Share

Bab 47 Jual Saja Dia, Ayah!

Penulis: Ratu As
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-09 10:32:13

Yudis tertawa, dari sikapnya seakan menganggap Sandra tidak serius, hanya gadis muda yang sedang protes. Tidak ada rasa takut sedikit pun pada anak manja seperti Sandra.

"Kamu menuduhku? Bukankah kamu tahu sendiri kalau sahabatmu itu yang berkhianat? Dia pergi... bagaimana bisa kamu bilang dia diculik?"

Sandra melotot. Meski Yudis terus mengelak, namun dia tetap yakin.

"Kamu pikir aku tidak tahu? Setelah mendapat saham keluarga, kamu merencanakan semua ini kan? Kamu sendiri yang sengaja membuat pertunangan itu gagal!" tuduh Sandra tepat sasaran.

Sayangnya, Yudis tidak goyah sedikit pun, dia tetap tenang dan berpura-pura tidak mengerti dengan pemikiran aneh Sandra.

"Jangan menuduhku begitu, kamu pikir aku tidak tulus pada Ziana? Justru di sini, aku adalah korban. Dapat saham atau tidak itu sama sekali enggak ada hubungannya!"

"Oh, ya?" Sandra kembali mendelik. "Kalau memang benar, itu berart
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 175

    Ziana cukup terkejut ada Aziel yang terang-terangan mencarinya. Apa pemuda itu ingin buat masalah lagi dengannya. "Aku ingin meminta maaf. Aku tulus," ucap Aziel dengan ekspresi memelas. "Bunga ini untukmu sebagai tanda ketulusanku--" Sementara Arhan memilih balik badan dan masuk dengan ekspresi yang buruk. Ziana mematung saat melihat Arhan tidak lagi menanggapi Aziel. Tidak yakin kali ini apa Arhan juga cemburu? Tapi yang jelas lelaki itu memang paling tidak suka Ziana berada dekat dengan lelaki lain. "A--pa? Kamu tidak perlu repot-repot. Aku menolong bukan karena itu kamu, tapi memang aku merasa menolong itu kewajiban sebagai sesama.... " "Tetap saja, kalau tidak ada kamu pasti aku sudah mati hangus. Pokoknya aku janji mulai sekarang akan bersikap baik padamu. Kamu adalah malaikatku, Ziana," kata Aziel berlebihan. Aziel yang biasanya jutek, galak, dan menyebalkan setiap kali bertemu dengan Ziana, kini punya kesan yang berbeda. "Bolehkah aku masuk?" Aziel bertanya, tapi ti

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 174

    "Suuut!" Ziana menekan jarinya ke bibir saat Arhan terlihat mulai geregetan dan bicara dengan tidak sabaran. "Tidak ada yang lebih baik dari Pak Arhan, tapi.... "Alis Arhan mengerut saat Ziana tersenyum nakal dan tidak melanjutkan ucapannya. Cup! Dia justru iseng mengecup bibir Arhan kemudian terkekeh keluar dari mobil. "Tapi, apa Ziana?" Arhan keluar dan mengejar gadis itu. Belakangan sikap Arhan sedikit berbeda, dia mulai menunjukan perasaannya saat senang atau pun cemburu pada Ziana. "Kamu sengaja menghindar atau sengaja mengerjaiku?" Arhan menangkap pinggang Ziana, menariknya dan memeluknya dari belakang. Semakin Ziana berontak, semakin membuat lelaki itu bersemangat untuk mengungkung tubuh rapuh itu dan menguasainya seperti boneka kecil yang menggemaskan. ***"Tidak usah siapkan makan malam, duduk saja dan suruh pelayan membuatkannya," ujar Arhan saat melihat Ziana sudah sibuk ke dapur hanya untuk membuatkan makan malam untuknya. Ziana mengulas senyum, "tidak apa, samb

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 173

    Wina mengerutkan keningnya. Dia lalu mengamati putranya yang menahan lengan Ziana. "Arhan, kebetulan sekali kamu datang. Ayo ke ruang rawat Aziel, nanti Ibu anterin pulang ya? Ziana kalo buru-buru biar sama dokter Aris," bujuk Wina lagi yang masih saja terkesan memojokkan Ziana dengan Aris. "Kebetulan ada yang mau Ibu omongin sama kamu," imbuh Wina bersikeras. "Ibu mau bilang apa? Bicara saja sekarang. Di luar, supir sudah nunggu Ibu. Jadi tidak perlu harus kuantar," tolak Arhan tanpa basa-basi. Wina berdecak, wanita tua itu kesal dengan tingkah putranya yang dingin. Padahal dia hanya ingin punya waktu bersama Arhan saja, lalu mengobrol beberapa hal. Wina menatap Arhan penuh harap, seakan sedang merayu agar Arhan mau mengantarnya. Namun Arhan memalingkan wajah dan fokus melihat jam tangannya. "Dokter Aris, silahkan pulang dulu. Ziana dan ibuku, biar nanti aku yang antar pulang," kata Arhan kemudian. Dia tidak mengalah, tapi juga tidak egois. Agar ibunya tidak lagi memaksa lebih

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 172

    Sandra melebarkan matanya saat mendengar penuturan Aziel yang terasa aneh di telinganya. Kok, tumben enggak nyolot? Kok, tumben Aziel peduli? Biasanya pemuda itu akan masa bodoh tentang kebaikan Ziana, malahan akan mencibir habis-habisan. "Gara-gara kecelakaan apa otakmu geser? Kak Aziel, kamu aneh!" "Aku serius! Aku ingin minta maaf pada Ziana," ucap Aziel tulus. Sandra memerhatikan Aziel yang begitu serius, tawa Sandra pecah. Dia merasa Aziel sangat konyol. "Lebih baik simpan saja niatmu itu Kak Aziel, tingkahmu selama ini sangat jahat dan menyebalkan. Mana mungkin Ziana mau memaafkanmu. Kecuali... kalau kamu benar-benar berubah dan mendekati dengan pelan-pelan." Aziel mengangguk, dia tidak marah dengan saran Sandra. "Baiklah, kalau nanti aku sudah membaik aku akan mendatanginya saja dan mengucapkan permintaan maaf dengan tulus!" Sandra kembali terkekeh, percaya tidak percaya, tapi mungkin saja Aziel memang ingin berubah. Melihat apa yang terjadi, akan sangat tida

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 171

    Ziana membalik badan, dia ingin menghindar, kalau perlu berlari. "Ziana, tunggu aku ingin bicara! Ahhh.... " Suara Aziel diiringin dengan erangan kesakitan. "Ahhh, kakiku sakit sekali!" keluh lelaki itu dengan menyedihkan. Langkah Ziana terhenti, dia menghentakkan kakinya. Kesal. Namun, rasa kemanusiaan membuatnya tidak bisa abai. Dia menoleh ke arah Aziel yang terjatuh dari kursi roda karena mencoba mengejarnya. Tanpa bicara Ziana menolong Aziel untuk duduk di kursi rodanya. Pemuda itu terus menatapnya dengan senyum haru. "Zi, sebenarnya kamu enggak usah repot-repot untuk diam-diam menjengukku," kata Aziel dengan binar senang saat melihat bawaan Ziana. Sementara Ziana mengernyitkan keningnya. "Ayo ke ruanganku, kamu bisa letakan buah dan makanannya di meja." "Apa maksudmu?" Ziana bicara sedikit ketus. "Siapa juga yang mau menjengukmu. Aziel, kamu mulai sinting ya? Untuk apa bersikap sok manis begini?" Ekspresi Ziana buruk, dia cemberut dan gemas. "Kamu ... bukankah ke ruma

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 170

    Arhan mengusap lehernya dengan tidak nyaman, lalu menutup laptopnya dan berdiri. Ofi mendekat, tangannya lancang menyentuh leher Arhan. "Ini bekas gigitan kan?" tuduhnya penuh curiga. "Ofi," Arhan menepis tangan wanita itu. Terlihat jelas jika Arhan enggan menjelaskan. Dafa yang juga ada di sana jadi canggung, padahal ingin mengatakan jika rapat akan segera dimulai dan Arhan harus ke ruang rapat. "Kenapa? Aku tahu jelas bekas apa itu? Kenapa tidak jujur saja, kamu melakukannya dengan wanita bayaran... atau--""Ofi, aku tidak perlu membentakmu kan? Kamu tahu jelas bagaimana hubungan kita. Jangan melewati batas.... "Ziana! Tangan Ofi mengepal saat mengingat gadis itu, dia yakin jelas Arhan tidak mungkin tidur dengan sembarang wanita. "Tapi.... " Ofi ingin menahan Arhan saat lelaki itu menghampiri Dafa di pintu. "Rapat akan segera dimulai, Pak," ujar Dafa sungkan. Dia sedikit takut dengan ekspresi Arhan sekarang. Apalagi suasana penuh ketegangan seperti ini. Sial sekali Dafa har

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status