertegas kecantikannya. Gaun putih panjang dengan ekor renda membalut tubuhnya. Di kepalanya bertengger tiara berlian kecil, warisan Oma Evelyn.Margareth, mengenakan gaun bridesmaid biru lembut, berdiri di belakang Cassie sambil menahan air mata.Margareth pun berkata,“Astaga, Cassie! Kamu terlihat seperti putri kerajaan.”Cassie menahan senyum sambil merapikan lipstiknya. Cassie menjawab, “Aku gugup setengah mati, Margie.”Margareth terkikik. “Santai saja. Kamu sudah menikah, kan? Hari ini hanya meresmikannya ke dunia.”Cassie menarik napas panjang. “Aku takut tersandung ekor gaunku.”Margare

  • GODAAN SANG PROFESOR   40. Acara Wisuda Cassie

    Aula kampus.Setelah mengikuti perkuliahan dengan kerja keras dan belajar lebih sungguh-sungguh. Akhirnya pada hari ini, Cassie akan diwisuda. Hatinya sangat senang. Aura bahagia terpancar penuh dari wajah cantiknya.Musik orkestra mengalun lembut di aula megah universitas. Ratusan kursi penuh diduduki keluarga dan kerabat para wisudawan. Lampu kristal bergemerlap, memantul di jubah toga biru tua Cassie.Cassie berdiri di barisan wisudawan. Tangannya gemetar, matanya terus berkeliling mencari wajah-wajah yang dia kenal.Margareth berdiri di sampingnya, berbisik. “Santai, Cassie. Kamu kelihatan mau pingsan.”Cassie tertawa gugup. “Aku takut jatuh di atas panggung.”Margareth menyikutnya.“Kalau kamu jatuh, aku jatuh bersamamu. Biar sekalian terkesan dramatis.”Sementara itu, di deretan kursi tamu VIP, Charles duduk tampak gagah dengan setelan jas hitam. Di sebelahnya duduk Oma Evelyn, nenek Charles, mengenakan mantel krem elegan, serta Blake, orang kepercayaan Charles dan kekasihnya S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status