LOGINBacaan khusus dewasa. Cassie Florence, seorang mahasiswa cantik dan berprestasi di sebuah kampus di Kota London. Tidak pernah menyangka bisa terpesona dan jatuh cinta kepada salah seorang dosennya yang bernama, Profesor Charles Bliss. Namun sayangnya karena Cassie masuk ke kampus elit itu melalui jalur beasiswa, diapun sering dibully oleh teman-temannya. Beruntungnya Profesor Charles selalu berada di depannya dan membela Cassie. Sang Profesor yang memiliki wajah tampan dan tubuh atletis ternyata banyak dikagumi oleh para mahasiswa dan juga rekan dosen di kampus itu. Tapi ternyata Profesor Charles juga memiliki ketertarikan dengan Cassie. Namun dia menyimpan semuanya dalam hatinya. Karena gadis itu adalah muridnya di kampus. Akan tetapi karena suatu kejadian yang tak terduga, Charles dan Cassie malah menikah diam-diam tanpa diketahui satu orang pun di kampus itu. Mampukah Charles dan Cassie merahasiakan hubungan pernikahan mereka? Atau gosip tentang kedekatan mereka mulai tersebar? Bagaimana juga dengan pemuda bernama Alan yang menyukai Cassie sejak dulu? Penasaran kelanjutannya, yuk silakan dibaca! Plagiarisme melanggar undang-undang nomor 28 tahun 2014.
View MorePagi yang dingin di salah satu kampus ternama di Kota London.
Udara pagi seolah-olah menusuk kulit, dingin dan lembab, menyapu trotoar kampus University of London yang mulai dipenuhi mahasiswa. Kabut tipis masih menggantung di antara gedung-gedung batu tua yang menjulang megah, seolah-olah sedang menyembunyikan sejarah panjang dan cerita-cerita tersembunyi di balik dindingnya. Cassie berjalan cepat, hampir setengah berlari, menyusuri lorong trotoar menuju gedung kuliah utamanya. Ransel hitam lusuh tergantung di punggungnya, dan jaket abu-abu tipis yang dikenakannya terlihat usang, kontras dengan mantel-mantel mahal dan tas-tas bermerek yang digunakan sebagian besar mahasiswa di kampus itu. Dia mengecek jam tangan digitalnya yang sudah agak pudar, pukul tujuh lewat lima puluh delapan menit. Dua menit lagi kelas bisnis akan dimulai. Dia menggigit bibir bawahnya, berharap bisa masuk sebelum dosen terkenal yang galak itu menutup pintu. Namun, langkah Cassie tiba-tiba terhenti ketika tiga mahasiswi berdiri menghadang di depannya, tepat di dekat tangga masuk gedung kuliah. “Lihat siapa yang buru-buru. Si beasiswa,” ejek seorang gadis berambut pirang dengan jaket bulu putih yang jelas sangat mahal. Namanya Melisa. Di sebelahnya, dua sahabatnya, Amy dan Judith, terkikik geli. Cassie diam. Dia tahu ini akan terjadi lagi. Hal semacam ini bukan pertama kalinya mereka mengolok-oloknya. Gadis itu menarik napas panjang dan mencoba berjalan melewati mereka tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun Melisa menahan langkahnya dengan mengangkat tangan. “Mau ke mana kamu? Nggak ada salam dulu sama anak-anak kaya seperti kita?” Amy tertawa sinis. “Ha-ha-ha. Iya, Cassie. Harusnya kamu bersyukur masih bisa kuliah di sini. Tanpa kami anak-anak dari kalangan atas, kamu nggak akan dapat beasiswa di kampus ini, tahu?” Judith menambahkan, “Lihat deh baju dia, udah kayak dari toko barang bekas. Apa kamu tinggal di rumah tua pinggir kota?” Cassie masih diam. Matanya menunduk. Tangan gemetarnya menggenggam erat tali ranselnya. Hatinya sakit, tapi dia tahu membalas hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Melisa kemudian mengambil sesuatu dari tas jinjingnya. Sekantong plastik berisi tepung. “Eh, Amy, kamu tahu nggak? Katanya tepung itu bisa bikin orang terlihat lebih mahal! Ha-ha-ha!” seru Melisa sambil tertawa. Sebelum Cassie sempat bergerak mundur, tepung putih itu sudah beterbangan ke udara, menyelimuti bagian depan jaket dan rambutnya. Cassie terdiam, menahan napas. Rambutnya yang hitam panjang kini tertutup debu putih. Suara tawa keras ketiga gadis itu menggema di lorong kampus yang mulai dipenuhi mahasiswa lain yang hanya melihat, tapi tak berani ikut campur. “Cocok banget tuh buat kamu. Sekarang kamu jadi kayak roti miskin. Ha-ha-ha!” seru Amy, sambil tertawa geli. Cassie menutup matanya sebentar, menenangkan diri. Dia menahan air mata yang menggenang di ujung kelopak, lalu menghembuskan napas panjang. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu melangkah melewati mereka, menuju gedung kuliah. Beberapa mahasiswa lain melihatnya lewat dengan pandangan iba, tapi tak satupun yang berkata sesuatu. Dunia ini tak adil, dan Cassie sudah terbiasa dengan itu. Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya perlahan. “Cassie!” suara laki-laki itu pelan tapi terdengar prihatin. Cassie menoleh. Itu Alan, salah satu teman sekelasnya yang terkenal cerdas dan bersahabat. Dia memandang Cassie dengan ekspresi khawatir. “Kamu nggak apa-apa? Mereka keterlaluan!” ujarnya. Cassie menggeleng. “Aku nggak mau terlambat kelas,” katanya pelan. Alan membuka jaketnya dan menyodorkannya pada Cassie. “Pakai ini dulu. Bajumu kotor banget. Kita jalan bareng, ya?” Cassie terdiam, menatap Alan sejenak, sebelum akhirnya mengangguk perlahan. Dia menerima jaket itu dan memakainya, meski masih ada sisa-sisa tepung di rambutnya. “Terima kasih,” bisiknya. “Kamu nggak harus diam aja, kamu tahu? Mereka nggak berhak perlakukan kamu kayak gitu.” Cassie hanya tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku di sini bukan untuk balas dendam. Aku di sini untuk belajar. Aku punya mimpi, Alan. Dan aku nggak akan biarkan mereka menghancurkannya.” Alan mengangguk, kagum pada ketegaran Cassie. Saat mereka tiba di pintu kelas, bel tanda kuliah dimulai baru saja berbunyi. Dosen mereka, Prof. Charles Bliss, baru membuka pintu. “Masuk,” katanya singkat, menatap tajam ke arah Cassie dan Alan. “Kalian jangan lambat lagi.” Cassie duduk di bangkunya dengan tenang. Di dalam kelas, suasana jauh lebih damai. Dia mengeluarkan buku catatannya, yang meski lusuh, selalu rapi dan penuh tulisan. Tepung di bajunya sudah tak terlalu terlihat di balik jaket Alan, tapi di hati Cassie masih ada sisa sakit. Namun di sela-sela rasa perih itu, ada tekad yang membara. Cassie berjanji dalam hati, suatu hari nanti, dia akan membuktikan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh baju yang mereka pakai, melainkan oleh hati, ketekunan, dan impian yang mereka perjuangkan. Pagi itu, suasana kelas bisnis terasa hangat meski cuaca di luar berkabut. Ruangan dipenuhi mahasiswa yang duduk rapi di kursi berbaris, catatan terbuka, dan tatapan sebagian besar mengarah ke pria yang berdiri di depan kelas, Profesor Charles Bliss. Dengan setelan jas abu gelap dan dasi biru tua, Prof. Charles berdiri gagah di depan papan tulis digital. Sorot matanya tajam, penuh karisma. Setiap gerakannya memiliki presisi, setiap kata yang diucapkannya terdengar seperti perintah yang tak bisa dibantah. Tidak hanya cerdas dan sukses, Prof. Charles memiliki paras tampan dan tubuh atletis yang membuat sebagian besar mahasiswi terdiam saat dia masuk kelas. Cassie duduk di barisan ketiga dari depan. Matanya sayu, kepalanya nyaris tertunduk. Dia mencoba mencatat, tapi kelopak matanya terasa berat. Gadis itu baru pulang kerja pukul dua dini hari tadi. Tadi malam, bar tempatnya bekerja sangat ramai. Cassie harus mencuci gelas, melayani pelanggan, dan membantu bagian dapur. Semua itu dia lakukan agar bisa tetap bertahan hidup di kota ini. Di sebelahnya duduk Alan, yang dari luar tampak bersahabat. Tapi sejak pagi tadi, sorot mata Alan berbeda. Pandangannya diam-diam menilai Cassie, dan senyumnya menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya tulus. Alan menyandar ke arah Cassie dan berbisik pelan, “Kamu kelihatan lelah sekali. Masih bisa fokus sama penjelasan Prof. Charles? Kalau nggak ayo ikut aku ke kafetaria!” Cassie hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan. Dia tidak membalas komentar Alan. Tapi dalam hatinya, ada keganjilan. Sejak semalam, Alan mulai sering mengirim pesan aneh. Dan pagi tadi, dia sengaja menyodorkan jaketnya agar bisa lebih dekat dengannya. Cassie belum sempat berpikir lebih jauh karena pikirannya sudah terlalu lelah. “Baiklah.” Suara Prof Charles terdengar tegas di seluruh ruangan. “Kita akan masuk ke topik hari ini, Strategi Pasar Global dan Ekspansi Bisnis Multinasional. Perhatikan baik-baik. Saya tidak ingin ada yang tertinggal.” Cassie mencoba fokus. Tapi perlahan, pandangannya mulai kabur. Suara Prof Charles terdengar seperti gema yang semakin jauh. Kepalanya mulai tertunduk. Dalam hitungan menit, dia tak lagi sepenuhnya sadar. Dalam lamunannya, Cassie kembali melihat wajah Prof. Charles. Namun kini bukan sebagai dosen, melainkan sebagai sosok yang lebih pribadi. Dalam khayalannya, dia dan Charles berada di kelas hanya berdua saja. Charles melepas jasnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mendekat ke arah Cassie. Suaranya tak lagi resmi, tapi lembut dan penuh perhatian. “Cassie,” ucapnya dalam mimpi. “Kamu pantas mendapatkan lebih dari semua penderitaan ini. Kamu sangat cantik! Aku sangat terpesona denganmu.” Cassie menatapnya. Mereka berdiri berhadapan di depan meja kelas. Charles menyentuh pipinya dengan lembut. Cassie merasakan kehangatan yang tidak pernah dirinya rasakan sebelumnya. Lalu keduanya terlibat dalam ciuman ganas. Prof. Charles melahap habis bibir Cassie. Bahkan tangan sang profesor mulai menyelinap masuk ke dalam bajunya dan mulai meremas kedua bukit kembar miliknya. Yang membuat Cassie menjadi melayang sampai ke langit ketujuh. Namun tiba-tiba, Brak! Suara pukulan keras di meja membangunkan Cassie dari lamunannya. Gadis itu tersentak, dan seluruh kelas menoleh padanya. Prof. Charles berdiri di depannya, wajahnya marah, rahangnya mengeras. “Cassie Florence!” Suara Prof. Charles terdengar tegas. “Anda mau belajar? Atau mau tidur di dalam kelas?”Langit London mulai diliputi kabut kelabu saat Oma Evelyn menuruni taksi hitam yang membawanya pulang dari rumah sahabat lamanya. Angin malam menusuk tulang, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Rumah megah di sudut Jalan Kensington itu berdiri dengan anggun, seolah-olah menyambut kembalinya sang nyonya rumah.Dengan langkah perlahan, Oma Evelyn membuka pintu utama, menggantung mantel bulu tuanya di gantungan, lalu menepuk-nepuk rambut peraknya yang disanggul rapi. Dia mendesah lega, lalu berseru sambil melangkah ke dalam.“Charles? Oma pulang!”Namun tak ada jawaban. Rumah itu hening. Terlalu hening.Wanita itu lalu meletakkan tas kecilnya di meja foyer, hendak menuju dapur untuk membuat teh hangat, namun pandangannya terhenti pada sesuatu yang tampak tidak biasa.Sepasang sepatu wanita, berwarna krem, tergeletak di lantai marmer dekat tangga. Tidak rapi. Seolah dilemparkan tergesa-gesa.Kening Oma Evelyn berkerut. “Apa ini?” bisiknya.Dengan firasat yang tak enak, Oma Evely
Pada suatu siang.Langit kampus sangat cerah, tapi langkah Cassie terasa berat. Sejak insiden di bar tempat dia bekerja sebagai pelayan, bisik-bisik tak mengenakkan terus mengikutinya ke manapun gadis itu pergi. Suara tawa mencemooh terdengar jelas ketika dirinya melewati lorong menuju ruang kuliah.“Hei, lihat deh Si Cassie. Pelayan malam yang berubah jadi mahasiswi teladan sekarang,” sindir Melisa dengan suara keras, namun cukup untuk didengar semua orang.“Cih! Benar-benar tak tahu malu!” sindir Amy.“Dasar perempuan murahan!” Judith tak mau kalah ikut mengolok-olok Cassie.Cassie menggertakkan gigi. Sang gadis sudah mencoba bersabar. Dia sama sekali tidak melakukan hal memalukan seperti yang dituduhkan. Pekerjaannya di bar hanyalah untuk membayar biaya hidupnya, bukan seperti yang orang-orang katakan.“Pakai baju itu ke kampus? Lagi-lagi lupa ganti kostum, ya?” celetuk Amy, sahabat Melisa, menambahkan ejekan.Cassie menunduk dan bergegas masuk ke ruang kelas, menahan air matanya.
Dalam hati, Charles menahan sesuatu yang tidak bisa dirinya ungkapkan.“Aku ingin lebih dari itu, Cassie. Tapi belum sekarang.”Sang profesor sudah bertekad. Cassie harus lulus terlebih dahulu. Mimpi-mimpinya harus tercapai. Baru setelah itu, jika waktunya tepat, dia akan mengungkap siapa dirinya sebenarnya. Bukan hanya seorang dosen, tapi pria yang selama ini mendukung dan menjaganya dari jauh.Cassie menguap kecil.“Kamu lelah,” ucap Charles sambil berdiri. “Aku tak akan lama di sini. Istirahatlah.”Cassie menatapnya, masih memegang cup cokelat panas.“Prof, saya boleh jujur?”“Tentu.”“Saya senang Anda datang. Rasanya, seperti kedamaian yang abadi.”Kata-kata itu menghantam hati Charles seperti badai lembut. Dia tersenyum, menyembunyikan gejolak emosinya.“Aku akan selalu ada saat kamu butuh,” ucap Charles. “Jadi ... jangan pernah takut.”Cassie mengangguk. “Terima kasih, Prof Charles. Saya benar-benar beruntung punya dosen seperti Anda.”Charles melangkah mundur, mengangkat tang
Di sebuah ruang kerja mewah bertingkat di jantung Kota London, Prof. Charles duduk bersandar di kursi kulitnya. Langit malam terlihat melalui jendela besar di belakangnya, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip. Dia pun menatap layar ponselnya, membaca pesan terakhir dari Blake.“Nona Cassie selamat. Alan berhasil dihalau. Dia sedang dirawat. Saya akan tetap berjaga di sekeliling rumah sakit secara diam-diam.”Charles mengembuskan napas lega, kemudian meletakkan ponsel itu di meja. Tangannya yang sempat mengepal kini perlahan mengendur.“Untunglah …” gumamnya lirih.Tak lama, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pria gagah dengan jas hitam masuk, Blake, bodyguard pribadi sekaligus orang kepercayaannya.“Tuan, saya datang seperti yang Anda minta,” ujar Blake dengan sopan.Charles berdiri dan menatapnya dalam-dalam.“Kamu sudah melakukan pekerjaan luar biasa, Blake. Jika kamu tidak datang secepat itu, entah apa yang terjadi pada Cassie malam itu.”“Saya hanya menjalankan perintah,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.