Masih di dalam ruangan Profesor Charles.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara lembut pendingin ruangan dan detak jarum jam di dinding. Sebuah jendela tinggi membiarkan cahaya senja menyusup masuk, menciptakan bayangan hangat di seluruh sudut ruang kantor dosen yang penuh rak buku, map, dan setumpuk kertas.Profesor Charles duduk bersandar di sofa, dasi longgar menggantung di lehernya. Di depannya, Cassie, mahasiswi bimbingannya, tersenyum simpul sambil menyentuh tangan sang profesor. Rambut panjang Cassie tergerai, pipinya merah merona, entah karena tersenyum atau karena hal lain.“Anda tahu, Prof, saya tidak pernah membayangkan seorang profesor bisa sesantai ini,” ujar Cassie sambil memiringkan kepalanya manja.Prof. Charles terkekeh pelan. “He-he-he. Dan saya tidak pernah membayangkan seorang mahasiswi secerdas kamu bisa begitu … persuasif.”Cassie mendekat, nyaris menyentuhkan hidungnya ke wajah pria paruh dewasa itu. “Kalau begitu, anggap saja kita sedang eksplorasi akademik
Zuletzt aktualisiert : 2026-07-24 Mehr lesen